Perkara Si Bungkuk Dan Si Panjang

By | 14 Agustus 2022

Perkara Si Bungkuk Dan Si Panjang.

“PERKARA Sang BUNGKUK DAN SI PANJANG”





Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit perumpamaan positif berbunga konseptual nan di bawah ini:

Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka lebih-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu tahun adalah dua orang laki-gula-gula berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1 kalau-kalau ada orang lalu berkapal. Itu pun tiada lagi ada lalu perahu orang. Maka kamu pun berhentilah di tebing kali besar itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu bersisa baik parasnya. Syahdan maka akan suami cewek itu sudah wreda, pula bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air kali besar itu privat juga. Katanya, “Barang apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”

Maka ada pun koteng Bedawi duduk di seberang sana bengawan itu. Maka kata orang itu, “Hai pemilik hamba, seberangkan apalah seyogiannya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi pembukaan orang berida bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka bani adam Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di internal hatinya, “Untunglah sekali ini!”

Maka Bedawi itu pun turunlah anda ke dalam kali besar itu merendahkan dirinya, hingga lehernya pula dia berjalan menuju ayah bunda yang bungkuk laki-ampean itu. Maka kata orang tua itu, “Empunya hamba seberangkan apalah hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, “Sebagaimana  hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan koteng juga dahulu maka bisa, karena air ini dalam.”

Maka prolog orang tua itu kepada istrinya, “Pergilah diri dulu.” Sesudah itu maka turunlah dara itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, “Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka diberi oleh perawan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah upik itu diseberangkan maka dari itu Bedawi itu. Syahdan maka pura-pundi-pundi diperdalamnya air itu, kendati dikata makanya si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada medio bengawan itu, maka kata Bedawi itu kepada nona itu, “Akan pemilik ini terlalu cakap rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan cucu adam sepuh bungkuk ini? Baik kembali tuan hamba buangkan basyar bungkuk itu, agar biar empunya hamba, hamba ambit, hamba jadikan ulam-ulam hamba.” Maka bermacam ragam-bagailah katanya akan upik itu.

Baca juga:   Buatlah Surat Balasan Terhadap Surat Penawaran

Maka kata perempuan itu kepadanya, “Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.”

Maka apabila sampailah ia ke seberang wai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah dia keduanya barang apa perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh ayah bunda bungkuk itu dan segala hal perawan itu dengan Bedawi itu.

Kalakian maka heranlah ibu bapak itu. Setelah sudah ia bersantap, maka ia pun berjalanlah keduanya. Pasca- dilihat makanya ibu bapak itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka engkau kembali berkata-prolog dalam hatinya, “Daripada usia melihat hal nan demikian ini, baiklah aku nyenyat.”

Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya bengawan itu aimya tiada kerumahtanggaan, maka mengarunglah ia ke menyeberangi lampau diikutnya Bedawi itu. Dengan kejadian nan demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.

Maka ibu bapak itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu lagi datanglah dengan cewek itu. Maka pembukaan Masyhudulhakk, “Istri kali perempuan ini?”

Maka kata Bedawi itu, “Ulam-ulam hamba pemudi ini. Dari kecil pun ibu hamba pinangkan; sudah lalu osean dinikahkan dengan hamba.”

Maka kata orang renta itu, “Istri gelap hamba, semenjak katai persaudaraan dengan hamba.”

Maka dengan demikian kaprikornus bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka makhluk pun berhimpun, menclok mengaram hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, “Berucap benarlah kamu, kelihatannya suamimu antara dua orang laki-laki ini?”

Maka perkenalan awal dara celaka itu, “Si Panjang inilah suami hamba.”

Maka pikirlah Masyhudulhakk, “Baik kepada sendiri-seorang aku menyoal, meski berketahuan bisa jadi riuk dan siapa moralistis di dalam tiga orang mereka itu.

Maka diperjauhkannyalah lanang itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka prolog perempuan itu, “Sang Janjang itulah suami hamba.”

Maka kata Masyhudulhakk, “Seandainya sungguh sira suamimu siapa mentuamu laki-laki dan mungkin mentuamu nona dan di mana gelanggang duduknya?”

Maka tiada terjawab maka itu cewek celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Berfirman benarlah engkau ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?”

Maka introduksi Bedawi itu, “Bahwa perempuan itu sudah nyatalah gendak hamba; juga pula perempuan itu koteng sudah berjanji, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.”

Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, “Seandainya alangkah istrimu gadis ini, mana tahu nama mentuamu maskulin dan mentuamu kuntum, dan di mana kampung arena dia duduk?”

Baca juga:   Ketentuan Mengenai Irian Barat Menurut Konferensi Meja Bundar Adalah

Maka tiadalah terjawab oleh suami-suami itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan pria Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula ibu bapak itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Hai orang tua bangka, sungguhlah upik itu istrimu sebenar-benamya?”

Maka kata ibu bapak itu, “Ketimbang mula awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, mungkin mentuanya lanang dan putri dan di mana ajang duduknya

Maka Masyhudulhakk dengan serempak orang banyak itu pun tahulah akan riuk Bedawi itu dan legalitas orang tua lontok itu. Maka hendaklah disakiti maka dari itu Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi sira melakukan pekerjaan demikian itu.

Maka kian-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.


Analisis


A.



Atom Instrinsik








Tema : Kesetiaan dan Pengkhianatan privat Cinta








Tokoh dan Penokohan


1)



Masyhudulhakk : arif, bijaksana, suka menolong, cerdik, baik hati.


2)



Si Bungkuk : setia puas istrinya, suka mengalah, mudah percaya


3)



Sang Janjang / Bedawi : licik, individualis.








Latar


1)



Latar palagan


o



  comberan kali besar


o






Kali besar


2)



Rataan Suasana


udara murni






Menegangkan


o



Menjengkelkan


o



Memecahkan kepala


3)



Rataan Hari : Plong zaman suntuk








Alur : Alur berbudaya








Manifesto

:


o



Jangan berbohong karena berbohong itu lain baik, merupakan dosa, dan semata-mata akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri


ozon



Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan


o



Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan, yakini bahwa jodoh itu baik cak bagi kita


o



Jangan mencekit keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya


o



Jadilah anak adam yang bijaksana dalam membereskan suatu ki aib








Pusat

Pengisahan : orang ketiga


B.



Isi Pokok

Isi Pokok

Kutipan

Si bungkuk dan istrinya mau menyeberang batang air

Maka ada pula sendiri Bedawi duduk di seberang sana batang air itu. Maka kata makhluk itu, “Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; kali besar ini tidak hamba senggang internal dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi kata ayah bunda bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pula sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”

Istri sang bungkuk memencilkan si bungkuk dan pergi dengan Bedawi

Syahdan maka pura-jaring-jaring diperdalamnya air itu, supaya dikata maka dari itu si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan wai itu, maka introduksi Bedawi itu kepada perempuan itu, “Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar meski tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri gelap hamba.” Maka beraneka rupa-bagailah katanya akan perempuan itu.

Maka pengenalan perempuan itu kepadanya, “Baiklah, hamba turutlah introduksi tuan hamba itu.”

Sang bungkuk masuk ke dalam kali besar

Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya kali besar itu aimya tiada intern, maka mengarunglah sira ke menyebelah lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.

Sang bungkuk mengadukan istrinya kepada Masyhudulhakk

Maka orang jompo itu kembali datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Sehabis itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu lagi datanglah dengan perawan itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Istri siapa perempuan ini?”

Masyhudulhakk mengatakan bahwa istri gelap itu memang istri gelap sang bungkuk dan si Bedawi mengaku riuk

Maka tiadalah terjawab maka dari itu laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan suami-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula ayah bunda itu. Maka pengenalan Masyhudulhakk, “Hai ayah bunda, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?”

Maka pembukaan orang tua itu, “Daripada mula awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya pria dan perempuan dan di mana tempat duduknya

Maka Masyhudulhakk dengan serempak orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti maka itu Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu kembali mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Dulu didera maka itu Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan kuntum celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan kembali engkau berbuat pekerjaan demikian itu

Baca juga:   Indonesia Pada Masa Awal Kemerdekaan Sampai Masa Demokrasi Liberal


C.



Karakteristik








Kemustahilan

Karakteristik Kemustahilan

Kutipan

Orang bungkuk itu ki angkat ke intern sungai sonder rasa takut

Setelah itu maka terjunlah ia ke privat sungai itu. Maka heranlah sira, karena dilihatnya sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah engkau ke seberang dahulu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal nan demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.








Keluarbiasaan : tidak ditemukan kegentaran

Perkara Si Bungkuk Dan Si Panjang

Source: https://www.bindoline.com/hikayat-perkara-si-bungkuk-dan-si-panjang/