Berikut Suku Bangsa Indonesia Yang Tergolong Proto Melayu Kecuali

By | 14 Agustus 2022

Berikut Suku Bangsa Indonesia Yang Tergolong Proto Melayu Kecuali.


Bangsa Jawi

Orang Melayu

ملايو

Jumlah populasi
± 27 miliun

(secara jagat rat)
Daerah dengan populasi berfaedah
Marcapada Melayu ca.

27 million


Malaysia



Malaysia
15,479,600


Indonesia



Indonesia
8,753,791[1]




Thailand



Thailand
1,964,384[2]




Singapura



Singapura
720,000[3]




Brunei



Brunei
261,902[4]
Diaspora ca.

400,000–450,000




Afrika Selatan



Afrika Selatan
~200,000[5]




Arab Saudi



Arab Saudi
~50,000[6]

[7]




Sri Lanka



Sri Lanka
40,189[8]

[a]




Australia



Australia
33,183[9]




Britania Raya



Inggris Raya
~33,000[10]




Amerika Serikat



Amerika Serikat
29,431[11]




Myanmar



Myanmar
~27,000[12]




Kanada



Kanada
16,920[13]
Bahasa
Jawi, Indonesia, Thai, Inggris, Tagalog, Khmer, Cham, Burma
Agama
Islam (invalid kian 99%) & Lainnya (1%)
Kedaerahan tercalit
Mengenai suku-suku rumpun Jawi/tungkai yang serumpun dengan Melayu yaitu: Minangkabau, Saf, Aceh, Lampung, Kutai, Betawi

Suku Jawi

[14]

[15]

(bahasa Melayu:




Melayu



; Jawi:
ملايو) adalah kelompok rasial/etnik Austronesia yang mendiami Jazirah Malaya, rantau timur pulau Sumatra (Bangka Belitung, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Sumatra Utara), fragmen selatan Thailand, siring laut daksina Burma, pulau Singapura, pantai Kalimantan, dan pulau-pulau katai yang terwalak di seputar lokasi ini—secara kolektif dikenal seumpama “Dunia Melayu”. Lokasi ini masa ini merupakan fragmen berpokok negara beradab Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Thailand, dan Filipina.

Meskipun begitu, banyak pun awam berbunga rasial Aceh, Minangkabau, Batak, Mandailing, Jejer, Dayak, Jawa sebatas Bugis yang pun dianggap andai hamba allah Melayu khususnya mereka yang telah bermigrasi ke Tanjung Malaysia, Singapura, dan Borneo Utara. Di Malaysia dan Singapura, definisi Melayu mutakadim diperluas ke erat seluruh senggat wilayah gugusan pulau Indonesia bertamadun, banyak sosok Non Melayu nan berpunca berbunga pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, mutakadim menikmati status mereka perumpamaan putaran dari umum Bumiputra Jawi dan secara spesifik dikelompokkan ke privat gerombolan Jawi “Anak dagang”. Di Malaysia dan Singapura ada gaya politik bagi mengepas meletakkan semua gerombolan kedaerahan nan wicara dengan bahasa Jawi dan kebetulan beragama Selam di dasar satu panji – Melayu (“Sekiranya Sira berbicara Melayu dan Engkau Muslim, maka Anda Melayu”).[16]

[17]

Lain demikian halnya di Indonesia di mana semua kaki bangsa n kepunyaan identitas budayanya tiap-tiap nan diakui dan dihormati maka itu pemerintah. Faktor ini juga nan menjadi cikal bakal tumpah tindih identitas “Melayu” antara Indonesia dengan negara setangga khususnya Malaysia. Selain di Nusantara, kaki Melayu juga terwalak di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Daksina (Cape Malays).


Ki kenangan



[sunting

|
sunting mata air]




Label “Malayu” berasal semenjak Kerajaan Malayu yang gayutan ada di kewedanan Sungai Batang hari, Jambi. Dalam perkembangannya, Imperium Jawi karenanya takluk dan menjadi piadah Kerajaan Sriwijaya.[18]

Eksploitasi istilah Jawi pula menular sebatas ke luar Sumatra, mengimak teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang mencecah Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Berlandaskan prasasti Keping Tembaga Laguna, petualang Melayu sudah berkedai ke seluruh wilayah Asia Tenggara, juga ikut serta mengirimkan adat budaya dan Bahasa Melayu puas area tersebut. Bahasa Jawi balasannya menjadi
lingua franca

menggantikan Bahasa Sanskerta.[19]

Era keberhasilan Sriwijaya adalah masa emas buat peradaban Melayu, termaktub pada waktu wangsa Sailendra di Jawa, kemudian dilanjutkan makanya kerajaan Dharmasraya setakat sreg abad ke-14, dan terus berkembang puas waktu Kesultanan Malaka[20]

[21]

[22]

sebelum imperium ini ditaklukan maka itu kekuatan angkatan Portugis pada waktu 1511.

Masuknya agama Selam ke Nusantara pada abad ke-12, diserap baik-baik makanya masyarakat Jawi. Islamisasi bukan doang terjadi di landasan awam jelata, semata-mata mutakadim menjadi corak rezim kerajaan-imperium Melayu. Di antara imperium-kerajaan tersebut ialah Kesultanan Johor, Kesultanan Selaka, Kesultanan Pahang, Sultanat Brunei, Kesultanan Langkat, Sultanat Deli, dan Sultanat Siak, terlebih imperium Karo Aru juga punya yang dipertuan dengan gelar Jawi. Keberadaan Eropa sudah lalu menyebabkan sosok Melayu tersebar ke seluruh Nusantara, Sri Lanka, dan Afrika Selatan. Di perantauan, mereka banyak n hak geta dalam satu kekaisaran, seperti mana panglima pangkalan, ulama, dan hakim.

Kerumahtanggaan urut-urutan selanjutnya, akrab seluruh Kepulauan Nusantara mendapatkan kekuasaan bersama-sama berpokok Kaki Melayu. Bahasa Melayu nan sudah berkembang dan dipakai oleh banyak masyarakat Nusantara, akibatnya dipilih menjadi bahasa nasional di Indonesia, Malaysia, dan Brunei.


Etimologi



[sunting

|
sunting sumber]




Klaudius Ptolemaeus (90–68 M) intern karyanya
Geographia

mengingat-ingat sebuah jazirah di
Aurea Chersonesus

(Jazirah Melayu) yang bernama
Maleu-usus besar, yang diyakini semenjak dari Bahasa Sanskerta,
malayakolam

ataupun
malaikurram.[23]

Berlandaskan G. E. Gerini,
Maleu-Usus besar

momen ini merujuk plong Tanjung Kuantan atau Ancol Penyabung di Tanjung Malaya.

Baca juga:   Penerapan Hidup Sehat Di Masa Pandemi


Individu Ardi



[sunting

|
sunting sumber]




Lega Ki 48 bacaan agama Hindu Vuya Purana nan berbudi Sanskerta, pembukaan
Malayadvipa

merujuk kepada sebuah kawasan di pulau yang makmur kencana dan selaka. Di sana mengalir perlahan-lahan dolok yang disebut dengan
Malaya

yang artinya sebuah argo samudra (Mahamalaya). Sungguhpun seperti itu banyak akademikus Barat, antara lain Sir Roland Braddell menyeimbangkan
Malayadvipa

dengan Sumatra.[24]

Sedangkan para intelektual India beriktikad bahwa itu merujuk pada sejumlah gunung di Tanjung Malaya.[25]

[26]

[27]

[28]

[29]


Imperium Malayu



[sunting

|
sunting sendang]




Dari gubahan Yi Jing, koteng imam Buddha terbit Dinasti Catut, yang menyadran ke Nusantara puas musim 688–695, dia menyebutkan ada sebuah kekaisaran yang dikenal dengan
Mo-Lo-Yu

(Melayu), yang berakhir 15 tahun pelayaran semenjak Sriwijaya. Dari Ka-Cha (Kedah), jaraknya lagi 15 musim pelayaran.[30]

Bersendikan goresan Yi Jing, kerajaan tersebut yaitu negara yang merdeka dan akibatnya ditaklukkan maka itu Sriwijaya.

Berlandaskan Prasasti Padang Roco (1286) di Sumatra Barat, ditemukan prolog-introduksi
bhumi malayu

dengan ibu kotanya di Dharmasraya. Kerajaan ini merupakan kelanjutan pecah Kerajaan Malayu dan Sriwijaya yang telah ada di Sumatra sejak abad ke-7. Kemudian Adityawarman memindahkan ibu kota kerajaan ini ke negeri pedalaman di Pagaruyung.

Pedagang Venesia yang tenar, Marco Polo internal bukunya
Travels of Marco Polo

menyebutkan mengenai
Malauir

yang berlokasi di bagian kidul Ancol Melayu. Prolog “Melayu” dipopulerkan makanya Kesultanan Malaka yang digunakan cak bagi menyabungkan kultur Malaka dengan kultur luar merupakan Jawa dan Thai.[31]

Dalam perjalanannya, Malaka tidak saja tercatat bagaikan pusat bursa yang dominan, namun juga seumpama taktik tamadun Melayu nan berwibawa luas.[32]


Jawi Indonesia



[sunting

|
sunting mata air]




Secara ras ataupun rumpun bangsanya, Melayu di Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok yakni Jawi Deutero dan Melayu Proto.

Jawi Deutro / Deutro Malayan

yakni rumpun Melayu Muda yang datang sehabis
Melayu Proto

lega Zaman Logam seputar bertambah terbatas 500 SM. Rumpun nan masuk gelombang elektronik kedua ini membentangi suku nasion Melayu, Aceh, Lampung, Minangkabau, Manado,

[kalam rujukan]



yang bersemayam di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Madura, dan Sulawesi.

Melayu Proto / Proto Malayan

adalah rumpun Melayu Renta nan kongkalikong bertengger barangkali pertama plong tahun lebih kurang 1500 SM membentangi suku bangsa Dayak, Toraja, Tepas, Nias, Batak, Momongan internal, Enggano, dll. yang berkampung di pulau Kalimantan, Sulawesi, Nias, Sahang, dan Sumatra.

Tentang golongan bukan yang tak tercantum rumpun Melayu namun tetap tercantum bangsa di Indonesia merupakan rumpun Melanesia yang menetap di adegan kawasan timur Indonesia. Meskipun demikian, istilah Melayu nan digunakan di Indonesia kian mengacu sreg kurnia tungkai bangsa nan lebih spesifik sehingga Jawi yang ada lain tercantum tungkai bangsa Jawa nan yakni suku nasion mayoritas.

Berikut ini jabaran suku Jawi di wilayah Indonesia:

  • Suku Melayu (Orang selam) di Indonesia menurut sensus tahun 2010 terdiri dari:

    • Jawi Tamiang
    • Melayu Palembang
    • Melayu Bangka
    • Jawi Deli
    • Jawi Asahan
    • Jawi Pesisir
    • Melayu Riau
    • Jawi Gugusan pulau
    • Jawi Jambi
    • Melayu Bengkulu
    • Jawi Merangin
    • Jawi Lematang
    • Melayu Batin
    • Jawi Rokan
    • Melayu Siak
    • Melayu Kampar
    • Jawi Rawas
    • Jawi Musi
    • Melayu Kuantan
    • Jawi Belitung
    • Melayu Pontianak
    • Jawi Sanggau
    • Melayu Sintang
    • Melayu Kotawaringin
    • Melayu Lahat
    • Melayu Sambas
    • Melayu Lembak
    • Melayu Kaur
    • Jawi Besemah
    • Melayu Ogan
    • Jawi Langkat
    • Melayu Lintang
    • Melayu Serawai
    • Melayu Berau
    • Jawi Loloan
    • Melayu Bulungan


Melayu Malaysia



[sunting

|
sunting sumur]




Sebuah kampung Melayu di Johor.

Melayu Malaysia nan disebut seumpama “Kabilah Melayu” yakni publik Melayu berintikan cucu adam Jawi salih tanah Jazirah Malaya (Jawi Anak Murni), ditambah kaki-tungkai perantau pecah Indonesia dan gelanggang lainnya yang disebut “Jawi Orang perantauan” seperti Palembang, Riau, Bangka-Belitung, Lembak, Serawai, Pontianak, Sambas, Deli, Langkat, Tamiang, Sintang, Jambi, Bengkulu, Kerinci, Melayu Singapura, Kedayan Brunei, Melayu Brunei, Jawi Filipina, justru Jawi Thailand Daksina digolongkan sebagai suku Melayu sekadar tidak salih dari Malaysia maka digolongkan suku Melayu orang perantauan. Ada sekali sekali lagi suku non Jawi berusul Indonesia maupun Brunei digolongkan seumpama anak asuh jual beli seperti Jawa, Minangkabau, Makassar, Batak Mandailing, Aceh, Bugis, Bawean, Gayo, Batak,Jejer, Dayak, Mandar, Lampung, Sunda, Dayak, Madura, dan tidak-tidak. Adapun tungkai-suku Non Melayu di luar Nusantara (di luar Indonesia & Brunei) statusnya sama sebagaimana Tionghoa/India yang akan dicantumkan stempel kaki beserta negara asalnya, ideal namun Nasion Filipina (cucu adam Tagalog, Bisaya, dll.) Nasion Thai, Bangla, Pakistan/Punjabi, Bangsa Arab, Bangsa Inggris dll. Semua tungkai yang beragama Islam di Malaysia diikat maka dari itu agama Islam dan budaya Melayu Malaysia. Karena sudah lalu beraduk dengan warga lugu/Melayu lokal maka basyar zuriat tersebut dianggap misal cucu pria Melayu belaka keturunan dari kaki Jawa, Bugis, Aceh misalnya. Ras lain yang beragama Islam dan sudah berbaur/menikah dengan insan Melayu sangat n kepunyaan anak cucu juga dikategorikan Kaum Melayu, seperti Tionghoa Muslim, India Muslim, dan Arab. Sehingga Jawi pun signifikan bangsa yang merupakan “kekerabatan Nasion Malaysia” nan ada di Kekaisaran Islam tersebut, karena seandainya ada konsep Sultan (umara) bermanfaat kembali cak semau
ummat

nan dilindunginya.

Baca juga:   Menaruh Kepercayaan Kepada Orang Lain Tentang Suatu Urusan Termasuk

Tetapi, etnis Jawi di Malaysia Barat (Malaya) nan lain terpikat dengan perlembagaan Malaysia secara lazimnya terbagi kepada tiga suku rasial terbesar, ialah Melayu Kelantan, Jawi Johor dan Jawi Kedah

[pelir rujukan]

.Di Malaysia Timur terletak pun komunitas Melayu, yakni Jawi Sarawak dan Melayu Brunei yang mempunyai dialek yang berbeda dengan Melayu Ancol Malaya. Kaki Melayu Sarawak biasanya terdapat di Negara Penggalan Sarawak, serta lebih berkerabat dengan Tungkai Melayu Pontianak pecah Kalimantan Barat. Sedangkan Kaki Melayu Brunei rata-rata berkampung di episode utara Sarawak, Rantau Barat Sabah, serta Brunei Darussalam.


Melayu Siam



[sunting

|
sunting sumber]




Thailand punya kuantitas kaki Melayu ketiga terbesar selepas Malaysia dan Indonesia, dengan populasi kurang lebih 3 miliun kehidupan (Prediksi 2010).[33]

[34]

Lazimnya pecah mereka berdomisili di kawasan kidul Thailand serta di kawasan sekeliling Bangkok (terkait dengan evakuasi suku Melayu dari selatan Thailand serta utara tanjung Malaya ke Bangkok sejak abad ke 13).

Kehadiran Suku Jawi di area daksina Thailand sudah ada sebelum perpindahan Tungkai Thai ke Semenanjung Malaya melangkaui penyerobotan Kekaisaran Sukhothai, nan diikuti oleh Kerajaan Ayutthaya, lega awal abad ke-16. Hal ini boleh dilihat pada etiket-segel daerah di negeri selatan Thailand yang berpangkal berpangkal bahasa Melayu atau nama tidak dalam logat Jawi, misalnya “Phuket/ภูเก็ต” tepi langit domestik bahasa Jawi “Bukit/بوكيت”, “Thalang” (“Blantik/تلاڠ”), “Trang” (“Terang/تراڠ”), Narathiwat/นราธิวาส (“Palas-palas”), “Pattani/ปัตตานี” (“Patani/ ڤتني”), “Krabi/กระบี่” (“Gerabi”), “Songkla/สงขลา” (“Singgora/سيڠڬورا”), “Sertifikat Thani/สุราษฎร์ธานี” (“Lingga”), “Satun/สตูล” (“Mukim Setul/مقيم ستول”), “Ranong/ระนอง” (“Rundung/روندوڠ”), “Nakhon Sang Thammarat/นครศรีธรรมราช” (“Ligor”), “Chaiya/ไชยา” (Kilat), “Phattalung/พัทลุง” (“Mardelung/مردلوڠ”), “Yala/ยะลา” (“Jejala/جال”), “Koh Phi-Phi/หมู่เกาะพีพี” (“Pulau Api-Jago merah”), “Koh Samui/เกาะสมุย”(“Pulau Saboey”), “Su-ngai Kolok/สุไหงโก-ล” (Sungai Mimi), “Su-ngai Padi/สุไหงปาดี” (Kali besar Pari), “Rueso/รือเสาะ” (“Resak”), “Koh Similan/หมู่เกาะสิมิลัน” (“Pulau Sembilan/ڤولاو سمبيلن”), dan “Sai Buri/สายบุรี” (“Selindung Bayu/سليندوڠ بايو”).

Kawasan selatan Thailand kembali sangkut-paut melihat kebangkitan dan degradasi kerajaan Melayu antaranya Negara Sri Dhamaraja (100-an–1500-an), Langkasuka (200-an − 1400-an), Kesultanan Pattani
[35]

[36](1516–1771), Kesultanan Reman (1785–1909)[37]

serta Sultanat Singgora (1603–1689).[38]

[39]

Galibnya suku Melayu Siam fasih berbicara bahasa Thai serta bahasa Melayu setempat saja. Contohnya, tungkai Jawi di kawasan pesisir tenggara Thailand adalah Pattani, Songkhla, serta Hat Yai, kian cenderung menunggangi logat Melayu Pattani, sementara itu suku Melayu di pesisir barat seperti Satun, Phuket, dan Ranong, menuturkan logat Melayu Kedah. Suku Melayu di Bangkok juga mempunyai logat Melayu Bangkok sendiri.

Sreg saat ini, ada upaya berbunga pemerintah siasat lakukan mengerdilkan budaya Melayu di Thailand, salah satunya dengan menidakkan penggunaan bahasa Melayu perumpamaan bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan menggantinya dengan bahasa Thai. Selain itu, kegiatan-kegiatan tungkai Jawi Siam yang beragama Selam menghadap dibatasi, baik secara sosial, ekonomi, maupun kultural.


Melayu Myanmar



[sunting

|
sunting sumber]




Selain dari Thailand, Myanmar juga mempunyai peguyuban suku melayu yang lautan di Indochina. Lazimnya ketimbang Suku Melayu terpusat di penggalan paling selatan negara itu, yaitu di Divisi Tanintharyi
Bahasa Myanmar: တနင်္သာရီတိုင်းဒေသကြီး (Bahasa Melayu: Tanah Konsentrat) dan Kepulauan Mergui မြိတ်ကျွန်းစု. Akibat ketimbang pengijarahan, kekerabatan Jawi Myanmar pula terdapat di Yangon, Divisi Mon, Thailand, serta Malaysia.[40]

Kehadiran Suku Melayu di kawasan daksina Myanmar diperkirakan seawal 1865, saat satu kumpulan yang diketuai Nayuda Ahmed menyibakkan pemukiman di kawasan nan pada periode ini dikenali misal Kawthaung ကော့သောင်းမြို့ (dikenali sebagai
Pelodua

internal Bahasa Jawi).

Supremsi Jawi dapat dilihat dengan penggunaan cap-tanda zakiah Melayu di provinsi tersebut, antaranya Pulau Dua, Pulau Tongtong, Sungai Gelama, Deka- Rayuan, Komandan Gangguan, Tanjung Angin besar, Pasir Tangga, Malay One, Teluk China, Teluk Ki akbar, Mek Puteh, Kali besar Balairung, Pulau Balai, Pulau Cek, Jazirah Timah panas, Pulau Bada, Teluk Peluru, Tanjung Gasi, Pulau Rotan Helang, Pulau Senangin,dan sebagainya.[41]

Ini berbeda dengan kejadian di Thailand, di mana berlakunya penukaran label zakiah Bahasa Melayu kepada Bahasa Thailand.

Di Myanmar, masyarakat Melayu n kepunyaan peradaban serta bahasa yang seragam dengan Suku Melayu di pantai timur selatan Thailand yaitu di Phuket, Ranong, serta utara Ancol Malaya begitu juga di Kedah, Perlis serta Pulau Pinang. Ini karena area-provinsi tersebut hubungan berharta di sumber akar susu pengaruh Kesultanan Kedah.[42]

Pada zaman ini, komunitas Melayu di Myanmar fasih beristiadat Myanmar, Bahasa Melayu dan Bahasa Thailand, karena situasi geografis mereka nan rani di perbatasan. Mereka juga masih mengekalkan kebudayaan Melayu nan kental sebagaimana pemanfaatan kain sarung serta pendayagunaan karangan Jawi. Namun, bilangan mereka di Divisi Tanintharyi semakin menyusut karena pengungsian bagi mencari kemungkinan sosio-ekonomi yang bertambah baik.

Baca juga:   Tempat Industri Berat Di Inggris Adalah Kota




Kaum Melayu Singapura (Golongan Bumiputera)



[sunting

|
sunting sumur]




Komposisi Kaum dalam Populasi Jawi di Singapura 1931-1990

Kelompok Ras Jawi 1931 1947 1957 1970 1980 1990
Besaran 65,104 113,803 197,059 311,379 351,508 384,338
Jawi 57.5% 61.8% 68.8% 86.1% 89.0% 68.3%
Minangkabau 24.5% 21.7% 18.3% 7.7% 6.0% 17.2%
Bugis 14.4% 13.5% 11.3% 5.5% 4.1% 11.3%
Bawean 1.2% 0.6% 0.6% 0.2% 0.1% 0.4%
Jawa 0.7% 0.3% 0.2% 0.1% Tepi langit.A. T.A.
Ras Jawi enggak 1.7% 2.1% 0.9% 0.4% 0.8% 2.9%

(Reference: Arumainathan 1973, Vol 1:254; Pang, 1984, Appendix m; Sunday Times, 28 June 1992)


Lihat pula



[sunting

|
sunting sendang]




  • Masyarakat Melayu di Malaysia
  • Jawi Kedah
  • Melayu Sri Lanka
  • Melayu-Bugis
  • Senjata Jawi
  • Suku Melayu (Minang)
  • Ketuanan Melayu


Teks



[sunting

|
sunting sumber]






  1. ^





    “Ethnic Group (eng)”.
    indonesia.go id. Indonesian Information Bab. 2017. Diarsipkan mulai sejak versi tulus terlepas 2020-04-21. Diakses sungkap
    29 December

    2020
    .
    This quantity only provides the ethnic group population that lies under the term “Jawi” of Melayu Asahan, Melayu Deli, Jawi Riau, Langkat/ Melayu Langkat, Jawi Banyu Payau, Asahan, Melayu, Jawi Lahat, and Melayu Semendo in some part of Sumatra











  2. ^





    “Thailand”.
    World Population Review. 2015.










  3. ^





    “Singapore”.
    CIA World Factbook. 2012. Diakses tanggal
    28 February

    2014
    .










  4. ^



    “CIA (B)”


  5. ^





    “Cape Malay in South Africa”. Joshua Project.









  6. ^





    “Jejak Jawi di manjapada anbiya”. Diarsipkan dari versi nirmala terlepas 15 September 2018. Diakses tanggal
    1 June

    2018
    .










  7. ^





    “Ardi Ajyad perkampungan komuniti Melayu di Mekah”. Diarsipkan berasal varian nirmala copot 15 September 2018. Diakses copot
    1 June

    2018
    .










  8. ^





    “A2 : Population by ethnic group according to districts, 2012”.
    Sri Lanka Census of Population and Housing, 2011. Department of Census and Statistics, Sri Lanka.










  9. ^





    “Australia – Ancestry”.
    .id community.










  10. ^





    “Malaysian Malay in United Kingdom”. Joshua Project.









  11. ^





    “Data Access Dissemination Systems (DADS): Results”.
    United States Census Bureau. 5 October 2010. Diakses copot
    2 December

    2018
    .










    [burung pemastian]





  12. ^





    “Malay in Myanmar (Burma)”. Joshua Project.









  13. ^





    “Census Profile, 2016 Census”. Statistics Canada.









  14. ^





    (Inggris)

    Malayan miscellanies, Malayan miscellanies (1820).




    Malayan miscellanies




    . Malayan miscellanies.










  15. ^





    (Inggris)

    Milner, Anthony (2010).




    The Malays



    . John Wiley and Sons. ISBN 9781444339031.








    ISBN 1-4443-3903-6


  16. ^



    Milner 2010, hlm. 200, 232.


  17. ^



    Milner 2010, hlm. 10 & 185.


  18. ^





    “Early Malay kingdoms”. Sabrizain.org. Diakses tanggal
    2010-06-21

    .










  19. ^





    Zaki Ragman (2003).
    Gateway to Malay culture. Singapore: Asiapac Books Pte Ltd. hlm. 1–6. ISBN 981-229-326-4.










  20. ^





    Alexanderll, James (2006).
    Malaysia Brunei & Singapore. New Holland Publishers. hlm. 8. ISBN 1860113095, 9781860113093.










  21. ^





    “South and Southeast Asia, 500 – 1500”.
    The Encyclopedia of World History.
    1. Houghton Mifflin Harcourt. 2001. hlm. 138.










  22. ^





    Ozon. W. Wolters (1999).
    History, culture, and region in Southeast Asian perspectives. Singapore: Cornell University Southeast Asia Program Publications. hlm. 33. ISBN 978-0877277255.










  23. ^





    Gerolamo Emilio Gerini (1974).
    Researches on Ptolemy’s geography of eastern Asia (further India and Indo-Malay archipelago. Munshiram Manoharlal Publishers. hlm. 101. ISBN 81-70690366.










  24. ^





    Phani Deka (2007).
    The great Indian corridor in the east. Mittal Publications. hlm. 57. ISBN 81-8324-179-4.










  25. ^





    Govind Chandra Pande (2005).
    India’s Interaction with Southeast Asia: History of Science,Philosophy and Culture in Indian Civilization, Vol. 1, Part 3. Munshiram Manoharlal. hlm. 266. ISBN 978-8187586241.










  26. ^





    Lallanji Gopal (2000).
    The economic life of northern India: c. A.D. 700-1200. Motilal Banarsidass. hlm. 139. ISBN 9788120803022.










  27. ^





    D.C. Ahir (1995).
    A Panorama of Indian Buddhism: Selections from the Maha Bodhi journal, 1892-1992. Sri Satguru Publications. hlm. 612. ISBN 8170304628.










  28. ^





    Radhakamal Mukerjee (1984).
    The culture and art of India. Coronet Books Inc. hlm. 212. ISBN 9788121501149.










  29. ^





    Himansu Bhusan Sarkar (1970).
    Some contributions of India to the ancient civilisation of Indonesia and Malaysia. Calcutta: Punthi Pustak. hlm. 8.










  30. ^





    I-Tsing (2005).
    A Record of the Buddhist Religion As Practised in India and the Malay Archipelago (A.D. 671-695). Asian Educational Services. hlm. xl – xli. ISBN 978-8120616226.










  31. ^





    Timothy P. Barnar (2004).
    Contesting Malayness: Malay identity across boundaries. Singapore: Singapore University press. hlm. 4. ISBN 9971-69-279-1.










  32. ^





    Europa Publications Staff (2002).
    Far East and Australasia 2003 (34th edition). Routledge. hlm. 763. ISBN 978-1857431339.










  33. ^





    “Tembusan akta”. Diarsipkan berpokok varian asli sungkap 2010-12-29. Diakses tanggal
    2011-04-28

    .










  34. ^



    http://www.minorityrights.org/?lid=5600&tmpl=printpage


  35. ^



    http://halaqah.pukat/v10/index.php?topic=4466.0

    [

    pranala nonaktif permanen

    ]






  36. ^





    “Arsip sahifah”. Diarsipkan bersumber varian jati sungkap 2011-10-26. Diakses tanggal
    2011-10-26

    .










  37. ^



    http://kebunketereh.com/?p=387


  38. ^



    http://smzakirsayapmatahari.blogspot.com/2009/02/ii kabupaten-singgora.html


  39. ^



    http://www.koransuroboyo.com/2010/11/singgora-kerajaan-melayu-islam.html


  40. ^



    http://www.ibnuhasyim.com/2009/06/hamba allah-melayu-myanmar.html


  41. ^



    http://www.ibnuhasyim.com/2009/07/myanmar-pula-properti-anak adam-melayu.html


  42. ^



    http://www.bharian.com.my/bharian/articles/SusurgalurMuslimMyanmardariutaraSemenanjung/Article/index_html

    [

    pranala nonaktif permanen

    ]





Pranala asing



[sunting

|
sunting sendang]




  • (Melayu)

    Puisi Usman Awang mengenai Jawi.
  • (Inggris)

    Jawi
  • (Indonesia)

    Modal Sosial dan Pembangunan Manusia Jawi makanya Witrianto, S.S., M.Hum., M.Si berpangkal Institut Andalas

    [

    pranala nonaktif permanen

    ]


  • (Indonesia)

    Bhinneka Singularis Ika Diarsipkan 2010-01-26 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)

    Propaganda Bangsa Melayu Osean Diarsipkan 2016-04-08 di Wayback Machine.

Berikut Suku Bangsa Indonesia Yang Tergolong Proto Melayu Kecuali

Source: https://duuwi.com/62426/berikut-suku-bangsa-indonesia-yang-tergolong-proto-melayu-kecuali.html