Informasi Yang Sesuai Mengenai Metode Intuitif Adalah

By | 12 Agustus 2022

Informasi Yang Sesuai Mengenai Metode Intuitif Adalah.

Semenjak Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pemetaan frenologis dari otak – frenologi adalah pelecok satu upaya bagi menyambung kekuatan mental dengan bagian-bagian distingtif terbit dalang.

Intuisi
merupakan istilah untuk kemampuan mengetahui sesuatu tanpa melintasi penalaran rasional dan intelektualitas. Pengenalan
intuisi
berasal dari alas kata kerja Latin “intueri”
yang diterjemahkan umpama “mempertimbangkan” maupun dari bahasa Inggris, “intuit”
merupakan “bakal merefleksikan”.[1]

Kognisi sifat bawaan ini nomplok seketika dari mayapada lain dan di luar kesadaran diri cucu adam. Misalnya cuma, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca sebuah buku. Ternyata, di internal buku itu ditemukan keterangan yang dicarinya sejauh bertahun-tahun. Atau misalnya, merasa bahwa ia harus pergi ke sebuah medan, ternyata di sana ia menemukan penemuan besar yang mengubah hidupnya. Namun tidak semua intuisi berasal dari khasiat psikis. Sebagian intuisi dapat dijadikan seumpama landasan berpikir bakal mendapatkan kebenaran objektif.[2]

Sebuah penajaman menunjukkan bahwa manusia-basyar yang berada dalam jajaran puncak kulak maupun suku bangsa administratif punya nilai lebih baik dalam eksperimen uji hidung keenam dibandingkan dengan insan-orang biasa. Penelitian itu sepertinya menegaskan bahwa orang-orang sukses lebih banyak menerapkan kekuatan psikis n domestik umur keseharian mereka, yang mana dapat menunjang kejayaan mereka. Pelecok satu bentuk kemampuan psikis yang sering muncul adalah kemampuan naluri. Tidak jarang, hati kecil menentukan keputusan nan mereka ambil. Cuma banyak orang mengira intuisi sering dianggap tak rasional dan bukan dibenarkan sebagai metode pengambilan keputusan yang utama. Sementara itu, dorongan hati boleh bernilai benar karena merupakan hasil dari amanat dan pengalaman yang disaring kerjakan dijadikan acuan pengambilan keputusan. Misalnya, sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa kebenaran matematika cuma bisa didapatkan melalui intuisi.[3]
Dengan demikian, kini banyak orang yang percaya bahwa intuisi yang baik dan drastis adalah syarat agar seseorang boleh sukses dalam kehidupan. Makanya karena itu tidak mengganjilkan jika banyak sendisendi mengenai kiat-sosi sukses selalu menjaringkan strategi mempertajam intuisi.

Intuisi adalah kemampuan lakukan memperoleh butir-butir tanpa mengandalkan penalaran sadar.[4]
Bidang lain menggunakan kata “intuisi” dengan mandu yang suntuk berbeda, namun tidak terbatas pada akses langsung ke pengetahuan bawah sadar; kognisi bawah ingat; penginderaan batin; wawasan batin ke introduksi pola bawah sadar; dan kemampuan untuk mengerti sesuatu secara naluriah tanpa memerlukan penalaran sadar.[5]


[sunting
|
sunting sumber]

Sigmund Freud

[sunting
|
sunting sumur]

Menurut Sigmund Freud, pengetahuan saja dapat dicapai melalui penggelapan akademikus berpangkal pengamatan yang dilakukan dengan alangkah-sungguh dan menjorokkan kaidah untuk memperoleh pengetahuan, seperti mana menggunakan intuisi.[6]
Dengan demikian, laporan tak bisa dicapai hanya melangkahi intuisi, melainkan harus didasari oleh pemikiran rasional dan sikap ilmiah.

Carl Jung

[sunting
|
sunting sendang]

Pada Teori Ego yang diungkapkan Carl Jung, didefinisikan bahwa intuisi yaitu ‘faedah irasional’ dan skandal yang didapatkan melalui ketidaksadaran. Seperti memperalat persepsi indera hanya sebagai noktah awal untuk menemukan ide, gambar, probabilitas, dan jalan keluar dari situasi sulit melalui proses nan sebagian besar bukan disadari.[7]

Dalam buku
Psychological Types, Jung mengusulkan catur guna terdepan kesadaran: dua fungsi kecaburan atau non-makul (Sensasi/sentation
dan
Firasat/intuition), dan dua keefektifan penilaian alias rasional (Berpikir dalam-dalam/
pensée
dan
Merasa/
sentiment). Fungsi-kepentingan ini dimodifikasi makanya dua variasi sikap utama: ekstrovert dan introvert

Jung mengklasifikasikan bilang tipe psikologi orang yang dituliskan dalam bukunya. Lebih lanjut Jung mengklarifikasi bahwa seseorang yang dominan menggunakan intuisinya, “variasi intuitif”, akan bertindak bukan atas asal pemikiran rasional semata-mata semata-mata pada persepsi doang. Tipe intuitif ekstrovert, memfokus plong kebolehjadian baru yang menjanjikan meskipun belum terbukti kebenarannya, mereka cenderung mengejar kemungkinan baru sebelum usaha lama membuahkan hasil, sehingga sering mengerjakan perubahan secara patuh. Tipe intuitif introvert menentang pada bayangan dari alam bawah sadar, selalu menjelajahi mayapada psikis contoh, berusaha mengerti makna hal, tetapi seringnya tidak terpesona bakal berperan dalam keadaan tersebut dan tidak melihat ikatan apa lagi antara dunia psikis dan dirinya koteng.[8]

Jung berpikir bahwa tipe impulsif yang ekstrovert peluang besar adalah pemanufaktur, spekulan, maupun revolusioner budaya. Mereka acap kali membatalkan sesuatu yang sedang dijalani karena kehausan buat culik diri berpokok berbagai macam hal sebelum mendapatkan hasil—bahkan iteratif siapa menghindari kekasih demi peluang narasi baru. Macam intuitif introvert peluang osean dimiliki oleh turunan yang kasmaran puas marcapada misterius alias spiritual. Mereka memusat berjuang antara melindungi visi mereka bermula pengaruh khalayak lain dan menciptakan menjadikan ide mereka dapat dipahami maupun bertabiat persuasif bagi orang tak—sehingga visi tersebut harus memberikan hasil yang nyata.[8]

Baca juga:   10 Contoh Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi

Ilmu jiwa Modern

[sunting
|
sunting perigi]

Dalam ilmu ilmu jiwa modern, rasa hati dapat mencaplok kemampuan bikin mengetahui solusi yang jujur buat menyelesaikan kebobrokan dan mengambil keputusan. Misalnya, model perkenalan awal keputusan prima ataupun
recognition primed decision
(RPD) menjelaskan bagaimana orang dapat menciptakan menjadikan keputusan nan relatif cepat tanpa harus membandingkan seleksian. Gary Klein menemukan bahwa di bawah tekanan periode, risiko tinggi, dan perubahan parameter, para ahli menunggangi basis pengalaman mereka buat mengidentifikasi situasi serupa dan secara impulsif memintal solusi nan layak. Dengan demikian, model RPD merupakan perpaduan antara intuisi dan analisis. Dorongan hati adalah proses pencocokan pola dengan cepat bakal mendapatkan solusi dan tindakan nan patut. Darurat, analisis yaitu simulasi mental, yang secara siuman dan disengaja menciptakan menjadikan satu tindakan.[9]

Intuisi sering dihubungkan dengan dorongan hati. Cuma, rasa hati berbeda dengan intuisi, keandalan naluri dianggap gelimbir puas pengetahuan zaman dulu dan kejadian di suatu area tertentu. Naluri dianggap bagaikan rasam nan diturunkan atau dikembangkan, Pierce menambahkan bahwa naluri itu pulang ingatan, ditentukan internal bilang mandu menuju tujuan (apa nan ia rujuk sebagai harapan semu), dan mampu disempurnakan dengan pelatihan.[10]
Hal ini mengindikasikan perbedaan rasa hati dan naluri.

Kemampuan intuitif bisa menjadi radiks berpunca sikap seseorang. Peneliti menemukan bahwa kemampuan buat mengenali ekspresi wajah boleh berkorelasi dengan kemampuan altruistik dan sikap yang prososial.[11]
Sahaja kemampuan seperti itu tidak hanya didapatkan melewati dorongan hati, melainkan sekali lagi dengan informasi yang dia miliki dari nyawa sehari-harinya.[12]


[sunting
|
sunting perigi]

Filsafat Timur

[sunting
|
sunting perigi]

Sebagian ki akbar masyarakat di Kewedanan Timur menganggap rasa hati terkait dengan agama dan spiritualitas. Berbagai makna terkait naluri ini muncul bersumber referensi teks beraneka macam agama.[13]
Pada bagian ini akan di telaah mengenai filosofi dorongan hati menurut agama Hindu dan Budha.

Agama Hindu

[sunting
|
sunting sendang]

Dalam agama Hindu, majemuk upaya telah dilakukan bagi meniadakan Weda dan teks-referensi esoteris lainnya. Menurut Sri Aurobindo, intuisi fertil di bawah pataka pengetahuan dengan identitas; beliau menggambarkan alam psikologis puas manusia (majuh disebut kerumahtanggaan bahasa Sansekerta) dimana memiliki dua sifat nan mudah berubah. Sifat mula-mula adalah penghijauan pengalaman psikologis nan dibangun melangkaui pemberitahuan sensorik (pikiran berupaya dalam mengingat-ingat manjapada luar). Sifat kedua adalah tindakan yang dilakukan seseorang detik ia berusaha bakal mengingat-ingat dirinya koteng sehingga takhlik bani adam bangun akan keberadaan dan emosi yang ia miliki. Dia menyebut sifat kedua ini seumpama pengetahuan dengan identitas.[14]

Lebih jauh, Aurobindo menemukan bahwa waktu ini, biasanya, perasaan dipengaruhi maka dari itu fungsi fisiologis tertentu dan akan terbentuk reaksi seremonial kerjakan dapat berinteraksi dengan mayapada luar. Akibatnya, ketika kita mencari tahu tentang manjapada luar, biasanya bisa memaklumi legalitas adapun berbagai keadaan melangkaui pengamatan memperalat alat indera. Doang, mualamat dengan identitas, yang detik ini terfokus puas keikhlasan turunan, dapat diperluas lebih jauh ke luar diri kita sehingga menghasilkan pengetahuan intuitif.[15]

Aurobindo menemukan pengetahuan naluriah ini sifatnya lazim bagi manusia yang lebih tua (Weda). Kemudian keterangan intuitif ini diambil alih oleh akal yang mengeset persepsi, pikiran, dan tindakan kita. Adapun situasi tersebut dihasilkan dari Weda ke makulat metafisik hingga menuju pada pengkajian ilmiah. Dia menemukan bahwa proses ini, sebenarnya merupakan lingkaran kemajuan, karena kemampuan yang lebih rendah didorong cak bagi mendapatkan cara bekerja yang lebih tingkatan.[16]

Agama Buddha

[sunting
|
sunting sumber]

Agama Buddha memangkalkan intuisi sebagai kemampuan kerumahtanggaan pikiran publikasi langsung (immediate knowledge). Istilah dorongan hati ini berlambak di asing proses mental pemikiran sadar. Peristiwa ini karena pikiran sadar tak boleh mengakses informasi asal sadar atau membuat laporan tersebut ke dalam rangka yang dapat dikomunikasikan.[17]

Dalam Tanzil Buddha Zen berbagai teknik sudah dikembangkan buat kontributif mempertajam kemampuan intuitif seseorang, seperti koans – penyelesaian yang mengarah ke kejadian pencerahan minor (satori). Di beberapa bagian Wangsit Zen, intuisi dianggap sebagai keadaan mental antara ingatan Global dan perasaan orang seseorang, perhatian pembeda.[18]
[19]

Baca juga:   Lirik Lagu Shape of My Heart

Filsafat Barat

[sunting
|
sunting perigi]

Di Barat, intuisi tidak muncul umpama latar riset yang terpisah, tetapi topik tersebut menonjol dalam karya-karya banyak ahli pikir. Tentang pada hal ini akan dibahas filsafat bersejarah hingga masa kini.

Filsafat Kuno

[sunting
|
sunting sumber]

Istilah intuisi pada awalnya diperkenalkan oleh Plato dalam bukunya berjudul
Republic. Ia mencoba mendefinisikan nurani sebagai daya produksi dasar akal individu untuk memahami sifat ceria dari realitas. Dalam karyanya Meno dan Phaedo, kamu menyantirkan intuisi sebagai takrif yang sudah ada sebelumnya, berada di “nasib keabadian”, dan seseorang menjadi sadar akan pengetahuan tersebut. Seterusnya, Plato memasrahkan contoh kebenaran ilmu hitung dan menyatakan bahwa mereka bukan sampai puas alasan. Dia berpendapat bahwa kesahihan ini didapatkan dari pengetahuan nan mutakadim suka-suka intern bentuk nan tidak aktif dan dapat diakses oleh daya produksi naluriah kita. Dataran tinggi sekali lagi menyebutkan konsep ini sebagai anamnesis. Pengkajian ini kemudian dilanjutkan oleh Neoplatonis.[20]

Trik
Meditations on First Philosophy
karya Descartes mengklarifikasi gagasan hati kecil makul berdasarkan pengamatan akan diyakini misal kesahihan apabila dianggap benar maka dari itu seseorang.

Awal Makulat Modern

[sunting
|
sunting sumur]

Intern bukunya yang berjudul
Meditation on First Philosophy, Decrates menganggap rasa hati (dari dari kata kerja bahasa Latin,
intueor,
ialah lakukan meluluk) perumpamaan pengetahuan nan telah cak semau sebelumnya, di mana pengetahuan tersebut diperoleh melangkahi penalaran sensibel ataupun menemukan kebenaran melalui kontemplasi. Definisi ini menyatakan bahwa “apapun yang saya rasa dengan jelas satu keabsahan adalah bermoral”[21]
[22]
dan hal ini sering disebut bak rasa hati rasional.[23]
Kejadian ini berkaitan dengan kesalahan potensial yang disebut dok Cartesian. Sifat bawaan dan penali dapat menjadi dasar berpunca makrifat geometris,[24]
sedangkan yang dimaksudkan bak “urutan sifat bawaan nan terhubung”,[25]
secara khusus berarti secara apriori bak sesuatu dan ide yang sudah jelas dan substansial, sebelum dihubungkan dengan ide-ide lain dalam demonstrasi membumi.

Kemudian teoretikus lainnya, seperti Hume, n kepunyaan interpretasi naluri yang lebih ambigu. Hume mengklaim hati kecil ialah introduksi pertalian (aliansi waktu, tempat, dan sebab-akibat) sementara kamu menyatakan bahwa “kemiripan” (introduksi perpautan) “akan mencolok mata” (nan tidak memerlukan pemeriksaan lebih jauh) semata-mata menyatakan, “alias makin tepatnya dalam ingatan”—merintih intuisi dengan kekuatan pikiran, anti dengan teori empirisme.[26]
[27]

Immanuel Kant

[sunting
|
sunting sumber]

Gagasan Immanuel Kant adapun “naluri” suntuk berbeda dari gagasan Cartesian. Menurutnya, intuisi terdiri dari amanat sensorik dasar yang disediakan oleh kemampuan sensitivitas kognitif (setolok dengan kegaduhan). Kant berpendapat bahwa pikiran kita mengeluarkan semua firasat eksternal kita dalam bentuk ruang dan semua intuisi internal kita (album, perhatian) dalam bentuk perian.[28]

Filsafat Masa kini

[sunting
|
sunting sendang]

Insting rata-rata digunakan secara terpisah dari teori lainnya mengenai bagaimana naluri memasrahkan bukti cak bagi boleh dinyatakan. Terdapat anggapan yang berbeda mengenai spesies intuisi keadaan mental, menginjak dari penilaian spontan setakat penyajian khusus dari kesahihan yang diperlukan. Dalam sejumlah tahun ragil sejumlah ahli pikir, seperti George Bealer, telah mencoba bakal mempertahankan daya tarik intuisi menyaingi keraguan Quine tentang analisis konseptual.[29]
Tantangan berbeda untuk menggandeng hati kecil, baru-hijau ini datang dari filsuf eksperimental nan berpendapat bahwa menarik intuisi harus diinformasikan makanya metode ilmu sosial.

Asumsi metafilosofis yang mengungkap bahwa makulat harus mengelepai pada naluri, hijau-baru ini ditentang oleh para filsuf eksperimental (misalnya, Stephen Stich).[30]
Salah satu masalah terdepan nan dikemukakan makanya para filsuf eksperimental yakni bahwa insting farik, misalnya, dari suatu budaya ke budaya lain, sehingga tampaknya patut bermasalah bikin mengutipnya laksana bukti klaim filosofis.[31]
Timothy Williamson telah menanggapi keberatan semacam itu terhadap metodologi filosofis dengan menyatakan bahwa intuisi tidak memainkan peran khusus n domestik praktik filsafat, dan menganggap bahwa skeptisisme mengenai sifat bawaan tidak bisa dipisahkan secara bermakna dari skeptisisme awam tentang penilaian. Lega rukyah ini, tidak terserah perbedaan kualitatif antara metode makulat dan akal bulus sehat, sains maupun matematika.[32]
Teoretikus lainnya sama dengan Ernest Sosa berusaha untuk mendukung intuisi dengan menyatakan bahwa keberatan terhadap intuisi hanya menyoroti ketidaksetujuan verbal.[33]

Pustaka

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Merriam-Webster. “Definition of INTUITION”.
    www.merriam-webster.com
    (dalam bahasa Inggris). Diakses rontok
    2021-12-13
    .





  2. ^


    Ethics, BBC. “Intuitionism”.
    www.bbc.co.uk
    (internal bahasa Inggris). Diakses copot
    2021-12-16
    .





  3. ^


    Iemhoff, Rosalie (2020). Zalta, Edward N., ed.
    Intuitionism in the Philosophy of Mathematics
    (edisi ke-Fall 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University.





  4. ^


    Epstein, Seymour (2010). “Demystifying Intuition: What It Is, What It Does, and How It Does It”.
    An International Journal for The Advancement of Psychological Theory.
    21
    (4): 295–312. doi:10.1080/1047840X.2010.523875.





  5. ^


    Ghose, Aurobindo (1992).
    The synthesis of yoga. Silver Lake, Wis., USA: Padma Light Publications. hlm. 479–480. ISBN 0-941524-65-5. OCLC 32395307.





  6. ^


    Walker Punner, Helen (1992).
    Sigmund Freud: His Life and Mind. Transaction Publisher. hlm. 197–200. ISBN 9781412834063.





  7. ^


    Oyster, Michael J. (2018-11-19).
    Success in a Low-Return World: Using Risk Management and Behavioral Finance to Achieve Market Outperformance
    (internal bahasa Inggris). Berlin: Springer. hlm. 100. ISBN 978-3-319-99855-8.




  8. ^


    a




    b




    Jung, Carl (2016-10-04).
    Psychological Types
    (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 340–346. doi:10.4324/9781315512334. ISBN 978-1-315-51232-7.





  9. ^


    Klein, Gary (2008). “Naturalistic Decision Making”
    (PDF).
    Human Factors.
    50
    (3): 457–458. doi:10.1518/001872008X288385.





  10. ^


    Boyd, Kenneth; Heney, Diana (2017-12-29). “Peirce on Intuition, Instinct, & Common Sense”.
    European Journal of Pragmatism and American Philosophy
    (dalam bahasa Inggris).
    IX
    (2): 38. doi:10.4000/ejpap.1035. ISSN 2036-4091.





  11. ^


    Remland, Martin S. (2016-04-29).
    Nonverbal Communication in Everyday Life
    (dalam bahasa Inggris). New York: SAGE Publications. hlm. 191. ISBN 978-1-4833-7024-8.





  12. ^


    Ma-Kellams, Christine; Lerner, Jennifer (2016-11). “Trust your gut or think carefully? Examining whether an intuitive, versus a systematic, mode of thought produces greater empathic accuracy”
    (PDF).
    Journal of Personality and Social Psychology.
    111
    (5): 681–682. doi:10.1037/pspi0000063. ISSN 1939-1315. PMID 27442764.





  13. ^


    Oyster, Michael J. (2018-11-19).
    Success in a Low-Return World: Using Risk Management and Behavioral Finance to Achieve Market Outperformance
    (dalam bahasa Inggris). Berlin: Springer. hlm. 97. ISBN 978-3-319-99855-8.





  14. ^


    Ghose, Aurobindo (1990).
    The life divine
    (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Lotus Light Publications. hlm. 68. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272.





  15. ^


    Ghose, Aurobindo (1990).
    The life divine
    (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Runjung Light Publications. hlm. 69–71. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272.





  16. ^


    Ghose, Aurobindo (1990).
    The life divine
    (edisi ke-2nd American ed). Wilmot, WI, USA: Lotus Light Publications. hlm. 75. ISBN 0-941524-62-0. OCLC 30146272.





  17. ^


    Now, Buddhism (2013-08-07). “Buddha, by Ajahn Sumedho”.
    Buddhism now
    (n domestik bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2021-12-05
    .





  18. ^


    Nagatomo, Shigenori (2020). Zalta, Edward N., ed.
    Japanese Zen Buddhist Philosophy
    (edisi ke-Spring 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
    …that there is a strong correlation between the pattern and the rhythm of breathing and a person’s emotional state, or more generally, state of mind.





  19. ^


    Jagtiani, Jessica (2008).
    The Natural Power of Intuition: Exploring the Formative Dimensions of Intuition in the Practices of Three Visual Artists and Three Business Executives. New York: Columbia Academic Commons. hlm. 45. doi:10.7916/D8PZ6S88.





  20. ^


    Klein, Jacob (1965).
    A commentary on Plato’s Meno. Bollingen Foundation Collection. Chapel Hill,. hlm. 103–127. ISBN 0-226-43959-3. OCLC 2394325.





  21. ^


    Newman, Lex (1997). “Descartes’ Epistemology”.
    The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2019 Edition), Edward Tepi langit. Zalta (ed.).





  22. ^


    University of Colorado Boulder. “Cartesian Foundationalism”.
    spot.colorado.edu
    . Diakses tanggal
    2021-12-05
    .





  23. ^


    Mursell, James L. (1919-07). “The Function of Intuition in Descartes’ Philosophy of Science”.
    The Philosophical Review.
    28
    (4): 391–401. doi:10.2307/2178199. ISSN 0031-8108.





  24. ^


    Ameriks, Karl; Ameriks, Hank-McMahon Professor of Philosophy Karl (2003).
    Interpreting Kant’s Critiques
    (internal bahasa Inggris). Clarendon Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-924731-8.





  25. ^


    Cottingham, John (1992).
    The Cambridge companion to Descartes. John Cottingham (edisi ke-1st ed). Cambridge. hlm. 206. ISBN 0-521-36623-2. OCLC 24698917.





  26. ^


    Hume, David (2009).
    A treatise of human nature : being an attempt to introduce the experimental method of reasoning into moral subjects. [Waiheke Island]: Floating Press. hlm. 105. ISBN 978-1-77541-067-6. OCLC 589506983.





  27. ^


    Johnson, Oliver A. (1995).
    The mind of David Hume : a companion to book I of A treatise of human nature. Urbana and Chicago: University of Illinois Press. hlm. 121. ISBN 0-252-02156-8. OCLC 31243449.





  28. ^


    Kant, Immanuel (2015).
    The critique of pure reason
    (PDF). New York: Philosophical Library/Open Road. hlm. 49. ISBN 978-1-5040-0462-6. OCLC 919965789.





  29. ^


    Bealer, George (1998). DePaul, Michael; Ramsey, William, ed.
    Intuition and the Autonomy of Philosophy. Rowman & Littlefield. hlm. 201–240.





  30. ^


    Pinder, Mark (2017-12-01). “The Explication Defence of Arguments from Reference”.
    Erkenntnis
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris).
    82
    (6): 1253–1276. doi:10.1007/s10670-016-9868-9. ISSN 1572-8420.





  31. ^


    Stich, Stephen P. (2012).
    Collected papers. Volume 2, Knowledge, rationality, and morality, 1978-2010. New York: Oxford University Press. hlm. 159–190. ISBN 978-0-19-987585-6. OCLC 796937480.





  32. ^


    Williamson, Timothy (2008).
    The Philosophy of Philosophy
    (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm. 240. ISBN 978-0-470-69591-3.





  33. ^


    Sosa, Ernest (2009-03-20). Murphy, Dominic; Bishop, Michael, ed.
    A Defense of the Use of Intuitions in Philosophy
    (PDF)
    (dalam bahasa Inggris). Oxford, UK: Wiley-Blackwell. hlm. 101–112. doi:10.1002/9781444308709.ch6. ISBN 978-1-4443-0870-9.






Baca juga:   Pengertian Ontologi Epistemologi Dan Aksiologi Beserta Contohnya

Informasi Yang Sesuai Mengenai Metode Intuitif Adalah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Intuisi