Beberapa Ahli Tafsir Menafsirkan Ulil Amri Sebagai Berikut Kecuali

By | 13 Agustus 2022

Beberapa Ahli Tafsir Menafsirkan Ulil Amri Sebagai Berikut Kecuali.



A.
oleh: Hudzaifaturrahman, Fikri al-Mubarok, Mad Rois, Firman Fiil Satria, M Juwaini




Pendahuluan

Di n domestik al-Hadits kami tidak menemukan hadits yang di dalamnya terletak kata ulil amri, namun di kerumahtanggaan al-Hadits hanya hadits-hadits yang menerangkan tafsir dari ayat al-Qur’an saja. Sedangkan intern  al-Qur’an, prolog
Ulil
Amri
hanya ditemukan di dua tempat doang, adalah lega dokumen an-Nisa ayat 59 dan 83:

1.



An-Nisa(3):59




“Hai makhluk-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat akan halnya sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu betul-betul beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan bertambah baik akibatnya.”






2.


An-Nisa(3):83Ç
Ñ
Ì
È




“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita akan halnya keamanan ataupun ketakutan, mereka silam menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya berpangkal mereka (rasul dan ulil Amri). takdirnya tidaklah Karena pemberian dan anugerah Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian mungil saja (di antaramu)”.




Allah SWT kerumahtanggaan arsip an-Nisa ayat 59 memberitahukan kepada seluruh umat manusia di mana sahaja dan kapan tetapi hingga hari kiamat akan halnya kewajiban menaati tiga hamba allah; Pertama, patuh kepada Halikuljabbar kemudian tegar kepada Rasul-Nya dan ragil loyal kepada Ulil Amr. Puas episode tak dari ayat ini telah dijelaskan rujukan kaum muslimin saat ki bentrok dan bersengketa, seakan-akan ayat ini sedang menyulut sebuah sistem peradilan objektif; Allah berfirman, Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka mintalah kepada Allah dan Nabi-Nya bikin menghukumi dan jangan kalian bawa masalah itu kepada pihak asing (tampin Islam). Dengan mengaibkan adanya keagamaan terhadap Allah dan hari hari pembalasan, maka dapat ditarik sebuah inferensi bahwa mereka yang tidak berlandaskan mata air-sumur Islam internal menghakimi sesuatu maka lega hakikatnya mereka bukanlah bani adam-orang nan muslim terhadap Allah dan periode kebangkitan tersebut.


B.





Penafsiran
ulil amri

Berkenaan dengan adverbia
Ulil
Amr

,

terdapat pendapat yang beragam, berikut ini penjelasan pendapat-pendapat tersebut

:

1.



Tafsir at-Thabari

Menurut

at-Thabari,

beliau

menyebutkan bahwa para ahli ta’wil berbeda pandangan tentang arti
ulil
amri. Suatu kerubungan ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
ulil
amri
yaitu
umara. Berbicara sebagian ulama bukan, masih internal kitab adverbia yang sama, bahwa ulil amri itu adalah
ahlul ilmi wal fiqh
(mereka yang memiliki aji-aji dan informasi akan fiqh). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Debu Bakar dan Umar. (Lihat makin jauh dalam Kata tambahan at-Thabari, juz 5, h. 147-149)

Baca juga:   Pasangan Zat Dibawah Ini Yang Merupakan Golongan Senyawa Hidrokarbon Adalah

2.



Padri al-Mawardi

Cak semau empat pendapat dalam memahamkan kalimat “ulul
amri” sreg QS An-Nisa:59. Mula-mula, ulil amri bermakna
umara
(para majikan yang konotasinya ialah pemimpin masalah keduniaan). Ini merupakan pendapat Ibn Abbas, as-Sa


dy, dan Abu Hurairah serta Ibn Zaid. Pastor al-Mawardi memberi karangan bahwa walaupun mereka mengartikannya dengan umara namun mereka farik pendapat dalam sabab nuzul turunnya ayat ini. Ibn Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays as-Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin privat
sariyah
(perang nan tidak diikuti oleh Rasulullah saw.). Sedangkan As-Sady berpendapat bahwa ayat ini jatuh berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid kacang Walid ketika keduanya diangkat oleh Nabi misal pemimpin dalam
sariyah. Kedua, ulil amri itu maknanya adalah ulama dan
fuqaha. Ini menurut pendapat Terkulai-kulai bin Abdullah, al-Hasan, Atha, dan Abi al-Aliyah. Ketiga, Pendapat dari Mujahid yang mengatakan bahwa ulil amri itu adalah sahabat-sahabat Rasulullah saw. Pendapat keempat, yang bermula berpokok Ikrimah, lebih menyempitkan makna ulil amri hanya kepada dua sahabat saja, ialah Abu Bakar dan Umar. (Kata keterangan al-Mawardi, jilid 1, h. 499-500)

3.



Adverbia

al-Maraghi

Ulil amri itu ialah
umara,
ahli
hikmah, cerdik pandai, pemimpin pasukan dan seluruh pengarah lainnya dan
zu





ama


yang manusia merujuk kepada mereka dalam hal kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat. Internal pelataran seterusnya al-Maraghi pula menyebutkan contoh yang dimaksud dengan ulil amri yaitu
ahlul
halli
wal
aqdi





yang dipercaya oleh umat, sama dengan ulama, pengarah militer dan atasan n domestik kemaslahatan masyarakat sebagai halnya pelimbang, orang tani, buruh, peliput dan sebagainya. (Adverbia al-Maraghi, juz 5, h. 72-73)

4.



Imam Fakhur Razi menyadari terserah empat pendapat tentang makna ulil amri:

Baca juga:   Luas Daerah Yg Diarsir Dari Gambar Di Samping Adalah

Pertama, makna ulil amri itu adalah
khulafa
arrasyidin. Kedua, pendapat lain mengatakan bahwa ulil amri bermakna bos perang (sariyah). Ketiga,
Ulil
amri
itu adalah ulama yang menerimakan fatwa n domestik hukum syara



dan mengajarkan manusia tentang agama (selam). Keempat, dinukil semenjak kelompok rawafidh



bahwa yang dimaksud dengan ulil amri ialah imam-pastor yang ma

shum. (Tafsir al-fakhr ar-Razi, juz 10, h. 144)

5.



Kata keterangan Ruh al-Ma

ani,

karya al-Alusi

Ada yang mengatakan bahwa
ulil
amri
itu merupakan pemimpin kaum muslimin (umara
almuslimin) lega perian Rasul dan sesudahnya. Mereka itu adalah para khalifah, raja, qadhi (juri) dan yang lainnya. Suka-suka juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah pemimpin sariyah. Juga ada nan berpendapat bahwa ulil amri itu yaitu
ahlul
ilmi
(cendekiawan). (Tafsir Ruh al-Maani, juz 5, h 65)

6.



Ibn Katsir, setelah mengutip sejumlah hadis mengenai makna ulil amri, menyimpulkan bahwa ulil amri itu merupakan, menurut zhahirnya,
ulama.

Sedangkan secara umum ulil amri itu yakni
umara
dan
ulama” (Tafsir al-Quran al-Azhim, juz 1, h. 518)


7.




Dr. Wahbah az-Zuhaili, jamhur kontemporer yang semasa dengan Dr. Yusuf Qardhawi, n domestik kitab tafsirnya, at-Kata tambahan al-Munir, menyebutkan bahwa sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa makna ulil amri itu ialah
ahli
hikmah
maupun komandan perang. Sebagian lagi berpendapat bahwa ulil amri itu yaitu
ulama
yang menguraikan kepada cucu adam adapun hukum-hukum syara’. Sementara itu syiah, masih menurut Wahbah Az-Zuhaili, berpendapat bahwa ulil amri itu merupakan imam-pater yang mashum. (at-Tafsir al-Munir, juz 5, h. 126). Dalam kitab ahkam al-Quran, Ibn al-arabi bersabda: “yang benar dalam pandangan saya yakni ulil amri itu umara dan jamhur semuanya”. (Ahkam al-Quran, juz 1, h. 452)

.

[1]





Dari bilang penafsiran di atas maka dapat dikumpulkan makna dari ulil amri meliputi



umara (

para komandan yang konotasinya adalah pejabat masalah duniawi), ahlul ilmi wal fiqh
(mereka yang memiliki ilmu dan publikasi akan fiqh), Sahabat-sahabat Rasulullah-lah sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar, cerdik pandai dan fuqaha (khalayak yang memberikan fatwa internal hukum syara’ dan mengajarkan manusia akan halnya agama (islam),pandai
hikmah,
menurut kelompok Syiah imam-rohaniwan nan mashum, para
khalifah,
sultan,
qadhi
(hakim) dan yang lainnya.

Baca juga:   Umur Pohon Dapat Dilihat Dari Garis-garis Yang Menunjukkan Hasil Kegiatan

C.




Barometer Ulil Amri Menurut Islam


1.



Adil

2.



Mempunyai pengetahuan yang luas

3.



Sehat mental dan raga

4.



Komplet anggota badan

5.



Cepat menjumut keputusan pandai bersiyasat

6.



Pemberani

7.



Punya nasab yang baik

[2]



D.





Penali

Dari bilang kitab tafsir yang dikutip di atas dapat diberikan coretan sebagai berikut: Para cerdik pandai berbeda pendapat mengenai makna ulil amri.

Ada yang mencoba mengembangkan makna ulil amri dengan semua ulama dan umara. Suka-suka pula yang mencoba menyempitkannya dengan khusus pada Abu Bakar dan Umar semata. Ada yang hanya menyibuk puas cerdik pandai saja (ahlul ilm
i
) dan terserah nan hanya berpegang pada arti bos perang.

Sejumlah kitab tafsir, khususnya kitab tafsir klasik semisal Tafsir at-Thabari dan Ruh al-Maani, hanya mengistilahkan ideal
ulil
amri
itu pada jabatan atau profesi yang dipandang krusial pada masanya. Sedangkan Adverbia al-Maraghi, yang merupakan kitab tafsir yang ditulis pada abad 20 ini, menyebutkan contoh-contoh
ulil
amri itu tidak hanya berkisar pada
ahlul
hall


i


i


wal
aqdi, ulama, bos perang saja; sekadar pun mengegolkan profesi koresponden, buruh, pedagang, petani ke dalam contoh
ulil
amri.

Bagaikan catatan akhir, kita memang diperintah maka dari itu Allah bakal setia kepada
ulil
amri



(apapun pendapat yang kita pilih tentang makna ulil amri). Namun perlu diperhatikan bahwa perintah konsisten kepada ulil amri lain digandengkan dengan kata “taat”; seperti kata “taat” yang digandengkan dengan Allah dan Utusan tuhan (periksa redaksi QS an-Nisa: 59). Quraish Shihab, yang disebut-sebut ibarat mufassir Indonesia, memberi ulasan yang menjujut: “Tak disebutkannya introduksi “ki ajek” pada ulil amri bagi memberi tanda-tanda bahwa ketaatan kepada mereka tidak bersimbah koteng tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-biji ajaran Halikuljabbar dan Nabi-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka. N domestik kejadian ini dikenal pendirian nan adv amat populer ialah: “La tha





at


a



li makhluqin fi ma’shiyat al-Khaliq


“. Tidak dibenarkan adanya loyalitas kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Almalik).”

[3]







[2]





Khoirul Anam,
Fikih Siyasah Dan Wacana Garis haluan Mutakhir, (Yogyakarta: Ida Pustaka, 2009) hlm. 17-21

Related Post

Beberapa Ahli Tafsir Menafsirkan Ulil Amri Sebagai Berikut Kecuali

Source: https://putralalamping.blogspot.com/2012/04/ulil-amri-dalam-perspektif-al-quran-dan.html