Apa Perbedaan Doa Orang Farisi Dengan Doa Pemungut Cukai Tersebut

By | 12 Agustus 2022

Apa Perbedaan Doa Orang Farisi Dengan Doa Pemungut Cukai Tersebut.

Sketsa Batin – Tahmid Manusia Farisi dan Pengutip cukai

Sketsa Batin – Terang Perumpamaan Yesus






DOA ORANG FARISI DAN Pengutip CUKAI

Wacana Bibel : Luk 18:9-14

18:9 Dan kepada sejumlah turunan nan menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua basyar lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 18:10 “Ada dua orang menghindari ke Bait Tuhan bikin sembahyang; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya serupa ini: Ya Sang pencipta, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak selevel seperti semua orang lain, bukan perompak, bukan khalayak lalim, tak pezinah dan bukan juga seperti pengutip cukai ini; 18:12 aku berpantang dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh berpokok segala penghasilanku. 18:13 Tetapi pengutip cukai itu berdiri jauh-jauh, sampai-sampai ia enggak berani menengadah ke langit, melainkan anda memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku berkata kepadamu: Insan ini pulang ke rumahnya ibarat makhluk yang dibenarkan Allah dan orang enggak itu tidak. Sebab barangsiapa memerdukan diri, engkau akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, anda akan ditinggikan.”

Pengantar Perumpamaan

Perumpamaan ini hanya terdapat sreg Injil Lukas, dan sungguhpun tidak tunggal menyatakan akan halnya wirid namun perumpamaan ini disampaikan selepas perumpamaan tentang Penengah yang enggak adil. Dapat dikatakan seumpama ini bersabda tentang sikap sembahyang kepada Allah.

Saat Yesus bertatap dengan beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain , Iapun membagikan perumpamaan ini tentang sikap yang benar yang pantas dihadapan Allah.

Baca juga:   Pada Kerajinan Modern Tekstil Memiliki Fungsi Sebagai Pemenuhan Kebutuhan

Mula – mula suka-suka sendiri Farisi dan sendiri pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah. Orang – orang Farisi caruk mengkritik Yesus karena dekat dengan pemungut cukai (Luk 15:1-2) yang mereka anggap sebagai pendosa yang harus dijauhi. Karena menyebut para pengutip cukai laksana pendosa dan yang mengatakan hal ini anak adam Farisi, maka mereka sebenarnya menyatakan diri lain berdosa atau suci.

Kata “farisi” artinya yang terpisah. Mereka adalah gerakan kaum Yahudi yang mau menaati syariat Taurat temrasuk dalam hal kebersihan ritual dan kesalehan hidup di hadapan Sang pencipta. Begitu luar biasanya, coretan – catatan sejarawan mengungkapkan bahwa diantara sekian banyak kelompok, orang – anak adam Farisilah yang paling keras menjalankan ketaatan terhadap Hukum Taurat. Karena itu mereka mudah menggagap diri bagaikan warga kelas satu dan tumbuhlah sikap berlagak pada diri mereka.

Sedangkan, para pemungut cukai dianggap berdosa karena memungut pajak bagi penguasa Romawi yang merapah mereka. Seringkali, mereka juga memungut fiskal lebih banyak dan kelebihannya mereka pakai sebagai penghasilan untuk semangat mereka sendiri. Karena itu, mereka banyak dicemooh, dihina dan dijauhi intern pergaulan.

Ayat 11-12 menceritakan bentuk doa orang Farisi, yaitu mengucap syukur kepada Sang pencipta hanya bukan karena ia telah mengalami kebaikan Halikuljabbar tetapi karena ia merasa diri bertambah baik dari orang lain : tidak penjahat, tidak hamba allah lalim, bukan pezinah dan tidak seperti pemungut cukai yang sedang berdoa juga disampingnya.” Ia lagi “melaporkan” operasi terbaiknya untuk menyombongkan diri seperti kedatangan kerjakan berpuasa dua siapa seminggu, lebih terbit nan diwajibkan merupakan bertarak 1x 1 tahun lega hari Penenangan atau hari pertobatan seluruh bangsa (Im 16:29-34; 23:27-32;Bil 29:7). Selain itu Beliau kembali melaporkan bahwa ia memberikan sepersepuluh dari penghasilannya. Ia menerimakan hal ini bukan karena rang kesallehan namun sbagai rajah paamer diri.

Baca juga:   Warna Hijab Yang Cocok Untuk Baju Warna Biru Dongker

Kondisi amat berbeda dijelaskan di ayat 13 mengenai sikap dan isi zikir si pemungut cukai. Ia berdiri jauh – jauh berbunga tempat mahakudus dan mengakuri bahwa beliau tidak berharga di hadapan Allah, merasa diri paling hina diantara bangsanya. Sikap takbir orang Yahudi biasanya yaitu menengadah ke langit, memandang “palagan Allah di Surga”, namun pengutip cukai bukan dakar melihat ke langit. Dia melakukannya karena sikap rendah hatinya dan kesadaran akan dosa-dosanya ini. Isi doanya pun berbeda jauh yaitu memohon meski Allah mau berbelas kasih kepadanya karena ia yakni koteng pendosa.

Makna / Refleksi  :

Pada ayat ke 14, Yesus menyatakan bahwa pemungut cukai itu pulang ke rumahnya misal hamba allah nan dibenarkan Tuhan. Kamu memandang sikap pengutip cukai itulah yang tepat. Allah fertil melihat isi lever orang dan memberikan penilaian yang baik dan buruk. Doa orang Farisi amat kental dengan kecongkakan, menghina hamba allah lain dan juga enggak merasa bersalah setara sekali. Karena itu, Halikuljabbar mengasakan sikap pertobatan jati, kepasrahan dan pendamping kepada belas anugerah Almalik yang menanam.

Ref :
YM Seto Marsunu.2015.Pesan Tuhan n domestik Perumpamaan, Yogyakarta.Penerbit Kanisius.

Apa Perbedaan Doa Orang Farisi Dengan Doa Pemungut Cukai Tersebut

Source: https://penarohani.blogspot.com/2019/05/sketsa-batin-doa-orang-farisi-dan.html