Alat Musik Gambang Kromong Yang Berfungsi Sebagai Bass Adalah

By | 13 Agustus 2022

Alat Musik Gambang Kromong Yang Berfungsi Sebagai Bass Adalah.

Apa dan Bagaimana Peralatan Musik Gambang Kromong

maka dari itu
Ali Gufron

(BPNB Jabar)

Gambang Kromong Pada masyarakat Betawi ada sebuah kesenian melalui kendaraan bunyi sebagai ungkapan ekspresi yang dinamakan sebagai gambang kromong. Kesenian ini naik daun sekitar tahun 1930-an di kalangan masyarakat Tionghoa Nafkah nan masa ini dikenal dengan nama Cina Benteng (jakarta.go.id). Masih menurut jakarta.go.id, gambang kromong mula-mula kali unjuk saja bernama gambang. Doang sejak sediakala abad ke-20 menjadi gambang kromong karena suka-suka penambahan instrumen berwujud kromong. Akan halnya basyar nan memprakarsainya adalah Nie Hoe Kong.
Maka dari itu masyarakat Betawi gambang kromong difungsikan laksana sarana penyemarak upacara aturan dalam susuk gudi semangat seseorang (perkawinan, nazar, dan sunatan). Kerumahtanggaan pementasannya, kesenian nan lahir andai bentuk berpangkal pemuasan kebutuhan khalayak akan rasa kegagahan ini digunakan laksana pengiring teater lenong, tari cokek, dan hiburan khas Betawi lainnya.

Anak bangsawan

Struktur organisasi sebuah group gambang kromong terwalak koteng superior yang bertugas mulai berpangkal mengkoordinir anggota, mencari penanggap, menentukan harga pentas, setakat upah bikin panjak (anak bangsawan) berdasarkan keahlian nan dimiliki. Seorang majikan sebuah group gambang kromong dapat merangkap seumpama pemilik, anak/kerabat pemilik atau panjak yang diberi kewenangan oleh pemimpin sebelumnya.
Selain pengarah, sebuah group gambang kromong juga punya panjak (anak komidi) antara 8-25 orang, mengelepai plong diversifikasi musik yang dibawakan serta pesanan penanggapnya. Jumlah ini terserah kaitannya dengan peranan panjak kerumahtanggaan setiap pementasan. Dalam konteks ini ada nan berperan sebagai: panjak gambang, panjak kromong, panjak teh-hian, panjak kong-a-hian, panjak su-kong, panjak kemung dan kempul, panjak gelegah enam, panjak ningnong, panjak kecrek, panjak bangsing, terompet, radas, gitar listrik melodi, bas elektrik, drum, penyanyi, bedaya, dan bahkan panjak lenong.
Keahlian sendiri panjak dapat diperoleh melintasi dua cara, yaitu sparing pada para panjak yang sudah lalu malang mendatar di bumi kesenian Betawi maupun diwariskan oleh orang lanjut usia. Untuk makhluk-insan yang lain terbit dari keluarga seniman sekadar n kepunyaan talenta dan tekad nan kuat untuk menjadi seniman, cara belajarnya dengan magang plong satu atau beberapa sanggar seni.
Seorang panjak boleh bermain di mana doang. Beliau dapat ngamen bersama groupnya maupun group enggak yang sedang membutuhkan panjak tambahan atau perombak provisional kerjakan mengisi kekosongan formasi. Tentang aturan mainnya sangatlah sederhana, seorang panjak boleh bermain lega group maupun kerubungan lain apabila groupnya sedang tidak cak semau kegiatan (ngamen). Selain aturan pinjam yang primitif, prosesnya juga fleksibel, yaitu bisa minta izin pada pimpinan kelompoknya atau mengontak langsung puas panjak nan akan diminta jasanya. Apabila setuju, sang panjak kontan menyatu tanpa perlu memberitahukan pada pimpinan kelompoknya. Honor yang didapat sekali lagi sepenuhnya properti sang panjak tanpa harus disetorkan, dipotong, ataupun diberitahukan pada pimpinan kelompoknya.

Peranti Gambang Kromong


Sesuai dengan namanya, kesenian gambang kromong menggunakan dua buah perangkat nada terdahulu maujud gambang dan semberap kromong. Keduanya selalu disertai oleh instrumen atau alat musik lain seumpama tambahan, yakni: su-kong, teh-hian, kong-a-hian, bangsing (seruling), mungmungan, gendang, kecrek (pan), dan ningnong (sio-lo). Selain radas tadi, Kwa (2013) mengingat-ingat ada lima buah instrumen yang sekarang sudah lalu bukan dimainkan lagi, merupakan ji-hian (instrumen gesek berdawai dua), ho-sian (instrumen menggosok berdawai dua), sam-hian (perlengkapan menggosok berdawai tiga), gweh-khim (semacam gitar listrik berbentuk bulat berdawai dua), dan juanto (semacam terompet berlubang sapta buah). Nada musiknya hanya mengaryakan lima buah nada (pentatonis) nan punya nama dalam bahasa Tionghoa, merupakan: liuh = sol (g), u = la (a), siang = do (c), che = re (d), dan kong = mi (e). Bukan ada nada fa = f dan si = b seperti privat nada diatonis khas Barat. Larasnya sekali lagi selendro khas Tionghoa sehingga biasa disebut selendro cina ataupun selendro mandalungan.

Gambang Kromong
Sendang Foto: setubabakanbetawi.com

Apabila variasi lagu yang dimainkan adalah lagu sayur, maka ditambah lagi dengan instrumen musik bertamadun seperti gitar akustik listrik, bas elektrik, terompet, saxophone, organ, dan lebih lagi kanyon. Menurut Sukotjo (2012), masuknya perlengkapan musik Barat dalam ensambel gambang kromong mewujudkan irama tersebut harus menyesuaikan dengan tanga nada diatonis (tujuh musik) pada pola permainannya. Adapun urutan nada pokok diatonis yang dipergunakan dalam arketipe permainannya menjadi c (do), d (re), e (mi), f (fa), g (sol), a (la), dan b (sang).
Penyisipan gawai-alat musik modern menciptakan pro dan kontra di galangan seniman maupun penikmat musik gambang kromong. Cak bagi yang setuju berpendapat bahwa pengkolaborasian gambang kromong dengan perabot musik modern dapat memperkaya karya seni yang dihasilkan. Jadi, boleh dilakukan asalkan perabot-perangkat nada yang zakiah (gambang, kromong, teh-hian, dsb) tetap dipertahankan agar tidak kekurangan “vitalitas”nya. Darurat lakukan mereka yang kontra berpendapat bahwa pengkolaborasian dengan perlengkapan irama maju akan membuat bergesernya rasam-aturan yang menjadi suatu patokan intern pola permainan gambang kromong. Perubahan dari musik pentatonis menjadi diatonis akan memberikan nuansa yang berbeda dalam karakteristik musik gambang kromong. Hal ini dapat dilihat kerumahtanggaan yuridiksi penggunaan gitar elektrik dan saxophone ketimbang perkakas gambang dan teh-hian sebagai musik pembukanya (intro).

Berikut adalah peranti musik tradisional bernada pentatonis yang seremonial digunakan dalam orkes gambang kromong:
a. Gambang

Bentuk resonator gambang menyerupai sebuah perahu dengan bagian atas dipasang bilah-bilah gawang manggarawan, suangking, atau huru batu berbentuk catur persegi hierarki. Kuantitas bilahnya ada 18 buah dan dibagi dalam dua gembyang (oktaf) dengan nada terendah adalah liuh (a) dan nada tertinggi siang (c). Bilah gambang berukuran tataran antara 29-58 centimeter dan “dikunci” menggunakan paku pada putaran atas resonator agar tidak goyah. Prinsip memainkannya dengan dipukul menggunakan dua buah kayu selama 30-35 centimeter berujung buntar berlapis kain dalam dua tabuham, ialah dilagu (menurut lagu) dan dicaruk atau dikotek.
b. Kromong

Bentuk kromong mirip sebagaimana bonang, yaitu antologi 10 buah kenung “pecon” terbuat dari kangsa atau kuningan yang disusun dua baris internal sebuah rak kayu. Di dalam rak terdapat kotak-kotak kecil untuk menaruh pecon dengan bagian bawah dipasang tali penyangga. Tiap baris berisi lima buah gong dengan musik siang-liuh-u-kong-che pada baris mula-mula (luar) dan nada che-kong-siang-liuh-u plong baris kedua (n domestik). Kromong dibunyikan secara sekaligus antara baris luar dan dalam menggunakan dua buah kusen lonjong dengan ujung bersalut kain atau kenur privat tiga tabuhan: dilagu (menurut lagu), dikemprang/digembyang, dan Dicaruk/dikotek/diracik.
c. Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong

Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong n kepunyaan gambar sama, hanya dimensi resonator dan gagangnya yang berbeda. Ukuran minimal adalah kong-a-hian bernada liuh (g) dan che (d), madya teh-hian bernada siang (e) dan liuh (g), serta terbesar disebut su-kong bernada su (a) dan kong (e). Ketiga peranti nada gesek berdawai dua tersebut terdiri atas resonator (wadah gema) dari tempurung kelapa nan dibelah tinggal dilapis kulit tipis, tiang tiang berbentuk bundar strata, dan purilan atau alat penegang dawai. Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong yakni perangkat pengusung melodi nan dimainkan dengan prinsip digesek menunggangi tongkat bersenar
plastik (untai).
d. Bangsing (seruling)

Bangsing maupun suling terbuat dari bambu kecil berbentuk bulat tinggi dengan enam buah lubang nada. Instrumen yang dimainkan secara horizontal atau selaras dengan mulut ini demap dikelompokkan dengan rebab dan vokal karena irama yang dihasilkannya lebih pendek dan berputusan.
e. Mungmungan dan kempul

Gong dan kempul terbuat dari kuningan atau perunggu berbentuk limbung yang adegan tengahnya menonjol (kenop). Kemung berdimensi sekeliling 85 centimeter berfungsi sebagai penentu musik dasar, sementara kempul berukuran seputar 45 centimeter berfungsi andai pewatas ritme melodi. Oleh karena ukuran gong dan kempul yang relatif osean tersebut, maka umumnya digantung lega sebuah gawangan kayu. Caranya adalah dengan melubangi sisinya sebagai tempat mengikat kenur untuk digantungkan pada gawangan kayu berukir motif rente, carang dan ular hantu bumi sebanding satu meter. Kemung dan kempul dibunyikan dengan cara dipukul berpokok samping pada bagian kenop menggunakan tongkat kusen berujung buntar berlapis kain.
f. Gong Enam

Sesuai dengan namanya, gong enam terdiri dari enam biji pelir gelegah berdosis mungil yang digantung pada gawangan kusen dengan pergaulan nada: 3, 1, 6, 2, 1, 5.
g. Kecrek (pan)

Kecrek atau pan berbentuk berpangkal dua hingga catur lempengan besi tipis (besi, belek, perunggu) yang disusun diatas sebuah papan kayu. Alat yang berfungsi bak pengatur irama dan untuk menimbulkan efek bunyi tertentu ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pengetuk khusus maupun tongkat kayu pendek hingga menghasilkan bunyi crek-crek-crek.
h. Ningnong (sio-lo)

Ningnong berbentuk dua buah piringan logam kuningan atau kuningan berdiameter sekitar 10 centimeter yang ditempatkan sreg sebuah lis kusen bertangkai satu. Ningnong dibunyikan dengan cara dipukul menggunakan tongkat besi kecil secara cak keramik mulai sejak kiri ke kanan atau sebaliknya (teknik pitet), umpama pengatur musik.
i. Redap

Rebana atau kendang terbuat dari kayu berbentuk bumbung berongga yang lumbung di penggalan tengahnya. Pada kedua pangkal gendang berbentuk guri ditutup dengan kulit kambing atau kerbau yang tidak setolok besarnya. Bentuk gendang begini biasa disebut ibarat kerucut pepet dan berfungsi bagaikan perkakas pengatur irama. Dalam setiap pementasan umumnya terdapat sebuah kerucut pepet dan satu atau dua biji zakar gong kecil nan disebut ketipung, tepak, tipluk ataupun kulanter. Kerucut pepet ditempatkan sreg dudukan gawang silang kerdil di depan, sedangkan ketipung rani di samping kiri atau di hadirat pemain.

Baca juga:   Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Mengetahui Komputer Anda Terinfeksi Virus

Seluruh instrumen irama di atas didominasi maka dari itu warna merah, hitam, coklat dan kuning. Rona coklat, baik muda maupun tua bangka, terdapat lega resonator su-kong, teh-yan, kong-a-hian, penggaris-bilah gambang, dan awak gendang. Warna asfar terdapat pada gawai seruling, gong, kecrek, kromong dan benda-benda lain nan terbuat dari gangsa. Warna hitam terdapat pada organ kenung, kromong, kecrek, dan bilah-bilah gambang nan dibiat dari tiang-besi (ki beusi). Dan, corak biram terwalak pada radas-alat kayu penyangga (dudukan) perlengkapan canang, kempul, kecrek, gambang, serta kromong.
Adapun pembuatan instrumennya tidak dilakukan sendiri maka dari itu seniman gambang kromong, melainkan dipesan dari berbagai daerah di Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Kalaupun ada yang dibuat seorang, lazimnya hanya bagian-penggalan kecil mulai sejak sebuah perangkat yang memerlukan perombakan. Buat kenung, kromong, dan kempul misalnya, dipesan dari pande yang biasa menciptakan menjadikan peralatan tersebut. Maka dari itu pande gong atau kempul dibuat dalam bancuhan timah dan tembaga panas kemudian dituang plong cetkan gamelan nan tertanam di tanah di ruang pembakaran. Setelah memadat, adonan diangkat lalu dibakar dan dipukul-pukul untuk mencapai ketebalan nan diinginkan. Apabila kurang tebal, ditambah dengan cara didempul kemudian dilas.
Keluar dari ruang pande (ruang pembakaran), gong atau kempul digerinda dan dikikir. Di tengah proses pengikiran, mungmungan ataupun kempul dilaras (disetel agar obstulen nan dihasilkan sesuai dengan nadanya). Apabila kurang pas, dibawa ke ruang pembakaran pula bagi didempul dan dilas. Semacam itu seterusnya hingga dihasilkan sebuah gelegah, kromong, atau kempul dengan nada transendental. Dan, sebelum beralih ke tangan seniman gambang kromong, peralatan perkusi itu digosok dengan enceran kimia atau batu giok bau kencur bercampur bensin hendaknya mengkilat.

Kostum


Kostum yang dikenakan oleh para panjak pria dan perempuan bermula periode ke hari mengalami perlintasan sesuai dengan perkembangan zaman. Dewasa ini sedikitnya cak semau tiga paradigma yang biasa dikenakan oleh para panjak laki-laki, yaitu: sadariah, demang, dan menggambar. Arketipe sadariah atau biasa disebut juga sadarie, tikim, dan koko yakni setelan yang umum dipakai oleh insan Betawi kebanyakan, terdiri dari baju koko atau baju gunting Cina, celana batik janjang, kejai sarung sebagai selendang bahu, teklek, peci bercelup hitam atau merah andai penghabisan kepala, dan sandal jepit berpunca kulit. Menurut jakarta.go.id, tadinya gaun ini namun dikenakan oleh para perjaka momen ada kegiatan keyakinan atau sedekahan di langgar. Lambat laun fungsinya meluas kerjakan keperluan lain, diantaranya yakni rok pemuda yang bertugas mengangkut serasa-nanas sebagai mas kawin pada prosesi perikahan adat Betawi, dan busana para seniman kesenian betawi momen semenjana manggung.
Model lebih jauh disebut sebagai ujung serong ataupun demang karena tinggal masyarakat dikenakan makanya para demang dan kaum ningrat laki-laki lainnya, terdiri bersumber: jas tutup berkerah, celana tingkatan berwarna senada dengan jas, kain jung pesong karena dipakai enggak lurus (benyot), kopiah berwarna hitam ataupun merah, sepatu kulit, dan aksesoris kasatmata jam saku rantai serta kakas maung atau duit gobang yang diletakkan pada saku jas atas.
Transendental terakhir yakni kemeja batik nan dipadukan dengan celana panjang bercelup gelap serta ditambah dengan peci dan sepatu indra peraba. Kostum batik ini jarang dikenakan oleh para pemain ketika ngamen dalam programa yang diselenggarakan oleh warga masyarakat secara orang seorang, seperti khitanan atau perkawinan. Mereka memakainya apabila yang mengundang untuk ngamen dari dines alias instansi pemerintah, baik resep ataupun daerah. Adapun kostum ataupun busana nan dikenakan oleh panjak kuntum adalah kebaya encim terbuat berasal sifon ataupun katun halus yang panjangnya hanya sebatas pinggul semoga mencerminkan keindahan jasad sang pemakai,sarung batik berwarna terang bermotif pucuk rebung, kutang nenek bagaikan baju dalam, ulos nirmala berbahan sifon, konde cepol bermatra segenggaman tangan dan diletakkan sekitar tujuh deriji di atas jitok, serta selop bertumit rendah terbuat dari kain ringan sama dengan beludru.

Baca juga:   There Are Many Things in the Garage

Lagu-lagu yang Dilantunkan

Ada beberapa varian adapun variasi lagu nan umum dibawakan dalam kesenian gambang kromong. Versi purwa dari berpunca Sopandi dkk, 1992, yang menyatakan bahwa varietas lagu gambang kromong ada tiga macam, adalah phobin, sayur, dan lagu untuk rancag. Lagu phobin ialah lagu berirama cepat yang dibawakan dalam rang instrumentalia. Lagu sayur adalah lagu selingan atau hiburan, sama dengan: Versi, Jali-jali, Cente Manis, Cente Manis Sakarosa Gangguan, Cente Manis Kelapa Akil balig, Surilang, Balo-balo, Stambul Siliwangi, Jali-jali Kalih Jodo, Jali-jali Si Ronda, Jali-jali Pasar Malam, Jali-jali Bunga Siantan, Jali-jali Ujung Menteng, Jali-jali Kramat Karem. Dan, spesies lagu rancag adalah lagu iringan dan lagu vokal internal presentasi rancag, begitu juga: Sipitung, Siangkri, Orang Bujang, Galatik Unguk, Stambul.
Sementara menurut Rojali (seniman gambang rancag), lagu gambang kromong hanya terdiri berpokok dua varietas, yaitu: lagu dalem dan lagu sayur. Lagu dalem yaitu lagu yang masih kental dengan nuansa musik Tionghoa. Tipe lagu ini umumnya dibagi menjadi tiga putaran, yaitu: phobin, musik dan vokal, habis diakhiri dengan lopan. Komposisinya dapat maujud phobin–musik dan vokal–lopan atau phobin-musik dan vokal-phobin. Irama phobin dan lopan yang setinggi dapat dimainkan cak bagi mengiringi lagu nan berbeda.
Phobin merupakan intro atau musik pengantar berdurasi singkat sebelum suara vokal masuk. Kwa (2005) menuturkan, habis phobin merupakan musik khusus yang digunakan cak bagi mengiringi berbagai rupa seremoni intern lingkaran atma mahajana Tionghoa tradisional. Kop phobin galibnya menggunakan nama-nama tokoh internal cerita rakyat Tionghoa berdialek Hokkian di Cina Selatan, seperti: Phobin Poa Sang Litan, Phobin Peh Pan Tau, Phobin Cu Te Pan, Phobin Cai Cu Siu, Phobin Cai Cu Teng (Punjung Cendekiawan Berpembawaan), Phobin Seng Kiok, Ma To Jin (Pater Gadis), Jin Kui Hwe Ke (Jin Kui Pulang Kampung), Lui Kong (Dewa Halilintar), Cia Peh Pan, It Borek Kim (Setangkai Emas), Tai Peng Wan (Teluk Perdamaian dan Ketenteraman), Pek Bou Tan (Bunga Peoni Putih), Cai Cu Siu (Kekayaan, Zuriat dan Nyawa Panjang), Kim Hoa Cun (Sumbuk Rente Emas), Liu Tiau Kim, Si Sai Hwe Ke, Reben Kim Hoa (Berlaksa Bunga Kencana), Pat Sian Kwe Hai (Delapan Batara Menyeberangi Laut), Lian Hoa The (Jasmani Anakan Teratai), Se Ho Liu, Hong Tian, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Kong Ji Lok, Coan Na, Ki Seng Co, Ciang Kun Leng, Tio Kong In, Sam Pau Hoa, Pek Hou Tian, Kim Ciuman Siang, Ce Hu Liu, Bangliau, Li Ten Hwe Bin, Phobin Kong Ji Lok, dan tidak sebagainya.
Untuk dapat memainkan lagu-lagu phobin, seseorang harus menggunakan notasi internal huruf Tionghoa yang biasa dipakai unuk lagu-lagu Hokkian Selatan. Oleh karena itu, sekarang sudah sangat runyam ada musikus gambang kromong nan dapat memainkan lagu phobin secara sempurna. Jikalau pun ada, hanya bilang judul sahaja, sebagai halnya Phobin Khong Ji Lok serta bilang phobin sebagai pembawa upacara inisiasi menjelang akad nikah maupun kematian di halangan orang Tionghoa tradisional (Kwa, 2005).
Setelah lagu phobin barulah vokal penyanyi masuk internal tempo lambat dan monoton. Syair yang dilantunkan diambil dari koleksi pantun Melayu-Betawi ataupun tembang Tionghoa koleksi penyanyinya dan diiringi instrumen musik yang didominasi maka dari itu suling, kong-a-hian, teh-yan dan su-kong tanpa menggunakan perangkat modern. Judul lagu dalem bersyair Melayu-Betawi diantaranya yakni: Peca Piring, Semar Gunem, Mawar Tumpa, Mas Perawan, Gula Ganting, Tanjung Burung, Nori Kocok (Zakar Nuri), Centeh Manis Berangka, Dempok, Temenggung, Menulis, Enko Si Baba, Indung-induk, Jungjang Semarang, Kulanun Salah, Gunung Payung, Bong Tjeng Kawin, Mas Mira, Persi Kocok, dan Duri Rembang. Sedangkan, yang bersyair Tionghoa ialah: Poa Si Li Tan, Bangliau, Tan Sha Sioe Khie, Gouw Nio, dan Tang Hoa Ko Nyanyi. Lagu dalem kemudian diakhiri dengan lopan atau musik pengakhir lagu dengan judul berbahasa Tionghoa atau Melayu-Betawi, misalnya Lopan Tukang Sado. Bagaikan catatan, detik ini seniman Betawi yang mampu mendendangkan lagu-lagu dalem lewat satu orang saja, yakni Cim Masnah alias Pang Tjin Nio yang wafat plong hari Minggu, 26 Januari 2014 dalam usia 88 tahun.
Jenis lainnya adalah lagu sayur yang komposisinya tidak menggunakan phobin dan lopan seumpama intro dan penutup lagu. Konon, macam lagu ini diciptakan untuk ngibing (menari) dengan diiringi instrumen musik berbudaya berupa gitar, bas setrum, dan tambahan pula leger, sehingga ada pula nan menamakannya seumpama lagu modern. Judul-kop lagu sayur atau maju diantaranya ialah: Kramat Karem, Onde-onde, Glatik Ngunguk, Surilang, Jali-jali (versi Ujung Menteng, Kembang Siantan, Pasar Malem, Kacang Buncis, Cengkareng, dan Jago), Stambul (Suatu, Dua, Sere Wangi, Busuk, dan Perkembangan), Persi (Rusak, Kronologi, dan Kocok), Centeh Manis, Kudehel, Balo-balo, Renggong Manis, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret ayung, Lenggang Kangkung, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Blenderan, dan lain sebagainya termuat bilang diantaranya lagu berbahasa Sunda (Awi Ngarambat, Gaplek, Kembang Kedelai, Kembang Beureum, Lampu Tempel, dan Wawayangan).
Munculnya lagu sayur atau lagu beradab dimulai ketika Bung Karno dengan sistem strategi Demokrasi Terpimpin dan Inkompatibel Neo Kolonialismenya memberlakukan pantangan penerapan ideologi barat (liberal) termasuk kebudayaannya pada tahun 1965 (www.share-pdf.com). Musim itu, para seniman dilarang cak bagi memainkan dan menyanyikan lagu-lagu pop barat yang dianggap oleh pemimpin politik sebagai lagu ngak-ngek-ngok. Kondisi ini dimanfaatkan oleh banyak penyanyi pop beralih ke jongkong irama lain yang “zakiah” Indonesia seumpama tempat bernaung hendaknya tetap berprofesi sebagai penyanyi. Beberapa di antara mereka adalah Lilis Suryani dan Benyamin Suaeb yang menggandeng seorang seniman gambang kromong bernama Suhaeri Mukti untuk berduet menyanyikan lagu-lagu Melayu-Betawi.
Senada dengan Lilis Suryani, Benyamin Suaeb yang sebelumnya bernyanyi lagu pop segera banting stir seharusnya aman dari kecaman penyanyi ngak-ngek-ngok (Kalim, 2005). Seniman murni Betawi yang lahir di Kemayoran ini memilih menyatu intern kelompok Naga Mustika bimbingan Suryahanda menembang lagu-lagu Melayu-Betawi dengan iringan musik gambang kromong. Sepanjang berlimpah di Dragon Mustika, Benyamin menambahkan nuansa hijau intern penambilan kesenian ini agar setinggi dengan seni musik berbudaya yang dipengaruhi seni musik Barat. Caranya adalah dengan memadukan peralatan musik gambang kromong yang bernada pentatonik dengan peranti-radas musik bertamadun berbasis nada diatonik sama dengan gitar listrik melodi, gitar listrik bas, drum, saxsofon, terompet, dan keyboard (radas). Balasannya, terbentuklah sebuah aliran musik baru yang dinamakan misal gambang kromong beradab maupun gambang kromong kombinasi karena menunggangi perlengkapan nada bertamadun dari Barat.
Untuk kian mempopulerkan gambang kromong maju, bersama grup Naga Mustika Benyamin kemudian mengganjur Bing Slamet dan Ida Royani turut dapur ki kenangan melangkaui bengkel seni Dimitra Record milik Dick Tamimi. Bing Slamet diminta mendayukan lagu Nonton Bioskop, Brang Breng Brong dan Tukang Sayur sementara Ida Royani diminta berduet mendayukan lagu ciptaan grup Naga Mustika. Mulai mulai sejak sinilah berkembang lagu-lagu baru gambang kromong nan oleh mahajana disebut sebagai lagu sayur. Liriknya bertema adapun kesulitan hidup, suara terhadap pemerintah dan elit politik, kejenakaan, dan tak sebagainya.

Baca juga:   Teknologi Ramah Lingkungan Bio Pulping Dimanfaatkan Oleh Pabrik

Nilai Budaya

Walau terjadi perubahan baik dalam bentuk lagu atau interpolasi instrumen irama berbudaya yang digunakannya, gambang kromong masih dapat bertahan hingga saat ini. Musik perpaduan unsur budaya Tionghoa dan Betawi ini masih memiliki regenerasi anak tonsil, penanggap serta penikmat setianya. Bagi penanggap, gambang kromong dapat dijadikan laksana ki alat hiburan bagi hajatan yang sedang dihelatnya. Bawah pemilihannya dapat karena hobi, untuk menarik manah invitasi mudahmudahan ingin datang ke hajatan, dan dapat pula karena tali peranti hajatan tersebut memang memerlukan gambang kromong sebagai musik pengiringnya. Darurat, bagi mayoritas penonton alias penikmatnya, gambang kromong tetapi dijadikan sebagai sarana hiburan. Penyebab penting seseorang mau menonton dan mendengarkan nyanyian musik gambang kromong adalah karena faktor asal usul kesuku-bangsaannya. Intern hal ini, seseorang doyan menonton, mendengar, dan menyanyikan lagu gambang kromong dengan maksud bakal menunjukkan identitasnya sebagai orang Melayu-Betawi.
Sedangkan bagi seniman, gambang kromong memiliki banyak fungsi, mengelepai dari sudut pandang senimannya koteng. Berusul hasil wawancara terhadap beberapa artis, muncul berbagai alasan mengenai kerelaan mereka dalam dunia kesenian gambang kromong, diantaranya: (a) memainkan gambang kromong penting ikut melestarikan kebudayaan Betawi, (b) bangga kaya memainkan satu maupun makin alat musik gambang kromong, (c) menggerinda bakat dan meninggi proklamasi, (d) menghibur masyarakat, (e) menjalin silaturrahim pemain, bimbingan, dan penonton, serta (f) sebagai ain pencaharian bagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-perian.
Selain memiliki banyak kemustajaban (bagi penikmat maupun seniman), jika dicermati gambang kromong juga mempunyai nilai-nilai (enggak semata-mata estetika) yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai pola dalam sukma bermasyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu adalah: kebulatan hati, kesabaran, kerja berkanjang, kooperasi, kekompakan, dan kreatifitas.
Nilai kesungguhan, kesabaran, dan kerja keras tercermin internal pencaplokan organ musik yang dimainkan. Kerjakan menjadi panjak yang mahir karuan diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja persisten. Tanpa itu mustahil seseorang dapat menunjukkan kehebatannya ketika sedang pentas. Lebih-lebih, dapat saja mengganggu jalannya pertunjukan dan sampai-sampai menjadi bahan cemoohan dan tertawaan penonton. Ponten partisipasi tercermin dalam proses pementasan gambang kromong itu sendiri. Sebagai sebuah ensembel pasti memerlukan kerja sama antarpemain atau antarpanjak kiranya pementasan bepergian dengan lampias. Nilai kesetiakawanan dan ketertiban tercermin kerumahtanggaan suatu tontonan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kreatifitas tercermin pada peralatan dan perlengkapan gambang kromong. Sebagaimana telah disinggung plong putaran atas, diawal munculnya peralatan musik masih bersifat tradisional bernada pentatonis. Namun seiring waktu, penggunakan alat-alat nada modern juga turut dimainkan sehingga menimbulkan bunyi yang makin dinamis. Ini artinya, para panjak tidak namun pada dengan apa nan selama ini dimainkan. Ada proses kreatifitas tertentu bakal memadukan peralatan musik tradisional dengan modern sehingga musik gambang kromong lebih berwarna.

Perigi:

Sopandi, Atik. dkk. 1992. Gambang Rancag. Jakarta: Maktab Kultur DKI Jakarta.
Kwa, David. 2005. Makin intern akan halnya gambang kromong & wayang kerucil. Kronik cisadane, 7: 10-15.
Kwa, David. 2013. “Gambang Kromong dan Wayang kerucil Cokek”, diakses dari http://blog.budaya-tionghoa.kisa/tionghoa/gambang-kromong-dan-wayang kelitik-cokek/ tanggal 7 April 2014.
http://www.share-pdf.com/8360f9dcc1614dd2937d30ce799deab7/Revisi%20Disertasi%20Promosi%20Terbuka%20januari%2013.htm diakses rontok 9 Maret 2014.
Sukotjo. 2012. “Musik Gambang Kromong dalam Umum Betawi di Jakarta”, privat Jurnal Etnomusikologi Indonesia Vol. 1 No. 1. Maret 2012 Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Kalim, Nurdin. 2005. “Potret Benyamin Barang apa Adanya”, dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com/2005/07/potret-benyamin-apa-adanya.html, diakses 20 Maret 2014 pengetuk 18.57
“Gambang Kromong”, diakses berbunga https://jakarta.go.id/artikel/konten/1100/gambang-kromong, terlepas 20 Februari 2020.

Alat Musik Gambang Kromong Yang Berfungsi Sebagai Bass Adalah

Source: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/apa-dan-bagaimana-peralatan-musik-gambang-kromong/