Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka Kepada Jepang

By | 14 Agustus 2022

Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka Kepada Jepang.

Sama sebagai halnya yang terjadi pada zaman pemilikan Belanda, rakyat juga melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jepang. Pelecok satu perlawanan rakyat terjadi di Aceh, tepatnya Cot Plieng. Kalau ingin menyimak informasi sebaik-baiknya, langsung doang cek ulasannya di bawah ini.

Kedatangan Jepang ke Hindia Belanda pada awalnya diterima baik oleh rakyat. Saja setelah menunjukkan wajah yang sepatutnya ada, banyak rakyat nan berontak dan melawan akibat kezaliman mereka. Perlagaan rakyat Aceh di Cot Plieng adalah salah satunya.

Konon, peperangan tersebut terjadi akibat Jepang yang memaksa rakyat bikin memberikan puja khusus kepada Pangeran Jepang. Akan cuma, hal tersebut ditolak baru-mentah oleh pemuka agama setempat karena anti dengan ajaran agama.

Lantas, apakah benar demikian? Nah daripada membuat kamu semakin penasaran, bertambah baik simak jawabannya berikut ini. Selamat membaca!

Latar Belakang Perkelahian Rakyat Aceh di Cot Plieng

Angkatan Jepang
Perigi: Wikimedia Commons

Kedatangan Jepang di Hindia Belanda mulanya diterima baik oleh masyarakat. Pada ketika itu, rakyat merasa demen karena Jepang dianggap mampu melepaskan belenggu bersumber penjajahan Belanda.

Keseleo satu penerimaan tersebut dibuktikan dengan adanya kerja sama antara para ulama Aceh dengan Jepang. Cerdik pandai-ulama yang terkonsentrasi dalam sebuah organisasi bernama Pusat Ulama Seluruh Aceh (PUSA) ini ingin bergabung karena memiliki pamrih untuk mengusir Belanda di wilayahnya. Kalau berhasil, mereka nantinya akan semakin mudah lakukan menegakkan sendi-kancing Islam di masyarakat.

Hubungan kerja setolok tersebut pun mendapatkan sambutan yang baik semenjak Mayor Fujiwara Iwaichi. Ia inilah nan nantinya yang melakukan operasi pemerintah Jepang di wilayah Melayu dan Hindia Belanda.

Akan tetapi, lain semua ulama menyetujui apa yang dilakukan oleh PUSA. Contohnya adalah Tengku Abdul Djalil. Anda menolak keras kerja sekufu tersebut. Menurut ajaran agama yang diyakininya, rakyat tidak boleh berserikat dengan Jepang meskipun telah membantu cundang Belanda.

Operasi-propaganda nan dilakukan oleh Jepang adv amat organisasi PUSA tidak menggoyahkan sedikit kembali pendiriannya. Malah, ia semakin gencar mengajak santri-santrinya cak agar tidak terpengaruh dengan operasi tersebut. Diketahui, laki-laki tersebut merupakan seorang pimpinan pesantren atau dayah bernama Cot Plieng yang terdapat di desa Bayu, Lhokseumawe.

Ketidaksukaan Tengku Abdul Djalil terhadap Jepang semakin kentara saat melihat kelakuan para bala Jepang yang lain sesuai dengan mandu tajali Islam. Tentara-angkatan itu doyan mabuk-mabukan, bermain wanita, ataupun berbuat kelakuan maksiat yang lain.

Baca kembali: Sistem Kerja Kerah yang Diberlakukan oleh Pemerintah Kolonial di Indonesia

Baca juga:   Based on the Text We Can Conclude That

Sediakala Mula Munculnya Peperangan Cot Plieng

Hal lain yang paling tidak dapat diterima maka itu si ulama ialah detik pemerintahan Jepang mewajibkan rakyat melakukan Seikerei. Bagi yang belum tahu, seikerei ialah berbuat penghormatan di pagi hari kepada Sultan jepang dengan cara membungkuk ke arah timur.

Tindakan ini tentu sahaja tidak searah dengan ajaran agama Selam. Kamu menganggapnya sekufu saja dengan menyekutukan Yang mahakuasa.

Sekitar rembulan Juli 1942, Tengku Abdul Djalil mengadakan persuaan dengan pengikutnya di Kampung Krueng Lingka. Di sana, dia berceramah dan mengatakan kalau mereka semua harus berjuang menandingi penjajahan Jepang.

Tidak kontol masa yang lama, apa yang dikatakannya itu hingga juga ke telinga Jepang. Si pemimpin pun diancam akan dibawa ke jawatan petugas keamanan. Akan tetapi, hal itu enggak membuatnya takut sedikit pun. Ia pun tidak pernah menggubris panggilan bermula komandan kompetei di Aceh.

Darurat itu, bersama dengan pengikutnya yang berjumlah sekitar 400 anak adam, Tengku Abdul Djalil melakukan tutorial supaya siap melakukan pertempuran dengan Jepang. Dari telaga, hubungannya dengan Jepang menjadi semakin buruk.

Baca juga: Bidang Belakang Terjadinya Perang Tondano: Sejarah Perlawanan Rakyat Minahasa Menandingi Belanda

Bujukan untuk Tidak Melakukan Pertentangan

Pihak Jepang sempat mengusahakan kronologi berbaik guna meredam perlawanan Tengku Abdul Djalil dan pengikutnya. Pertamanya, mereka mengirimkan uleebalang bagi membujuk cerdik pandai tersebut, tapi tak mendapatkan hasil. Bahkan, setinggi tumenggung tetapi juga tak diindahkannya.

Selanjutnya, dikirimlah Tengku Haji Hasan Krueng Kale. Beliau merupakan salah satu ulama yang tergabung di PUSA, maka dari itu tidak mengherankan jika memiliki perantaraan kedekatan dengan Jepang. Selain itu, ia dipilih karena merupakan mantan guru Tengku Abdul Jalil.

Meskipun didatangi oleh gurunya sendiri, tetap tidak membentuk keyakinan Abdul Jalil goyah. Pria tersebut patuh lega pendiriannya cak bagi mengamalkan perlawanan.

Hingga akhirnya, pemerintah Jepang mengirimkan seorang petugas keamanan militer benama Hayasi. Cuma selevel saja, kedatangannya itu tidak berwibawa sedikitpun. Terlebih, pelecok satu pengikut sang didikan pondok pesantren itu menikamnya dengan menggunakan ganjur. Kejadian tersebut terjadi lega terlepas 7 November 1942.

Melihat segala yang terjadi pada Hayasi sekembalinya dari Cot Plieng membuat pihak Jepang marah. Ketika itu kembali, mereka mengirimkan angkatan yang berlimpah di bireun, Lhoksukon, dan Lhokseumawe untuk menyerbu tempat tersebut.

Baca juga: Ulasan tentang Maksud Dibentuknya VOC Beserta Penjelasannya

Meletusnya Pertempuran Melawan Jepang

Perlawanan Cot Plieng Aceh - Tengku Abdul Djalil Tengku Abdul Djalil
Sumber: Pamor Aceh

Waktu menunjukkan jam 12 siang detik bala Jepang yang bersenjata paradigma berangkat di Cot Plieng. Kehadiran para tentara itulah yang men dimulainya tentangan.

Baca juga:   Setiap Muslim Diperintahkan Untuk Menuntut Ilmu Dan Mengamalkannya

Di lain sisi, Tengku Abdul Djalil dan pengikutnya memang burung laut prayitna jika-kalau cak semau penyerangan mendadak. Dengan persisten, ia mengerahkan pengikutnya bakal melawan Jepang.

Bantahan antara kedua pertahanan nan bertelingkah itu cacat lebih terjadi selama catur jam. Pasukan Jepang tidak segan-segan bakal kobar bangunan pesantren.

Enggak hanya pesantren saja, bahkan masjid dan gelanggang tinggal si komandan pun adv amat gosong. Kurang lebih ada selingkung 86 individu nan gugur dalam hal berdarah itu.

Karena semakin terdesak, persangkalan rakyat Aceh di Cot Plieng yang dipimpin maka dari itu Tengku Abdul Djalil tersebut terdesak mundur. Legiun nan primitif kemudian memakamkan diri ke sebuah desa bernama Neuhun yang teletak di Kecamatan Merurah Luhur.

Baca juga: Kronologi Memori Perang Padri: Perang sipil yang Berubah Menjadi Penangkisan Melawan Penjajahan Belanda

Terus Melakukan Penyerangan

Pasukan Jepang tentu tak menyerah sejenis itu saja. Mereka terus memburu tentara Tengku Abdul Djalil setakat ketemu.

Keesokan harinya, mereka pun akhirnya menemukan tempat persembunyian lawan, yaitu di Desa Neuhun. Penyerangan tiba-tiba itu menewaskan catur sosok pejuang.

Beruntungnya, sang superior pesantren dan sejumlah pengikutnya masih bisa culik diri. Mereka sampai ke Desa Bulouh dan menjadikannya sebagai tempat persembunyian darurat.

Akan tetapi pada tanggal 10 Novemer 1942, pasukan Tengku Abdul Djalil kembali dapat ditemukan makanya Jepang. Mereka diserang ketika sehabis melaksanakan ibadah sholat.

Sreg gempuran ini, Jepang bukan berperan dan mengerahkan seluruh tenaga bagi menghabisi pasukan lawan. Penampikan kali ini berlangsung lalu sengit dan berlangsung patut lama, kira-agak sampai maghrib.

Sekitar pukul 18.00, Tengku Abdul Djalil dinyatakan gugur dalam peperangan. Dengan demikian, berakhirlah perlawanan rakyat Cot Plieng di Aceh.

Jenazah sang pengarah kemudian dikebumikan di Kompleks Dayat Cot Plieng. Andai pelengkap informasi, resistansi yang dipimpin sang tengku tersebut juga disebut Perang Bayu karena pertama barangkali meledak di Desa Bayu.

Baca pula: Masa Kemajuan dan Faktor Penyebab Runtuhnya Kekaisaran Banten

Dampak dari Perlawanan Cot Plieng di Aceh

Ilustrasi Peperangan Ilustrasi Suasana Peperangan
Sumber: Wikimedia Commons

Penumpasan Jepang nan dilakukan terhadap pasukan Tengku Abdul Djalil rupanya bukan membuat situasi di Aceh menjadi terkendali seperti itu saja. Karena selanjutnya, terjadi sekali lagi penampikan di daerah Pandrah.

Penyebab meletusnya perlawanan tersebut dipicu maka dari itu tindakan kesewenang-wenangan Jepang nan menjumut harta bermakna peruntungan rakyat. Selain itu, mereka juga menerapkan kebijakan romusha. Makanya, rakyat mengerjakan balasan supaya terbebas bermula penderitaan.

Baca juga:   Lirik Lagu It Ain T Me

Peperangan rakyat di Pandrah tersbeut dipimpin oleh beberapa pemrakarsa mahajana. Beberapa di antaranya adalah Keuchik Usman, Tengku Ibrahim Peudada, dan Keuchik Johan.

Pasca- melakukan awalan yang masak, Keuchik Johan kemudian mengerahkan rakyat cak bagi mengamalkan penyerangan terhadap pasukan Jepang. Kejadian ini terjadi plong tanggal 2 Mei 1945.

Penyerbuan tersebut tak dianggap enteng oleh Jepang. Mereka tidak menginginkan terjadinya Perang Bayu jilid 2. Lebih lanjut, legiun pun dikerahkan bikin mengepung Desa Pandrah.

Akhir Kisah Pertempuran di Aceh

Sesampainya di tempat tersebut, tentara Jepang tidak menemukan para pejuang karena telah pula ke Glee Banggalang. Mengetahui situasi tersebut, mereka kemudian menyuruh para pejuang bakal mengasihkan diri.

Namun karena tidak ada yang ingin menyerah, risikonya prajurit Jepang kecam Desa Pandrah supaya mereka kembali. Kejadian tersebut membuyarkan para pejuang di palagan persembunyian.

Akhirnya, mereka mengemudiankan untuk mengamalkan penyerangan dengan dipimpin oleh Tengku Ibrahim Peudada. Akibat situasi tersebut, banyak sekali angkatan Jepang nan tewas.

Selanjutnya, pihak nasion luar itu berang dan kemudian menjadikan warga Pandrah laksana tahanan dan memburu para pejuang yang berhasil melarikan diri. Pada akibatnya, para pejuang berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Baca juga: Kronologi Terjadinya Agresi Militer Belanda 1: Aksi kerjakan Kembali Menguasai Indonesia

Ulasan tentang Album Perlawanan Cot Plieng di Aceh

Itulah tadi pemberitaan tentang penolakan Cot Plieng yang boleh kamu temukan di PosKata. Bagaimana? Semoga saja dapat menambah pengumuman sejarahmu sesudah membacanya.

Di sini, kamu enggak hanya akan menemukan artikel memori tentang zaman penjajahan hanya, lho. Kalau misalnya ingin membaca tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara juga ada.

Selain kerajaan bercorak Hindu-Buddha seperti Kediri, Sriwijaya, dan Singasari, kamu bisa menemukan artikel mengenai kerajaan bercorak Selam. Kalau tercantol, langsung cek saja artikel-artikel menariknya, ya!

Katib
Errisha Resty

Errisha Resty, lebih demen dipanggil pakai segel depan daripada merek paruh.  Jebolan Universitas Serani Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang lebih minat nulis daripada ngajar. Suka nonton drama Korea dan mendengarkan BTSpop 24/7.

Pengedit
Elsa Dewinta

Elsa Dewinta yaitu sendiri editor di Praktis Media. Wanita nan mempunyai passion di dunia content writing ini yaitu lulusan Perserikatan Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah darah, seseorang boleh menjadi penyalin hebat karena terbiasa dan ingin belajar.

Mengapa Masyarakat Aceh Tidak Suka Kepada Jepang

Source: https://www.poskata.com/histori/perlawanan-aceh-di-cot-plieng/