Aliran Kalam Yang Dikenal Dengan Istilah Fatalism Atau Predestination Adalah

By | 12 Agustus 2022

Aliran Kalam Yang Dikenal Dengan Istilah Fatalism Atau Predestination Adalah.

Di dalam buku-buku ilmu kalam maupun dogma kita mendapati bahwa ada banyak sirkulasi kontol di internal Islam. Di n domestik satu persebaran kalam pun cak semau perbedaan-perbedaan pandangan di antara para tokohnya. Semua aliran kontol itu lahir dilatarbelakangi makanya gejolak kebijakan pada saat itu. Di sini terjadi persentuhan antara realitas (jilatan ketatanegaraan yang ada) dengan nash.

Rupanya, tidak mudah cak bagi menentukan arus mana nan pertama siapa muncul di internal Selam. Prof. Dr. Harun Nasution, di dalam disertasinya, mengatakan bahwa revolusi pelir mula-mula nan muncul di dalam Selam merupakan Muktazilah. Temporer, Prof. Dr. Zainun Kamal, di dalam ceramah-ceramahnya sering menyatakan bahwa aliran Syiah yaitu nan pertama unjuk. Saya sendiri enggak sepakat dengan keduanya dan kepingin mengajukan pendapat lain.

Pendapat nan mengatakan bahwa Muktazilah adalah aliran yang mula-mula unjuk berangkat berasal penjelasan bahwa detik Rasulullah Saw. wafat mayoritas sahabat berseteru tentang persoalan pengalih dia sebagai pejabat pemerintahan. Tentatif itu, suka-suka sekelompok basyar yang menjauh dari perseteruan tersebut. Nah, kelompok inilah nan disebut sebagai kelompok Muktazilah. Kata “Muktazilah” berusul semenjak kata “I’tazala” yang artinya memisah. Pemisahan diri dari perseteruan tentang permasalahan pengganti Rasulullah Saw. yang dilakukan oleh sekelompok orang itu dianggap misal awal munculnya perputaran Muktazilah.

Harun Nasution, di dalam bukunya “Teologi Islam”, mengatakan bahwa ada dua keramaian Muktazilah. Muktazilah I adalah sebagaimana nan disebut di atas, provisional, Muktazilah Ii muncul ketika Washil ibn Atha’ melerai bermula majelis Hasan al-Bashri. Muktazilah Two ini muncul belakangan (sekeliling semula abad ke-2 H.)

Pendapat yang mengatakan bahwa Syiah adalah revolusi nan purwa muncul menginjak dari hal arbitrase (tahkim) antara pasukan Ali ibn Abi Thalib dengan barisan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Detik pihak Ali ibn Abi Thalib mencatat bahwa pihak Muawiyah mutakadim memperdaya mereka, pihak Ali terpecah menjadi dua, yaitu suka-suka nan konsisten teguh mengikuti Ali ibn Abi Thalib dan ada yang keluar berasal barisan Ali ibn Abi Thalib. Nah, kerumunan yang setia bersama Ali itulah yang dinamakan bagaikan Syiah. Alas kata “Syiah” secara bahasa penting “pengikut.”

Baca juga:   Vanadium Dengan Bilangan Oksidasi 4 Terdapat Pada Senyawa

Landasan dari kedua pendapat tersebut menurut saya tidak memuaskan. Satu kejadian yang dilupakan oleh Prof. Dr. Harun Nasution dan Prof. Dr. Zainun Kamal adalah tentang definisi revolusi titit. Keduanya mengabaikan definisi berusul aliran kalam sehingga mudah terbelenggu pada makna bahasa dari jenama aliran tersebut.

Sebuah kelompok atau aliran tidak boleh disebut bak aliran teologi/kalam jika tidak memiliki rukyah-pandangan teologis. Sekelompok orang yang mengikuti pendapat Pater Syafi’i n domestik persoalan fiqih tidak boleh disebut misal kerubungan/mazhab kontol, karena mereka lain mempunyai pandangan-pandangan teologis, melainkan memiliki rukyah-pandangan dalam persoalan fiqih. Ini yaitu situasi yang fundamental cak bagi sebuah sirkulasi kalam. Tanpa disertai rukyat-pandangan teologis tidak boleh suatu keramaian disebut perumpamaan kelompok/aliran/mazhab burung.

Muktazilah I lamun muncul lebih sediakala, lain dapat disebut bagaikan distribusi kalam karena Muktazilah I tak n kepunyaan pandangan-pandangan lega persoalan teologi. Persoalan teologi itu misalnya keadilan Tuhan, free will dan fatalisme, mengenai baik dan buruk, keesaan Tuhan (tauhid), eskatologi, iman dan kafir, dll. Ambillah, Muktazilah I tidak memiliki rukyah mengenai persoalan-persoalan tersebut, sehingga bukan bisa dikategorikan ibarat distribusi zakar.

Muktazilah sebagai sebuah aliran ilmu agama baru cak semau ketika unjuk Muktazilah II. Muktazilah Two muncul ketika seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri mengenai status seorang mukmin yang mengerjakan dosa segara (ini ialah persoalan teologis). Sebelum Hasan al-Bashri luang menjawab, Washil ibn Atha’ (nan merupakan salah suatu jama’ah dari majelis Hasan al-Bashri) mengemukakan pendapatnya bahwa seorang mukmin yang mengerjakan dosa segara suka-suka di antara iman dan dahriah. Bintang sartan, ia bukan mukmin pula tidak dahriah, sahaja ada di antara keduanya (manzilah bainal manzilatain). Kondisi perdua-tengah antara iman dan kafir itu disebut sebagai fasiq. Selanjutnya, Washil ibn Atha’ memisahkan diri berpunca majelis Hasan al-Bashri dan membuat majelis baru.

Ambillah, proses memisahkan diri (I’tazala) nan dilakukan maka dari itu Washil ibn Atha’ dari Hasan al-Bashri yakni awal mula munculnya Muktazilah 2. Muktazilah II inilah yang merupakan mazhab kalam dan ditulis di dalam buku-buku tentang ilmu tauhid/teologi. Namun demikian, Muktazilah bak mazhab titit ini muncul belakangan, setidaknya selepas peristiwa arbitrase/tahkim berpulang, sehingga tidak bisa dianggap perumpamaan mazhab kalam yang mula-mula unjuk.

Pendapat dari Prof. Dr. Zainun Kamal bahwa Syiah adalah nan permulaan muncul sekali lagi memiliki kelemahan nan sama dengan pendapat Prof. Dr. Harun Nasution. Momen pihak Ali ibn Abi Thalib terpecah menjadi dua: ada kelompok yang setia (Syiah) dan ada kelompok yang keluar bersumber barisan Ali (Khawarij), kelompok yang setia terhadap Ali itu tidak mempunyai pandangan-pandangan teologis, sehingga bukan sebuah peredaran kalam. Sebagaimana Harun Nasution, Zainun Kamal juga terbelenggu lega makna bahasa dari prolog “Syiah” yaitu pengikut (intern keadaan ini maksudnya adalah pengikut loyal Ali ibn Abi Thalib pasca arbitrase/tahkim).

Baca juga:   Pegunungan Tenasserim Berada Di Dekat Perbatasan Thailand Dan

Syiah sebagai sebuah rotasi pelir justru muncul belakangan jauh setelah Muktazilah. Lebih-lebih, Syiah ini banyak mengadopsi rukyat-rukyat teologis semenjak Muktazilah. Saya belum menemukan informasi akan halnya bilamana atau lega saat peristiwa apa Syiah perumpamaan sirkulasi kalam ini muncul. Ki akbar kemungkinan bahwa mazhab kalam Syiah mengalami perkembangan yang terus menerus seiring perjalanan sejarah. Kondisi ini menjadikan rukyah teologis mereka mengalami urut-urutan-perkembangan, terutama ketika dunia Selam bersentuhan dengan tradisi filosofis mulai sejak Yunani. Maka tidak heran ketika kita memelajari tanzil-ajaran mazhab Syiah, kita akan pergok penjelasan yang filosofis. Namun demikian, Syiah sebagai sirkuit butuh ini bukanlah yang pertama muncul di dalam Islam.

Kembali ke persoalan terdepan, aliran titit mana nan purwa kelihatannya muncul di dalam Selam? Persoalan-permasalahan teologi mulai muncul di internal Islam sesaat setelah hal arbitrase/tahkim. Pada masa sebelumnya, tidak ada perdebatan sekeliling persoalan teologi (pendapat ini berasal dari pemahaman saya, para pembaca dapat mengajukan sanggahan atas pendapat ini). Pendapat saya ini tak signifikan bahwa sebelum arbitrase/tahkim Islam tidak memiliki rukyah teologis. Rasulullah Saw. sendiri mengajarkan keesaan Yang mahakuasa (tauhid), dan itu ialah persoalan doktrin. Akan sekadar, perdebatan sekitar persoalan ilmu agama baru terjadi setelah keadaan arbitrase/tahkim. Perdebatan sekitar persoalan teologi dipicu oleh keadaan politik, adalah arbitrase/tahkim itu sendiri.

Ketidakpuasaan sebagian pengikut Ali ibn Abi Thalib terhadap hasil arbitrase/tahkim menyebabkan parak menjadi dua baluwarti: kubu yang setia terhadap Ali ibn Abi Thalib dan baluwarti yang tawar hati sehingga keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib. Kubu yang kukuh itu adalah cikal bakal Syiah (doang kapan itu belum menjadi perputaran kalam karena tidak memiliki penglihatan teologis), sementara, pertahanan yang keluar bermula barisan itu adalah tunas kelapa bakal Khawarij.

Baca juga:   Informasi Apa Saja Yang Disampaikan Dalam Gambar Teknik

Nah, menurut saya, Khawarij inilah nan merupakan aliran kalam pertama di kerumahtanggaan Selam. Ketika mereka keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib, mereka berusaha cak bagi mengekspresikan martabat dari pihak Ali ibn Abi Thalib dan pihak Muawiyah ibn Abi Sufyan: apakah mereka masih mukmin alias kafir. Pasti belaka, ini yaitu persolan teologis, yakni tentang iman dan kafir. Kesudahannya, kelompok Khawarij ini mengutip ayat al-Qur’an, “Barang siapa yang tak menghukumi sesuatu dengan hukum Allah, maka mereka terdaftar orang-sosok kafir.” Menurut analisa kelompok Khawarij, arbitrase/tahkim itu sudah lalu menyalahi syariat Halikuljabbar, sehingga kedua belah pihak sama-sama berstatus sebagai kafir. Oleh karena keduanya berstatus dahriah, maka kedua belah pihak halal lakukan dibunuh. Akhirnya, keramaian Khawarij berusaha membunuh beberapa cucu adam nan dianggap memelopori arbitrase/tahkim itu, dua di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Walhasil, nan berhasil dibunuh sekadar Ali ibn Abi Thalib. Ia dibunuh oleh Abdurrahman ibn Muljam (seorang pengikut Khawarij).

Dengan demikian, menurut analisa saya tersebut, aliran penis mula-mula di n domestik Selam adalah Khawarij, karena aliran ini memiliki rukyah teologis, yakni akan halnya iman dan kafir. Mudah-mudahan berguna. []

My Home, 26 Juli 2014

13:43 WIB

Lihat Humaniora Sepenuhnya

Pasrah Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar seutuhnya menjadi pikulan jawab pengulas seperti diatur dalam UU ITE


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama buat menyerahkan komentar!

Lihat Semua Komentar (0)

VIDEO PILIHAN

Aliran Kalam Yang Dikenal Dengan Istilah Fatalism Atau Predestination Adalah

Source: https://asriportal.com/aliran-kalam-yang-dikenal-dengan-istilah-fatalism-atau-predestination-adalah/