Perkataan Tuhan Yesus Di Kayu Salib

By | 10 Agustus 2022

Pesan terakhir nan penuh makna

Kalau seseorang nan kita kasihi meninggal, maka kita mengepas mengingat pengalaman-pengalaman bersama dengan orang tersebut, baik asam garam senang ataupun duka. Namun, terutama kita mengepas mengingat apa nan diucapkan pada saat-saat menjelang ajalnya, karena pesan sreg momen-saat buncit adalah berfaedah dan munjung makna.

Internal tulisan ini, maka kita akan melihat tujuh wanti-wanti Yesus yang diucapkan-Nya bilamana Kamu tersampir di kayu salib, saat-ketika akhir hidup-Nya. Dari wanti-wanti terakhir ini, kita akan dapat menjalin hal-situasi yang terpenting yang ingin disampaikan-Nya kepada kita. Sapta pesan Yesus terdiri berpunca: (a) Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak adv pernah apa yang mereka perbuat.“; (b) Luk 23:43 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-selaras dengan Aku di dalam Firdaus.” (c) Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!“; (d) Mar 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?“; (e) Yoh 19:28 “Aku haus!“; (f) Luk 23:46 “Ya Bapa, ke n domestik tangan-Mu Kuserahkan kehidupan-Ku.“; (g) Yoh 19:30 “Sudah selesai“.

Dari pesan ini, kita mengaram bagaimana Yesus cak hendak mengangkut keselamatan bikin semua orang dengan memberikan pengampunan kepada umat hamba allah, sehingga anak adam dapat berbaur dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, selaras seperti Yesus mengirimkan pencuri di sebelah kanan-Nya ke Firdaus. Bagaimana kaidah untuk sampai ke Imperium Sorga? Yesus menunjukkan moga kita dapat menerima Maria sebagai bunda kita, senantiasa berambisi puas Halikuljabbar dalam kesulitan, haus akan jiwa-jiwa untuk diselamatkan, serta terus setia terhadap panggilan kita sampai akhir hayat kita, sampai mulai saatnya kita memasrahkan nyawa kita kepada Bapa dan kemudian memulai kehidupan baru di kerumahtanggaan Kekaisaran Sorga.

1. Luk 23:34 “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tak senggang apa nan mereka perbuat.”

Pada saat Yesus tergantung di tiang kayu silang, di tahta-Nya yang dipandang hina maka dari itu banyak bani adam, Engkau meluluk dengan jelas drama semangat arwah manusia, tiba berasal serdadu yang kejam, murid-muridnya yang pengecut, kaum Farisi yang sirik hati, makhluk-orang yang lain mengamalkan apapun ketika mereka melihat kebengisan. Di kayu salib dan juga kerumahtanggaan permenungan-Nya di ujana Getsemani, Kristus pula melihat dosa-dosa seluruh umat manusia, mulai dari Adam dan Hawa sampai orang buncit. Ini berfaedah Dia lagi melihat semua dosa kita. Inilah yang menyebabkan Yesus menitikkan keringat darah.

Santo Tomas Aquinas menyatakan bahwa terserah tiga kabar di privat Kristus dalam ganjaran-Nya andai manusia, yaitu: 1) pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman/ pembelajaran (acquired knowledge), 2) pengetahuan nan ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan 3) penglihatan kesempurnaan surgawi (beatific vision). Acquired knowledge
ini yakni sebanding seperti wara-wara yang kita dapatkan dari kita belajar kehidupan sehari-hari alias mendapatkan amanat tentang makrifat-pemberitaan yang lain. Keadaan ini dinyatakan di dalam Alkitab detik dituliskan “Dan Yesus bertambah bertambah besar dan makin hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi makanya Allah dan insan.“(Luk 2:52).
Infused knowledge
adalah amanat seperti mana nan diperoleh maka itu utusan tuhan-nabi maupun para malaikat. Allah sendiri memberikan inspirasi dan dengan akal busuk fiil mereka, para utusan tuhan mengekspresikannya dengan ungkapan dan pembukaan-pembukaan mereka sendiri. Bagaimana dengan
beatific vision? Pengetahuan inilah yang dipunyai maka dari itu Kristus sejak Dia dikandung dan hingga sejauh-lamanya. Pengetahuan ini memungkinkan Kristus senantisa berada dalam persatuan dengan Almalik Bapa sungguhpun Anda menjeput kodrat manusia. Pada momen nan bersamaan, pengetahuan ini memungkinkan Kristus bisa mengidas buat membawa seluruh umat manusia dalam doaNya di taman Getsemani.

Bayangkan detik ibu bapak merenungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh anaknya. Dalam keterbatasan melihat dosa-dosa anaknya, hati mereka dapat menjerit dan merasakan kepedihan yang mendalam. Inilah yang dialami makanya Musa, ketika ia mengetahui bahwa bangsa Israel akan mengalami kehancuran karena telah menyembah ibadat. Dia berkata “31 …”Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah mewujudkan allah emas bikin mereka. 32  Cuma sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu–dan jika lain, hapuskanlah kiranya namaku dari n domestik kitab yang mutakadim Kautulis.” (Kel 32:32)

Sekarang coba bayangkan, segala nan dialami maka itu Yesus, saat Dia melihat secara jelas seluruh dosa-dosa insan, mulai sejak manusia pertama sampai orang nan bontot. Dan bayangan seluruh dosa-dosa manusia lebih jelas dibandingkan dengan kejelasan Musa melihat dosa-dosa umat Israel. Dengan
beatific vision-Nya, Kristus melihat kesombongan manusia, insan-orang nan menghindari Dom-Nya, orang-orang nan memecahkan diri terbit Tubuh Okultisme Kristus, orang-makhluk yang sibuk dengan jalan hidup mereka dan pangling akan Tuhan yang telah mengasihkan rejeki kepada mereka. Sira juga melihat dosa-dosa nan kita lakukan, ialah saat kita bertambah memilih kesenangan kita dibandingkan dengan menirukan perintah Allah, alias detik kita egois, alias momen kita berang dan mengeluh saat cak semau percobaan datang. Doang, kapan nan bersamaan, selain dosa-dosa kita, Kristus kembali menyibuk perbuatan anugerah yang kita bikin. Ini berarti bilamana kita melakukan ulah hidayah, maka kita juga menghibur Kristus pada saat Kamu sembahyang di taman Getsemani. Pada waktu Kristus berdoa inilah, segala yang terjadi di masa lalu maupun kala nanti, dihadirkan oleh Kristus. Dengan demikian, jika kita berdoa dan melakukan perbuatan kasih di mutakhir, kita menemani dan menghibur Kristus pron bila Ia mengalami penderitaan di Taman Getsemani. Kita mengikuti segala apa nan diperintahkan oleh Kristus sendiri, detik Dia mengatakan “Hati-Ku tinggal sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan melek-jagalah dengan Aku.” (Mat 26:38). Jangan biarkan kita lengah sehingga Kristus memanggil kita dengan mengatakan “Tidakkah anda sanggup arik-bimbing satu jam dengan Aku?” (Mat 26:40).

Bagaimana dengan pengetahuan insan seperti mana kita? Kita dapat mempunyai pengetahuan eksperimental alias jikalau Sang pencipta menghendaki, seseorang juga dapat mempunyai
infused knowledge. Sampai-sampai dengan seijin Tuhan, Rasul Paulus mungkin mengalamibeatific vision
ketika engkau mengatakan bahwa dia mengenal seseorang yang diangkat ke tingkat ketiga dari Sorga (lih. 2Kor 12:2-4). Cuma, menjadi kodrat dari manusia cak bagi belajar secara perlahan-lahan. Maklumat manusia akan Yang mahakuasa didapatkan secara bertahap. Hal ini berbeda dengan para malaikat yang mendapatkan pengetahuan secara lengkap secara langsung. Inilah sebabnya Halikuljabbar dapat mengampuni dosa cucu adam dan memberikan kesempatan kepada anak adam berulang-ulang bikin memperbaiki dosanya, semata-mata kepada malaikat nan berdosa, Sang pencipta tidak dapat mengasihkan kesempatan kedua, mengingat kesempurnaan makrifat yang telah diberikan kepada mereka. Kita ketahui bahwa sebagian berbunga para malaikat memilih bagi menolak dan membalas Almalik.

Dengan melihat takdir sosok ini, Kristus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka enggak tahu apa yang mereka perbuat.” (lih. Luk 23:34). Kristus tahu bahwa manusia memang berdosa karena dipengaruhi oleh kelemahan-kelemahannya akibat dosa pangkal. Dengan demikian, apa yang diperbuat maka itu makhluk boleh saja terjadi karena ketidaktahuannya. Namun enggak semua ketidaktahuan mengakibatkan turunan terbebas dari dosa. Ketidakketidaktahuan yang tak terhindari (invincible ignorance) membuat orang lain berdosa, namun ketidaktahuan yang disebabkan oleh ketidakpedulian individu itu sendiri (culpable ignorance) menyebabkan seseorang tetap bersalah. Rasul Petrus mengerti bahwa orang-individu nan menyalibkan Yesus bermain karena ketidaktahuan mereka, sehingga kamu mengatakan “Hai tembuni-plasenta, aku tahu bahwa kamu telah mengerjakan demikian karena ketidaktahuan, sekelas seperti semua pemimpin ia.” (Kis 3:17)

Bagaimana dengan kita yang telah memufakati Kristus? Kita tidak mempunyai alasan juga bahwa kita lain tahu. Maka itu karena itu, barang bawaan jawab kita lebih berat, karena siapa pun diberi banyak akan dituntut bertambah banyak (lih. Luk 12:48). Menyadari bahwa makhluk dengan kekuatannya sendiri bukan bisa menjalankan semua perintah Allah, Kristus menyenggangkan Diri-Nya sendiri kerjakan disalibkan, sehingga rahmat nan berlimpah dapat mengalir kepada kita umat Sang pencipta. Bahkan kesalahan-kesalahan yang dibuat umat Allah dapat dihapuskan dengan mengamalkan persaksian dosa. Dan takdirnya seseorang tidak mensyukuri dan menggunakan semua fasilitas bikin mendapatkan grasi dosa, maka orang tersebut tidak lagi mempunyai alasan apapun sekiranya hingga dia kekeringan keselamatan kekal.

Baca juga:   He Fell in Love With Her at the First Sight

2. Luk 23:43 “Aku berbicara kepadamu, sesungguhnya hari ini juga anda akan suka-suka bersama-begitu juga Aku di privat Firdaus.”

Keselamatan kekal bagi manusia adalah yang menjadi alasan bagi Kristus untuk turun ke bumi, rela menanggung sengsara, memufakati semua kesengsaraan dan penderitaan, serta taat kepada Bapa bakal mati di kayu kayu silang. Seluruh sukma-Nya ditujukan bikin mengemban misi ini, dan Kristus mutakadim melaksanakannya dengan sempurna. Bahkan sampai pada menjelang intiha wafat-Nya, Dia tidak membuang kesempatan sedikitpun untuk menyelamatkan pencuri yang disalibkan bersama-Nya.

Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dalam peristiwa penyaliban, terjadilah satu drama dari keinginan (wills) dari dua penyambar yang disalibkan bersama dengan Yesus. ((Fulton J. Sheen,
Seven Words of Jesus and Mary: Lessons on Cana and Calvary
(Missouri: Triumph Books, 2001), p.32)) Ada sejenis itu banyak hal yang terjadi di luar diri kita, nan kerap terjadi di luar pengaturan kita. Namun, satu keadaan yang dapat kita kendalikan yaitu keinginan kita. Di luar kelihatannya semata-mata terjadi sesuatu yang seperti itu menyesakkan, membuat marah, namun kita tetap dapat memutuskan buat loyal ranah. Untuk umat Katolik, ketenangan ini berbunga bermula Kristus nan menderita, wafat dan bangkit. Oleh sebab Kristus telah mengamankan segalanya, maka kita boleh tetap tinggal mati, sebab tak suka-suka sesuatupun yang dapat terjadi di luar rencana Allah.

Menjadi sesuatu yang masyarakat, bahwa pada saat seseorang disalibkan, maka dia akan melaknat khalayak yang menyalibkannya, bahwa menyeranah dirinya, menyumpahi Tuhan dan hari kelahirannya. Namun, dua pencuri yang disalibkan mendengarkan seseorang yang disalib di perdua-tengah mereka mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Pengampunan ini mendatangkan rahmat. Paling kecil tidak salah satu berpokok perompak ini menyambut rahmat Allah. Sampai-sampai ketika pencuri di sebelah kiri mengatakan “Bukankah Engkau ialah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk 23:39), maka pencuri di jihat kanan Yesus menjawab “40 Tidakkah engkau takut, juga bukan kepada Halikuljabbar, menengah engkau menerima hukuman yang selaras? 41  Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita mengakui balasan yang setolok dengan perbuatan kita, hanya orang ini tidak mengamalkan sesuatu yang pelecok.” (Luk 23:40-41)

Interlokusi ini mana tahu terbantah sepele. Namun, kita jangan mengalpakan bahwa setiap kata yang keluar berpunca orang nan disalibkan yakni merupakan suatu siksaan, karena setiap tekanan listrik nafas menjadi suatu siksaan. Pencuri di sebelah kanan, yang menurut tradisi bernama Dimas, internal keterbatasannya telah memberikan nyawanya untuk Kristus, dan dia juga menaruh pengharapan di intern Kristus, sehingga dia memohon kepada Yesus “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau menclok sebagai Raja.” (Luk 23:42) Sungguh suatu ungkapan penyongsongan dan iman yang serupa itu sederhana dan privat. Terhadap ungkapan iman dan kasih ini, Yesus menjawab “Aku bersabda kepadamu, senyatanya tahun ini juga kamu akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43)

Mari, dalam Ahad Suci ini, kita bersama-sama merenungkan, bahwa kita yang telah mengakuri baptisan sakramental, seharusnya mempunyai sikap seperti yang ditunjukkan makanya Dimas, malar-malar dituntut kian. Mengapa? Karena kita telah mengakuri karunia Allah yang begitu istimewa internal Sakramen Baptis, begitu juga: (a) pemberian pengudusan, (b) menjadi anak-momongan Sang pencipta dan dipersatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, (c) menerima tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), (d) mengakui tujuh anugerah Roh Masif seperti yang disebutkan di dalam Yes 11:2-3 (kebijaksanaan, konotasi, ular-ular, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan takut kepada Allah). Dengan kasih-rahmat ini kita dimampukan untuk mengajuk perintah Kristus, yang menuntun kita kepada keselamatan kekal.

3. Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah, anakmu!” dan “Inilah ibumu!”

Dengan penebusan-Nya di kayu salib, Kristus mutakadim mendedahkan jalan keselamatan bagi semua manusia. Dia telah memberikan Diri-Nya dengan sehabis-habisnya. Dia sudah lalu memberikan Awak dan Darah-Nya di kusen salib, yang sudah diantisipasi dalam Perjamuan Suci (lih. Mat 26:26-29, Mar 14:22-25, Luk 22:19-20). Namun rupanya ini tidak cukup. Memandang dari tiang kayu silang, Kristus mengintai dua basyar yang dikasihi-Nya, yakni Ibu-Nya, Bunda Maria dan peserta-Nya nan tercinta, rasul Yohanes. Dengan sisa-sisa nafas-Nya, Kristus memberikan wanti-wanti yang begitu bermanfaat kepada kita, yaitu pesan saat Kristus memandang Ibu-Nya dan murid-Nya dan berfirman “Ibu (RSV = Woman), inilah, anakmu!.. dan inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Dalam bukunya, paderi agung Fulton Sheen mengatakan bahwa dengan menyebut
woman
(perawan) dan lain ibu, maka Kristus mengangankan bahwa Bunda Maria bukan hanya menjadi bunda Kristus saja, namun sira menjadi bunda seluruh umat beriman. Inilah sebabnya Kristus mengasihkan ibu-Nya kepada  kepada pesuluh yang dikasihi-Nya – tanpa keunggulan, cak bagi menyatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada semua petatar Kristus.

Sebaliknya Kristus juga memberikan siswa-Nya bakal menjadi putera Bunda Maria. Satu-satunya anak asuh Maria memang tidak tergantikan, ialah Kristus. Namun, Kristus ingin memberikan hubungan nan mentah antara Maria dengan seluruh umat beriman. Kristus mengasakan sepatutnya Maria dapat mengamini seluruh umat berkepastian ibarat anaknya, karena Kristus sendiri hadir dan beraduk n domestik diri setiap umat beriman, sepadan seperti Kristus sendiri mengumpamakan DiriNya perumpamaan pokok anggur dan seluruh ranting-ranting bersatu dengan-Nya (lih. Jn 15:5). Ini berarti, Kristus mencitacitakan agar Bunda Maria turut berpartisipasi n domestik karya keselamatan Kristus dan memperlakukan seluruh umat berkepastian laksana anaknya. Suka atau tidak senang, Kristus mengharapkan peristiwa ini dan memberikan Maria sebagai bunda bagi seluruh umat beriman. Seandainya Kristus tidak berkeberatan untuk dididik oleh Maria dan Maria dipandang baik oleh Kristus ibarat Bunda Allah, maka siapakah kita yang memandang bahwa kita lain terlazim meluhurkan Bunda Maria, bahkan ada yang melepaskan Bunda Maria dari kehidupannya? Apakah ada koteng pria yang merasa bahwa pacarnya sesak jebah karena dia menghormati ibunya pula?

4. Mrk 15:34 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau pergi Aku?”

Disaksikan oleh Bapa-Nya di Sorga dan ibu-Nya di kaki kusen kayu silang, Yesus berkata “Allahku, Allahku, mengapa Sira meninggalkan Aku?” Kalimat yang berkesan keputusasaan. Mungkin jeritan yang sekufu, cinta kita teriakkan dalam kesesakan dan penderitaan kita. Kita memafhumi bahwa Kristus adalah betapa sama sebagaimana kita, yang telah mencamkan semua yang kita alami, terdaftar kesengsaraan. Hanya, di dalam penderitaan-Nya, Dia telah menunjukkan adanya suatu kepercayaan yang kokoh akan kerangka Allah. Perkataan
Eli, Eli Lamasabakthani, yakni permulaan dari Mazmur 22, yang lengkapnya yaitu andai berikut:

1  Bikin pejabat biduan. Menurut lagu: Rusa di kala subuh. Mazmur Daud. (22-2)
Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?
Aku berseru, sahaja Anda setia jauh dan tidak menolong aku.
2 Allahku, aku berseru-seru puas musim siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada hari malam, tetapi tidak juga aku hening.
3 Sedangkan Engkaulah Yang Zakiah nan bersemayam di atas tahlil makhluk Israel.
4 Kepada-Mu leluhur kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka.
5 Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka bukan mendapat malu.
6 Sahaja aku ini bernga dan enggak orang, cela kerjakan manusia, dihina oleh orang banyak.
7 Semua nan melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya:
8 “Dia menyerah kepada Allah; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”
9 Ya, Sira yang mengeluarkan aku pecah rezeki; Engkau yang membentuk aku aman pada dada ibuku.
10 Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak kerumahtanggaan kandungan ibuku Engkaulah Allahku.
11 Janganlah jauh berpunca padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak cak semau yang menolong.
12 Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng bersumber Basan mengepung aku;
13 mereka mengangakan mulutnya terhadap aku seperti singa yang mencengkam dan mengaum.
14 Seperti air aku tercurah, dan segala apa tulangku tanggal dari sendinya; hatiku menjadi seperti parafin, bertarai luluh di dalam dadaku;
15 kekuatanku kering begitu juga kaca, lidahku tertuju pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kauletakkan aku.
16 Sebab anjing-kera kerubung aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku.
17 Apa tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.
18 Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.
19 Sekadar Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!
20 Lepaskanlah aku dari candrasa, dan nyawaku dari cengkeraman kunyuk.
21 Selamatkanlah aku dari mulut singa, dan dari tanduk lembu hutan. Engkau sudah lalu menjawab aku!
22 Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Ia di perdua-tengah jemaah:
23 dia yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai seberinda anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Ia, hai sepenuh anak cucu Israel!
24
Sebab Ia bukan memandang hina ataupun merasa jijik siksaan orang yang tertindas, dan Sira lain menyembunyikan durja-Nya kepada individu itu, dan Ia mendengar saat insan itu berteriak harap tolong kepada-Nya.

25 Karena Dia aku menyanjung-sanjung privat jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka nan takut akan Dia.
26
Insan yang kurang lever akan bersantap dan kenyang, basyar yang berburu Halikuljabbar akan anjung Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!


27
Segala ujung mayapada akan mengingatnya dan menyembat kepada TUHAN; dan apa kabilah mulai sejak bangsa-bangsa akan sungkem menyembah di hadapan-Nya.
28 Sebab Tuhanlah yang tuan kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-nasion.
29
Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua individu sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua manusia yang runtuh ke kerumahtanggaan debu, dan individu yang tidak boleh menambat hidup.

30 Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang Tuhan kepada angkatan yang akan cak bertengger.
31
Mereka akan mengkover keadilan-Nya kepada bangsa nan akan lahir tubin, sebab Ia telah melakukannya.

Bagi umat Yahudi, seandainya seseorang memulai kalimat pertama dari Mazmur, maka berarti insan bermaksud untuk menyelesaikannya. Dan dalam kondisi tersalib, alangkah tidak mungkin kerjakan menyelesaikan pengucapan keseluruhan Mazmur tersebut. Ini berfaedah, bahwa kalimat pertama dari Mazmur 22 harus dimengerti intern konteks keseluruhan, ialah kerjakan mempercayai dan menggantungkan segala apa sesuatunya ke dalam tangan Bapa, yang pada akhirnya akan membawa kemuliaan, di mana seluruh ujung mayapada akan menghafal dan mengantul kepada Allah (lih. Mzm 22:27). Ini adalah satu pengajaran terbit Kristus yang harus diikuti oleh seluruh pelajar Kristus tentang bagaimana menaruh penantian di dalam Sang pencipta dalam kondisi apapun. Cara dan sikap n domestik menghadapi siksaan yaitu salah satu perbedaan antara khalayak yang mengenal Kristus dan yang tidak mengenal Kristus. Bahkan rasul Paulus mengatakan “3 Dan bukan cuma itu namun. Kita malah berlagak kembali dalam penderitaan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan kebulatan hati, 4  dan keseriusan menimbulkan resistan uji dan resistan uji menimbulkan pengharapan. 5  Dan penungguan tak mengecewakan, karena kasih Allah sudah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rom 5:3-5)

Baca juga:   Tuliskan Kelemahan Sistem Penyambungan Dengan Menggunakan Komponen Mur Dan Baut

Kalau seseorang menjadi murid Kristus, maka ia akan menirukan apa nan dilakukan oleh Kristus, termasuk yakni cara menghadapi permasalahan dan kesengsaraan. Karena dengan kesengsaraan-Nya, Kristus dapat memenangkan belenggu dosa, maka dengan mengesakan segala apa penderitaan kita dengan Kristus, kita akan memperoleh kejayaan, ialah kesuksesan yang menyelamatkan, yang mengantar kita pada  atma kekal. Kuncinya ialah menghadapi persoalan dengan terus bergelut dalam puji-pujian nan didasarkan iman, pengharapan dan hadiah, seperti yang dilakukan oleh Kristus.

Mungkin ada yang bertanya, kalau Yesus memang Halikuljabbar, mengapa pada saat disalib, Dia berdoa? Sebenarnya, Yesus berdoa enggak namun rendah sreg waktu Yesus disalib, namun Yesus beribadat dalam bermacam-macam kesempatan (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1). Santo Thomas Aquinas menggosipkan tentang definisi doa, dimana dia mengatakan bahwa takbir adalah membuka keinginan kita kepada Halikuljabbar, sehingga Beliau dapat memenuhinya.” ((St. Thomas Aquinas, Summa Theology, q. II-II, 83, a.1-2)) Karena di dalam Kristus (satu pribadi) ada dua kehendak, yakni kehendak manusia dan kehendak Yang mahakuasa, maka menjadi hal yang wajar, kalau Yesus berdoa karena Dia mempunyai qada dan qadar sosok. Sama sama dengan kita umpama insan berkepastian, kita menyatakan keinginan/ kehendak kita di hadapan Almalik.

Alasan kedua adalah Yesus berdoa bikin kepentingan manusia. Yesus dapat saja berdoa dalam hati, sahaja Dia ingin menunjukkan kepada kita bagaimana sebaiknya sebagai manusia kita berdoa, adalah bahwa kita harus senantiasa tunduk kepada kehendak Halikuljabbar Bapa, walaupun di dalam kejadian yang paling sulit sekalipun.

Yesus
beribadat tanpa henti, bikin mengajar manusia senantiasa berdoa di dalam apa kesempatan tanpa henti (lih. Mt 16:23; Mt 26:36; Mk 14:32; Lk 3:21; 6:12;Lk 9:18, 28; Lk 11:1-2; Lk 18:1).

Yesus mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam ratib yang terpenting adalah untuk
mengajuk kehendak Tuhan, sebagai halnya yang dikatakan-Nya internal doa-Nya di Yojana Getsemani, dimana Dia berkata “”Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang tidak-tidak bakal-Mu, ambillah kobok ini terbit puas-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Anda kehendaki.” (lih. Mt 26:36; Mk 14:32-36).

Yesus
mengajarkan zikir yang contoh, yaitu wirid Bapa Kami, yang terdiri dari tujuh petisi (lih. Mt 6:9-13).

Yesus menunjukkan bahwa di dalam setiap percobaan, maka
Tuhanlah nan menjadi kelebihan kerumahtanggaan doa, seperti nan ditunjukkan oleh Yesus di dalam ketoprak penyaliban (Mt 27:46; Mk 15:34; Lk 23:46).

Yesus juga mengajarkan
pentingnya cak bagi memaafkan individu yang bersalah kepada kita, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dengan beribadat “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka bukan senggang apa yang mereka perbuat.” (lih. Lk 23:34).

Dan masih sejenis itu banyak contoh nan bukan, yang menyebabkan pengikut Kristus tahu bagaimana untuk berdoa, karena Yang mahakuasa sendiri – melalui Kristus – yang menunjukkan kepada hamba allah bagaimana seharusnya sembahyang.

Dengan demikian, maka kita boleh mengintai bahwa doa Yesus di atas kayu kayu palang sungguh merupakan puji-pujian yang berpengharapan yang menyelamatkan dan memberikan acuan buat seluruh umat beriktikad.

5. Yoh 19:28 “Aku haus!”

Contoh apalagi yang kepingin diberikan maka itu Kristus sebelum dia menghembuskan nafas-Nya yang keladak ketika Beliau mengatakan “Aku haus!“? Dikatakan di ayat Yoh 19:28 bahwa perkataan Yesus “Aku Haus” adalah kerjakan memenuhi nubuat di n domestik Kitab Tulen. Ini adalah pemenuhan dari Mzm 69:21 nan mengatakan “… dan plong hari aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.” Dengan demikian, pernyataan Yesus merupakan penegasan bahwa Yesus yang tersaliblah yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.

Memang dalam kodrat-Nya sebagai sosok, Yesus mengalami kesengsaraan dan kerinduan yang semacam itu terlampau. Namun, kedahagaan dalam kapasitas yang lebih kerumahtanggaan merupakan kehausan bakal meyelamatkan kehidupan-jiwa. Ini adalah sandiwara tradisional pencarian Sang pencipta akan manusia. Sandiwara tradisional di mana Tuhan yang dari Sorga jatuh ke dunia kerjakan menjangkau spirit-jiwa yang tergerai berai. Kedahagaan ini mengingatkan kita akan permintaan Yesus kepada wanita Samaria “Berilah Aku minum” (Yoh 4:7). Dan percakapan ini pada hasilnya mengangkut keselamatan kepada wanita Samaria dan juga individu-orang di kota tersebut. Keselamatan wanita Samaria dan hamba allah-orang di kota tersebut tidaklah cukup bagi Yesus, sehingga di atas kayu salib, Anda kukuh merasa kehausan, karena Dia ingin menjangkau seluruh umat basyar, ingin menemukan dan mengantar seluruh umat cucu adam puas keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4)

Karena Tuhan senantiasa n domestik pencarian akan cucu adam, maka sejak dari Perjanjian Lama dikatakan “13 apabila engkau mencari Aku, beliau akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, 14  Aku akan memberi kamu menemukan Aku” (Yer 29:13-14) Inilah sebabnya detik seseorang menyadari bahwa dia memerlukan Almalik, ketika seseorang mematamatai penderitaan intern kacamata iman, ketika seseorang menerima penderitaan dengan tabah, ketika seseorang cak hendak menyangkal dirinya dan jual beli salibnya dan mengikuti Kristus, maka Tuhanlah nan sebenarnya menjadi penggerak utama dari semuanya itu. Kerumahtanggaan sandiwara bangsawan penyaliban, terutama bacot Yesus bahwa Beliau haus, kita menyaksikan akan drama adapun Almalik yang sungguh memanjakan insan dengan pasca–habisnya. Bagaimana tanggapan manusia? Bagaimana tanggapan kita?

Baca juga:   Yang Bukan Dimaksud Dengan Kepengarangan Dalam Resensi Buku Adalah

6. Luk 23:46 “Ya Bapa, ke internal tangan-Mu Kuserahkan spirit-Ku.”

Internal satu kalimat ini, kita dapat melihat interelasi nan sungguh dalam dan tidak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Bapa begitu memanjakan manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang khas untuk menebus dosa dan menanam manusia (lih. Yoh 3:16). Kristus cak bertengger ke dunia dan senantiasa melaksanakan kehendak Bapa. Dari umur duabelas tahun, Kristus telah mengatakan bahwa Beliau harus berada di n domestik rumah Bapa-Nya (Luk 2:49). Dalam seluruh karya-Nya, Kristus senantiasa mengamalkan apa yang berkenan kepada Bapa (lih. Yoh 8:29). Hingga pada akhirnya, Kristus menyerahkan nyawaNya ke dalam tangan Bapa (lih. Luk 23:46). Dengan otonomi-Nya, Kristus melakukan kehendak Bapa.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana kita memperalat kebebasan kita? Basyar sering salah dalam mengartikan kemandirian. Orang belalah mengartikan kemerdekaan sebagai “kebebasan dari
/
freedom from” dan bukan “kebebasan cak bagi / freedom for“. Kebebasan yang bertambah menekankan “kebebasan mulai sejak” merupakan ekspresi akan keinginan yang terbebas dari peristiwa-kejadian nan dianggap mengikatnya, termasuk tanggung jawab. Khalayak nan memimpikan kedaulatan bagi minum minuman gigih sonder mau dibatasi jumlahnya, cepat atau lambat akan menemukan bahwa dirinya tidak lagi bebas. Dia akan silau akan minuman gentur, dan enggak pun mempunyai kemerdekaan bagi mengatakan lain terhadap minuman keras. Dengan demikian, kita boleh melihat bahwa mengumbar kebebasan tanpa adanya batasan yang jelas dapat membuat manusia menjadi tidak adil juga. Katekismus Dom Katolik mendefinisikan kebebasan bak berikut:

KGK, 1731. Kebebasan adalah kemampuan nan berotot dalam akal bulus karakter dan niat,
lakukan bertindak atau tidak bertindak, lakukan berbuat
ini atau itu, meski terbit dirinya sendiri melakukan kelakuan dengan sadar. Dengan niat adil, tiap orang
bisa menentukan diri sendiri. Dengan kebebasannya, basyar harus
tumbuh dan menjadi matang dalam legalitas dan kebaikan.
Kebebasan itu mentah sampai ke kesempurnaannya apabila diarahkan kepada Yang mahakuasa, kebahagiaan kita.

Berpunca definisi di atas, kita dapat melihat bahwa kemerdekaan moga juga dibarengi dengan kebenaran (truth) dan kebaikan (good). Minus dibarengi dengan kebenaran dan kurnia, maka kebenaran akan menjadi suatu tindakan yang tidak bertanggungjawab. Semakin tahapan kebenaran dan manfaat itu, maka kebebasan itu akan semakin membebaskan. Karena tidak ada kesahihan dan khasiat yang lebih tinggi dari Tuhan –  sebab Tuhan adalah kurnia dan kebenaran itu sendiri – maka independensi safi adalah kebebasan yang didasarkan atas ketentuan dari Tuhan. Kristus koteng, seumpama jalan, kebenaran dan semangat (lih. Yoh 14:6) telah mengatakan bahwa keabsahan akan mengeluarkan (lih. Yoh 8:32). Dengan demikian, privat pengenalan yang terakhir di kayu salib, Kristus telah menunjukkan bahwa Engkau secara bebas menjalankan kehendak Bapa dan secara bebas memberikan nyawa-Nya untuk Bapa. Inilah kebebasan nan sejati.

Paus Yohanes Paulus II dalam suratnya kepada suku bangsa muda seluruh bumi pada tahun 1985 mengatakan “And in this sphere Christ’s words: “You will know the truth, and the truth will make you free”, become an essential programme. Young people, one might say, have an inborn “sense of truth”. And truth must be used for freedom: young people also have a spontaneous “desire for freedom”. And what does it mean to be free? It means to know how to use one’s freedom in truth-to be “truly” free. To be truly free does not at all mean doing everything that pleases me, or doing what I want to do. Freedom contains in itself the criterion of truth, the discipline of truth. To be truly free means to use one’s own freedom for what is a true good. Continuing therefore: to be truly free means to be a person of upright conscience, to be responsible, to be a person “for others”.
((Pope John Paul II,
Dilecti Amici, 13))

Silakan, intern Ahad Kudrati ini, kita memikirkan sejauh mana kita telah menunggangi independensi kita. Apakah kita telah menunggangi kemerdekaan kita dengan bertanggungjawab bersendikan kebenaran dan manfaat, sehingga boleh mengincarkan kita kepada keselamatan diri kita maupun membantu keselamatan khalayak-orang di sekitar kita? Kalau kita telah mati dari dosa kita – karena Sakramen Baptis – yang kita songsong, dan membuat kita dapat kumat bersama Kristus, maka kita sekali lagi harus mengikuti komplet Kristus. Kita dapat menyerahkan kedaulatan kita kepada Yang mahakuasa sehingga kita bisa semakin bebas bagi melaksanakan seluruh perintah Almalik.

7. Yoh 19:30 “Sudah selesai”

Pasca- tamtama memasrahkan bunga karang nan telah dicelupkan pada anggur asam, adv amat Yesus meminumnya dan berfirman “mutakadim radu” (lih. Yoh 19:30). Kita boleh melihat adanya tiga hal nan berkaitan dengan “telah selesai”. Di dalam Kitab Keadaan, sehabis Almalik memecahkan penciptaan, maka pada hari ke tujuh, Dia mengatakan “Momen Allah pada hari ketujuh
telah mengendalikan karier
(finished His work) yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pegangan nan sudah dibuat-Nya itu.
” (Kej 2:2) Dan Kitab Ajaran menuliskan, “
Semuanya telah terjadi
(it is done). Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Tadinya dan Nan Penutup. Orang yang haus akan Kuberi mereguk dengan prodeo bermula sendang kehidupan.
” Ini berguna, penciptan bumi dan kemenangan di Sorga cuma bisa terjadi kalau pekerjaan yang dilakukan Yesus telah selesai. Dan n domestik konteks inilah Yesus mengatakan “sudah selesai” lakukan menyatakan bahwa Dia mutakadim mengamankan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa dengan sempurna, lain dengan keputusasaan dan kegetiran, namun dengan dasar kasih nan sempurna. Inilah yang membuat persembahan Kristus di kayu salib dapat menyenangkan lever Bapa – merupakan karena didasarkan belas kasih yang arketipe. Dengan bacot ini, Yesus menyelesaikan seluruh pegangan-Nya di dunia untuk juga kepada Bapa.

Sepatutnya keteguhan Kristus bakal menunaikan tugas perutusan-Nya di dunia, juga mendorong kita untuk menunaikan tugas perutusan kita di dunia, sampai penutup jiwa kita.

Melaksanakan sapta wanti-wanti terakhir Yesus mengantar kita kepada keselamatan

Dari pemaparan di atas, kita bisa melihat bahwa tujuh pesan terakhir Yesus betapa mumbung makna yang sungguh-sungguh. Jika kita terus merenungkan pesan-wanti-wanti ini sepanjang Minggu suci ini, maka kita akan semakin menghargai pengorbanan Yesus. Apapun kondisi kita, di Ahad tahir ini, Kristus menawarkan pengampunan kepada kita semua. Bagi yang berdosa musykil, segeralah mengaku dosa dan bagi yang berjuang dalam kekudusan, teruslah berfokus pada tujuan akhir. Yesus menginginkan hendaknya semua manusia dapat sampai lega tujuan penghabisan, ialah Sorga. Lain ada perkenalan awal tertinggal. Sejauh kita masih hidup dan bertobat, sama seperti penyamun nan disalibkan di sisi kanan Yesus, maka Kristus akan memberikan taki yang sederajat, yaitu keselamatan kekal.

Demikian sekali lagi, Kristus menyerahkan Bunda-Nya menjadi Bunda seberinda umat percaya, sebaiknya kita bisa memohon dukungan doanya hendaknya boleh sampai kepada keselamatan. Intensi penutup ini pun harus dihadapi dengan penungguan akan Yang mahakuasa, sehingga pencobaan dan penderitaan tidak menjadikan kita perputus taksir. Intern avontur kita menentang Sorga, kita kembali harus mempunyai usia bakal mengangkut orang-orang di sekeliling kita untuk memperoleh keterangan akan legalitas. Dan ini harus kita untuk sampai akhir hidup kita, sampai tugas kita radu dan sampai kita menerimakan nyawa kita ke internal tangan Bapa. Dengan menjalankan pesan Kristus ini, maka kita bisa mencapai harapan akhir dengan selamat.

Semoga Trihari Kalis membawa kita sreg permenungan yang lebih mendalam akan misteri Paskah Kristus.


Catatan: Artikel ini dipakai kerjakan pendalaman Kitab Suci di Paroki Regina Caeli – Pantai Luhur Kelenteng, tanggal 20 April 2011.

4.5
2
votes

Article Rating

Perkataan Tuhan Yesus Di Kayu Salib

Source: https://katolisitas.org/7-pesan-terakhir-yesus-di-kayu-salib-yang-mengantar-manusia-pada-keselamatan/