1 Tetes Air Mata Wanita 1000 Dosa Bagi Lelaki

By | 14 Agustus 2022

1 Tetes Air Mata Wanita 1000 Dosa Bagi Lelaki.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Alkisah Ahmad bin Miskin hidup dengan istri gelap dan anaknya nan masih kerdil. Kesusahan menderanya bersambung-sambung. Lain ada karier yang dilakukannya. Suatu malam, selepas seharian tak secuil makanan masuk kedalam perutnya, hatinya gelisah dan lain dapat tidur. Hatinya memilin sebagaimana perutnya yang keroncongan. Seperti tamtama yang kalah perang, ia lesu, lemah-lunglai, dan bukan terserah pamrih. Anaknya menangis seharian, karena lain ada air susu dari istrinya nan lapar. Betapa kefakiran ini membuatnya dahulu menderita. Timbul pemikiran darinya untuk menjual apartemen yang ditempatinya.

Esok harinya, usai shalat shubuh berjamaah dan berdoa, beliau menjumpai sahabatnya Abdullah as-sayyad. “Wahai Abdullah! Bisakah kau pinjamkan aku bilang dirham bikin keperluan hari ini. Aku bermaskud menjual rumahku. Nanti setelah laku akan kuganti,” prolog Ahmad.

“Duhai Ahmad. . . ambillah paket ini kerjakan keluargamu dan pulanglah! Besok aku akan menyusul kerumahmu membawakan semua kebutuhanmu itu,” jawab Abdullah cepat. Maka Ahmad lagi pulang kerumah serempak terus merenung bagi cak memindahtangankan rumahnya. Sungguh nyeri seandainya harus cak memindahtangankan rumah satu-satunya, semata-mata untuk makan. “Selepas itu, saya akan tinggal dimana,” renung Ahmad.

Ahmad segera memantapkan langkahnya. Waktu ini ia membawa sampul makanan bakal keluarganya. Pasti istrinya akan gembira dan anaknya akan tertawa lucu sesudah memperoleh air susu. “ Terasa eco roti yang dibungkus ini tentunya. Sahabat Abdullah memang lewat dermawan, sahabat sejatiku,” desah Ahmad.

Belum setakat setengah perjalanan, berangkat-tiba seorang wanita dengan jabang bayi dalam gendongan menatap iba. “Tuan, berilah kami makanan. Sudah beberapa masa ini kami belum makan. Momongan ini anak yatim yang kelaparan, tolonglah. Sepatutnya Allah swt. Merahmati tuan,” ratap ibu itu.

Baca juga:   Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 Halaman 206

Iba rasa hati Ahmad. Ditatapnya bayi nan digendong wanita itu. Tampak paras yang layu, pucat kelaparan. Wajah nan mengharap belas kasihan. Sungguh melas, tak sanggup Ahmad memandangnya lama-lama. Dibandingkan keluargaku, mungkin ibu dan momongan ini makin membutuhkan. “Biarlah aku akan mencari makanan enggak buat keluargaku,” Ahmad membatin. “Ini cukuplah bu. . . aku tak punya nan lain, mudahmudahan dapat menggombeng bebanmu. Jika saja aku memiliki nan lain mungkin aku akan membantumu lebih banyak,” pembukaan Ahmad sambil menerimakan selongsong nan adakalanya belum disentuhnya.

Dua tetes air alat penglihatan merosot dari mata sang ibu, “Terima kasih. . .terima kasih tuan. Sungguh tuan telah menolong kami dan semoga Allah menyaingi kepribadian baik tuan dengan balasan nan besar,” si ibu berlega hati dan menunduk khidmat. Maka Ahmad pula meneruskan pertualangan.

Anda beristirahat berdasar di batang pohon serempak merenungi nasibnya. Namun, beliau kembali sadar bahwa sahabatnya Abdullah telah bertaki akan datang menyuarakan keperluannya. Dan Abdullah tak pernah ingkar janji sekalipun. Maka bergegas ia pulang dengan perasaan harap-mohon cemas. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sahabat baiknya Abdullah.

“Wahai Ahmad kemana saja engkau,” tegur Abdullah tersengal-lumbago. “Aku mencarimu kesan-kemari. Aku datang kerumahmu mendayukan keperluanmu nan aku janjikan. Namun, ditengah pengembaraan aku berjumpa dengan saudagar dengan beberapa unta bermuatan munjung. Dia ingin berlawan ayahmu. Dia bilang ayahmu pernah memberi pinjaman 30 perian yang lalu. Sehabis anjlok bangun berjualan, sekarang ia telah menjadi saudagar osean di Bashrah. Kini kamu akan mengembalikan uang pinjamannya, keuntungan serta hadiah-pemberian,” jelas Abdullah. “Sekarang lekas pulanglah Ahmad! Harta nan banyak menunggumu. Enggak perlu kau jual flat kembali,” kata Abdullah.

Baca juga:   Sebelum Melakukan Gerak Berirama Sebaiknya Melakukan

Terperangah tidak kepalang Ahmad mendengar perkataan sahabatnya Abdullah. Sungguh beliau tak berkeyakinan dengan perkataannya itu.

“Benarkah Abdulah, benarkah?” pertanyaan Ahmad ragu-ragu. Maka, anda berlari sama dengan terbang, pulang kerumahnya. Sejak itulah Ahmad menjadi basyar produktif raya di kotanya.

Ahmad suka melakukan darmabakti, malah kepada sahabatnya Abdullah. Pada suatu malam beliau bermimpi. Sepertinya saat itu amalannya dihisab maka itu para malaikat. Maka pertama-tama, dosa dan kesalahannya ditimbang. Wajahnya pucat. Berapa musykil dosa nan dimilikinya. “Apakah dedikasi kebaikan nan dilakukan boleh melebihi dosa-dosa itu?” Ahmad membatin.

Perlahan-lahan amal kebaikannya ditimbang. Pahala berderma dengan lima ribu dirham semata-mata ringan-ringan sekadar. Kata malaikat karena harus dipotong maka itu kesombongan dan riya. Demikian seterusnya. Ternyata seluruh amalannya setia tak boleh mengimbangi beratnya dosa nan ia kerjakan. Ahmad menangis.

Para malaikat bertanya, “Masih adakah amal yang belum ditimbang?” “Masih ada,” pembukaan malaikat yang lain. “Masih cak semau, merupakan dua amalan baik lagi.”

Ternyata keseleo satunya adalah roti nan diberikannya kepada anak asuh yatim dan ibunya. Makin pucatlah wajah Ahmad. “Mana mungkin amalan itu dapat menyeimbangkan dosa-dosanya yang berat,” keluhnya. Malaikat lagi sibuk menyukat roti itu. Namun, ketika ditimbang, ternyata timbangan serempak terangkat. Alangkah beratnya bobot amalan itu. Masa ini timbangan ahmad tetap seimbang. Wajahnya sedikti tenang. Ia gembira, bukan main diluar dugaannya.

“hanya amalan sampai-sampai yang tersisa? Karena ini masih seimbang,” katanya internal hati.

Maka malaikat pun mendatangkan dua tetes air netra terima kasih dan terharu ibu anak yatim atas pertolongan Ahmad. Ahmad tak menyangka kalau titisan air netra ibu anak yatim dinilai dengan pahala untuknya. Ia bersyukur. Para malaikat kembali menakar ceng air mata. Namun, tiba-mulai dua tetes air mata itu berubah menjadi air bah bergelombang dan menular sebagai segara. Habis dari dalamnya muncul ikan besar. Kemudian malaikat menangkap dan menyukat lauk itu nan disetarakan dengan amalan baik Ahmad.

Baca juga:   Kegiatan Menempatkan Berkas Dalam Tempat Penyimpanan Disebut Kegiatan

Ketika ikan menyentuh timbangan, meka begitu juga bobot yang dahulu rumit, timbangan pun segera membidik kearah kebaikan. “Beliau selamat, dia selamat,” terdengar jerit malaikat. Gembiralah hati Ahmad.

“Takdirnya aku mementingkan diri dan keluarga sendiri, maka tak adalah rumpil roti dan ikan itu,” Ahmad termenung gembira. Momongan yatim dan ibunya itu yang telah memakamkan dirinya. Pron bila itu Ahmad terbina berpangkal damba.

Saudara-saudariku, sungguh amal yang ikhlas di paruh kepicikan, bernilai janjang di mata Allah swt.

Sepatutnya kisah tersebut dapat membawa hikmah bagi kita semua, aamiin…

1 Tetes Air Mata Wanita 1000 Dosa Bagi Lelaki

Source: https://loketz-syair.blogspot.com/2012/05/kesaksian-dua-tetes-air-mata.html