Bagaimana Jika Seseorang Kehilangan Sifat Amanah

By | 13 Agustus 2022

Bagaimana Jika Seseorang Kehilangan Sifat Amanah.

Oleh : Fathan Faris Saputro

Memahami Amanah

Amanah memiliki akar susu pengenalan yang sebagaimana kata iman dan aman. Orang yang beriman disebut mukmin yang dapat mendatangkan keamanan dan dapat menerima amanah. Kuatnya hubungan antara iman dan amanah tergambar pada sebuah hadits yang mengatakan bukan percaya orang yang tidak berlaku amanah. Seandainya demikian, berarti enggak akan bisa memberikan rasa aman orang nan tidak bisa amanah. Itulah cak kenapa pentingnya sifat amanah bagi seorang pemimpin.

Seorang turunan, sreg dasarnya dituntut buat berlaku amanah kepada Tuhan dalam hubungannya bagaikan saudara dan amanah kepada diri sendiri. Amanah kepada Sang pencipta bisa dilihat pada seberapa jauh Engkau melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang amanah kepada Allah, Ia akan melaksanakan perintah-Nya semaksimal mungkin, menggunakan semua potensi yang dimilki kerjakan maksud mendekatkan diri kepada Tuhan dan memencilkan apa larangan-Nya dengan alangkah-sungguh.

Akan halnya amanah kepada sesame khalayak memiliki makna yang  lebih luas. Amanah tidak hanya berkutat dengan janji yang harus ditepati. Orang yang bukan melakukan janjinya, bukan amanah. Tidak cuma soal itu, amanah berkaitan dengan pelaksanaan apa-barang apa yang dipercayakan atau dititipkan. Kaprikornus, amanah sesama manusia bisa berkaitan dengan ulama nan berlaku  adil terhadap jamaahnya, pemimpin yang bermain independen terhadap rakyatnya, guru yang berlaku adil terhadap muridnya, termasuk laki nan berlaku adil terhadap istrinya.

Amanah terhadap diri seorang berarti mengerjakan sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi diri seorang baik dalam urusan akhirat maupun urusan dunia. Demikian juga, seseorang yang main-main amanah kepada dirinya tidak akan mengamalkan hal nan bisa membahayakannya baik semasa di dunia atau di akhirat kelak. Dari beberapa penjatahan amanah adalah menyampaikan ditarik lawe biram bahwa amanah merupakan menyampaikan sesuatu  kepada orang yang berhak menerimanya, tidak mengambil atau berbuat sesuatu yang bukan haknya dan tidak hadang insan bukan agar mendapatkan haknya.

Bagaimana Mengetahui Atasan yang Amanah ?

Internal konteks kepemimpinan, bagaimana mandu memahami seseorang amanah atau tidak? Gampang, lihat saja pengalamannya terjun privat bermacam rupa aktifitas di bermacam rupa rangka yang pernah Ia jalani. Sampai-sampai dengan uluran tangan teknologi seperti sekarang, tidak terlalu terik mencari makrifat tentang sosok favorit pemimpin yang ideal. Semata-mata teristiadat diingat, mengejar seorang superior yang amanah, bukan hanya amanah dalam tugasnya sehari-musim, namun amanah juga dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya. Itulah komandan sejati yang bersikap amanah. Ringkasnya, amanah berkaitan dengan akhlak seorang atasan.

Baca juga:   Diantara Cara Pencegahan Pergaulan Bebas Yang Dilakukan Keluarga Kecuali

Syarat  sumber akar tak bakal menjadi seorang pemimpin adalah mempunyai kecakapan. Kemampuan ini lewat penting lakukan sendiri pemimpin, bahkan sebagaimana waktu ini nan membutuhkan banyak kemampuan baik kerumahtanggaan situasi berkomunikasi, kepemimpinan, maneerial, organisasi, dan sebagainya. Kemampuan menjadi adv amat berfaedah, sebab dapat bintang sartan khalayak yang amanah tapi tidak mempunyai kemampuan yang baik pada akhirnya Ia terjebak dalam kesalahan. Misalnya Ia dijebloskan kedalam penjara karena tidaktahuannya. Ini sangat mungkin dan sudah banyak terjadi.

Dalam memimpin negara, Rasul Yusuf diberikan pemahaman dan hikmah oleh Allah Swt., sebagaimana yang termaktub dalam tembusan  Yusuf ayat 22: “Dan tatkala dia sepan dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan hobatan. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-turunan yang melakukan baik.” (QS. Yusuf [12] : 22) keteledanan enggak bersumber kepemimpinan Nabi Yusuf merupakan karakter pekertinya yang baik dan mulia. Seorang komandan adalah tauladan bagi masyarakatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang ingin menjadi paradigma bukan mempunyai fiil pekerti yang luhur. Kepribadian pekerti ini harus menjadi acuan saat memilih seorang komandan.

Kepemimpinan Nabi Yusuf

Rasul Yusuf pula pelalah berlaku ikhlas dalam berbuat termasuk dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Kesediaan ini akan menjadikan seorang pemimpin mendalam berkarya cak bagi  rakyatnya, memasrahkan apa yang dimiliki tanpa memikirkan apa yang dapat diperolehnya oleh cucu adam lain. Apakah di saat sekarang keikhlasan ini masih tegar terserah pada para superior kita? Wallahhua’lam seharusnya saja para majikan kita diberi kebesaran hati lakukan bersikap ceria dalam mengemban tugasnya.

Nabi Yusuf juga dikenal sebagai pemimpin yang pandai membagi solusi. Bagi seorang komandan, kepandaian terlampau dibutuhkan termasuk ahli memberikan solusi berasal berbagaai persoalan yang dihadapinya. Kepandaian  Nabi Yusuf dalam memberikan solusi terlihat ketika kamu ditanya tentang kemujaraban impi baginda mebgenai sapta ekor sapi yang kurus-kurus. Dikisahkan, bahwa kemujaraban damba tersebut adalah aka nada sapta tahun yang subur kemudian diikuti dengan sapta musim paceklik. Tidak tetapi dalam menakwilkan mimpi, ketika mimpi raja tersebut terbukti, hanya Rasul Yusuf nan dapat melaluinya dengan selamat. Ia mutakadim mempersiapkan jauh-jauh hari kebuutuhan nan dibutuhkan ketika periode paceklik, setakat risikonya seluruh masyarakat Mesir mengantung. Kepada Nabi Yusuf bagi segala kebutuhan makannya.

Self Image Para Pemimpin

Allah Swt., bersuara: “(Selepas pelayan itu bertemu dengan Yusuf dia berseru): ‘Yusuf, hai makhluk yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang sapta ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang mersik-mersik dan sapta bulir (cante) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada insan-orang itu, hendaknya mereka mengetahuinya.’ Yusuf merenjeng lidah: ‘supaya engkau berladang tujuh hari (lamanya) begitu juga biasa: maka apa nan kammu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk makan. Kemudian sesudah itu akan dating sapta tahun yang amat selit belit, yang menghabiskan barang apa yang kamu simpan untuk mengahadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (pati gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan cak bertengger perian yang padatnya manusia diberi hujan abu (dengan memadai) dan di waktu itu mereka memeras berpangku tangan’.” (QS. Yusuf [12] : 46-49)

Baca juga:   Mengapa Menggunakan Kata Ganti Tersebut Bolehkah Diganti Saya Atau Aku

Nabi Yusuf juga senantiasa berbudi pekerti sani, mustakim dalam bersikap walaupun kamu harus mempertahankan kejujurannya hingga penjara. Lega hasilnya, kejujuran Nabi Yusuf pun terbukti setelah Zulaikha mengakuinya jika engkau  lah yang bersalah. Nabi Yusuf juga dikenal  sebagai pemimpin yang senantiasa berlaku adil kepada rakyatnya termasuk kepada saudara-saudaranya yang ketika itu hinggap ke Negara  Mesir. Sifat bebas Nabi Yusuf lain  pandang bullu, tidak hanya kepada orang lain, namun kepada keluarganya sendiri ia bertindak adil. Nabi Yusuf juga dikenal sebagai pemimpin yang senantiasa  berbuat baik  dan takwa kepada Allah Swt.

“Dan demikian kami memberi kedudukan kepada Yusuf di kawasan Mesir: (dia berkuasa mumbung) menyingkir menuju ke mana saja yang sira kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan kasih kami kepada siapa nan kami  kehendaki dan kami tak menyiagakan pahala turunan-orang yang melakukan baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagii individu-insan yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS. Yusuf [12] :57)

Mengajukan Diri sebagai Bos

Sebelum Yusuf mendapatkan amanah sebagai mangkubumi Negara, ia bertutur kepada raja mesir sebagaiman digambarkan  Sang pencipta dalam firman-Nya. “Berkata Yusuf: ‘jadikanlah aku kasir Negara (Mesir): sesungguhnya aku adalah orang yang juru menjaga lagi berpengetahuan’.”) (QS. Yusuf [12] :55)

Ayat tersebut merupakan adil bahwa seseorang yang mempunyai kemampuan dalam sebuah meres tertentu dapat lamar jabatan ataupun dominasi  terhadap urusan tersebut. Artinya, seseorang boleh mengajukan diri menjadi pemimppin kalau anda optimistis makmur dan ia tidak mengawasi manusia lain yang lebih mampu berpunca pada dirinya. Bakir n domestik hal  ini boleh bintang sartan mampu dari segi kepiawaian maupun dari keterbukaan, adil dan amanah.

Baca juga:   Tuliskan Dan Jelaskan Tentang Asas Asas Tata Ruang Kerja Kantor

Jika tak demikian, jangan pernah meminta jabatan karena jabatan ialah amanah yang besar pertanggungjawabannya baik di mayapada alias di darul baka. Mengajukan diri sebagai seorang  pemimpin enggak boleh bersendikan ambisi pribadi, karena ambisi jelas datangnya dari master nafsu.

“Rasulullah Saw. Bersabda kepadaku, ‘duhai Abdurrahman, janganlah kamu mempersunting sebuah jabatan. Sebab, jika diserahkan kepadamu jabatan dengan memintaknya, maka dia akan terbebani dengan jabatan tersebut. Namun, jika kamu akan terbebani dengan jabatan tersebut. Namun kalau dia memperoleh jabatan itu tanpa memintanya, maka kamu akan dibantu dalam mengemban jabatan tersebut’.” (HR. Muslim)

Menyadari Potensi Diri

Yusuf menganjurkan diri menjadi patih Negara karena ia mampu menjaga dan juga berpengetahuan. Ia enggak mengatakan, karena beliau tetampan atau berpenampilan menarik. Jadi jelas, beliau mengajukan diri menjadi  sendiri penguasa, dalam hal ini bendahara Negara karena ia optimistis boleh bergaya amanah  terhadap jabatan  yang diembannya. Mengajukan diri buat n kepunyaan jabatan tidak berdasarkan ambisinya yang ingin berhak. (s)

Yusuf nan menyebutkan dirinya pandai menjaga dan berpengetahuan menjadi pertanda bahwa seseorang diperbolehkan mengistilahkan fungsi dirinya bakal maslahat jalan hidup ataupun maksud mulia lainnya. Namun jika tidak, hal itu dilarang karena perbuatan termasuk internal kategori Nya.

Pahit lidah, setelah raja menerimakan urusannya kepada Yusuf, ia banyak melakukan kemaslahatan bikin penduduknya. Kamu juga mengajak mereka buat beribadah kepada Allah. Enggak  sedikit yang menerima ajakanya, karena kedudukannya nan didukung oleh sikap adil dan amanah yang ditunjukkan Yusuf. Sehingga wajar sekadar, Yusuf yang memang disukai secara fisik, juga disukai perbuatanya baik makanya laki-laki maupun cewek. Setiap cucu adam menyukainya.

Saat Yusuf memimpin, tanah-tanah di Mesir sedang subur-suburnya. Yusuf juga memerintahkan penduduknya agar menjaga dan merawat hasil pertanaman nan luber dan memperluas petak pertanian nan ada. Ketka waktu pengetaman tiba, Yusuf memerintahkan kiranya mengumpulkan semua mangsa perut hasil perladangan dan menympan di kelenteng-lumbung penyimpanan yang mutakadim dipersiapkan. Begitulah yang dilakukan makanya Yusuf setiap masa, hingga cak bertengger periode-periode masa sulit yang penuh kesulitan.

Bersambung…… (Kunci Sukses Nabi Yusuf)


*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Semester IV Program Penelitian Ilmu keguruan Agama Selam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan

Bagaimana Jika Seseorang Kehilangan Sifat Amanah

Source: https://rahma.id/amanah-kunci-sukses-jadi-pemimpin-1/