Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan

By | 12 Agustus 2022

Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan.

Islam sudah lalu mengatur tata cara maupun etika bertamu dan menerima peziarah. Adab ini berfungsi sebagai penyambung tali silaturahmi sesama anggota masyarakat. Intern kejadian ini Rasulullah Saw. bersuara,

Dua individu yang tak akan dilihat Allah Swt. sreg musim kiamat adalah turunan nan memutuskan tali pernah dan tetangga yang buruk.”
(HR. Dailami)

Bertamu merupakan sunah Rasul, agar dapat mendapatkan hadiah dan berkah. Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum bertamu adalah meluruskan niat, kemudian mempersunting izin dan menyabdakan salam.

Seperti firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 27:

Aduhai makhluk khalayak yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan membagi salam kepada penghuninya. Nan demikian itu bertambah baik bagimu, sebaiknya anda (buruk perut) pulang ingatan.

Berdasarkan tanda-tanda Al-Qur’an di atas, maka nan mula-mula dilakukan merupakan meminang abolisi, kemudian mengucapkan salam. Sedangkan mayoritas ahli fiqih berpendapat  sebaliknya.

Mereka berpendapat beralaskan beberapa hadis Rasulullah, yang sekali kembali dengan redaksi yang berlainan-beda, hanya semuanya menyatakan agar mengucapkan salam lebih lagi sangat sebelum mereka meminta pembebasan kepada tuan rumah.

Meminta izinnya seorang bisa menggunakan prolog-introduksi, bisa pula dengan pertanda begitu juga birama pintu ataupun menekan tombol bel tamu, alias prinsip-kaidah lain yang lazimnya dilakukan oleh publik sekitar.

Di samping mempersunting izin dan mengucapkan salah, peristiwa lain nan harus diperhatikan makanya koteng orang yang bertamu adalah ibarat berikut:

1. Jangan Di waktu Istirahat

Bertamu bukan puas sembarang waktu. Bertamu hendaklah bilamana nan tepat, ketika dirasa tua bangka rumah tidak akan terganggu. Contohnya, jangan bertamu lega saat sahibulbait istirahat maupun plong jam tidurnya.

Baca juga:   Berikut Ini Yang Tidak Termasuk Huruf Mad Adalah

2. Jangan Lama-Lama

Jikalau dikabulkan bertamu jangan sesak lama sehingga merepotkan tuan flat. Bicara dengan bahasa yang sopan dan santun serta menyenangkan tuan rumah. Dengan perkenalan awal lain, sesudah urusan selesai, segeralah pamit dan pulang.

3. Tidak Masuk ke Rumah Wanita yang Sorangan

Janganlah masuk ke rumah wanita nan cak seorang diri atau ditinggal suaminya pergi keluar. Keadaan ini untuk meninggalkan hal-hal yang lain diinginkan termasuk fitnah-fitnah jiran-tetangganya.

4. Hormati Jamuannya

Kalau disuguhi makanan dan minuman, hormati jamuan itu. Rasulullah Saw. menganjurkan makhluk nan bertarak sunah sebaiknya dibatalkan untuk memuliakan jamuan dari sahibulbait.

5. Jangan Mengganggu Tuan rumah

Jangan untuk kegiatan nan menyebabkan tuan rumah terganggu. Contohnya, memeriksa rubrik pribadi, perabotan kondominium, barang-dagangan bermanfaat, memasuki rubrik minus maaf, atau menunggangi fasilitas-fasilitas di dalamnya tanpa maaf. Sebab, diizinkan turut bukan berarti diizinkan atas segala apa-galanya, terdaftar mengakses akomodasi yang ada di dalam rumahnya.

6. Mohon diri

Hendaklah pamit pada tahun mau pulang karena meninggalkan rumah tanpa minta diri di samping tidak terpuji, kembali mengandung fitnah dan manah negatif.

Sedangkan adab tuan rumah yang hendak memufakati tamu adalah sebagai berikut:

7. Menyambut Pelawat dengan Baik

Hendaklah tuan rumah menyambut tamu dengan mimik wajah yang baik, tersenyum, mumbung kegembiraan, dan keramahan. Jangan malah sebaliknya, menyambutnya dengan kedukaan, karikatural, kemuakan, dan sejenisnya.

8. Tidak Pilih

Janganlah memperbedakan tamu, kecuali puas keluarga atau kerabat dekat. Maksudnya, muliakanlah pelawat dengan setara, baik galangan kaya maupun miskin. Berbeda kalau yang nomplok keluarga maupun kerabat, maka kita boleh menyambutnya dengan istimewa.

9. Tak Memaksa dalam Menjamu

Maksudnya adalah berikanlah jamuan sesuai kemampuan kita. Jangan berlebihan, apalagi memaksa diri untuk memberikan jamuan di luar tenggat kemampuan kita.

Baca juga:   Tusuk Hias Untuk Membuat Kerajinan Kristik Disebut Dengan

10. Memenuhi Keperluan Tamu

Berusahalah sekuat tenaga memenuhi keperluan petandang yang hadir. Dan tunjanglah keperluan hajatnya, baik yang bersifat kebutuhan maupun keperluan khusus, seperti buang air kecil, Gapura, keluarga salat, dan bukan-lain.

11. Jangan Menolak Tamu

Ketika petandang nan datang itu tidak kita kehendaki, jangan sekali-barangkali menunjukkan sikap yang membuat tamu meresan. Tetaplah jamu sira dan perlakukan sebagaimana petandang pada umumnya.

12. Antarkan Sampai Pintu

Sekiranya tamu telah berpamitan pulang, antarkanlah atau iringilah tamu tersebut sampai pintu rumah (pagar). Berikan senyuman perpisahan dan jawablah salam pamitnya dengan ramah dan lemah lembut.

Itulah 12 etika atau kesusilaan bertamu dan menerima pelawat dalam Islam. Semoga barang apa yang kami sampaikan berguna. Wallahu A’pan-ji-panji

Dalam Etika Menjamu Tamu Hendaklah Dilakukan Dengan

Source: https://www.abusyuja.com/2021/03/12-etika-atau-akhlak-bertamu-dan-menerima-tamu.html