Kekuasaan Daulah Abbasiyah Bebas Dari Pengaruh Manapun Terjadi Pada Periode

By | 12 Agustus 2022

Kekuasaan Daulah Abbasiyah Bebas Dari Pengaruh Manapun Terjadi Pada Periode.

PeciHitam –Sejarah Pertukaran kekuasaan dari Daulah Umayyah kepada daulah Abasiyah bermula ketika adanya pihak oposan ialah Bani Hasyim nan memaksudkan kepemimpinan Islam mampu di tangan mereka karena mereka adalah keluarga Nabi saw yang terdekat.


Pecihitam.org, bisa Istiqomah berputra artikel-kata sandang keislaman dengan adanya jaringan carik dan tim penyunting nan bisa menulis secara rutin. Kamu bisa berpartisipasi internal Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu maupun apalagi kamu boleh turut Berdonasi.



DONASI Waktu ini

Tuntutan itu sebenarnya sudah cak semau sejak lama, tapi mentah menjelma menjadi gerakan detik Ibni Umayyah menanjak tahta dengan mengalahkan Ali kedelai Abi Thalib dan bersikap keras terhadap Bani Hasyim.

Alasan lainnya kenapa mereka bersikap oposan merupakan karena menurut mereka pemerintahan Umayyah mutakadim banyak menyimpang jauh dari nilai-nilai Islam.

Operasi Abbasiyah di mulai ketika Umar bin Abdul Aziz (717-720) menjadi khalifah Daulah Umayyah. Umar mengusung dengan objektif. Ketentraman dan penguatan negara menjatah kesempatan kepada gerakan Abbasiyah buat merumuskan dan merencanakan gerakannya yang berpusat di al-Humayyah.

Pimpinannya waktu itu adalah Ali bin Abdullah bin Abbas, seorang zahid. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad, yang memperluas gerakannya.

Dia menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan yaitu kota al-Humayyah sebagai kancing perencanaan dan organisasi, kota Kuffah sebagai daerah tingkat penghubung dan daerah tingkat Khurasan ibarat pusat gerakan praktis. Muhammad wafat pada tahun 125 H/743 M dan digantikan oleh anaknya Ibrahim al-Pastor.

Panglima perangnya berasal berasal Khurasan bernama Abuk Muslim al-Khurasani. Abu Muslim berhasil merebut Khurasan dan kemudian menyusul kemenangan demi kemajuan.

Pada awal perian 132 H/749 M Ibrahim al-Pastor tertangkap makanya pemerintah Daulah Umayyah dan dipenjara sampai dia meninggal. Setelah Ibrahim al-Padri meningga pada jadinya sira digantikan makanya saudaranya Bubuk Abbas.

Tidak lama pasca- itu, dua bala tentara Abbasiyah dan Umayyah bertempur di dekat sungan Zab adegan hulu. N domestik pertempuran itu Bani Abbas mendapatkan kemenangan dan tentara tentaranya terus menumpu ke negeri Syam (Suriah) dan disinilah pada akhirnya kota demi kota dikuasainya.

Musim rezim Abul Abbas sangatlah pendek yaitu bermula periode 150-754 M. Kemudian digantikan makanya Abu Ja’far Al-Mansur nan yaitu saudara berasal Abul Abbas. Bubuk Ja’farlah sebenarnya yang dikenal misal pembangun sedarun bapak dari zuriat para khalifah dalam kelanjutan Periodesasi Dinasti Abbasiyah.

Baca juga:   Buatlah Pertanyaan Yang Sesuai Dengan Masing-masing Garis Bilangan Berikut

Debu Ja’far dikenal sebagai koteng yang keras dalam menghadapi saingan-lawannya terutama dari keturunan bani Umayyah, Khawarij, Syi’ah yang merasa terdiskriminasi oleh Dinasti Abbasiyah.

Setelah Bubuk Ja’far Al-mansur meninggal, maka jabatan khalifah digantikan makanya anaknya Al-Mahdi, dalam masa pemerintahan Al-Mahdi kamu mempunyai kebijakan kuak dan melepaskan khalayak-orang hukuman politik dan yang enggak boleh dilepaskan merupakan para penjahat (pencuri alias penyamun), orang yang tertuduh membunuh.

Sesudah Al-Mahdi berlalu maka khalifah pula berganti dan diganti oleh putranya yang tertua bernama Al-Hadi. Pada musim pemerintahannya adanya pertempuran yang berpokok semenjak Madinah.

Perejah ini dipimpin makanya keturunan Ali yang berkehendak merebut jabatan khalifah, anda bernama Al-Husain polong Ali Al-Husain Al-Musalats.

Kabar bahwa ia akan melakukan pemberontakan ternyata telah tercium oleh khalifah terlebih silam, sehingga khalifah pun mengirimkan tentara yang bermaksud untuk menabrakkan perahu para pemberontak tersebut. dalam pertempuran ini pihak Al-Husain mengalami kekalahan disebabkan oleh perbedaan jumlah tentara.

Dalam Hal pertempuran itu Al-Husain dan pengikutnya mati terbunuh, hanya dua anak adam kerabat Husain nan berhasil meloloskan diri dari kematian.

Beberapa coretan peristiwa di atas adalah cuplikan pendek mengenai kisah perebutan kekuasaan yang terjadi pada musim kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Saling sikut, intrik strategi lebih-lebih sampai mengorbankan hayat demi sebuah tahta memang benar-benar terjadi berbunga tahun ke perian.

Lebih lanjut, moga sidang pembaca mengarifi secara sumir periode pengaturan Dinasti Abbasiyah tersebut, berikut kami jelaskan secara singkat.

Daftar Pembahasan:

  • 1
    Periodesasi Yuridiksi Dinasti Abbasiyah

    • 1.1
      Hari lanjutan yakni musim 847 M-945 M.
    • 1.2
      Periode Buwaihi (945 M-1055 M)
    • 1.3
      Musim Saljuk (1055-1258 M)

Periodesasi Pengaturan Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah adalah pelecok satu dinasti yang minimum lama berwajib yakni selingkung 5 abad dan dalam dinasti ini pernah terwujud masa keemasan umat Islam.

Jika dilihat dari masa kekuasaannya maka Periodesasi Dinasti Abbasiyah dapat dilihat pecah bilang periode yang masing-masing musim mempunyai bintik tekan yang berbeda baik itu dari ciri, abstrak, perubahan struktur pemerintahan dan kondisi sosial strategi yang berkembang. Secara awam kekeuasaan dinasti Abbasiyah dapat dilihat berpangkal tiga periode:

Pada waktu ini diawali sejak Abuk Abbas menjadi khalifah (132 H /750 M) dan berjalan hingga satu abad dan puas akhirnya menjelang meninggalnya ataupun bergantinya khalifah Al-Watsiq (232 H/847 M).

Baca juga:   Gerakan Berdiri Dengan Kedua Tangan Disebut

Menurut beberapa sejarawan di perkuat dengan bukti-bukti otentik bahwa musim inilah merupakan hari keemasan dinasti Abbasiyah. Pada perian ini ada sepuluh makhluk khalifah yang berkuasa mereka adalah:

Abul Abbas As-Saffah (132 H/750 M), Abu Ja’far Al-Mansur (136 H/754 M), Al-Mahdi (158 H/775 M), Al-Hadi (169 H/785 M), Harun Ar-Rasyid (170 H/786 M), Al-Amin (193 H/ 809 M), Al-Ma’mun (198 H/813 M), Al-Ma’mun (198 H/813 M), Al-Mu’tasim (218 H/ 833 M), Al-Watziq (227 H/ 842 M).

Periode lanjutan yakni musim 847 M-945 M.

Pada periode ini di awali dengan meninggalnya Khalifah Al-Watsiq dan berjarak ketika keluarga Buwaihi bangkit memerintah (847 M-932 M). sepeninggal Al-Watsiq, Al-Mutawakil menaiki menjadi khalifah. Sekarang ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.

Plong periode ini juga muncul persaingan antara militer di Bagdad dan di Samarra, terlebih antar kelompok di masing-masing kota, munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib dan berkeinginan merebut jabatan khalifah. Dan khalifah yang berkuasa yang termasuk dalam waktu ini ada 13 khalifah yakni:

Al-Mutawakkil, Al-Muntasir, Al-Musta’in, Al-Mu’taz, Al-Muhtadi, Al-Mu’tamid, Al-Mu’tadhid, Al-Muktafi, Al-Muqtadir, Al-Qahir, Ar-Radhi, Al-Muttaqi, Al-Muktafi.

Periode Buwaihi (945 M-1055 M)

Perian ini dimulai dengan bangkitnya Bani Buwaihi setakat munculnya Bani Saljuk. Area Ibni Buwaihi mencakup Irak dan Persia Barat. Pada masa ini jabatan kekuasaan khalifah Abbasiyah secara de facto di jawat oleh bani Buwaihi.

Dan responsif nan dianut makanya Buwaihi berbeda dengan tanggap nan dianut oleh Abbasiyah. Dinasti Buwaihi menganut paham Syi’ah sedangkan dinasti Abbasiyah menganut responsif Sunni.

Lega masa dominasi dinasti Buwaihi ini terserah lima khalifah Abbasiyah: Al-Muktafi, Al-Muti, At-tai, Al-Qadir, Al-Qaim.

Sreg perian tersebut pun cak semau sebelas pentolan dinasti Buwaihi nan secara de facto menjadi kepala pemerintahan, antara tidak Ahmad Mu’izz Ad-Daulah (945 M), Bakhtiar Azz Ad-Daulah (967 M), Ad ad-Daulah (978 M), Syams Am ad-Daulah (983 M), Syraf ad-Daulah (987), Baha ad-Daulah (989 M), Sultan ad-Daulah (1012 M), Musarrif a-Daulah (1021 M), Jalal ad-Daulah (1025 M) Imadudin Abu Kalijar (1044 M) dan Malik ar-Tembolok (1084 M) hingga tahun (1055 M).

Baca juga:   Biaya Sewa Dikenakan Kepada Nasabah Yang Menggunakan Jasa

Periode Saljuk (1055-1258 M)

Saat ini diawali momen kaki saljuk mencekit alih pemerintahan dan mengontrol ke khalifahan Abbasiyah pada tahun 447 H/1055 M. masa dinasti saljuk berjarak pada tahun 656 H/1258 M. ketika bala pasukan Mongol menyerbu dan menghancurkan Bagdad andai pusat dinasi Abbasiyah.

Puas masa ini ada dua belas khalifah Abbasiyah, yakni: Al-Qaim, Al-Muqtadi, Al-Mustazir, Al-Mustarsyid, Ar-Rasyid, Al-Muqtafi, Al-Mustanjid, Al-Mustadi, An-Nasir, Az-Jasmaniah, Al-Mustansir, Al-Musta’sim.

Adapun para pemuka dinasti saljuk yang memerintah dibedakan antara mereka nan berdomisili di bagdad, Ibukota Abbasiyah dan yang bertempat tinggal di Iran yaitu mereka nan berdomisili di Bagdad, antara lain Tugrel Beiq (1038 M), Alp Arslan (1063-1072 M), Maliksyah I (1072-1092 M), Mahmud I (1092 M), Barkiyaruk (1094 M-1104 M), Maliksyah II (1105 M), Sanjar (1118 M).

Tentang yang berdomisili di Iran, antara tidak Mahmud II (1118 M), Dawud (1131 M), Tugril II (1132 M), Mas’ud (1134 M) Maliksyah III (1152 M), Sulaiman Tuanku (1160), Arslan (1161 M), dan Tugril III (1176-1194 M).

Demikian sejumlah hal terdahulu terkait perebutan yuridiksi dan periodesasi lega perian Dinasti Abbasiyah. Adapun yang sebenarnya ingin kami tegaskan ialah Dinasti Abbasiyah memang merupakan dinasti yang bertahan paling lama dalam sejarah Islam, yaitu sekitar 5 abad.

Masa keemasan kejayaan Islam juga ada pada masa Dinasti tersebut. Namun dibalik itu, bukan berharga tanpa cela. Perebutan dominasi yang terjadi di pantat cucur sekali lagi tak kalah tragisnya. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah.

Jika hari ini banyak hamba allah yang mentah mengenal kekhalifahan Islam, kemudian kepingin menerapkan sistem khilafah di Indonesia. Maka lain tidak mungkin, keadaan-peristiwa berbakat tersebut juga akan terulang.

Lebih lagi sekarang ini sonder sisi nan jelas, sehingga seperti ingin memaksakan seolah-olah harus seperti masa gemilang Islam terdahulu.
Mengapa penaakk men!

  • Author
  • Recent Posts

Kekuasaan Daulah Abbasiyah Bebas Dari Pengaruh Manapun Terjadi Pada Periode

Source: https://pecihitam.org/periodesasi-dinasti-abbasiyah/