Jelaskan Bukti Bukti Kebenaran Adanya Hari Akhir Beserta Alasanmu

By | 13 Agustus 2022

Jelaskan Bukti Bukti Kebenaran Adanya Hari Akhir Beserta Alasanmu.

Perlukah bukti tentang adanya yaumul akhir? Atma sesudah nyenyat pasti adanya. Foto/Ilustrasi/SINDOnews

PERLUKAH bukti tentang adanya akhir zaman ? Hidup selepas hening pasti adanya. Bukankah makhluk yang tertinggi adalah khalayak nan berjiwa? Bukankah yang termulia di antara mereka adalah yang memiliki kehendak dan kebebasan memilih? Kemudian nan teratas bersumber kelompok ini adalah yang gemuk melihat jauh ke depan, serta merenungkan dampak kehendak dan saringan-pilihannya. ( Baca juga : Al-Qur’an Menjawab Para Pengingkar Hari Kiamat )

Demikian logika kita berkata. Dari sini pula jiwa orang memulai pertanyaan-cak bertanya baru. Sudahkah semua turunan menyibuk dan merasakan akibat polah-perbuatannya yang didasarkan oleh karsa dan pilihannya itu? Sudahkah yang berbuat baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah nan berbuat buas menerima nista kejahatannya?

Jelas tidak, atau belum, apalagi alangkah banyak manusia-manusia baik nan dicambuk maka itu semangat dengan cemeti-cemetinya, dan betapa banyak lagi sosok-orang jahat yang disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-kenikmatannya.

Kemah-ceteri para perusak sangat meredakan. Mereka yang mendurhakai Halikuljabbar (tampak) nyenyat. Ini semua dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.

Demikian Nabi Ayyub as yang mengalami kemasygulan hidup menghubungkan kepada Tuhan.

Quraish Shihab n domestik Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat menjelaskan karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu spirit baru di mana semua pihak akan memperoleh secara netral dan sempurna hasil-hasil perbuatan nan didasarkan atas pilihannya sendirisendiri. Itu sebabnya Al-Quran menamai hidup di akhirat sebagai al-hayawan nan berarti “hidup yang sempurna”; dan mortalitas dinamainya wafat yang arti harfiahnya adalah “kesempurnaan.”

Sekian banyak ayat Al-Quran yang menguraikan hakikat di atas, antara tidak:

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

Selayaknya saat (hari yaumul) kelak. Aku dengan sengaja merahasiakan (hari)-nya. Agar setiap jiwa diberi penangkisan (dan ganjaran) sesuai hasil usahanya (QS Thaha [20]: 15).

وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَا تَاۡتِيۡنَا السَّاعَةُ ؕ قُلۡ بَلٰى وَرَبِّىۡ لَـتَاۡتِيَنَّكُمۡۙ عٰلِمِ الۡغَيۡبِ ۚ لَا يَعۡزُبُ عَنۡهُ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الۡاَرۡضِ وَلَاۤ اَصۡغَرُ مِنۡ ذٰ لِكَ وَلَاۤ اَكۡبَرُ اِلَّا فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡنٍۙ

لِّيَجۡزِىَ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوۡا الصّٰلِحٰتِؕ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ مَّغۡفِرَةٌ وَّرِزۡقٌ كَرِيۡمٌ

وَالَّذِيۡنَ سَعَوۡ فِىۡۤ اٰيٰتِنَا مُعٰجِزِيۡنَ اُولٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ مِّنۡ رِّجۡزٍ اَلِيۡمٌ

Dan orang-manusia yang kafir bertutur, “Hari Yaumul itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti hinggap, demi Rabi nan memahami yang memasap, Kiamat itu pasti akan cak bertengger kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit atau yang di manjapada, yang lebih boncel bersumber itu atau yang bertambah besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh), agar Dia (Allah) membagi balasan kepada orang-orang nan percaya dan mengamalkan kebajikan. Mereka memperoleh pembebasan dan rezeki yang mulia (surga). Dan turunan-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (mendamparkan siksa Kami), mereka itu akan memperoleh hukuman, yaitu azab yang tinggal pedih.(QS Saba’ [34): 3-5)

Memang ada saja orang-orang nan tidak sabar dan tidak resistan menunggu. Mereka memaui mudah-mudahan perhitungan, ganjaran dan perkelahian diadakan segera -minimum tidak di manjapada ini juga. Tetapi mereka tengung-tenging bahwa hidup dan sirep adalah ujian:

Baca juga:   Biaya Angkut Lebih Murah Merupakan Keuntungan Perdagangan

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan bakal menguji beliau, siapakah di antara sira nan paling baik amalnya (QS Al-Mulk [67]: 2).

Apakah mereka nan ingin taajul menyibuk penolakan itu beranggapan bahwa si pembunuh akan melangkah takdirnya persabungan lekas ditimpakan kepadanya? Kemudian apakah masih penting suatu kebaikan bila segera pun dirasakan kesempurnaan ganjarannya? Jika demikian di mana letak ujiannya?

Menurut Quraish, manusia dapat menyadari kejadian-situasi di atas. Namun, Al-Alquran masih tetap menyuguhkan mereka yang ragu dengan menampilkan dalil-dalil yang membungkam mereka. Berikut sejumlah di antara dalil-dalil dimaksud.

Pertama, privat pertinggal Ya Sin (36): 78-83 Halikuljabbar merenjeng lidah,

وَضَرَبَ لَـنَا مَثَلًا وَّ نَسِىَ خَلۡقَهٗ‌ ؕ قَالَ مَنۡ يُّحۡىِ الۡعِظَامَ وَهِىَ رَمِيۡمٌ

78. Dan sira membuat misal bakal Kami dan meluputkan asal kejadiannya; dia berfirman, “Siapakah yang dapat menghidupkan lemak tulang-belulang, yang mutakadim lebur lumer?”

قُلۡ يُحۡيِيۡهَا الَّذِىۡۤ اَنۡشَاَهَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ‌ ؕ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيۡمُ

79. Katakanlah (Muhammad), “Nan akan menghidupkannya ialah (Almalik) nan menciptakannya purwa kali. Dan Anda Maha Mengetahui tentang segala orang,

اۨلَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمۡ مِّنَ الشَّجَرِ الۡاَخۡضَرِ نَارًا فَاِذَاۤ اَنۡـتُمۡ مِّنۡهُ تُوۡقِدُوۡنَ

80. yaitu (Almalik) nan menjadikan api untukmu berbunga kayu nan mentah, maka seketika itu ia nyalakan (api) dari gawang itu.”

اَوَلَيۡسَ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنۡ يَّخۡلُقَ مِثۡلَهُمۡؔؕ بَلٰی وَهُوَ الۡخَـلّٰقُ الۡعَلِيۡمُ

81. Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, bakir menciptakan kembali yang serupa itu (raga mereka nan telah hancur itu)? Benar, dan Ia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.

اِنَّمَاۤ اَمۡرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَادَ شَیْــٴً۬ــا اَنۡ يَّقُوۡلَ لَهٗ كُنۡ فَيَكُوۡنُ

82. Sepatutnya ada urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Beliau tetapi berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.

فَسُبۡحٰنَ الَّذِىۡ بِيَدِهٖ مَلَـكُوۡتُ كُلِّ شَىۡءٍ وَّاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ

83. Maka Mahasuci (Sang pencipta) yang di tangan-Nya pengaturan atas segala sesuatu dan kepada-Nya dia dikembalikan.

Filosof Muslim, Al-Kindi, adapun kandungan ayat tersebut, sebagaimana dikutip oleh Abdul-Halim Mahmud dalam bukunya At-Tafkir Al-Falsafi Al-Islam memaparkan ayat ini mengistimewakan bahwa:

(a) Keberadaan kembali sesuatu setelah kepunahannya yaitu bisa atau siapa. Karena menghimpun sesuatu yang sudah lalu bererak-hindar atau mengadakan sesuatu yang tadinya belum rangkaian cak semau, lebih mudah ketimbang mewujudkannya pertama kali. Meskipun demikian, bagi Allah tidak ada istilah “kian mudah alias lebih selit belit”. Hakikat ini diungkapkan maka itu ayat di atas ketika menyatakan: Katakanlah bahwa anda akan dihidupkan oleh yang menciptakannya kali pertama.

(b) Kehadiran ataupun wujud sesuatu dari perigi yang berlawanan dengannya bisa terjadi, sebagaimana terciptanya jago merah dari daun hijau (yang mengandung air). Ini diinformasikan oleh ayat yang berbunyi: Yang menjadikan untukmu api dari kayu nan hijau.

(c) Menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah kematiannya, (kian mudah kerjakan Allah) daripada menciptakan alam raya yang sebelumnya tidak kombinasi ada. Ini dipahami pecah firman-Nya: Dan tidakkah Halikuljabbar nan menciptakan langit dan bumi itu berhak menciptakan yang serupa dengan itu?

(d)Kerjakan menciptakan dan ataupun melakukan sesuatu, betapa kembali besar dan agungnya ciptaan itu, bagi Almalik tak diperlukan adanya waktu atau materi. Ini jelas berbeda dengan makhluk yang selalu membutuhkan keduanya. Kejadian ini boleh dipahami dari firman-Nya: Jadilah, maka terjadilah beliau.

Baca juga:   Volume Bangun Ruang Di Samping Adalah

Manusia mana yang mampu dengan fasafah manusia, menghimpun (butir-butir) dalam congor sebanyak aksara-leter ayat di atas, sebagaimana yang telah dihimpun oleh Allah cak bagi Rasul-Nya saw.

Kedua, Quraish melajutkan, tatap misalnya kopi Al-Isra’ nan menguraikan bagaimana pembuktian tentang kepastian hari kiamat -pada akhirnya ditemukan sendiri melalui tuntunan Al-Quran- maka dari itu mereka yang tadinya meragukannya. Kecenderungan ini digunakan maka itu Al-Alquran agar manusia merasa bahwa anda ikut berperan privat menemukan satu kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya serta bertanggung jawab untuk mempertahankannya.

وَقَالُوۡۤا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّرُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ خَلۡقًا جَدِيۡدًا‏ ﴿17:49﴾ قُلۡ كُوۡنُوۡا حِجَارَةً اَوۡ حَدِيۡدًا‏ ﴿17:50﴾ اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا يَكۡبُرُ فِىۡ صُدُوۡرِكُمۡۚ فَسَيَـقُوۡلُوۡنَ مَنۡ يُّعِيۡدُنَاؕ قُلِ الَّذِىۡ فَطَرَكُمۡ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنۡغِضُوۡنَ اِلَيۡكَ رُءُوۡسَهُمۡ وَيَقُوۡلُوۡنَ مَتٰى هُوَ ؕ قُلۡ عَسٰٓى اَنۡ يَّكُوۡنَ قَرِيۡبًا‏ ﴿17:51﴾

(Mereka bertanya), “Apakah bila kami telah menjadi tulang-kulit kerbau dan benda-benda yang hancur, masih dapat dibangkitkan juga sebagai cucu adam-bani adam yang baru?” Katakanlah, “Jadilah kalian alai-belai, alias ferum, atau segala semata-mata yang menghendaki manah kalian makin mustahil untuk diciptakan kembali.” Maka mereka akan bertanya, “Siapakah yang akan menghidupkan kami sekali lagi?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pada kelihatannya pertama.” Lalu mereka akan menggeng-gelengkan ketua mereka kepadamu dan berkata, “Pada saat itu (akan terjadi)?” Katakanlah, “Boleh jadi (dalam waktu) dempet” (QS Al-Isra’ [17]: 49-51).

Al-Quran -nan bermaksud menyertakan cucu adam n domestik penemuan religiositas mengenai hari kebangkitan ini- bukan menjawab pertanyaan kaum musyrik tadi dengan “ya” ataupun “bukan”. Tetapi, diajukan-Nya suatu kelainan baru nan belum terlintas n domestik sumsum sang penanya, yaitu dengan pernyataan nan diperintahkan kepada Rasul saw untuk disampaikan seperti terbaca di atas. Seakan-akan bagian kata tersebut berbunyi, “Bagaimana seandainya setelah kematian tulat kalian bukan menjadi tulang-belulang nan koalisi mengalami sukma, sahaja rayuan-batu alias besi-ferum atau makhluk apa saja nan sebabat sekali belum gayutan mengalami ‘hidup’ dan menurut kalian kian tidak-tidak kerjakan dihidupkan?”

Menurut Quraish, lega saat itu Al-Quran mengajak akal mereka mengajukan tanya yang mereka ajukan semula, “Siapakah yang akan menghidupkan itu semua juga?”

Jawabannya adalah, “Sira yang pertama kali mewujudkannya sebelum tadinya ia tiada.” Bukankah menciptakan menjadikan sesuatu yang pernah mengalami “hidup” makin mudah daripada takhlik sesuatu yang belum pertalian berwujud sama sekali.

Di sini kelihatan bahwa kelainan nan mereka ajukan sudah tidak berarti sama sekali. Lebih lagi “akal busuk” mereka sendiri kelihatannya mutakadim mengingat-ingat kelemahan argumen merreka, sehingga menimbulkan pertanyaan plonco.

Ketiga, lanjur Quraish, bertitik sorong dan hakikat di atas, seringkali Al-Quran menganalogikan hari kebangkitan dengan keadaan hujan nan menimpa persil yang gersang. Akta Al-Hajj menyeru seluruh manusia:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (٥) ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَى وَأَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٦) وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ (٧)

Baca juga:   Saat Terjadi Sumpah Pemuda Indonesia Masih Dijajah Oleh Negara

Aduhai seluruh manusia, jika kamu sinkron meragukan waktu kebangkitan, maka (sadarilah bahwa) Kami menciptakan kamu dari petak, kemudian nuthfah, kemudian ‘alaqah, kemudian mudhgah (sekerat daging) nan ideal penciptaannya atau tidak kamil penciptaannya, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan di internal ki gua garba segala yang Kami kehendaki sebatas waktu yang telah ditentukan.

Kemudian Kami keluarkan kamu bak jabang bayi, dan (secara berangsur-angsur) anda sampai kepada (atma) kedewasaan. Di antara kamu terserah yang diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan usianya sampai pikun, meski (sehingga) dia tidak memahami lagi segala apa yang tadinya telah diketahui. Dan kamu tatap bumi itu kering/mati, kemudian apabila Kami turunkan air (hujan) di atasnya hiduplah manjapada itu dan suburlah beliau serta menumbuhkan berbagai varietas tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah Nan Hak, Dia nan meramaikan yang mati, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu, dan hari kiamat karuan datang. Tidak ada keraguan atasnya dan Sang pencipta menyemangati semua nan dikubur (QS Al-Hajj [22]: 5-7).

Manusia berasal berpunca persil; bukankah makanannya berasal berpokok tumbuhan-pohon dan satwa yang memakan apa yang terbentang di mayapada Yang mahakuasa? Makanan tersebut diolah oleh tubuhnya, sehingga menghasilkan sperma. Pertemuan semen dan ovum menghasilkan ‘alaqah’ sesuatu yang bergantung di dinding rahim. Kemudian ini melangkaui tahap-tahap seperti yang dikemukakan di atas, sehingga kesannya khalayak sepi terkubur di radiks tanah atau menjadi petak juga. Nah apakah mustahil yang waktu ini menjadi kapling, atma lagi dengan kehidupan baru?

Bukankah sebelumnya anda pun berasal dari petak? Bukankah sehari-hari terlihat pula tanah yang gersang pasca- dicurahi hujan -ditumbuhi pepohonan yang baru? Kalau demikian mengapa meragukan kebangkitan? “Demikian makin rendah peringatan ayat di atas,” bentang Quraish Shihab.

Keempat, mortalitas sebagaimana tidur. Begitu pernyataan Al-Quran. Allah yang memegang jiwa (basyar) saat kematiannya, da(memegang) yang belum mati sreg saat tidurnya. Maka Dia resistan jiwa (khalayak) nan mutakadim Dia tetapkan kematiannya, dan Sira melepaskan jiwa yang tidak (yang tidur dengan membangunkannya) sampai musim yang Engkau tentukan … (QS Al-Zumar [39]: 42).

Untuk membuktikan adanya kebangkitan, Al-Quran menceritakan barang apa yang dilakukan Halikuljabbar terhadap seorang yang mempertanyakan akan halnya “bagaimana kebangkitan”. Maka ditidurkannya yang berkepentingan selama seratus perian, dan Dia menjadikan makanannya tetap utuh tidak rusak, sedangkan keledainya menjadi lemak tulang-bawak. (Baca QS Al-Baqarah [2]: 259)

Apalagi sekelompok pemuda yang beriman -yang tertekan berlindung ke sebuah gua karena khawatir kekejaman penguasa masanya-ditidurkan selama tiga ratus waktu lebih, kemudian dibangunkan pula oleh Sang pencipta. Kisahan mereka diuraikan secara panjang sintal dalam pertinggal Al-Kahf (18): 9-26 dan keluaran-gelanggang peninggalan mereka berupa gua tempat persembunyian mutakadim ditemukan beberapa kilometer dari kota Amman, Yordania. Waktu ini gorong-gorong itu menjadi salah satu objek yang dikunjungi para wisatawan dan peziarah. ( Baca juga : Pernah Sanding Utusan tuhan Sulaiman dengan Malaikat Izrail)

(mhy)

Jelaskan Bukti Bukti Kebenaran Adanya Hari Akhir Beserta Alasanmu

Source: https://umma.id/post/bukti-bukti-keniscayaan-hari-akhir-menurut-al-quran-2264022?lang=id