Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Imperialisme Adalah

By | 12 Agustus 2022

Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Imperialisme Adalah.

Sebuah mesin uap. Penggunaan mesin uap, yang menyebabkan meningkatnya penggunaan batubara turut mendorong terjadinya Persebaran Industri di Inggris dan di seluruh marcapada.

Sirkulasi Industri
terjadi pada periode antara musim 1760-1850 di mana terjadinya perubahan secara habis-habisan di bidang perladangan, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta n kepunyaan dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di mayapada.[1]
Perputaran ini menyebabkan terjadinya perkembangan megah yang terjadi pada semua aspek umur manusia. Singkatnya, revolusi industri merupakan masa dimana pekerjaan manusia di plural bidang menginjak digantikan maka itu mesin.[2]
[3]
Revolusi Industri dimulai berasal Britania Raya dan kemudian memencar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan hambur ke seluruh dunia.[4]

Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam ki kenangan dunia, rapat persaudaraan setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan lazimnya nan berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sejauh dua abad setelah Persebaran Industri, lazimnya pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat kian bermula heksa- kali bekuk. Seperti mana yang dinyatakan oleh jago Hadiah Nobel, Robert Emerson Lucas, bahwa: “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat kebanyakan mengalami pertumbuhan nan per-sisten. Perilaku ekonomi yang begitu juga ini tidak rangkaian terjadi sebelumnya”.[5]

Inggris memberikan landasan hukum dan budaya yang memungkinkan para pengusaha buat merintis terjadinya Revolusi Industri.[6]
Faktor kunci nan turut mendukung terjadinya Revolusi Industri antara lain: (1) Masa perdamaian dan stabilitas nan diikuti dengan penyimpulan Inggris dan Skotlandia, (2) tidak ada obstruksi kerumahtanggaan perdagangan antara Inggris dan Skotlandia, (3) aturan syariat (menghormati kesucian kontrak), (4) sistem hukum yang tersisa yang memungkinkan pembentukan saham gabungan perusahaan (korporasi), dan (5) adanya pasar bebas (kapitalisme).[7]

Persebaran Industri dimulai sreg intiha abad ke-18, di mana terjadinya peralihan privat penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga fauna dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin nan berbasis menufaktur.[8]
Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap pabrik tekstil, pengembangan teknik pembuatan logam dan peningkatan penggunaan batubara. Pengembangan bazar turut dikembangkan dengan dibangunnya susukan, perbaikan jalan raya dan ril kereta jago merah.[9]
Adanya peralihan berpangkal perekonomian yang berbasis perkebunan ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada jadinya menyebabkan membengkaknya populasi di ii kabupaten-kota besar di Inggris.[10]

Mulanya mula Revolusi Industri masih diperdebatkan. T.S. Ashton menulisnya nyana-tebak 1760-1830.[11]
Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Pabrik II pada selingkung periode 1850, ketika kejayaan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan urut-urutan kapal tenaga-uap, landasan kereta api, dan kemudian di akhir abad tersebut kronologi mesin pembakaran dalam dan perkembangan generator tenaga listrik.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Aliran Industri adalah terjadinya sirkuit ilmu siaran pada abad ke-16 dengan munculnya para intelektual seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei.[12]
Disamping itu, disertai adanya ekspansi penyelidikan dan pengkhususan dengan pendirian gambar riset seperti
The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam negeri, kronologi kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya akan sumber trik tunggul.

Istilah “Rotasi Industri” sendiri diperkenalkan maka itu Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti mana John Clapham dan Nicholas Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi secara bertahap dan revolusi jangka panjang ialah sebuah ironi.[13]
[14]
Komoditas lokal bruto (PDB) masing-masing kapita negara-negara di dunia meningkat setelah Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern.[15]
Sirkulasi Pabrik men dimulainya era pertumbuhan pendapatan tiap-tiap kapita dan pertumbuhan ekonomi kapitalis.[16]
Revolusi Industri dianggap umpama peristiwa paling penting yang pernah terjadi privat ki kenangan manusiawi sejak domestikasi binatang dan tumbuhan pada periode Neolitikum.[17]

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Awal mula pendayagunaan istilah “Diseminasi Industri” ditemukan intern sertifikat maka itu seorang utusan berpunca Paris bernama Louis-Guillaume Otto pada sungkap 6 Juli 1799, nan mana di saat itu beliau menuliskan bahwa Prancis sudah memasuki era
industrialise
.[18]
Intern kunci terbitan tahun 1976 yang berjudul:
Keywords: A Vocabulary of Culture and Society, Raymond Williams menyatakan bahwa pembukaan itu bagaikan sebutan lakukan istilah “industri”.

Revolusi Pabrik adalah perubahan ki akbar, secara cepat, dan kembali radikal yang memengaruhi jiwa dandan individu sering disebut distribusi. Istilah perputaran biasanya digunakan dalam melihat perubahan ketatanegaraan atau sistem pemerintahan. Tetapi, Revolusi Industri di Inggris plong hakikatnya adalah perubahan kerumahtanggaan cara pembuatan barang-dagangan yang semula dikerjakan dengan tangan (tenaga manusia) kemudian digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian, komoditas-barang dapat dihasilkan dalam besaran banyak dengan waktu yang relatif singkat.[19]

Permukaan pantat

[sunting
|
sunting sumber]

Peredaran Industri bikin barangkali pertamanya unjuk di Inggris. Mengenai faktor-faktor yang menyebabkannya merupakan sebagai berikut:

  • Situasi politik yang stabil. Adanya Peredaran Agung tahun 1688 yang mengharuskan ratu bersumpah setia kepada
    Bill of Right
    sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berlandaskan atas persetujuan parlemen.
  • Inggris berlimpah alamat lombong, begitu juga bisikan bara, biji besi, timah, dan kaolin.[20]
    Di samping itu, wol juga tinggal menabrak pabrik tekstil.
  • Adanya invensi hijau di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya radas-gawai pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.
  • Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan bazar sehingga bisa menyediakan modal yang besar bakal parasan gerakan. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak dominion yang menghasilkan target mentah tersebut.
  • Pemerintah memberikan konservasi hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga menjorokkan kegiatan penelitian ilmiah. Apalagi setelah dibentuknya lembaga ilmiah Boros Society for Improving Natural Knowledge maka urut-urutan teknologi dan industri bertambah beradab.
  • Aliran urbanisasi yang besar akibat Revolusi Pertanahan di pedesaan menyorong pemerintah Inggris untuk membuka industri nan lebih banyak hendaknya bisa menimbuk mereka.

Perkembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Puas intiha abad Pertengahan kota-ii kabupaten di Eropa berkembang sebagai kancing kerajinan dan perdagangan. Warga ii kabupaten (kaum Borjuis) nan merupakan warga berjiwa adil menjadi tulang jejak kaki perekonomian kota. Mereka bersaing secara nonblok bikin kemajuan intern perekonomian. Pertumbuhan kerajinan menjadi industri melalui bilang tahapan, sebagai halnya berikut.

Sistem Lokal

Tahap ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan flat
(home industry). Para praktisi bekerja di kondominium tiap-tiap dengan alat yang mereka miliki seorang. Justru, kerajinan diperoleh pecah pengusaha yang setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan jumlah dagangan nan diolah. Dengan kaidah kerja yang demikian, atasan yang n kepunyaan operasi hanya membayar tenaga kerja atas dasar pengejawantahan atau hasil. Para pembesar tidak direpotkan soal tempat kerja dan gaji.

Manufakturosi

Setelah kerajinan industri lebih berkembang diperlukan tempat khusus untuk bekerja hendaknya majikan dapat mengawasi dengan baik kaidah mengerjakan dan mutu produksinya. Sebuah manufaktur (industri) dengan puluhan personel didirikan dan biasanya berada di babak belakang rumah komandan. Flat episode tengah lakukan tempat lalu dan bagian depan sebagai toko untuk menjual produknya. Hubungan atasan dengan pekerja (buruh) kian sanding karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih sedikit. Komoditas-barang nan dibuat kadang-kadang sekali lagi masih berlandaskan pesanan

Sistem pabrik

Tahap sistem pabrik sudah lalu merupakan pabrik yang menunggangi mesin. Tempatnya di kewedanan industri yang sudah ditentukan, boleh di dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk tempat kerja, sedangkan majikan tinggal di wadah lain. Demikian pun toko tempat pemasaran hasil industri diadakah di wadah lain. Kuantitas tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah puluhan, bahkan ratusan. Komoditas-barang produksinya dibuat bagi dipasarkan.

Berbagai diversifikasi penemuan

[sunting
|
sunting sumber]

Adanya invensi teknologi baru, besar peranannya kerumahtanggaan proses industrialisasi sebab teknologi plonco dapat mempermudah dan memburu-buru kerja pabrik, melipatgandakan hasil, dan menghemat biaya. Reka cipta-penemuan yang penting, antara lain umpama berikut.

Baca juga:   Ciri Ciri Penyakit Diatas Dimiliki Oleh Orang Yang Menderita Penyakit

  • Penemuan bor mani oleh Jethro Tull pada tahun 1701 yang meningkatkan produktivitas di sektor perladangan Eropa Barat.[21]
  • Kili-kili nanar
    (flying shuttle)
    ciptaan John Kay (1733) nan mampu berbuat proses pemintalan secara cepat.[22]
  • Mesin pemintal benang
    (spinning jenny)
    ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard Arkwright (1769), dipatenkan lega tahun 1770. Dengan alat ini seseorang bisa memintal dengan delapan senar privat satu kali putaran sehingga memungkinkan produksi berlipat ganda.[23]
  • Mesin tenun ciptaan Edmund Cartwight (1785). Temuan ini membuat kemacetan dalam pabrik tekstil (lantaran jumlah pemintal dan penenun tak seimbang) terlewati.[24]
  • Cotton Gin, organ pemisah biji kapas berasal serabutnya ciptaan Eli Whitney (1793). Dengan gawai ini maka kebutuhan kapas bersih dalam jumlah yang besar dapat tercukupi.[23]
    Penciptaan ini menjadi fasilitas pendukung plong pabrik kapas nasib baik Samuel Slater di Rhode Island yang menjadi era revolusi industri pertama bakal Amerika Serikat.[25]
  • Cap selinder ciptaan Thomas Bell (1785). Dengan alat ini kain putih bisa dilukis pola kembang 200 kali bertambah cepat jika dibandingkan dengan pola logo balok dengan tenaga manusia.
  • Mesin uap, ciptaan James Watt (1769) dengan permintaan pertamanya plong alat cak bagi memompa air keluar berpunca perigi tambang batu bara lebih efisien.[26]
    Dari mesin uap ini dapat diciptakan berbagai peralatan lautan yang menakjubkan, seperti induk kereta ciptaan Richard Trevethiek (1804) nan kemudian disempurnakan maka itu George Stepenson menjadi kereta api penumpang. Kapal perang yang digerakkan dengan mesin uap diciptakan oleh Robert Fulton (1814). Mesin uap yaitu inti berasal Diseminasi Industri sehingga James Watt sering dianggap bagaikan Bapak Rotasi Industri I’. Kreasi-invensi baru selanjutnya, semakin kamil dan memenuhi. Hal ini merupakan hasil Peredaran Industri II dan III, seperti mobil, pesawat gagap, industri kimia dan sebagainya.

Selain itu, Aliran Industri merupakan waktu urut-urutan aji-aji pengetahuan dan teknologi yang menimbulkan penemuan-rakitan baru, seperti berikut:

  • Waktu 1750: Abraham Darby menggunakan batu bara (cokes) untuk melelehkan besi lakukan mendapatkan poin ferum nan lebih teladan.
  • Tahun 1800: Alessandro Volta penemu purwa aki
  • Tahun 1802: Symington menemukan kapal kincir.
  • Tahun 1807: Robert Fulton menciptakan menjadikan kapal api yang telah menunggangi baling-baling yang dapat menggerakkan kapal. Kapal itu diberi nama Clermont yang mengarungi Segara Atlantik permulaan boleh jadi. Kapal ini mulai dari Paris dan berlabuh di New York. Selanjutnya, Robert Fulton berhasil membuat kapal perang pertama (1814) nan sudah digerakkan oleh mesin uap.
  • Tahun 1804: Richard Trevethick membuat kereta uap
  • Tahun 1832: Samuel Morse membentuk telegraf.
  • Waktu 1872: Alexander Graham Bell membuat pesawat telepon.
  • Tahun 1887: Daimler membuat mobil.
  • Musim 1903: Wilbur Wright dan Orville Wright menciptakan menjadikan pesawat terbang

Dampak

[sunting
|
sunting sumber]

Sirkuit Industri menyangkal Inggris menjadi negara pabrik yang maju dan modern. Di Inggris unjuk pusat-pusat industri, seperti, Manchester, Liverpool, dan Birmingham yang menempati sekaan keempat, ketiga, dan kedua setelah London.[27]
Seperti halnya revolusi yang tidak, Revolusi Industri pula membawa akibat yang lebih luas internal satah ekonomi, sosial dan kebijakan, baik di negeri Inggris sendiri maupun di negara-negara lain.

Akibat di parasan ekonomi

[sunting
|
sunting sumber]

Barang melimpah dan harga murah

Revolusi Industri mutakadim menimbulkan kenaikan manuver industri dan pabrik secara besar-besaran menerobos proses mekanisasi. Dengan demikian, dalam waktu ringkas bisa menghasilkan dagangan-barang yang melimpah. Produksi produk menjadi berkelim ganda sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah, serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.

Perusahaan kecil gulung lampit

Dengan eksploitasi mesin-mesin maka biaya produksi menjadi relatif kecil sehingga harga produk-barang pun nisbi lebih murah. Hal ini mengirimkan akibat perusahaan tradisional terancam dan gulung tikar karena tidak berlambak bersaing.

Bursa makin berkembang

Mujur peralatan komunikasi yang maju, cepat dan murah, produksi lokal berubah menjadi produksi internasional. Pelayaran dan ekspor impor internasional makin berkembang pesat.

Transportasi semakin lancar

Adanya penemuan di berbagai ragam sarana dan prasarana transportasi yang kian acuan dan laju. Dengan demikian, dinamika arwah awam makin meningkat. Di Amerika, produksi mobil Ford model Lengkung langit mulai berkembang dengan pesat sehabis menerapkan konsep lintasan perakitan (assembly line) menggunakan tali tap bepergian (conveyor belt) sehingga dapat mereduksi waktu dan biaya produksi.[28]

Akibat di bidang sosial

[sunting
|
sunting sumber]

Berkembangnya urbanisasi

Berkembangnya industrialisasi telah memunculkan kota-daerah tingkat dan pusat-sendi gerombolan yang hijau. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan semangat nan bertambah sepan maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pegangan. Keadaan ini mengakibatkan terabaikannya operasi kegiatan perladangan.

Upah buruh rendah

Akibat kian meningkatnya arus urbanisasi ke kota-ii kabupaten industri maka jumlah tenaga kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-industri banyak yang menggunakan tenaga mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah.[29]
Selain itu, jaminan sosial kembali memendek sehingga kehidupan mereka menjadi langka. Terlebih para pengusaha banyak memilih tenaga buruh anak-anak dan wanita nan upahnya lebih murah dibandingkan pekerja laki-laki.[30]

Munculnya golongan pengusaha dan golongan buruh

Di privat kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan kelompok pemanufaktur (pemimpin) yang memiliki pabrik atau pabrik. Dengan demikian, n domestik masyarakat kulur golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum kapitalis) yang vitalitas munjung kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam kefakiran.

Adanya kesenjangan antara majikan dan buruh

Dengan munculnya golongan pengusaha yang umur mewah di suatu pihak, temporer terdapat golongan buruh yang hidup menderita di pihak lain, maka situasi itu menimbulkan kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti itu sering menimbulkan ketegangan-krisis nan diikuti dengan pemogokan kerja cak bagi menuntut perbaikan kehidupan. Peristiwa ini menimbulkan kecemburuan terhadap sistem ekonomi kapitalis, sehingga kaum buruh condong kepada paham sosialis.

Munculnya distribusi sosial

Lega tahun 1820-an terjadi huru hara nan ditimbulkan oleh penduduk kota nan miskin dengan didukung oleh kaum buruh. Usaha sosial ini menuntut adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan insan miskin. Undang-undang tersebut, antara lain sebagai berikut:

  1. Tahun 1832 dikeluarkan
    Reform Bill
    atau Undang-Undang Penyempuraan Pemilihan. Menurut undang-undang ini, suku bangsa buruh mendapatkan hak-peruntungan kantor cabang di dalam parlemen.
  2. Tahun 1833 dikeluarkan
    Factory Act
    alias Undang-Undang Pabrik. Menurut undang-undang ini, kaum buruh mendapatkan jaminan sosial. Di samping itu, undang-undang juga berisi pantangan pengunaan tenaga kerja anak-anak dan wanita di daerah lombong di bawah kapling.
  3. Perian 1834 dikeluarkan
    Poor Law Act
    atau Undang-Undang Fakir Miskin. Oleh karena itu, didirikan siasat-buku penampungan dan perlindungan para fakir miskin sehingga enggak berkeliaran.
  4. Makin kuatnya adat individualisme dan menipisnya rasa solidaritas. Dengan adanya Revolusi Industri sifat individualitas makin lestari karena teruit oleh sistem ekonomi industri nan serba uang. Sebaliknya, makin menipisnya rasa solidaritas dan susunan.

Akibat di bidang politik

[sunting
|
sunting sumber]

Munculnya gerakan sosialis

Kaum buruh yang diperlakukan tak bebas maka itu suku bangsa pengusaha mulai berputar menyusun kekuatan bagi mengedit nasib mereka. Mereka kemudian membuat organisasi yang lazim disebut operasi sosialis. Aksi sosialis dimotivasi makanya pemikiran Thomas Dideh nan batik buku Otopia. Dalang yang paling kecil populer di dalam pemikiran dan penggerak paham sosialis yakni Karl Marx dengan bukunya
Das Kapital.

Munculnya partai politik

Intern upaya memperjuangkan nasibnya maka suku bangsa buruh terus menggalang persatuan. Malar-malar dengan makin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen menunda dibentuknya satu arena pertentangan politik, yakni Organisasi politik Buruh. Partai ini berhaluan sosialis. Di pihak pemanufaktur menggabungkan diri ke internal Partai Liberal.

Munculnya imperialisme maju

Kaum pemanufaktur/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh nan kuat dalam pemerintahan untuk melakukan imperialisme demi kelanjutan industrialisasinya. Dengan demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan kewedanan-daerah misal tempat pemasaran hasil pabrik, mencari korban baru, penghijauan modal yang surplus, dan arena mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris yang menjadi pelopornya.

Baca juga:   Meander Pilin Dan Tumpal Merupakan Jenis Motif


Pengaruh Revolusi Industri terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan garis haluan di Indonesia

[sunting
|
sunting perigi]

Sirkulasi Industri nan terjadi di Eropa dan Inggris khususnya membawa dampak di latar sosial, ekonomi, dan politik. Di bidang sosial munculnya golongan buruh yang sukma menderita dan berusaha berjuang untuk memperbaiki nasib. Gerakan kaum buruh inilah yang kemudian berputra usaha sosialis nan menjadi tara dari kapitalis. Terlebih kaum buruh balasannya bersatu dalam suatu wadah organisasi, yakni Partai Buruh. Di bidang ekonomi, bazar bertambah berkembang. Penggalasan lokal berubah menjadi perniagaan regional dan internasional. Sebaliknya, di meres politik, Revolusi Industri berputra imperialisme beradab.

Perubahan di bidang ketatanegaraan

[sunting
|
sunting sumber]

Sejak VOC dibubarkan pada tahun 1799, Indonesia diserahkan kembali kepada pemerintahan Kerajaan Belanda. Pindahnya kekuasaan pemerintahan bermula VOC ke tangan pemerintah Belanda lain berarti dengan sendirinya membawa pembaruan. Deklinasi budi pekerti di kalangan para penguasa dan penderitaan pemukim jajahan bukan berubah. Gerakan perombakan kerjakan penghuni petak jajahan tidak dapat dilaksanakan karena Kewedanan Belanda koteng terseret n domestik perang dengan negara-negara besar tetangganya. Hal ini terjadi karena Negeri Belanda pada periode itu diperintah oleh pemerintah boneka bersumber Imperium Prancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. N domestik situasi yang demikian, Inggris dapat memperluas daerah kekuasaannya dengan merebut jajahan Belanda, yaitu Indonesia.


Hindia Belanda di sumber akar Daendels (1808–1811)

[sunting
|
sunting mata air]

Dalam operasi mengadakan pembaharuan pemerintahan di tanah jajahan, di Wilayah Belanda ada dua golongan yang mengusulkannya.

  • Golongan Konservatif dengan tokohnya Nenenberg yang menginginkan buat mempertahankan sistem politik dan ekonomi seperti nan dilakukan oleh VOC.
  • Golongan Liberal dengan tokohnya Dirk van Hogendorp yang menghendaki agar pemerintah Hindia Belanda menjalankan sistem pemerintahan serta merta dan menggunakan sistem fiskal. Sistem penyerahan paksa yang dilakukan maka dari itu VOC seyogiannya digantikan dengan sistem pemasukan pajak.

Di suatu pihak pemerintah condong kepada pemikiran kaum konservatif karena kebijaksanaannya akan mendatangkan keuntungan yang cepat dan mudah dilaksanakan. Di pihak lain, pemerintah juga ingin menjalankan renovasi nan dikemukakan oleh suku bangsa Liberal. Gagasan pembaharuan pemerintahan kolonial dimulai semenjak pemerintahan Daendels. Andai gubernur jenderal tadbir Belanda di Indonesia, Daendels banyak berbuat langkah-langkah baru intern pemerintahan. Daendels mengadakan pembaruan pemerintahan secara radikal, adalah menaruh dasar-dasar pemerintahan menurut sistem Barat. Langkah- awalan tersebut, antara lain:

  • Pemerintahan kolonial dipusatkan di Batavia dan berlambak di tangan gubernur jenderal.
  • Pulau Jawa dibagi menjadi sembilan
    prefecture. Hal ini untuk mempermudah administrasi tadbir.
  • Para bupati dijadikan sida-sida pemerintah Belanda di dasar pemerintahan
    prefect.
  • Mengadakan pemberantasan korupsi dan korupsi dalam pungutan (contingenten) dan kerja paksa.
  • Sultanat Banten dan Cirebon dijadikan kawasan pemerintah Belanda yang disebut pemerintah
    gubernemen.
  • Bermacam ragam upacara di istana
    Surakarta
    dan Yogyakarta disederhanakan.

Pada awal pemerintahannya, Daendels menentang sistem kerja periang dan merombak sistem feodal. Akan tetapi, tugas lakukan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris menyebabkan Daendels terpaksa harus mengadakan penyerahan kerja periang secara megah (dengan menggunakan pengaruh penguasa pribumi) bikin membangun urut-urutan-kronologi dan benteng-kubu pertahanan.[31]
Demikian pun karena kas negara zero menyebabkan ditempuhnya cara-cara lama bagi mengisi kas negara. Dengan demikian, kehidupan rakyat pribumi tetap menderita. Ketika hasilnya Inggris menyerbu Pulau Jawa, Daendels sudah dipanggil pun ke Eropa. Penggantinya tidak mampu menahan serangan Inggris dan terpaksa tunduk. Dengan demikian, Indonesia berada di bawah kekuasaan Inggris.


Masa pemerintahan Raffles (1811–1816)

[sunting
|
sunting sumur]

Setelah Indonesia (khususnya Pulau Jawa) jatuh ke tangan Inggris, maka itu pemerintah Inggris dijadikan bagian pecah jajahannya di India. Gubernur Jenderal East India Company (EIC), Lord Minto nan berkedudukan di Calcuta (India) kemudian mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai wakil gubernur buat Indonesia (Jawa). Raffles didampingi oleh suatu badan panasihat yang disebut Advisory Council. Tugas yang terdepan adalah mengatur tadbir dan meningkatkan penggalasan, serta keuangan. Sebagai koteng yang berideologi liberal, Raffles mengharapkan adanya peralihan-perubahan n domestik tadbir di Indonesia (Jawa). Selain satah pemerintahan, sira juga melakukan perubahan di bidang ekonomi. Sira hendak melaksanakan kebijaksaaan ekonomi nan didasarkan pada dasar-dasar kebebasan sesuai dengan ajaran liberal. Anju-langkah yang diambil oleh Raffles dalam latar pemerintahan dan ekonomi adalah sebagai berikut.

  • Mengadakan penggantian sistem tadbir yang awal dilakukan maka itu penguasa pribumi dengan sistem pemerintahan kolonial ala barat. Untuk memudahkan sistem administrasi pemerintahan, Pulau Jawa dibagi menjadi delapan belas karesidenan.
  • Para regen dijadikan pegawai pemerintah sehingga mereka mendapat gaji dan bukan sekali lagi memiliki persil dengan segala risikonya. Dengan demikian, mereka enggak lagi sebagai penguasa daerah, melainkan seumpama pegawai yang menjalankan tugas atas perintah dari atasannya.
  • Menyetip segala gambar penyerahan wajib dan kerja paksa atau rodi. Rakyat diberi otonomi lakukan menanam pohon yang dianggap menguntungkan.
  • Raffles menganggap bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik semua tanah nan terserah di daerah petak jajahan dan para penyelenggara sawah adalah penyewa tanah pemerintah. Oleh karena itu, para penanam mempunyai pikulan mengupah sewa tanah kepada pemerintah. Kontrak tanah atau landrente ini harus diserahkan ibarat satu pajak atas pemakaian persil pemerintah makanya penduduk.[32]
    Sistem kontrak tanah semacam itu oleh pemerintah Inggris dijadikan jalan hidup dalam menjalankan kebijaksanaan ekonominya sepanjang berkuasa di Indonesia. Sistem ini kemudian pula diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda.

Transisi di Bidang Sosial Ekonomi

[sunting
|
sunting sumber]

Sejak semula abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar lakukan membiayai persangkalan baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan rakyat Belgia), ataupun di Indonesia (terutama perbantahan Diponegoro) sehingga Negeri Belanda harus mengaku hutang yang silam besar. Buat menanam Area Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok membolongi dana semaksimal mungkin lakukan mengisi kegagalan kas negara, membayar hutang, dan membiayai perang. Untuk melaksanakan tugas berat itu, van den Bosch memusatkan kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Untuk itu, yang perlu dilakukan yaitu mengerahkan tenaga rakyat persil jajahan buat melakukan penghijauan pohon yang karenanya larap di pasaran dunia dan dilakukan dengan sistem momentum. Setelah mulai di Indonesia (1830) van den Bosch memformulasikan program kerja seumpama berikut.[33]

  • Sistem kontrak tanah dengan tip harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaannya sulit.
  • Sistem tanam adil harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis pokok kayu yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
  • Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian bermula hasil tanamannya kepada pemerintah Belanda.

Segala yang dilakukan oleh van den Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan logo sistem tanam paksa alias cultuur stelsel.[34]
Sistem tanam paksa nan diajukan oleh van den Bosch pada dasarnya yaitu gabungan berpangkal sistem tanam wajib (VOC) dan sistem pajak kapling (Raffles). Pelaksanaan sistem tanam pejaka banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung bakal mengadakan eskploitasi pertanahan semaksimal kali.[35]


Akibat Tanam Paksa Bakal Indonesia (Khususnya Jawa)

[sunting
|
sunting sumber]

  1. Sawah huma menjadi terbengkalai karena diwajibkan kerja kerah yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun mencolok.
  2. Beban rakyat semakin berat karena harus menyerahkan sebagian persil dan hasil panennya, membayar pajak, mengikuti kerja kerja raya, dan menanggung risiko apabila gagal pengetaman.[36]
  3. Akibat bermacam-diversifikasi beban menimbulkan impitan tubuh dan mental yang melebar.
  4. Timbulnya bahaya kemiskinan yang bertambah berat.
  5. Timbulnya bahaya kelaparan dan wabah penyakit di mana-mana sehingga angka kematian meningkat ekstrem.[37]

Bahaya kelaparan menimbulkan korban nasib yang sangat mengerikan di daerah Cirebon (1843), Demak (1849) dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah pemukim menurun drastis. Penyakit busung lapar (hongorudim) juga berkembang di mana-mana.

Akibat Tanam Paksa Bagi Belanda

[sunting
|
sunting perigi]

Apabila sistem tanam paksa sudah lalu menimbulkan malapetaka bagi bangsa Indonesia, sebaliknya bakal nasion Belanda berdampak laksana berikut.

Baca juga:   Temukan Enam Konjungsi Pada Teks Prosedur Diatas

  1. Mendatangkan keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda.[38]
  2. Hutang-hutang Belanda bisa terlunasi.
  3. Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja.
  4. Kas Area Belanda yang awal nihil, boleh tersalurkan.
  5. Berhasil membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia.
  6. Perniagaan berkembang pesat.

Sistem tanam momentum yang mengakibatkan kemelaratan lakukan nasion Indonesia, khusunya Jawa, menimbulkan reaksi berpangkal berbagai pihak, seperti golongan pengusaha, Baron Van Hoevel, dan Edward Douwes Dekker. Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa. Sesudah tahun 1850, suku bangsa Liberal memperoleh kemenangan garis haluan di Negeri Belanda. Mereka juga cak hendak menerapkan asas-asas liberalisme di tanah jajahan. Dalam keadaan ini kaum Liberal berpendapat bahwa pemerintah semestinya tidak timbrung rancam tangan dalam kebobrokan ekonomi, tugas ekonomi haruslah diserahkan kepada orang-orang swasta, dan agar kaum swasta dapat menjalankan tugasnya maka harus diberi kebebasan berusaha. Sesuai dengan petisi kaum Liberal maka pemerintah kolonial segera memasrahkan prospek kepada persuasi dan modal swasta bakal ki memasukkan modal mereka privat berbagai macam persuasi di Indonesia, terutama pertanian-pekebunan di Jawa dan di luar Jawa. Selama periode tahun 1870–1900 Indonesia terbuka bagi modal swasta Barat. Maka dari itu karena itu masa ini sayang disebut zaman Liberal. Selama masa ini suku bangsa swasta Barat mengekspos perkebunan-perkebunan sebagai halnya, kopi, teh, gula dan kina nan cukup osean di Jawa dan Sumatra Timur. Selama zaman Liberal (1870–1900), kampanye-usaha perkebunan swasta Barat mengalami kemajuan pesat dan mendatangkan keuntungan yang ki akbar cak bagi pengusaha. Khazanah liwa Indonesia mengalir ke Negeri Belanda. Akan tetapi, bagi penduduk pribumi, khususnya di Jawa telah mengirimkan kebangkrutan jiwa, dan deteriorasi tingkat kesejahteraan. Hal ini disebabkan maka itu sejumlah faktor, seperti berikut.

  1. Adanya pertumbuhan pemukim yang meningkat puas abad ke-19, darurat itu besaran produksi pertanian menurun.
  2. Adanya sistem tanam paksa dan kerja kerja paksa nan banyak menimbulkan manipulasi dan penyalahgunaan semenjak pihak pengusaha sehingga membawa korban bagi penduduk.
  3. Dalam mengurusi pemerintahan di wilayah asing Jawa, pemerintah Belanda mengerahkan beban keuangan dari daerah Jawa sehingga secara tak langsung Jawa harus menanggung kewajiban finansial.
  4. Adanya sistem perpajakan yang lampau memberatkan penduduk.

Adanya krisis pertanaman lega hari 1885 nan mengakibatkan perusahaan- perusahaan mengadakan penghematan, sama dengan menekan uang jasa carter tanah dan upah kerja baik di pabrik ataupun perladangan. Puas penutup abad ke-19 muncullah celaan-kritik tajam yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan praktik liberalisme yang gagal mengoreksi semangat kehidupan rakyat Indonesia. Para pencacat itu menganjurkan untuk memperbaiki rakyat Indonesia. Kebijaksanaan ini didasarkan atas anjuran Mr. C. Th. van Deventer yang menuliskan biji kemaluan pikirannya dalam majalah De Gids (Perinstis/Pelopor) dengan judul Een Ereschuld (Berhutang Budi) sehingga dikenal politik etis atau politik balas fiil. Gagasan van Deventer tersohor dengan stempel Trilogi van Deventer.

Referensi

[sunting
|
sunting sendang]


  1. ^


    Ekonomi, Warta (2019-05-07). “Mengenal Distribusi Industri semenjak 1.0 hingga 4.0”.
    Warta Ekonomi
    . Diakses tanggal
    2020-08-31
    .





  2. ^


    Media, Kompas Cyber. “Persebaran Industri: Sejarah dan Perkembangan Jerambah all”.
    KOMPAS.com
    . Diakses tanggal
    2020-08-31
    .





  3. ^


    Setiyo, Muji; Purnomo, Tuessi Kandang kuda; Yuvenda, Dori; Biddinika, Muhammad Kunta; Sidik, Nor Azwadi Che; Samuel, Olusegun David; Kolakoti, Aditya; Calam, Alper (2021-07-21). “Industry 4.0: Challenges of Mechanical Engineering for Society and Industry”.
    Mechanical Engineering for Society and Industry
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris).
    1
    (1): 3–6. doi:10.31603/mesi.5309. ISSN 2798-5245.





  4. ^

    Luiten 2009, hlm. 1.

  5. ^

    Lucas, Robert E., Jr. 2002.
    Lectures on Economic Growth. Cambridge: Harvard University Press.

  6. ^

    Julian Hoppit, “The Nation, the State, and the First Industrial Revolution,”
    Journal of British Studies
    (April 2011) 50#2 pp p307-331

  7. ^

    “Industrial Revolution,”
    New World Encyclopedia,
    (http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Industrial_Revolution)

  8. ^


    “Industrial Revolution | Definition, Facts, & Summary”.
    Encyclopedia Britannica
    (n domestik bahasa Inggris). Diakses rontok
    2020-08-28
    .





  9. ^

    Joseph E Inikori. Africans and the Industrial Revolution in England, Cambridge University Press.

  10. ^

    Redford, Arthur (1976), “Labour migration in England, 1800-1850”, p. 6. Manchester University Press, Manchester.

  11. ^


    Inikori, Joseph E. (2002).
    Africans and the Industrial Revolution in England: A Study in International Trade and Economic Development
    (internal bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 102. ISBN 978-0-521-01079-5.





  12. ^

    Allen 2009, hlm. 6.

  13. ^

    Berg, Maxine; Hudson, Pat. 1992. “Rehabilitating the Industrial Revolution”.
    The Economic History Review
    Vol. 45, No. 1.

  14. ^

    Rehabilitating the Industrial Revolution Diarsipkan 2006-11-09 di Wayback Machine. Julie Lorenzen. Central Michigan University.

  15. ^

    The Industrial Revolution Diarsipkan 2007-11-27 di Wayback Machine.. Robert Lucas Jr. 2003.

  16. ^

    The Industrial Revolution:
    Past and Future. Diarsipkan 2007-11-27 di Wayback Machine. Robert Lucas. 2003.

  17. ^

    McCloskey, Deidre. 2004. Review of the Cambridge. Times Higher Education Supplement.

  18. ^

    Crouzet, François .1996. “France”. In Teich, Mikuláš; Porter, Roy.
    The industrial revolution in national context: Europe and the USA. Cambridge University Press.

  19. ^


    “Industrial Revolution | HISTORY”.
    www.history.com
    . Diakses rontok
    2020-08-28
    .





  20. ^

    Mokyr 1999, hlm. 34.

  21. ^


    Society, National Geographic (2020-01-09). “Industrial Revolution and Technology”.
    National Geographic Society
    (n domestik bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-28
    .





  22. ^


    Beggs-Humphreys; Gregor, Hugh; Humphreys, Darlow (2005-11-03).
    The Industrial Revolution
    (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm. 19. ISBN 978-0-415-38222-9.




  23. ^


    a




    b



    Garstecki 2014, hlm. 14.

  24. ^


    Kidner, Frank L.; Bucur, Maria; Mathisen, Ralph; McKee, Sally; Weeks, Theodore R. (2018-01-01).
    The Global West: Connections & Identities
    (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. hlm. 515. ISBN 978-1-337-67105-7.





  25. ^

    Hamen 2014, hlm. 20.

  26. ^


    “The Industrial Revolution (article)”.
    Khan Academy
    (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-28
    .





  27. ^

    Hudson 1992, hlm. 151.

  28. ^

    Marcovitz 2013, hlm. 58-60.

  29. ^

    Humphries 2011, hlm. 34.

  30. ^

    Burnette 2008, hlm. 72.

  31. ^


    Zed, Mestika (31 Juli 2017). “Warisan Penjajahan Belanda Di Indonesia SelepasKolonial(Perspektif Pergantian Dan Kelanjutan)”.
    DIAKRONIKA.
    17
    (1): 93. doi:10.24036/diakronika/vol17-iss1/18.





  32. ^


    Syafaah, Aah (Juni 2018). “Kelas Sosial Dalam Sistem Landeliijk Stelsel Masa Raffles (1811-1816)”.
    TAMADDUN Jurnal Memori dan Peradaban Islam.
    6
    (1): 138. doi:10.24235/tamaddun.v6i1.3252.g2056.





  33. ^


    “17 AGUSTUS – Semarak Sejarah Nasional : Tanam Pejaka”.
    Tribunnewswiki.com
    . Diakses tanggal
    2020-08-31
    .





  34. ^


    Yuliati, Yuliati (Juli 2013). “Dampak Kebijakan Kolonial Di Jawa”.
    Sejarah dan Budaya.
    7
    (1): 97.





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  35. ^


    “Tujuan Tanam Paksa, Konotasi dan Sejarah Diberlakukannya”.
    merdeka.com
    (kerumahtanggaan bahasa Inggris). Diakses copot
    2020-08-31
    .





  36. ^


    Sondarika, Wulan (2015). “Dampak Culturstelsel (Tanam Paksa) Bagi Awam Indonesia berasal Masa 1830-1870”.
    Jurnal Artefak.
    3
    (1): 60. doi:10.25157/ja.v3i1.337.





  37. ^


    Kurniawan, Hendra (September 2014). “Dampak Sistem Tanam Momentum terhadap Dinamika Perekonomian Penanam Jawa 1830-1870”
    (PDF).
    SOCIA Jurnal Mantra-Aji-aji Sosial.
    11
    (2): 168. doi:10.21831/socia.v11i2.5301.





  38. ^


    “Indonesia Ki kenangan Perian Penjajahan Belanda | Indonesia Investments”.
    www.indonesia-investments.com
    . Diakses tanggal
    2020-08-28
    .




Daftar pustaka

[sunting
|
sunting sumber]

  • Garstecki, Julia (2014).
    Daily Life in US History, Life During the Industrial Revolution. Minnesota: Abdo Publishing. ISBN 9781624036279.



  • Marcovitz, Peristiwa (2013).
    Understanding World History, The Industrial Revolution. San Diego, California: Reference Point Press. ISBN 9781601526014.



  • Hudson, Pat (1992).
    The Industrial Revolution. USA: Bloomsbury Academic. ISBN 9781474225489.



  • Allen, Robert C (2009).
    The British Industrial Revolution in Global Perspective. New York: Cambridge University Press. ISBN 9780521868273.



  • Burnette, Joyce (2008).
    Gender, Work, And Wages in Industrial Revolution British. New York: Cambridge University Press. ISBN 9780511393501.



  • Hamen, Susan (2014).
    America Enters The Industrial Revolution. Minnesota: Rourke Educational Media. ISBN 9781621699316.



  • Humphries, Jane (2011).
    Childhood And Child Labour In The British Industrial Revolution. New York: Cambridge University Press. ISBN 9780521847568.



  • Luiten, Jan (2009).
    The Long Road To The Industrial Revolution. The European Economy In A Global Perspective. Leiden: Brill. ISBN 9789004175174.



  • Mokyr, Joel (1999).
    The British Industrial Revolution An Economic Perspective. United Kingdom: Westview Press. ISBN 081333389X.



Tatap kembali

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sejarah ekonomi Britania
  • Industrialisasi
  • Revolusi
  • Kapitalisme pada abad ke-19
  • Globalisasi
  • Perdagangan Internasional

Arus besar lain dalam sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

  • Distribusi Pabrik Kedua
  • Rotasi Prancis
  • Distribusi Amerika
  • Aliran Komunis Tiongkok
  • Arus Rusia
  • Aliran Mesir
  • Sirkulasi Indonesia

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Internet Beradab History Sourcebook: Industrial Revolution
  • BBC History Home Page: Industrial Revolution Diarsipkan 2005-07-20 di Wayback Machine.
  • National Museum of Science and Industry website: machines and personalities
  • [1]



Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Imperialisme Adalah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri