Sebutkan Tentang Bentuk Bentuk Dari Etiket Digital Secara Nyata

By | 12 Agustus 2022

Sebutkan Tentang Bentuk Bentuk Dari Etiket Digital Secara Nyata.

Prof. Dr. H. Suwatno, M.Sang.

(Profesor Komunikasi  Organisasi FPEB , Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI)

Mengapa Kehidupan Digital teradat diatur? Karena sedikit-banyak sukma digital merepresentasikan kehidupan substansial manusia. Terserah banyak aktivitas sukma manusia, termasuk yang bersambung dengan bani adam enggak (interpersonal) ataupun umum, yang dilakukan melalui kendaraan digital. Tanpa adanya etika dan keunggulan, arwah digital bukan akan sustainable (per-sisten). Jadi dapat dikatakan bahwa etika digital merupakan kebutuhan bersama yang harus dijaga, mudah-mudahan kita semua konstan boleh menikmatinya perumpamaan representasi roh positif.

Etika digital menjadi semakin jauh makin terdahulu ketika jumlah “penghuni” sarana digital (warganet) semakin banyak. Amanda (2021) menyebutkan bahwa jumlah warganet di Indonesia terus berkembang terbit tahun ke waktu. Kredit nan dikeluarkan Asosiasi Produsen Jasa Internet Republic of indonesia (APJII) pada semester purwa tahun 2022, mencatat kenaikan 8,9% kuantitas pengguna cyberspace di Indonesia dibandingkan dengan musim sebelumnya. Data menunjukkan bahwa 73,three% penduduk Indonesia adalah pengguna internet yang aktif. APJII juga menyadari kian pecah separuh pemakai internet di Indonesia berada di Pulau Jawa adalah sebesar 56,4 %, lalu diikuti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua. Berdasarkan data APJII, 95,four% pengguna ambai di Indonesia menggunakan telepon berilmu atau smartphone untuk mengakses internet.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Cyberspace Indonesia (APJII) mencatat aktivitas yang paling banyak dilakukan para pengguna internet di Indonesia adalah berinteraksi melalui tuntutan chatting (29,three%) dan media sosial (24,7%). Aktivitas lain yang dilakukan internet adalah mengakses berita, layanan perbankan, mengakses hiburan, jualan daring, belanja daring, layanan siaran barang/jasa, layanan publik, layanan proklamasi pekerjaan, transportasi daring, game, e-commerce, layanan makrifat pendidikan, dan layanan informasi kesehatan (Bukalapak, 2022). Meningkatnya angka konsumen internet berdampak puas meningkatnya pemakai alat angkut sosial dan transaksi online.

Untuk itu kita sepatutnya mengenal bagaimana karakteristik wahana sosial. Media sosial punya lima karakteristik yakni (Banyumurti, 2019, privat Amanda, 2021):

  1. Terbuka: siapapun dimungkinkan untuk dapat n kepunyaan akun media sosial dengan batasan tertentu, sebagai halnya atma.
  2. Memiliki halaman biografi pengguna. Terhidang menu profil nan memungkinkan setiap pengguna menyajikan mualamat tentang dirinya bak tuan akun.
  3. User Generated Content. Terdapat fitur bagi setiap pengguna untuk bisa membentuk konten dan menyebarkannya melalui platform media sosial.
  4. Tanda waktu di setiap unggahan. Setiap unggahan nan dibuat diberi jenama hari, sehingga bisa diketahui kapan unggahan tersebut dibuat.
  5. Interaksi dengan pengguna tidak. Media sosial menyediakan fitur mudah-mudahan kita dapat berinteraksi dengan pengguna lainnya.

Semangat dalam media sosial harus diatur, baik melalui peraturan tercatat maupun tak tertulis. Dalam negara demokratis, memang mudahmudahan kehidupan sarana sosial enggak perlu terlalu banyak resan tertulisnya. Poin-kredit dan norma-norma privat jiwa digital akan setia terpelihara selama masyarakat digitalnya memiliki
literasi dan etika

yang memadai kerumahtanggaan menggunakan media sosial.

Menurut Shina (2021), setidaknya suka-suka empat (4) pilar literasi digital, adalah:

  1. Digital skills (kecakapan digital), yang riuk satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar mengenai lanskap digital, yaitu internet dan mayapada niskala.
  2. Digital culture (budaya digital), yang salah satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar akan nilai-ponten Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai lingkaran kecakapan digital dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.
  3. Digital ethics (etika digital), yang riuk satunya difokuskan kepada etika berinternet (netiquette).
  4. Digital safety (keamanan digital), yang pelecok satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar akan halnya penjagaan identitas digital dan data pribadi di platform digital.

Apabila keempat pilar literasi digital tersebut kuat tertanam internal diri setiap pengguna ki alat sosial, maka kemungkinan arwah digital kita akan menjadi lebih baik dan lebih maju (civilized).

Apa ITU ERA DIGITAL?

Privat bahasa yang tertinggal, Era digital adalah waktu ketika amanat lebih mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan menunggangi teknologi digital (Solihin & Suradi (Ed), 2018). Dengan kata lain, era digital (atau kerap disebut pula sebagai era informasi) adalah saat ketika bilang ki akbar laporan tersaji secara luas untuk banyak basyar, yang sebagian besar tersedia melangkahi teknologi komputer. Era digital juga ditandai dengan kemajuan teknologi dari perangkat elektronik dan mekanik analog ke teknologi digital.

Shepherd (2004) menjelaskan bahwa Era Digital ditandai dengan transformasi sosial-ekonomi yang intens pada skala yang mirip dengan Revolusi Industri. Nasib sehari-perian melibatkan interaktivitas sosial-ekonomi yang lebih bervariasi berpangkal sebelumnya, menyebabkan sirkuit kabar sosial ekonomi bertambah cepat. Basis pengetahuan Era Digital lebih maya dan teoretis daripada di zaman dulu, tetapi seringkali lagi lebih sepele dan lebih mudah berubah-ubah.

Era digital juga terkait dengan teknologi siaran dan komunikasi (TIK), yang fungsinya semakin makmur memobilisasi wara-wara, dengan kecepatan lebih tinggi.

Menurut Haris (2016), Era Digital yaitu masa dimana terjadi proses pergeseran dari ekonomi berbasis pabrik ke ekonomi berbasis informasi dengan menggunakan komputer atau perabot teknologi lainnya sebagai media atau komunikasi. Era digital juga merupakan tahun dimana ada akses yang luas, siap dan mudah berbagi, dan penggunaan informasi nan boleh diakses secara elektronik. Era digital juga disebut laksana era informasi dan komunikasi karena banyak pendalaman dilakukan mengenai pengurukan, pengolahan dan transfer mualamat di era digital.

Baca juga:   Pada Awalnya Gerakan Dakwah Dinasti Abbasiyah Dipimpin Oleh

Di era digital, pemberitahuan sudah berkembang pesat di seluruh dunia. Banyak teknologi bau kencur telah diciptakan untuk memudahkan tugas sehari-hari maupun transaksi bisnis. Beberapa deklarasi telah dipindahkan dari format fisik ke matra elektronik. Gawai modern sebagaimana smartphone, komputer mobile, PDA, tablet adalah rakitan di era digital dan sangat vital untuk generasi hijau (terutama generasi milenial, generasi Z dan generasi Alpha).

Vorobiova (2021) menguraikan kronologi pecah era digital (Digital Age). Menurutnya, era digital sejatinya bukan hanya suatu hal yang berperilaku monolitik melainkan merupakan rangkaian langkah-langkah progresif. Saat ini kita mungkin hanya berada di tengah-tengah metamorfosis antara era pra-digital dan era setelahdigital. Untuk sopan-benar memahami kemajuan ini, berjasa untuk mengintai dari mana era ini dari, serta ke mana era ini akan menuju.

  1. Pre-Digital

Sungguhpun fase ini belum terlalu lama, tahun teknologi pre digital majuh dilihat sebagai nostalgia. Selama fase ini, ritel masih menjadi sarana utama untuk mendapatkan komoditas dan jasa. Sementara produk secara bertahap beralih menjadi makin digital dengan ensiklopedia online dan buku telepon menjadi repositori nan dapat dicari.

  • Mid-Digital

Fase pertengahan digital adalah di mana kita fertil waktu ini. Banyak organisasi memandang digitalisasi yunior sebatas dalam konsep, doang mereka belum sepenuhnya mencerna bagaimana teknologi digital boleh menafsirkan banyak hal dalam organisasi.

  • Post-Digital

Di era pasca-digital, internet akan tersedia di mana-mana dan beragam teknologi super usil sebagaimana mobil pintar dan rumah weduk akan menjadi fragmen terbit kehidupan hamba allah. Konsep pembatasan berdasarkan lokasi akan menjadi tidak relevan. Akan ada kebebasan baru dan tantangan baru di periode ini.





Sumber: Solihin & Suradi (Ed) (2018).

ISU-ISU Dalam ERA DIGITAL

  1. Phising

Phishing adalah upaya bagi mendapatkan laporan sensitif seperti logo pemakai, pembukaan sandi, dan detail kartu kredit (dan terkadang, secara tidak sambil, uang), seringkali lakukan alasan jahat, dengan menyamar seumpama entitas nan boleh dipercaya dalam komunikasi elektronik. Phising sekali lagi dikenal bak Pencopetan Identitas.

  • Perlindungan Digital

Di era digital, segala sesuatu seolah akan serba digital. Ini juga main-main untuk pelestarian digital. Pelestarian digital dengan cepat menjadi salah satu bentuk standar pemeliharaan untuk taman bacaan, sahifah dan bahan fisik trik informasi. Proteksi digital merupakan pelestarian semua materi digital, baik yang lahir digital, seperti electronic mail, situs spider web, videogame, dan file elektronik lainnya, atau sudah didigitalkan dari bahan analog. Maksud pelestarian digital ialah rendering akurat dari konten nan diautentikasi dari waktu ke waktu.

  • Literasi Digital/Informasi

Literasi digital adalah permakluman, ketangkasan, dan perilaku yang digunakan dalam berbagai radas digital seperti smartphone, tablet, laptop dan PC desktop, yang semuanya dilihat sebagai jaringan daripada perangkat komputasi. Literasi digital sreg awalnya berfokus puas keterampilan digital dan komputer yang berdiri sendiri, tetapi fokusnya sudah beralih pecah perangkat yang berdiri sendiri ke perlengkapan jaringan.

ETIKA DIGITAL

Siberkreasi & Deloitte (2022, dalam Kusumastuti dkk (2021) merumuskan etika digital (digital ethics) sebagai kemampuan anak adam internal menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, menimang dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquet) dalam kehidupan sehari-perian. Bahwa menunggangi media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang bermoral demi kebaikan bersama. Demi meningkatkan kualitas kemanusiaan. Apalagi di Republic of indonesia yang multikultur, maka etika digital sangat relevan dipahami dan dipraktekkan makanya semua warga Indonesia.

K. Bertens (2014, dalam Astuti, 2021) mendefinisikan etika sebagai sistem angka dan norma kesopansantunan nan menjadi pencahanan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya. Berbeda dengan etiket yang didefinisikan sebagai tata cara turunan berinteraksi dengan individu tak alias kerumahtanggaan masyarakat.
Jadi, logo bertindak jika individu berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang enggak. Sementara etika berlaku walaupun individu cak seorang diri.

Hal enggak yang mengecualikan etika dan tera merupakan bentuknya, etika pasti tersurat, misal kode tata susila Publisistik, padahal etiket bukan terdaftar (konvensi).

Bentuk: Perbedaan Antara Etika dan Etiket Berinternet

Sumber: Astuti (2021)

Di manjapada digital kita pula mengenal etiket berinternet alias nan bertambah dikenal dengan
Netiket (Network Etiquette)
yaitu tata susila kerumahtanggaan menggunakan Cyberspace. Peristiwa paling kecil mendasar berpangkal netiket merupakan kita harus camar menyadari bahwa kita berinteraksi dengan manusia substansial di jaringan nan tidak, tak sekedar dengan deretan karakter huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia sesungguhnya.

Pengguna ki alat digital punya kemampuan bikin menciptakan dan memberlakukan rasam dan penyelenggaraan krama di cyberspace (netiket), panduan tentang sikap yang sesuai atau nan melanggar netiket, mualamat dan pengalaman berinteraksi dan berembuk di dunia digital, serta embaran melakukan evaluasi etika digital.

Netiket diperlukan bagi memanajemen interaksi pengguna internet yang mulai sejak berpunca seluruh dunia. Minimal tidak terwalak beberapa alasan mengenai pentingnya netiket dalam dunia digital, antara lain (Astuti, 2021):

  1. Kita semua manusia malah sekalipun momen berada di dunia digital, jadi ikutilah adat sama dengan internal semangat nyata
  2. Pengguna internet berasal dari bermacam negara yang punya perbedaan bahasa, budaya dan kebiasaan istiadat
  3. Pengguna internet yaitu hamba allah yang semangat dalam anonymouse, nan mengharuskan pernyataan identitas tulen dalam berinteraksi
  4. Bermacam akomodasi di cyberspace memungkinkan seseorang cak bagi berlaku etis / tak etis.
Baca juga:   Tentukan Hasil Pembacaan Alat Ukur Berikut Beserta Ketidakpastiannya

RUANG PUBLIK VIRTUAL Yang SESUAI ETIKA DIGITAL

Media sosial merupakan pangsa masyarakat virtual yang paling banyak penghuninya. Kaplan dan Haenlein (2010) menjatah beragam varietas kendaraan sosial ke dalam 6 (enam) varietas, yaitu:



  1. Collaborative Projects

    , yaitu suatu media sosial nan bisa membuat konten dan intern pembuatannya bisa diakses makhluk secara menyeluruh. Kategori yang termasuk dalam Collaborative Projects dalam wahana sosial, adalah WIKI alias Wikipedia nan sekarang sangat populer di berbagai negara. Collaborative Projects ini dapat dimanfaatkan untuk kondusif citra perusahaan, terlepas dari prokontra tanya kebenaran isi materi dalam situs tersebut.


  2. Blogs and Microblogs,



    yaitu petisi yang boleh membantu penggunanya untuk menggambar secara runut dan rinci mengenai berita, opini, pengalaman, atau kegiatan sehari-hari, baik n domestik rancangan teks, bagan, video, atau sangkut-paut berpangkal ketiganya. Kedua permintaan ini punya peran yang sangat terdepan baik internal presentasi butir-butir atau pemasaran produk. Melalui kedua aplikasi tersebut, pihak konsumen dengan leluasa dapat mengiring opini awam alias konsumen internet bagi bertambah akrab dengan mereka minus harus bersusah-susah menyampaikan informasi secara berhadapan.


  3. Content Communities,



    yaitu sebuah aplikasi nan bertujuan bikin saling berbagi dengan seseorang baik secara refleks maupun tidak langsung, di mana dalam petisi ini user maupun penggunanya boleh berbagi video, ataupun foto. Sosial kendaraan ini dapat dimanfaatkan bikin mempublikasikan suatu rencana kegiatan substansial yang dilakukan makanya satu perusahaan, sehingga kegiatan tersebut akan mendapatkan perhatian khalayak dan pada kesannya akan membangun citra positif lakukan perusahaan.


  4. Social Networking Sites



    atau Situs Jejaring Sosial, yaitu merupakan situs nan dapat membantu seseorang alias pengguna internet membuat sebuah riwayat hidup dan menghubungkannya dengan konsumen lain. Situs jejaring sosial memungkinkan penggunanya mengunggah halhal yang sifatnya pribadi seperti mana foto, video, koleksi tulisan, dan ubah berhubungan secara pribadi dengan pemakai lainnya melewati private pesan yang sekadar boleh diakses dan diatur pemilik akun tersebut. Situs jejaring sosial dahulu berperan kerumahtanggaan keadaan membangun dan menciptakan menjadikan make epitome, karena sifatnya yang interaktif sehingga pengguna boleh dengan mudah mengirim dan mengakuri informasi, malar-malar bisa digunakan laksana alat angkut komunikasi dan klarifikasi nan nyaman antara pemilik produk dengan konsumennya.


  5. Virtual Game Worlds

    , yaitu permainan multiplayer di mana ratusan pemain secara simultan dapat di panggul. Wahana sosial ini sangat membantu kerumahtanggaan hal menarik perhatian konsumen kerjakan tahu lebih banyak dengan desain ilustratif yang drastis dan permainan warna yang menyentak, sehingga terasa bertambah informatif dan interaktif.


  6. Virtual Social Worlds,



    ialah aplikasi yang mensimulasi semangat nyata internal jala. Aplikasi ini menungkinkan pemakai berinteraksi dalam platform tiga format memperalat avatar yang mirip dengan kehidupan nyata. Petisi ini lampau kontributif dalam menerapkan suatu strategi pemasaran atau penyampaian proklamasi secara interaktif serta menyeret.

Menurut Shina, dkk (2021), interaksi yang terjadi pada ira digital harus mengupas etika digital yang akan membantu mengatur batasan sikap dan perilaku dalam menunggangi kendaraan digital. Jika etika digital tidak diterapkan maka akan terjadi tindakan bullying, berita gelap (hoax), pelecehan genital, pornografi, ujaran kedengkian di dunia digital. Maka dari itu karena itu, cak bagi menjauhi hal tersebut setiap pengguna internet harus memahami dan menerapkan etika internal berinteraksi di jaring.

Penerapan netiket di ruang digital mempunyai tantangan osean karena etiket dipengaruhi oleh karakter dari masingmasing individu dan aneksasi soft skill literasi digital (Kusumastuti et al., 2021). Kesanggupan netiket n domestik menata perilaku pengguna internet di dunia digital dirasa dulu penting mengingat pemakai net mulai sejak berusul berbagai negara yang mana terdapat perbedaan budaya dan bahasa. Berdasarkan sasaran interaksinya, netiket terbagi kerumahtanggaan dua spesies. Pertama, one to one communications, komunikasi antara satu individu dengan individu lainnya melalui suatu dialog. Komunikasi dua sebelah ini bisa terjadi melewati email, dan wanti-wanti pribadi di berbagai ragam media. Kedua, one to many commmunication, komunikasi antar individu dengan beberapa orang. Komunikasi ini terjadi melalui conversation di grup atau postingan di sarana sosial, blog, dan situs web.

Etika tidak hanya akan halnya kederasan, melainkan pun menyangkut pertanggungjawaban. Karena apabila kita tidak berhatihati dan menjaga etika saat berinteraksi di media sosial, maka kita akan mendapatkan mudharatnya. Selain itu kita pula akan berhadapan dengan hukum dan menjadi ki aib bagi kita.

Astuti (2021) menjelaskan bahwa komunikasi dan interaksi di dunia digital dituntut kerjakan berada menyeleksi dan menganalisis proklamasi segala sekadar yang dapat/dapat disampaikan dengan jodoh bicara di bumi digital. Kita harus cermat menyeleksi kaidah menunggangi bahasa yang tepat, misalnya berkomunikasi dengan insan yang lebih tua, sepantaran semangat, atau yang lebih taruna baik melalui e-mail atau alat angkut sosial, sebaiknya bahasa yang digunakan kita sesuaikan dengan konteks masing-masing. Pada kompetensi ini kita dapat memakainya cak bagi mengidas dan memilah perilaku yang sesuai dengan netiket maupun perilaku yang tidak sesuai dengan netiket.

Seleksi dan analisis informasi Sesuai netiket Seleksi dan Analisis Informasi Tidak Sesuai netiket
Bangun akan eksistensi basyar lain di dunia internet Menyebarkan Berita Hoaks atau berita bohong dan palsu
Loyal kepada tolok perilaku online yang sebagai halnya yang kita jalani internal kehidupan konkret Ujaran Kejijikan (godaan, kilikan atau hinaan)
Tidak melakukan hal-hal yang dapat mudarat para pengguna cyberspace lainnya Pornografi (konten kecabulan dan eksploitasi seksual)
Membentuk citra diri yang positif Kontaminasi Logo Baik
Menghormati privasi orang enggak Penyebaran Konten Negatif
Membagi saran atau komentar yang baik Modus Penipuan Online (voucher reduksi, penyemuan transaksi shopping online)
Hormati waktu dan bandwith orang lain Cyber Bullying (pelecehan, mempermalukan, mengejek)
Mengakses hal -hal yang baik dan bersifat tidak dilarang Perjudian Online (judi bola online, blackjack, casino online)
Enggak melakukan seruan atau undangan pelawaan yang sifatnya lain baik Cyber Law-breaking, yakni gertakan keamanan siber (pencurian identitas, pembobolan kartu kredit, pemerasan, hacking)
Sumber: Limbong (2018, kerumahtanggaan Astuti, 2021)

ETIKA BERKOMUNIKASI DI Ulas DIGITAL

Baca juga:   Tentukan Apakah Setiap Variabel Yang Diketahui Memenuhi Persamaan Yang Diberikan

Mutiah dkk (2019) menguraikan bahwa etika komunikasi berhubungan dempang dengan bahasa. Simbol, bahasa, alias wanti-wanti oral yakni semua jenis tanda baca nan menunggangi satu pengenalan maupun bertambah. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal, padahal komunikasi nonverbal ialah komunikasi nan menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan bagi melukiskan semua situasi komunikasi diluar kata-introduksi terucap dan termaktub. Secara teoritis, komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling saur merenda, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita bakal sehari-hari.

Etika berkomunikasi dalam implementasinya antara lain dapat diketahui bermula komunikasi nan santun. Situasi ini merupakan juga bayangan dari kesantunan kepribadian kita. Komunikasi diibaratkan sama dengan urat nadi penghubung Spirit, misal salah satu ekspresi dari karakter, aturan atau tabiat seseorang cak bagi tukar berinteraksi, mengidentifikasikan diri serta bekerja sama. Kita tetapi bisa saling mencerna dan mengarifi barang apa yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki orang melalui komunikasi yang diekspresikan dengan menggunakan berbagai macam saluran, baik exact alias non-verbal. Wanti-wanti nan cak hendak disampaikan melangkaui komunikasi, bisa bertelur positif dapat juga sebaliknya. Komunikasi akan kian bernilai positif, seandainya para pelajar komunikasi memaklumi dan menyelesaikan teknik berkomunikasi nan baik, dan beretika.

Etika berkomunikasi, tidak hanya berkaitan dengan tutur kata yang baik, tetapi juga harus mulai dari kehendak tulus yang diekspresikan bermula ketenangan, ketenangan dan empati kita dalam berkomunikasi. Bentuk komunikasi nan demikian akan menghasilkan komunikasi dua arah yang bercirikan penghormatan, pikiran dan dukungan secara timbal balik dari pihak-pihak yang erkomunikasi. Komunikasi yang beretika, kini menjadi persoalan terdepan dalam penyampaian aspirasi. Privat keseharian keberadaan penguraian aspirasi masih sering dijumpai beberapa hal yang mencemaskan berpangkal perilaku komunikasi nan kurang santun. Etika komunikasi besar perut tepian, karena etika Berkomunikasi belum membudaya sebagai otot nadi spirit bermasyarakat dan bernegara. Tentang Etika komunikasi nan baik dalam media sosial adalah jangan memperalat kata kasar, provokatif, porno ataupun SARA; jangan memposting kata sandang ataupun status yang bohong; jangan mencopy paste artikel atau rancangan yang mempunyai hak cipta, serta menerimakan komentar yang relevan

Sumber: Amanda (2021)

Tersendiri dalam kegiatan jual-beli online, berikut ini beberapa Etika dalam tawar-menawar secara daring (Amanda, 2021):

  1. Daftarkan diri baik penjual dan remedi sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan platform belanja daring yang diinginkan.
  2. Kenali dengan baik seluruh fitur yang cawis. Fitur-fitur utama yang teristiadat dipelajari adalah kebijakan penjualan, detail produk, keamanan akun, proses pemasukan dan pengembalian produk yang dijual, pengiriman dagangan.
  3. Pastikan alat digital yang digunakan untuk transaksi daring telah lega hati.
  4. Baik penjual maupun pembeli sebaiknya memberikan dan dapat mengakses layanan uluran tangan nan disediakan e-commerce.

Sementara etika nan perlu diterapkan oleh penjual antara lain (Amanda, 2021):

  1. Jadilah penjual/pelapak barang/jasa yang bukan melanggar syariat.
  2. Meyakinkan mendeskripsikan Informasi mengenai produk yang dijual (karangan, gambar/foto barang).
  3. Informasi mengenai harga barang yang akan dijual sesuai dengan aslinya
  4. Selalu berusaha membalas nomine pembeli yang bertanya ataupun memberi komen
  5. Berbuat unggahan dengan kata-kata benar dan tidak mengandung SARA
  6. Penolakan terhadap komen tegar bersusila dan tidak menyinggung
  7. Bila memberikan promosi, diberitahukan dengan jelas dan masuk akal
  8. Barang/jasa sebaiknya dijelaskan pada spesifikasi produk
  9. Tidak memaksakan obat buat menjatah umpan bengot yang baik.
  10. Selalu memberikan layanan purna jual.
  11. Bila menjadi reseller, sertakan dalam maklumat Anda.
  12. Bila akan terjadi keterlambatan pengiriman, mudah-mudahan menginfokan kepada pembeli
  13. Bila barang nan sudah lalu dibayarkan tak ada maka sebaiknya menginfokan kepada pelamar dengan mengembalikan dana yang sudah lalu kita peroleh.

Teks

Amanda, Kaki langit. Grand. R. (2021).
Ayo, Kita Berinteraksi dan Bertawaran Secara Bijak.

Dalam Kusumastuti, F. dkk. (2021).
Modul Ter-hormat Bermedia Digital. Jakarta: Kominfo, Japelidi, Siberkreasi

Astuti, Y. D. (2021).
Kisah Netiket Mahajana Digital. Dalam Kusumastuti, F. dkk. (2021).
Modul Etis Bermedia Digital. Dki jakarta: Kominfo, Japelidi, Siberkreasi

Haris, A. R. (2016).
Information Issues IN DIGITAL ERA.

Faculty of Data Management, Universiti Teknologi MARA

Kaplan, A. M. & Haenlein, Thousand. (2010).
Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media. Business organization Horizons, 53.

Kusumastuti, F., Astuti, S. I., & Manfaat, N. (2021).
Pengantar Modul Sopan Bermedia Digital.

Privat Kusumastuti, F. dkk. (2021).
Modul Etis Bermedia Digital. Jakarta: Kominfo, Japelidi, Siberkreasi

Mutiah, Lengkung langit. dkk. (2019).
ETIKA KOMUNIKASI Internal Memperalat Ki alat SOSIAL. Global Komunika, Vol. 1 No. i, Desember.

Shepherd, J. (2004).
Why the Digital Era?

Dalam Doukidis, M., Mylonopoulos, N. & Pouloudi, N. (2004).
Social and Economic Transformation in the Digital Era. IGI Global Publisher.

Shina, A. F. I., dkk (2021).
Modul INDONESIA CAKAP DIGITAL: Pendekatan Integrasi-Interkoneksi Keislaman. Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru.

Solihin, A. One thousand. & Suradi (Ed) (2018).
Seri Pendidikan Ibu bapak: Mendidik Anak asuh di Era Digital (Edisi Revisi). Djakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Vorobiova, A. (2021).
The Digital Age: The Era Nosotros All Are Living In.

Diambil berpokok https://dzone.com/articles/the-digital-age-the-era-we-all-are-living-in-and-d

Sebutkan Tentang Bentuk Bentuk Dari Etiket Digital Secara Nyata

Source: https://asriportal.com/sebutkan-tentang-bentuk-bentuk-etiket-digital-secara-nyata/