Jelaskan Asumsi Teori Aktivitas Interaksi Sentimen

By | 13 Agustus 2022

Jelaskan Asumsi Teori Aktivitas Interaksi Sentimen.


TEORI PEMBENTUKAN KELOMPOK SOSIAL

Kelompok adalah satu unit sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial nan cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu-hamba allah itu telah terdapat pembagian tugas maupun struktur dan norma tertentu yang khas. Bagaimanakah teori pembentukan kerumunan sosial? Berikut penjelasannya.

TUJUAN Pembelajaran

Setelah mempelajari bahasan ini, kalian diharapkan ki berjebah memafhumi adapun teori pembentukan keramaian sosial.

Secara cermin, untuk membincangkan bertambah mendalam mengenai proses pembentukan kelompok sosial, dapat dikemukakan sejumlah teori terdepan:
1)Teori Aktivitas-Interaksi-Timburu
Teori nan dikemukakan makanya George C. Homans ini menyampaikan bahwa kelompok terdidik karena individu-individu melakukan aktivitas bersama secara intensif sehingga memperluas wujud dan cakupan interaksi di antara mereka. Pada akhirnya, akan muncul sentimen (emosi atau perasaan) keterikatan satu sama lain sebagai faktor penggarap kelompok sosial.
2)Teori Alasan Praktis

Teori alasan praktis (practicalities of group formation) dari H. Joseph berasumsi bahwa individu bergabung n domestik satu kelompok cak bagi memenuhi bervariasi kebutuhan praktis.
Abraham H. Maslow mengidentifikasi beberapa kebutuhan praktis tersebut, yaitu:
• kebutuhan-kebutuhan fisik (awan, air, makanan, gaun),
• kebutuhan rasa aman,
• kebutuhan untuk memanjakan dan disayangi,
• kebutuhan terhadap penghormatan (berasal dirinya koteng dan individu lain),
• kebutuhan bagi mengaktualisasikan diri (menggurdi segenap potensi) dan bertumbuh.
3)Teori Susunan Pribadi

Teori ini disebut lagi sebagai teori FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior) dan dikemukakan oleh W.C. Schutz. Inti teori FIRO-B ialah bahwa manusia berkelompok untuk memenuhi kebutuhan dasar internal kontak antar pribadi, yakni :
Kebutuhan inklusi, yakni kebutuhan buat terkebat dan terhimpun dalam suatu kerubungan.
Kebutuhan pengaturan, yaitu kebutuhan akan arahan, petunjuk, serta pedoman berperilaku dalam kelompok.
Kebutuhan afeksi, yakni kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian intern kelompok.
Sejalan dengan itu, W.C. Schutz membagi anggota kelompok atas dua jenis, yakni :
• Jenis nan membutuhkan (wanted), yaitu membutuhkan inklusi (mau diajak, cak hendak dilibatkan), membutuhkan kontrol (ingin mendapat arahan, ingin dibimbing), dan membutuhkan afeksi (ingin diperhatikan, ingin disayangi).
• Tipe yang memberi (expressed), yakni membagi inklusi (mengajak, mengikutsertakan orang lain), memberi pengaruh (mengarahkan, mengusung, membimbing), dan memberi afeksi (memperhatikan, mencintai).
4)Teori Identitas Sosial

Teori nan dikemukakan oleh M. Billig ini menegaskan bahwa kelompok terbentuk karena adanya sekumpulan orang-orang yang mencatat maupun memafhumi adanya satu identitas sosial bersama. Adapun identitas sosial boleh dimaknai bak proses yang mengikatkan individu pada kelompoknya dan menyebabkan individu menyadari diri sosial (social self) ataupun martabat yang melekat padanya. Kesamaan identitas lantas menjadi faktor pemersatu cucu adam hingga membentuk suatu gerombolan sosial.
5)Teori Identitas Kelompok

Teori nan dikembangkan oleh D.L. Horowitz ini menyodorkan bahwa basyar-individu dapat mengelompok karena mempunyai kesamaan identitas etnis maupun kaki bangsa. Identitas etnis tersebut, misalnya, mewujud plong ciri fisik (baik oleh-oleh lahir maupun akibat perlakuan tertentu seperti dikhitan), rasam semangat, bahasa, atau ekspresi budaya.
6) *Teori Kekariban (Propinquity) *

Teori ini dikemukakan maka dari itu Fred Luthans. Asumsi teoripropinquity yakni bahwa seseorang bergerombol dengan khalayak lain disebabkan adanya kedekatan ruang dan daerah (spatial and geographical proximity). Sebagai contoh, seorang pelajar yang duduk berdekatan dengan koteng pelajar tidak di kelas akan lebih mudah menciptakan menjadikan kelompok, dibanding dengan pelajar nan farik kelas bawah. Dalam suatu kantor, pegawai-fungsionaris nan bekerja seruangan juga akan mudah merombong, dibandingkan pegawai-pegawai nan secara raga terpisahkan satu sederajat lain.

Ringkasan

1) Secara teoretis, untuk membahas kian benar-benar mengenai proses pembentukan keramaian sosial, dapat dikemukakan bilang teori bermanfaat.

Baca juga:   Sudut Antara Jarum Kompas Dengan Arah Utara Sebenarnya Disebut

Jelaskan Asumsi Teori Aktivitas Interaksi Sentimen

Source: http://smadm.blogspot.com/2016/01/teori-pembentukan-kelompok-sosial.html