Sebagai Pemuda Masa Kini Saya Akan

By | 12 Agustus 2022

Sebagai Pemuda Masa Kini Saya Akan.




S

ejarah menca
tat jejaka
n kepunyaan peranan yang silam besar dalam mengusung setiap agenda transisi
disuatu bangsa. Kemerdekaan Indonesia
digapai lain belas kasihan dari peran pemuda. Sumpah jejaka bisa dijadikan bukti
nyata keterlibatan mereka. Dimana Tulah Pemuda menjadi patok album ide
pemersatu bangsa yang kemudian melahirkan gagasan mengenai kebebasan berbarengan
keinginan sekoci dari belenggu pejajah. Riuk satu tokoh mulai dewasa yang berperan
dalam kejadian tersebut, diantaranya Budi Utomo. Kemudian tujuh puluh
tahun berikutnya, tepatnya sreg tahun 1998, pemuda sekali lagi mencatat album
dengan menumbangkan orde baru dan bersalin orde reformasi.

Sejarah Selam pun
menempatkan pemuda sebagai pelopor privat ajang dakwah. Sebut saja Muhammad
Al-Fatih, pada hidup 21 tahun Ia sudah menjadi seorang leader n domestik penalukkan
kota
Konstantinopel. Kalau kita menyibuk prestasi mereka, maka kita yakin bahwa
performa-prestasi adalah prestasi besar nan sukar kita kredit secara matematis.
Kita juga percaya mereka telah dikenang dalam setiap memori banyak
manusia.

   Tapi, kini juga mencatat bahwa peran bujang tidak serupa itu besar seandainya
dibandingkan dengan peran pemuda waktu lalu. Seolah-olah saat ini mereka menengah
tenggelam andai mengikuti grafik parabola. Enggak hanya itu, pemuda kini
memusat kehilangan peran, tambahan pula sering menjadi troubelmaker
dimana-mana. Ada bilang
problematika yang saat ini hinggap lega diri pemuda sehingga mereka kekurangan
peran di masyarakat. Diantaranya:

1. Minus
Mewah

     Bila dibandingkan tingkat produktifitas bujang
lalu dan sekarang, maka jawabannya karuan berbeda. Pemuda dulu mampu
mempersembahkan kebebasan dan orde restorasi. Setelah reformasi bergulir,
para pemuda telah kehilangan gairah bikin produktif. Seolah-olah saat ini
nasion kita telah keluar dari krisis. Sehingga tidak ada sekali lagi yang kita
kerjakan. Karena merasa tidak ada yang harus diperbuat untuk bangsa, banyak
pecah mereka yang menyibukkan pada aktivitas-aktivitas yang lain, takdirnya kita
biji, aktivitas tersebut tak mempunyai kemanfatan sedikitpun.

     Akhirnya, yang mereka kerjakan hanya kesia-kesiaan
sahaja alias zero value. Fenomena tersebut dengan mudah kita jumpai
seperti: nongkrong di mall; kong-kow di pinggir jalan sambil menghisap nikotin
(rokok), ngegame hingga lupa masa belajar, dan ibadah; nggosip teman
kanan-kidal. Maka dari itu, masyarakat kita biasanya lebih dikenal dengan maniak game
bersumber pada maniak buku.

Baca juga:   Alat Alat Yang Memanfaatkan Proses Pemantulan Cahaya Disebut

2. Kekurangan
Keteladanan

Berbicara tentang idola
dan public figure, pemuda ketika ini mulai dari nan kerdil, anak-anak hingga
muda, lebih doyan mengidolakan seleb (selebritis) dari puas para pahlawahan
atau ilmuwan. Apapun kecenderungan
spirit para seleb majuh menjadi sasaran modeling para remaja tertera tendensi
hidup destruktif. Tidak heran bila dunia hiburan saat ini menjadi industri nan
laris diserbu banyak akil balig. Kecenderungan
semangat yang diwarisi oleh para seleb ini, biasanya jatuh menurun sampai mewarisi
ke beberapa generasi di bawahnya.

Ada
sebuah cerita singkat. Sendiri ibu menambat dengan putranya yang terakhir. Sang
ibu melihat ada perubahan drastis dari sang putra tersebut. Sang anak
menunjukkan perilaku dan manifestasi berbeda, tidak sebagai halnya biasanya. Sering
marah-marah, berangkat sekolah dengan manifestasi dan dandanan acak-acakan.
Ternyata sehabis diusut, putranya tersebut n domestik kesehariannya mengikuti mode
kakaknya yang kuliah di sebuah perguruan tinggi. Padahal kakaknya di kampusnya
adalah seorang demonstran yang selalu berteriak “entaskan kemiskinan dan
kebodohan”, “punahkan korupsi”, “selamatkan generasi taruna”. Sang
ayunda tidak
dapat menjadi ideal untuk mileu terdekatnya, parahnya perilakunya
kontraproduktif dengan segala yang Beliau slogankan.

3. Kering
Spiritualisme

Spiritualisme start
hilang abnormal-demi terbatas dalam dada para jejaka. Arus baplang globalisasi ikut
serta intern menggerus spiritualisme ini. Sehingga diantara pemuda kekurangan
etika dan akhlak. Bahkan intern satu penelitian di Yogyakarta, 90 uang lelah lebih
(sungguhpun studi ini perlu dikaji lagi) mahasiswa di Yogyakarta tidak
perawan. Artinya, mereka
sebagian ki akbar pernah melakukan perbuatan gelap. Sungguh menyedih!.

“Tuhan telah mati”,
kata Nistze. Karena “Tuhan” sudah lalu dikubur, maka para jejaka sudah kehilangan
kendali dalam dirinya. Libelarisme, permisifisme, dan hedonisme sudah
menjadi adegan hidup mereka. Balasannya, mereka tidak sadar sudah
menuhankan materi.

4. Kurang
Berprestasi

Sulit dibayangkan suatu
Negara yang dahulunya hubungan membiasakan ke Negara kita, saat ini demap ki berjebah di
atas kita internal situasi; pendidikan, ekonomi, dan teknologi. Yup! Negara itu adalah
Malaysia.
Malahan kita saat ini masih demen mengekspor karyawan ke sana
untuk menjadi TKI. Kalau yang kita kirim tenaga ahli enggak masalah, masalahnya
yang kita bingkis kesana bukan tenaga ahli dan berkompeten, doang tenaga kasar
(pemaafan) sebagai halnya: buruh kasar gedung, pembatu rumah tangga, dan sebagainya.

Baca juga:   Gerak Maju Seorang Perenang Didapat Dari Gerakan Mendesak Air Ke

Dalam hal kualitas
perguruan janjang kita, peringkat perguruan panjang, kita masih kalah dengan
negara di Asean sama dengan Singapura. Peringat PT kita hanya boleh menembus
peringkat diatas 250 di seluruh dunia. Itupun cuma segelintar semisal: UI,
ITB, UGM, UNAIR, dan ITS. Bukan berarti Negara kita tidak berprestasi sebabat
sekali. Di bidang olimpiade, bisa jadi prestasi Indonesia
masih menyanjung-nyanjung.

 Pemuda Musim Depan

   Pemuda adalah harta benda tersebesar nan dimiliki oleh suatu bangsa. Jika suatu
bangsa kehilangan harta benda ini, maka bangsa tersebut musykil akan mewujudkan suatu
peradapan. Karena pemuda selalu fertil dalam lingkaran kreatif minoritas.
Subur minoritas inilah nan biasanya menggerangkan perlintasan dan kejadian ini
sudah banyak mujarab. Setiap mana tahu suka-suka sebuah perubahan sebatas diseminasi,
rata-rata penggerak dan aktornya jumlahnya tidaklah banyak. Mereka inilah nan
disebut gemuk minoritas. Ahli tarikh bumi yang bernama A.j Toynbee asosiasi
memberikan petuah. Petuahnya sebagai berikut

 “kelahiran sebuah peradapan tidak
berurat lega faktor ras atau lingkungan geografis, tetapi bergantung puas dua
kombinasi, yaitu adanya minoritas bakir dan mileu nan sesuai…..”

(catatansibudi.wordpress.com)

   Pemuda bukan boleh mengalami keterbelakangan terus-menurus. Terimalah perian ini
menjadi camar duka yang berharga. Memaknainya sebagai cemeti besar, bahwa esok
harus lebih baik. Lebih baik dari kondisi saat ini. Teruna perian depan adalah
pemuda nan memiliki sense of social yang tinggi, makmur menjadi agen
of change, bisa menjadi suri teladan, ahli dan berprestasi. Pemuda masa
depan sebagai halnya ini, Saya menyebutnya dengan “Pemuda Smart”.

Yang
perlu berbahagia garis bahwahi, pemuda Smart enggak doang dimaknai sebagai perjaka
yang cerdas intellektual saja, tapi Dia juga seorang yang cerdas sosial dan
cerdas interpersonal. Jikalau Saya rangkum, maka “Pemuda Smart” mempunyai
tingga
komponen berikut; (1) Memiliki basis keunggulan, (2) Mempunyai kapasitas
Spiritual, dan (3) memiliki produktifitas. Berikut ini penjelasan singkat tiga
suku cadang tersebut:

 1. Memiliki Basis
Keunggulan

     Basis Merek dibangun berdasarkan kepandaian atau kepintaran
seseorang. Sekali sekali lagi ukurannya di sini enggak hanya dibatasi dengan kepandaian
seseorang di bidang tertentu saja. Misal, Matematika maupun Saince. Belajar bermula
Howard Gardner, kepandaian seseorang pada hakekatnya jamak. Seandainya seseorang
punya kepandaian di bidang seni, maka hamba allah tersebut layak disebut orang
yang juru di latar seni. Jika begitu, hendaklah orang ini meningkatkan
kapasitasnya
dibidang seni sehingga bisa digunakan bak modal utama membangun keunggulan.

Baca juga:   Pengambilan Gambar Dari Atas Gedung Tinggi Disebut

 2. Produktivitas
Spiritual

   Kapasitas Spiritual bisa dimaknai kemampuan seseorang mengenal jati dirinya
menginjak dari: siapa Saya sepatutnya ada, dimana dan mau kemana Saya. Kemampuan ini
lalu diperlukan oleh setiap cucu adam, malah ini merupakan komponen dasar.
Dengan mempunyai produktivitas ini, seseorang dapat menentukan arah hidup, menjalani
problematika dengan asyik, dan menjadi cucu adam tangguh.

3.
Produktifitas.

   Setiap dari jejaka harus mempunyai cita-cita semisal, “apa yang harus Saya
berikan terhadap tanggungan, masyarakat, dan negara?”. Seorang yang tidak
n kepunyaan cita-cita, maka Ia pasti akan menjadi orang nan stagnan, tak
bermakna dan produktif. Karena lain cak semau nan akan Dia perbuat, kecuali diam.
Pemuda yang seperti ini –yang tidak mempunyai produktifitas, boleh dibilang
bujang pemalas.

   Jika kita lihat ketiga komponen ini, di tingkat lokal, maka kita akan teringat
dengan sosok seperti mana Muhamad Hatta, BJ Habibi, Marwah Daud Ibrahim, Warsito,
dan masih banyak lagi. Kerumahtanggaan sejarah Islam ketiga komponen ini juga berputar
pada diri Muhamad al-Fatih, Ibnu Sina, dan Al-Khawarizmi. Ketiga komponan ini
harus dibangun sejak prematur. Pertanyaan lautan lebih jauh bagaimana mewujudkan
ketiga suku cadang tersebut, sehingga kita bisa menjadi pemuda “Smart”?.

 Ada
bilang kronologi atau fase yang harus dilalui, yang akan Saya jelaskan pada
lembaran berikutnya. Saya mempunyai sebuah moto hidup yang berisi generator.
Motto tersebut ialah “hidup adalah perjuangan”. Dan sepertinya bisa ditiru
untuk
remaja nan ingin mendambakan menjadi pemuda “Smart”, karena memang lakukan
bisa
menuju ke sana teristiadat perjuangan. Sungguhpun puas permulaan kita harus berjuang,

percayalah diterminal akhir, kita pasti akan dapat menikmatinya hasilnya.

Berbunga Millis KAMMI

Sebagai Pemuda Masa Kini Saya Akan

Source: https://yessi84.blogspot.com/2009/02/pemuda-dulu-kini-dan-esok.html