Jelaskan Bagian Layar Yang Dimiliki Kapal Pinisi

By | 9 Agustus 2022

Pinisi di bandar Paotere, Makassar

Buram Pinisi dengan lambung tipe Lamba

Istilah
pinisi,
pinisiq,
pinisi’
atau
phinisi
mengacu pada jenis sistem layar (rig), tiang-tiang, layar dan konfigurasi tali pecah suatu jenis kapal layar Indonesia. Ia terutama dibangun makanya orang Konjo, sebuah kerumunan sub-etnis Makassar yang sebagian besar penduduk di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tetapi masih digunakan secara luas oleh bani adam Suku Makassar (lihat pula #Kesalahpahaman publik akan halnya pinisi ) , sebagian segara cak bagi transportasi antar-pulau, kargo dan harapan mengail di kepulauan Indonesia.

UNESCO menetapkan seni pembuatan kapal Pinisi sebagai Karya Agung Peninggalan Manusia yang Verbal dan Takbenda pada Sesi ke-12 Komite Warisan Budaya Unik pada tanggal 7 Desember 2017.[1]

Etimologi dan asal mula

[sunting
|
sunting sumber]

Penyebutan minimum awal, baik n domestik sumur asing maupun dalam area, istilah ‘pinisi’ yang jelas-jelas mengacu pada jenis kapal layar dari Sulawesi ditemukan dalam artikel tahun 1917 di majalah Belanda
Coloniale Studiën: “… kapal dengan sistem layar sekunar prinsip Eropa.”[2]
Memang, goresan penggunaan sistem cucur depan-belakang diversifikasi Eropa pada kapal-kapal pribumi Nusantara yunior dimulai pada perdua pertama abad ke-19, dan baru plong sediakala abad ke-20 bilang besar kapal dari Sulawesi dilengkapi dengan layar seperti itu.[3]
Hingga pertengahan abad ke-20, para panjarwala Sulawesi sendiri menyebut kapal mereka dengan istilah palari, jenis kandungan yang paling cocok bagi tenaga penggerak cucur pinisi.[4]

Ada berbagai tradisi lokal yang mengklaim pangkal mula kata ‘pinisi’ dan jenis kapal yang makin awal, namun banyak di antaranya hanya boleh ditelusuri kembali ke dua hingga tiga dekade terakhir. Pembuat kapal Kiara dan Lemo-Lemo, trik pembuatan kapal kedua di wilayah tersebut, menyambung kemahiran mereka dalam arsitektur kapal laut (dan, terampai pada sumbernya, pembuatan pinisi pertama)[5]
pada Sawerigading, keseleo satu protagonis utama dalam epos Bugis Sureq Galigo: Cak bagi menghindari hubungan inses yang akan terjadi detik dia jatuh cinta dengan saudara kembarnya, Sawerigading diberikan sebuah kapal yang dibangun secara ajaib bakal berlayar ke tempat di mana koteng cewek nan mirip dengannya dikatakan sangat; ketika dia melanggar janjinya cak bagi tidak pernah kembali, kapal itu tergenang; lunas, rangka, gawang, dan tiangnya, yang terdampar di pantai ketiga desa, dipasang kembali makanya warga setempat, yang dengan demikian membiasakan pendirian mewujudkan dan berlayar kapal.[6]
Perlu dicatat bahwa privat epos itu Sawerigading kembali ke tanah airnya, dengan bersama dengan istrinya yang baru ditemukan dan menjadi penguasa bumi bawah, dan bahwa istilah
pinisi
tidak muncul intern tembusan mana sekali lagi yang dapat diakses bersumber cerita.[7]
Dapat dipahami, legenda itu mendukung awam Bontobahari n domestik ketergantungan mereka sreg pembuatan kapal andai mandu spirit, menasdikkan monopoli mereka plong pembangunan kapal serupa itu.[8]

Menurut sebuah tradisi setempat, nama pinisi diberikan maka dari itu seorang paduka tuan Tallo, I Manyingarang Dg Makkilo, kepada perahunya. Namanya berasal semenjak dua kata, adalah “picuru” (artinya “contoh nan baik”), dan “binisi” (sejenis ikan kerdil, racau dan tangguh di permukaan air dan lain ki terdorong oleh arus dan ombak).[9]

Sumber lain menyatakan bahwa tera pinisi berbunga dari alas kata
panisi
(kata Bugis, berarti “sisip”), atau
mappanisi
(menyisipkan), yang mengacu pada proses mendempul. Karena
lopi dipanisi
berarti perahu yang disisip/didempul, telah disarankan bahwa kata
panisi
mengalami peralihan fonemis menjadi pinisi.[10]

Nama itu kembali mungkin bermula dari
pinasse, kata Jerman dan Perancis nan menandai kapal layar ukuran sedang (bukan kata Inggris
pinnace
yang puas waktu itu men sepertalian sekoci sadau dan bukan sebuah kano layar).[11]

:35

Kata ini diserap menjadi
pinas
atau
penis
oleh sosok Melayu setelah waktu 1846.[12]

Sebuah kisah yang mungkin mengenai asal usul tera dan jenis kapal didasarkan pada laporan R. S. Ross, momen itu tuan kapal uap EIC
Phlegeton, yang plong kesempatan menjenguk ke Mulut sungai Terengganu, Malaysia, pada tahun 1846 menyaksikan sekunar nan dibangun secara lokal oleh “beberapa penduduk asli yang telah berlatih seni pembuatan kapal di Singapura, dan [dibantu] oleh tukang kayu [Tiongkok]”,[13]
yang diduga mutakadim menjadi komplet dasar untuk pinas atau pinis Terengganu.[14]
Pagar adat Jawi menyatakan bahwa sekunar ini dibangun atas nama Baginda Omar, Sultan Terengganu (memerintah 1839–1876), mungkin di sumber akar arahan atau dengan banyak pertolongan oleh seorang penjelajah pantai Jerman alias Prancis nan sudah “sampai ke Terengganu, melalui Malaka dan Singapura, mencari
opium cum dignitate“,[15]
menjadi pola bawah ‘sekunar Jawi’: pinas/pinis Terengganu, yang sreg perian ini mempekerjakan layar jung Tiongkok, sebatas pergantian abad ke-20 umumnya dipasang dengan layar gap-keci.[16]

Namun, selingkung musim yang sebanding, sumber-sumber Belanda mulai menyadari varietas baru kapal layar yang digunakan secara domestik yang didaftarkan maka itu syahbandar di adegan barat Kepulauan Melayu sebagai ‘penisch’, ‘pinisch’, atau ‘phinis'(!);[17]
pada intiha abad ke-19 penggunaan kapal semacam itu rupanya sudah menyebar ke Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Kata itu sendiri siapa diambil pecah
pinasse
alias
peniche
bahasa Belanda, Jerman atau Prancis, pada momen itu yaitu tera cak bagi kapal layar berukuran mungil hingga sedang nan agak enggak ditentukan.[18]
Kata ‘pinnace’ n domestik bahasa Inggris sedari abad ke-18 merujuk plong salah satu kapal yang dibawa kapal perang atau kapal niaga nan lebih besar.

Deskripsi masyarakat

[sunting
|
sunting sumber]

Sebuah kapal bersistem layar pinisi n kepunyaan sapta setakat delapan layar plong dua tiang, diatur dengan cara yang mirip dengan sekunar-keci: disebut ‘sekunar’ karena semua layarnya adalah cucur ‘depan-pinggul’, berlarik di selama garis tengah semenjak lambung pada dua kusen; dan disebut ‘keci’, karena tiang di buritan kapal agak lebih ringkas tinimbang nan terserah di haluan.[19]

Baca juga:   Lama Pertandingan Dalam Permainan Bulutangkis Ditentukan Oleh

Cucur agung besar bentuknya berbeda dari sistem layar gap gaya barat, karena mereka camar lain memiliki bom dan layarnya tak diturunkan dengan gap. Sebaliknya layar itu digulung cenderung memusat kusen, sebagaimana tirai, sehingga memungkinkan gapnya bagi digunakan sebagai lajur geladak di pelabuhan. Bagian bawah kusen itu sendiri siapa menyerupai
tripod
atau terbuat dari dua kusen (bipod).

Kapal bersistem layar pinisi (palari) mempunyai panjang selingkung 50–70 kaki (15,24–21,34 m), dengan garis air saat tanggung ringan 34–43 kaki (10,36–13,1 m).[20]

:112–113

Palari yang kecil belaka sepanjang sekitar 10 meter.[21]
Pada 2011 sebuah PLM (perahu layar motor) bersistem layar pinisi besar mutakadim diolah di Bulukumba, Sulawesi Kidul. Ia memiliki panjang 50 m dan lebarnya 9 m, dengan tonase kotor sekitar 500 ton.[22]

Jenis alat pencernaan kapal pinisi

[sunting
|
sunting perigi]

Pinisi berlambung diversifikasi palari, Sulawesi Barat. 1923-1925.

Ada sejumlah jenis kapal berstruktur layar pinisi, tetapi pada galibnya ada 2 keberagaman:

  1. Palari
    yakni bentuk awal lambung pinisi dengan lunas yang membusar dan ukurannya makin kecil dari varietas Lamba. Umumnya dikemudikan dengan 2 kemudi (rudder) samping di buritan. Spesies yang telah bermesin pula dilengkapi kemudi di pantat baling-baling, namun kebanyakan kapal pinisi bermesin menunggangi lambung tipe lambo.
  2. Lamba
    atau
    lambo. Pinisi maju yang masih bertahan hingga masa ini dan dilengkapi dengan pengambil inisiatif diesel (PLM—Perahu Layar Motor) menggunakan kas dapur ini. Perut ini menggunakan 1 kemudi tengah, tetapi sejumlah ada nan n kepunyaan 2 setir samping misal hiasan/apendiks saja.

Sejarah

[sunting
|
sunting mata air]


[sunting
|
sunting perigi]

Suka-suka bilang sumber berpokok internet yang mengatakan bahwa kapal varietas pinisi sudah lalu ada berasal abad ke-14, dan mengaitkannya dengan naskah Sureq Lagaligo yang bercerita tentang kisah Sawerigading.[23]
[24]
Namun klaim itu mujarab mengada-ngada karena telah dibantah makanya pengkajian terhadap naskah itu sendiri. Nama perahu dan kapal nan terdapat plong naskah itu merupakan
waka(q),
wakka(q),
wakang,
wangkang,
padewakang,
joncongeng,
banawa,
pelapangkuru,
binannong,
pangati, dan
lopi.[21]
Perahu yang membawa Sawerigading ke negeri Cina (bukan Tiongkok tetapi jenama suatu daerah di Nusantara) sendiri disebut kano
Welenrengnge, ia terbuat dari satu batang tanaman doang (dugout canoe
alias berlepas lesung), dilengkapi dengan cadik dan katir.[25]


[sunting
|
sunting sendang]

Pinisi berlambung palari di Sulawesi Daksina. 1923-1925.

Plong abad ke-19, para pelaut Sulawesi mulai menggabungkan layar-jib persegi janjang besar pecah layar tanjaq dengan jenis-diversifikasi layar depan dan belakang yang mereka lihat di kapal-kapal Eropa yang berkeliaran ke Nusantara. Sejak awal abad ke-18, VOC mulai membangun kapal-kapal beraksi Eropa untuk perniagaan inter Asia di galangan-galangan Jawa, sehingga terus memperkenalkan metode konstruksi dan
rig
baru, terjadwal versi Belanda berbunga jib depan dan belakang yang baru. Selama abad ke-19, bala laut kolonial dan perusahaan perniagaan Eropa, India, dan Tiongkok mengoperasikan sekunar Barat nan jumlahnya terus meningkat; sahaja, walaupun permakluman sejak awal tahun 1830 menamakan sampan, “sekunar dengan layar karet”, digunakan maka itu ‘beluku laut’ yang beroperasi di Selat Malaka.

Pinisi berevolusi berpokok lambung radiks padewakang dengan layar depan dan belakang ke komplet lambungnya sendiri dengan “layar pinisi” pribumi. Selama dekade-dekade evolusi ini, para anak kapal Indonesia dan pembangun kapal mengubah beberapa fitur berusul sekunar barat yang kalis. Pinisi nirmala Sulawesi purwa diperkirakan dibangun lega tahun 1906 makanya pengrajin perahu Desa Ara dan Lemo-Lemo, mereka membangun berlepas
penisiq
[salah sebut] pertama lakukan sendiri pemimpin kapal Bira.[26]

Lega mulanya, layar sekunar dipasang di atas lambung padewakang, semata-mata sehabis beberapa lama pedagang Sulawesi memutuskan bagi menggunakan palari berhaluan ekstrem nan kian cepat. Seluruh lambung adalah ruang kargo, dan hanya ada kabin boncel kerjakan mualim ditempatkan di dek buritan, sementara kru tidur di dek alias di urat kayu kargo. Dua setir janjang nan dipasang di sisi buritan sama dengan yang digunakan plong padewakang, dipertahankan umpama perlengkapan setir.

Sejak musim 1930-an, kapal layar ini mengadopsi keberagaman layar baru, yaitu jib nade, nan berasal dari
cutter
dan
sloop
yang digunakan oleh pencari mutiara Barat dan pedagang kecil di Indonesia Timur.

Sepanjang perian 1970-an semakin banyak palari-pinisi nan dilengkapi dengan mesin, perut dan cucur kapal tradisional Indonesia dengan cepat berubah: Karena desain peranakan pribumi tak sejadi untuk dipasangkan mesin, tembolok tipe lambo menjadi alternatif. Pada tahun-waktu berikutnya, kapasitas muatan terus ditingkatkan, sampai hari ini biasanya
Bahtera Jib Motor
(PLM) boleh memuat hingga 300 ton.

Karena layar mereka hanya digunakan untuk mendukung mesin, jib belakang berpokok hampir semua PLM dihilangkan. Lega kapal nan lebih besar dipasang sebuah
rig
pinisi, temporer kapal berformat medium dipasang dengan cucur nade. Namun, karena tiang mereka berlebih singkat dan distrik layarnya berlebih kecil, kapal ini lain dapat berputar hanya dengan jib, sehingga mereka menggunakannya belaka puas angin yang menguntungkan.[27]

Pembangunan Pinisi

[sunting
|
sunting sumber]

Ritual kurban bakal pembuatan arombai pinisi adalah salah satu dimana kesemarakan pinisi dilahirkan. Para pencipta perahu tradisional ini, yakni: bani adam-orang Kiara, Tana Lemo dan Bira, yang secara merosot temurun mewarisi tradisi maritim nini moyangnya. Ritual ritual juga masih mewarnai proses pembuatan perahu ini, hari baik kerjakan mengejar kayu umumnya drop pada tahun ke lima dan ketujuh pada bulan yang melanglang. Angka 5 (naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki telah ditangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle’na) berarti selalu dapat rezeki. Sesudah dapat hari baik, kepala tukang yang disebut “punggawa” memimpin pencarian.

Baca juga:   Pada Awal Terbentuknya Pemerintahan Bani Abbasiyah Banyak Dibantu Oleh Golongan

Sebelum tanaman ditebang, dilakukan upacara untuk mengusir roh penduduk papan tersebut. Seekor ayam dijadikan laksana korban bakal dipersembahkan kepada roh. Jenis pohon yang ditebang itu disesuaikan dengan khasiat kayu tersebut. Penyederhanaan kusen lakukan papan demap disesuaikan dengan sebelah otot kayu agar kekuatannya terjamin. Selepas semua bahan kayu mencukupi, barulah dikumpulkan untuk dikeringkan.

Peletakan lunas juga memakai upacara khusus. Periode debirokratisasi, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas fragmen depan adalah simbol maskulin. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Selepas dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Penyederhanaan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus sonder boleh berhenti. Karena itu, pemotongan harus dilakukan oleh orang yang bertenaga kuat.

Ujung lunas yang telah terpotong tidak bisa mencapai tanah. Bila balok putaran depan sudah lalu rantas, rincihan itu harus dilarikan untuk dibuang ke laut. Potongan itu menjadi benda penangkal bala dan dijadikan kiasan sebagai suami yang siap melaut kerjakan mencari nafkah. Sedangkan irisan balok lunas bagian bokong disimpan di rumah, dikiaskan sebagai gula-gula pelaut yang dengan tunak menunggu suami pulang dan membawa alat pencernaan.

Pencantuman papan pengapit lunas, disertai dengan upacara
Kalebiseang. Upacara
Anjarreki
yaitu lakukan penguatan lunas, disusul dengan penyusunan kusen berpunca bawah dengan ukuran demes yang terkecil hingga keatas dengan ukuran yang terlebar. Jumlah seluruh papan dasar untuk perahu pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, diteruskan dengan pengisian buritan bekas meletakkan setir bagian pangkal.

Dua pinisi yang sedang dibangun, satu sudah hampir selesai.

Apabila badan perahu telah selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pencahanan
a’panisi, ialah menjaringkan majun pada sela papan. Kerjakan merekat sambungan papan supaya kuat, digunakan sejenis kulit pokok kayu barruk. Seterusnya, dilakukan
allepa, yakni mendempul. Bahan damar terbuat dari fusi kapur dan minyak nyiur. Campuran tersebut diaduk selama 12 jam, diolah setidaknya 6 bani adam. Untuk kapal seberat 100 ton, diperlukan 20 kg dempul jasad kapal. Sentuhan terakhir merupakan menggosok dempul dengan indra peraba pepaya.

Proses anak bungsu kelahiran pinisi adalan peluncurannya. Ritual sedekahan diadakan lagi. Peluncuran kapal diawali dengan upacara adat
Appasili,
adalah ritual nan berniat lakukan menolak bala. Kelengkapan formalitas berupa seikat dedaunan yang terdiri dari daun sidinging, sinrolo, taha tinappasa, taha siri, dan panno-panno nan diikat bersama pimping. Dedaunan dimasukkan ke kerumahtanggaan air dan kemudian dipercikkan dengan mandu dikibas-kibaskan ke sekeliling arombai. Untuk perahu dengan bobot kurang dari 100 ton, biasanya dipotong seekor kambing. Sementara itu buat kapal 100 ton keatas, dipotong seekor sapi. Setelah dipotong tungkai depan embek atau sapi dipotong bagian lutut kebawah digantung di anjungan sedangkan kaki belakang digantung di buritan pinisi,[28]
maknanya adalah melampiaskan ketika peluncurannya seperti jalannya binatang secara lazim. Selanjutnya cak semau upacara
Ammossi,
yaitu seremoni pemberian kunci pada pertengahan lunas perahu dan setelah itu arombai ditarik ke laut. Pemberian pusat ini merupakan istilah yang didasarkan plong kepercayaan bahwa lambu ialah ‘anak’ punggawa atau
Panrita Lopi
sehingga dengan demikian berlandaskan pembantu maka upacara
Ammossi
merupakan fon pemotongan saudara bayi nan baru lahir. Ketika pinisi mutakadim mengapung di laut, barulah dipasang layar dan dua tiang. Layarnya berjumlah tujuh. Kapal yang diluncurkan biasanya sudah siap dengan awaknya. Peluncuran kapal dilaksanakan pada waktu air keling dan syamsu semenjana panjat. Punggawa alias pengarah pandai, sebagai pelaksana utama upacara tersebut, duduk di sebelah kiri lunas. Doa, atau lebih tepatnya mantra, pun diucapkan.

Pinisi kontemporer

[sunting
|
sunting sumber]

Di era globalisasi phinisi sebagai kapal barang berubah khasiat menjadi kapal pesiar rani komersial maupun ekspedisi yang dibiayai maka itu penanam modal lokal dan luar negeri, dengan bagian dalam congah dan dilengkapi dengan peralatan menyelam, permainan air untuk wisata kelautan dan awak yang terlatih dan diperkuat dengan teknik berbudaya. Salah satu contoh kapal pesiar berbenda terbaru yakni Silolona berlayar di bawah bendara.

Seperti mana banyak keberagaman kapal tradisional lainnya, pinisi telah dilengkapi dengan motor, sebagian besar sejak tahun 1970. Ini telah mengubah manifestasi kapal itu. Sebabat dengan dhow bertamadun, kayu-tiangnya telah diperpendek, atau dihilangkan ketika
crane
geladak lucut sesudah-sudahnya, sementara struktur di geladak, biasanya belakang, sudah lalu diperbesar untuk awak dan penumpang. Pada tadinya 1970-an, ribuan kapal pinisi-palari berukuran sebatas 200 ton kargo, armada kapal melaut kulak terbesar di dunia pada saat itu, telah menghubungi semua penjuru Samudra Hindia dan menjadi tulang punggung ekspor impor rakyat.

Pinisi dimodifikasi menjadi kapal pembawa penyelam oleh investor luar kerjakan intensi pariwisata. Riuk satu contohnya adalah bahwa perahu tersebut digunakan sebagai pitstop untuk The Amazing Race.

Kapal pinisi kembali menjadi lambang kerjakan usaha WWF adalah #SOSharks, program pelestarian ikan hiu dari WWF, dan pernah digunakan oleh perusahaan tersohor di Indonesia yakni Bank BNI.

Kesalahpahaman umum mengenai pinisi

[sunting
|
sunting sumber]

Berikut ialah kesalahpahaman awam adapun pinisi, yang banyak dicantumkan plong wahana-media terutama di internet.

  1. Bahwa pinisi adalah tera kapal. Nan bermoral yakni keunggulan sistem layar (rigging). Kapal nan biasa disebut pinisi merupakan kapal nan dipasangkan sistem layar itu, misalnya lambo dan palari.[21]
  2. Pinisi sudah ada sejak ratusan tahun dulu, sekitar abad ke-14. Sebenarnya kapal sistematis layar pinisi bau kencur terserah setelah masa 1900.[21]
  3. Sreg zaman terlampau ada kapal pinisi yang mengunjungi pangkalan Venesia, Italia. Penelitian tentang tulisan historis dari Hindia Belanda dan Italia lain pernah menyadari kapal pinisi yang sampai disana pada masa lalu.[21]
  4. Pinisi merupakan jati ciptaan pribumi. Senyatanya, sistem layar pinisi ki mawas sistem jib
    schoonerketch
    (sekunar-keci) Eropa.[11]

    :37

    Yang membedakan merupakan cara menggelendong layarnya, layar
    schooner
    Eropa digulung ke atas, sementara itu cucur pinisi digulung memanjang ke sebelah depan.[21]
  5. Pinisi dibangun oleh orang Makassar dan Bugis.
    Yang sopan merupakan pinisi dibuat maka dari itu orang Bira, Ara, Lemo-Lemo, dan Tana Beru yang merupakan suku Konjo.[11]

    :36
Baca juga:   Jelaskan Nilai Demokrasi Pancasila Jika Dibandingkan Dengan Demokrasi Lainnya

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Pelayaran rakyat
  • Padewakang, pendahulu pinisi
  • Kapal cucur
  • Djong Jawa
  • Penjajap
  • Lanong
  • Kora-kora
  • Lancaran (kapal)
  • Sunda Kerambil

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “UNESCO Acknowledges Pinisi as Intangible Cultural Heritage”.
    Tempo
    . Diakses tanggal
    10 December
    2017
    .





  2. ^

    Vuuren, L. Van 1917. ‘De Prauwvaart van Celebes’.
    Koloniale Studien, 1,107-116; 2, 329-339, pg. 108.

  3. ^

    Liebner, Horst H. (2018). ‘’Pinisi’: Terciptanya Sebuah Ikon’;
    Memorial Lecture Dr. Edward Poelinggomang. Makassar: Universitas Hasanuddin; https://www.academia.edu/35875533/Pinisi_Terciptanya_Suatu_Ikon

  4. ^

    Gibson-Hill, C. A. (2009 [1950a]). ‘The Indonesian Trading Boats Reaching Singapore.’ Dalam H.S. Barlow (ed.)
    Boats, Boatbuilding and Fishing in Malaysia
    [Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 23 (1)]. Kuala Lumpur: Malaysian Branch of the Abur Asiatic Society: 43-69 [108-138], pgs. 52f [121].

  5. ^

    Tatap, contohnya, Borahima, Ridwan et al. (1977).
    Tipe-Jenis Kano Bugis Makassar. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Peradaban, Direktorat Jenderal Kebudayaan, pp. 26f vs. Horridge, A. (1979).
    The Konjo Boatbuilders and the Bugis Sumbuk of South Sulawesi. Greenwich: National Maritime Museum, p. 10

  6. ^

    E.g., Pelly, U. (2013 [1975]).
    Ara dengan Perahu Bugisnya. Medan [Ujung Pandang]: Casa Mesra Publisher [Kiat Tuntunan Penyelidikan Guna-guna-Guna-guna Sosial, Universitas Hasanuddin], pp. 21ff; Saenong, M. A. (2013).
    Pinisi: Paduan Teknologi dan Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak, pp. 11ff.

  7. ^

    Liebner, Horst H. (2003). ‘Berlayar ke Tompoq Tikkaq: Sebuah Putaran La Galigo’. In Nurhayati Rahman and et al. (eds.),
    La Galigo, Makassar: Pusat Penggalian La Galigo, pp. 373-414.

  8. ^

    Horridge, A. (1979), p. 10

  9. ^


    Koro, Nasaruddin (2006).
    Ayam aduan Dakar Tanah Daeng: Siri’ dan Pesse dari Konflik Lokal ke Persabungan Lintas Batas. Ajuara. ISBN 9791532907.





  10. ^


    Saenong, Muhammad Arief (2013).
    Pinisi: Panduan Teknologi dan Budaya. Penerbit Ombak.




  11. ^


    a




    b




    c



    Liebner, Horst H. (2016).
    Beberapa Coretan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara. Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture.

  12. ^


    Liebner, Horst H. (2002).
    Perahu-Berlepas Tradisional Nusantara. Jakarta.





  13. ^

    Anon. (1854). ‘Journal Kept on Board a Cruiser in the Indian Archipelago.’
    Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia
    8(7): 175-199, pg. 176.

  14. ^

    Gibson-Hill, C. A. (2009 [1953]). ‘The Origin of the Trengganu Perahu Pinas’. In H.S. Barlow (ed.)
    Boats, Boatbuilding and Fishing in Malaysia
    [Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 26 (1)]. H. S. Barlow. Estuari Selut, Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society: 172-174 [206-110] dan Longuet, R. (2009). ‘Update on Boats and Boat-Building in the Estuary of the Trengganu River, 1972-2005’. In H.S. Barlow op.cit.: 338-365.

  15. ^

    Gibson-Hill (2009 [1953]): 172

  16. ^

    Warrington-Smyth, H. (1902). ‘Boats and Boat Building in the Malay Peninsula’.
    Journal of the Society of the Arts
    50(2582): 570-586.

  17. ^

    Menariknya, yang pertama dilaporkan menggunakan layar mirip sekunar pada rezeki tiruan lokal adalah berbagai gerombolan “bajak laut” tempatan: dengan demikian, misalnya, tiga kapal milik skuadron agresor suku Melayu dan orang Lanun yang berkeliaran di perairan Singapura pada masa 1836 adalah “sekunar dilengkapi dengan jib kain” (Logan, J. R. e. (1849-1851). ‘The Piracy and Slave Trade of the Indian Archipelago.’
    Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia
    3; 4; 5: 581-588, 629-536; 545-552, 144-562, 400-510, 617-528, 734-546; 374-582; 4, pg. 402.

  18. ^

    Sumur tembusan yang menjadi rujukan bisa dilihat di Liebner (2018).

  19. ^

    Liebner, Horst H. (2018).
    Pinisi: The Art of West-Austronesian Shipbuilding. Seoul: National Research Institute of Maritime Cultural Heritage & ICHCAP.

  20. ^


    Gibson-Hill, C.A. (February 1950). “The Indonesian Trading Boats reaching Singapore”.
    Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society.
    23: 108–138 – via JSTOR.




  21. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Liebner, Horst H. (November 2016). “Perahu Nusantara – sebuah presentase bagi Menko Maritim”.
    Academia
    . Diakses tanggal
    13 Agustus
    2019
    .





  22. ^


    Sastrawat, Indra (22 November 2011). “Largest Pinisi Launched”.
    Kompasiana
    . Diakses tanggal
    15 July
    2018
    .





  23. ^

    [1] The Indonesian Phinisi

  24. ^

    [2] Diarsipkan 2011-06-03 di Wayback Machine. Pusat Kerajinan Perahu Pinisi

  25. ^


    Enre, F. A. (1999).
    Ritumpana Welenrennge. Jakarta: Yayasan Suluh Indonesia.





  26. ^

    Liebner, Horst H. and Rahman, Ahmad (1998): ‘Teoretis Pengonsepan Pengetahuan Tradisional: Suatu Lontaraq Orang Bugis tentang Pelayaran ‘,
    Kesasteraan Bugis dalam Dunia Mutakhir
    (Makassar).

  27. ^

    2004 Horst H. Liebner, Malayologist, Expert Staff of the Agency for Marine and Fisheries Research, Department of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia

  28. ^

    [3] Diarsipkan 2020-07-08 di Wayback Machine. Phinisi tradisional tahir Indonesia

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Inggris)
    Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi – UNESCO: Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity – 2017



Jelaskan Bagian Layar Yang Dimiliki Kapal Pinisi

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pinisi