Ceritakan Kembali Proses Masuknya Agama Kristen Ke Indonesia

By | 12 Agustus 2022

Ceritakan Kembali Proses Masuknya Agama Kristen Ke Indonesia.


camera

Franciscus Xaverius, rohaniwan dari Spanyol dalang penyerantaan Katolik di Indonesia, mengunjungi Kesultanan Ternate tahun 1579.

APRIL 1511. Sesudah membaca surat mulai sejak Rui de Araujo, satu berusul 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque, gubernur Portugis kedua di India, mengumpulkan legiun dalam besaran lautan dan berlayar dengan belasan kapal memusat Malaka. Privat periode sumir, dia berhasil menaklukkan Malaka, dermaga perdagangan penting rasi itu.

Dari Malaka, Albuquerque mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan kesudahannya Ternate. Di Ternate, Portugis beruntung pemaafan membangun pertahanan. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sambil menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pastor Katolik yang cak bertengger bersama Antonio Galvao, kemudian jadi bos Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Selepas menguasai Malaka, Portugis dapat memonopoli perdagangan dan mencecerkan agama Katolik secara makin teratur di negeri timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore. Riuk satu zandeling Katolik di kawasan itu adalah Franciscus Xaverius berbunga Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang cak bertengger dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai penggagas penyiaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kekaisaran-kerajaan tempatan, terutama Aceh, yang membuat misi bukan bisa menyebar ke wilayah barat. “Misi itu menciptakan kendala bagi dirinya sendiri. Momen hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan itu bererak, awal abad ke-17, dom Katolik pun kesuntukan pelindung dan wilayah,” tulis Jan Bank privat
Katolik di Masa Revolusi Indonesia.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur tak maaf bersumber mandat Paus Alexander VI yang melalui Perjanjian Tordesillas membagi belahan dunia di luar daratan Eropa. Sebelah lainnya, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negara ini bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan dulu Perjanjian Saragossa sehingga per bisa tetap meraup rempah-rempah.

Cak agar Portugis semula merahasiakannya, jalan menuju kepulauan rempah-rempah akhirnya tersingkap berkat buku
Itinerario
karya Jan Huygen van Linshoten, seorang pelimbang dan pengelana Belanda, pada 1595. Sebuah perusahaan Belanda, Compagnie van Verre, membiayai ekspedisi ke Nusantara nan dipimpin Cornelis de Houtman. Lega 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan pertama bukan berhasil. Dikirimlah lagi bestel dagang yang dipimpin Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Kali ini mereka mendapat timbang rasa penguasa Banten dan kembali ke negerinya dengan bahara penuh, sementara kapal lainnya meneruskan perjalanannya ke Maluku. Setelah terpelajar Serikat dagang Dagang Belanda (VOC), mereka menusukkan monopoli dagang, bahkan pengaruh, di Nusantara.

Baca juga:   Presiden Berkedudukan Sebagai Pemegang Kekuasaan Pemerintah Menurut Uud Artinya

VOC kontributif Protestan dan mengambil-alih jemaah Katolik di area timur Indonesia. Hanya di Flores Katolik terus berkembang. Protestan koteng, yang menjadi anak emas sejauh tahun VOC, mengalami waktu berlimpah.

Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara bukan semata terdorong pencarian rempah-rempah tapi juga kejayaan dan keinginan menyebarkan agama Kristen –dikenal dengan
gold, glory, gospel.

Pecah Barus sampai Majapahit

Anggapan bahwa Kristen tiba bersama eksistensi cucu adam-bani adam Eropa ke Nusantara tiba-tiba mendapat sangahan baru. Lega 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah
Basis
bahwa agama Katolik sudah terserah pada abad ke-7 M dan berjalur di Sumatra Utara lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Dengan menggunakan sumber-perigi Islam, dia meyakini pun bahwa Katolik datang bermula India Daksina.

Bermula semenjak Santo Thomas nan mewartakan Injil sebatas ke India Selatan. Katolik berkembang di India Daksina dan dahulu perdagangan menyebar ke Sumatra Paksina. Gereja Kristen Katolik mulai ditanam di wilayah Tapanuli sebelum tahun 600 maka dari itu saudagar dari India yang menamakan diri Thomas Christians.

Jan Baker melandaskan teorinya pada tulisan cendekiawan Selam bernama Shaykh Serdak Bersih al-Armini, yang batik semacam siasat ensiklopedi berjudul
Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu
berisi daftar gereja dan pertapaan di Mesir dan kawasan Timur lainnya. Kerumahtanggaan bukunya, Bubuk Zakiah menyapa di Fansur, panggung bawah kamper, terdapat sekelompok Kristen Nestorian dan sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Maria. Di antara sumber-sumbernya, Abuk Kalis menunggangi
Kitab Nazm al-Jawhar
karya Sa’id kacang al Batriq yang berasal pecah tahun 910 dan mengisahkan beberapa situasi dari abad ke-7.

Menurut Bakker, ‘Fansur’ itu seperti mana ‘Pansur’, dekat Baros di Tapanuli. Ia kembali menggambar pelisanan Kristen Nestorian terbit Serdak Tahir keliru dan “meluruskannya” sebagai Katolik.

Baca juga:   Contoh Regular Verb V1 V2 V3 Ving Dan Artinya

AJ Butler MA FSA ketika memberikan gubahan terhadap tafsiran BTA Evetts atas karya Debu Tahir ke kerumahtanggaan bahasa Inggris, berjudul
The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Sahlih, The Armenian, menjelaskan bahwa kata
Fahsur
memang tertulis dalam manuskrip aslinya. Namun, kata ini sebaiknya ditulis
Mansur, sebuah negara di zaman historis nan terletak di barat laut India, terletak di sekitar Sungai Indus. Mansur merupakan negara utama yang terkenal di antara insan-orang Arab internal hal produk kamper.

Adolf Heuken SJ dalam goresan “Christianity in Pre-Colonial Indonesia” juga membantu pendapat Butler. “Kecuali catatan singkat yang diberikan Abuk Asli, tak terserah makrifat bertambah lanjut tentang Kristen di Fansur/Barus,” tulis Heuken, termuat di
A History of Christianity in Indonesia
karya Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink.

Di luar perdebatan itu, Barus sendiri merupakan arena yang menyeret bagi diteliti. Sira dianggap salah satu kota kuno yang tenar di Asia sejak sekira abad ke-6. Pada 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient melakukan penelitian arkeologi bagi membolongi situs Lobu Tua di Barus. Hasilnya, “pada zaman Lobu Tua bangka, Barus muncul ibarat sebuah kancah perdagangan asing yang mungkin didirikan lega pertengahan abad ke-9 M oleh pedagang dari India Daksina atau Sri Lanka. Dalam waktu singkat, mereka didatangi pedagang-pedagang berpunca Timur Tengah, nan juga mencari kamper,” tulis Claude Guillot dkk. kerumahtanggaan
Barus: Seribu Musim yang Habis, nan yaitu hasil eksplorasi itu.

Terkait kemungkinan adanya sekelompok masyarakat Nestorian di Barus, Claude Guillot dkk menyebutkan mesti bukti arkeologis sehabis situs Barus nan mendahului Lobu Tua berhasil ditemukan. “Jika ternyata sopan, maka didapatkan bukti bahwa suatu jaringan nan sebagian beragama Nestorian menggerutu Plonco dengan Teluk Persia habis Sri Lanka dan pantai Malabar, khususnya Quilon.”

Baca juga:   Teknik Pengkodean Yang Mengubah Sinyal Digital Menjadi Data Digital Adalah

Tidak Ada Pemisahan

Sekalipun VOC bangkrut, dan kerajaan Belanda menerapkan penceraian antara katedral dan negara, pemerintah Hindia Belanda tetap memberikan peran besar dalam perkembangan Protestan. Atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Protestan digabung kerumahtanggaan satu organisasi Katedral Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah mensubsidi gereja dan mengupah para pendeta. Demi arti garis haluan, pemerintah mengizinkan penginjilan ke kawasan-daerah.

Lega 1800 rohaniawan Katolik Roma hinggap pun secara resmi ke Jawa. Okta- masa kemudian, rohaniawan Katolik dari Wilayah Belanda sekali lagi datang. Adanya “zending ganda” sempat menjadi sumber konflik di Majelis Invalid Belanda sehingga ditetapkan pembagian wilayah kerja. “Sehabis secara definitif peraturan tentang magfirah masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, maka dengan berangsur-angsur misi pun dapat mengembangkan lagi. Sejak tahun 1859 kaum Yesuit dari Wilayah Belanda dilibatkan intern kegiatan itu,” tulis Jan Bank.

Kesempatan ini tak disia-siakan berbagai badan zending, baik Protestan alias Katolik. Menurut Th van den End dan Aritonang dalam “1800-2005: a National Overview”, antara perian 1800-1900 ada sekira 15 jasad zending nan berkarya di Hindia Belanda. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan apartemen sakit misal sarana penginjilan. Mereka pun pertal Alkitab ke dalam bahasa Jawi dan bahasa daerah.

Sejak kedatangannya, doktrin yang berkembang di Nusantara masih didominasi ilmu agama Barat. Puas abad ke-19 mulailah muncul para teoretikus ilmu agama, yang disebut prototeolog, yang menggabungkan kekristenan dengan budaya domestik seperti Paulus Tosari dan Sadrach. Kemudian makin melebat setelah berdirinya seminari dan sekolah tinggi teologi.

Pada abad ke-20, para penginjil Katolik dan Protestan mulai menyangkal cermin mengenai rasam dan pembantu lokal agar penginjilan makin bisa diterima umum.

Ceritakan Kembali Proses Masuknya Agama Kristen Ke Indonesia

Source: https://historia.id/agama/articles/masuknya-kristen-di-indonesia-PyJpV