Selama Konfrotasi Malaysia Presiden Soekarno Mencanangkan Program

By | 12 Agustus 2022

Selama Konfrotasi Malaysia Presiden Soekarno Mencanangkan Program.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Adegan dari Pembentukan Malaysia dan Perang Dingin


Seorang tentara Inggris ditarik oleh helikopter Westland Wessex selama persuasi di Kalimantan
Rontok 20 Januari 1963 –11 Agustus 1966
(3 tahun, 6 bulan, 3 minggu dan 1 hari)
Lokasi Semenanjung Malaka, Kalimantan
Hasil

Kemenangan Persemakmuran

  • Indonesia menerima pembentukan Malaysia
  • Soekarno digantikan oleh Soeharto menyusul upaya kudeta G30S
  • Pemberontakan Komunis di Sarawak berlanjut setakat tahun 1990
Pihak terlibat

Persekutuan Nasion-Nasion


  • Malaysia[a]




    • Singapura[b]

  • Britania Raya

  • Australia

  • Selandia Baru

  • Brunei

Didukung maka itu:


Kanada

Kanada[1]
[2]


Amerika Serikat[3]


Indonesia


Sangkutan partai:




PKI[4]
[5]




NKCP[6]
[7]
[8]




PRB[9]

Didukung makanya:


Tiongkok[10]
[11]


Filipina[12]


Uni Soviet[13]
[14]


Vietnam Paksina[15]

Tokoh dan kepala



  • Tuanku Syed Putra



  • Ismail Nasiruddin



  • Tunku Abdul Rahman



  • Abdul Razak Hussein



  • Tunku Osman






  • Mustapha Harun






  • S. K. Ningkan



  • Yusof Ishak



  • Lee Kuan Yew




  • Omar Ali Saifuddien III



  • Harold Macmillan



  • Alec Douglas-Home



  • Harold Wilson



  • Rodney Moore



  • Walter Walker



  • Soekarno



  • Omar Dhani



  • Ahmad Yani



  • Eddy Martadinata




  • A.H. Nasution



  • Pranoto Reksosamudro



  • Soeharto



  • D. Cakrawala. AiditDihukum mati



  • Bong Kee Chok



  • A. M. Azahari



  • Yassin Affandi
Incaran

Total:

  • 248 terbunuh
  • 180 luka-luka




140 terbunuh
43 luka-luka



23 terbunuh
8 luka-luka



12 terbunuh
7 luka-jejas
Gurkha
44 terbunuh
83 luka-jejas
Lainnya:
29 terbunuh
38 luka-luka

Total:

  • 590 terbunuh
  • 222 luka-luka
  • 771 ditangkap

Korban sipil

  • 36 terbunuh
  • 53 luka-luka
  • 4 ditawan

Konfrontasi Indonesia–Malaysia
atau
Konfrontasi Borneo
(juga dikenal dengan Bahasa Indonesia / Melayu,
Konfrontasi) adalah konflik bersenjata dari tahun 1963 hingga 1966 yang bersumber dari penentangan Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia. Selepas presiden Indonesia Soekarno digulingkan pada hari 1966, perselisihan berakhir secara damai dan negara Malaysia terlatih.

Pembentukan Malaysia adalah penyimpulan Federasi Malaya (sekarang Jazirah Malaysia), Singapura dan daerah jajahan mahkota Inggris di Borneo Utara dan Sarawak (secara kolektif dikenal sebagai Borneo Inggris, sekarang Malaysia Timur) plong September 1963.[16]
Perambah utama konflik tersebut termasuk garis haluan konfrontasi Indonesia melawan Nugini Belanda dari Maret–Agustus 1962 dan Pemberontakan Brunei pada Desember 1962. Malaysia berkat dukungan militer bersama-sama dari Britania Raya, Australia, dan Selandia Plonco. Indonesia mendapat dukungan tidak langsung dari Uni Soviet dan Tiongkok, sehingga menjadikannya salah satu bagian Perang Dingin di Asia.

Konflik tersebut merupakan perang yang tidak diumumkan dengan sebagian besar aksi terjadi di provinsi perbatasan antara Indonesia dan Malaysia Timur di pulau Kalimantan. Konflik tersebut ditandai dengan perdurhakaan darat yang terkendali dan terisolasi, diatur kerumahtanggaan taktik brinkmanship tingkat invalid. Pertentangan biasanya dilakukan oleh manuver seukuran kompi maupun peleton di kedua sebelah marginal. Persuasi penyusupan Indonesia ke Kalimantan berusaha bagi menindas diversitas kesukuan dan agama di Sabah dan Sarawak dibandingkan dengan Malaya dan Singapura, dengan maksud mengungkap negara nan diusulkan Malaysia.

Arena hutan Kalimantan dan kurangnya jalan nan melampaui pinggiran Malaysia-Indonesia memaksa barisan Indonesia dan Persekutuan untuk berbuat langlang jarak jauh. Kedua belah pihak mengandalkan gerakan infanteri ringan dan transportasi udara, meskipun pasukan Persemakmuran menikmati keuntungan dari penyebaran helikopter yang lebih baik dan pasokan ke pangkalan aksi yang akan datang. Bengawan juga digunakan perumpamaan metode transportasi dan smokel. Meskipun operasi tempur terutama dilakukan makanya pasukan darat, legiun lintas udara memainkan peran pendukung yang vital dan armada pasukan laut memastikan keamanan sisi-sisi laut. Inggris memberikan sebagian besar upaya pertahanan, walaupun pasukan Malaysia terus meningkatkan kontribusi mereka, dan ada kontribusi berkala dari armada Australia dan Selandia Baru internal gabungan Cadangan Diplomatis Timur Jauh nan ditempatkan saat itu di Malaysia Barat dan Singapura.[17]

Gempuran tadinya Indonesia ke Malaysia Timur lalu bergantung pada volunter lokal yang dilatih makanya Armada Darat Indonesia. Seiring waktu, pasukan infiltrasi menjadi lebih terorganisir dengan masuknya suku cadang pasukan Indonesia yang lebih positif. Kerjakan mencegah dan mengganggu kampanye infiltrasi yang berkembang di Indonesia, Inggris merespons pada tahun 1964 dengan meluncurkan operasi rahasia mereka sendiri ke Kalimantan (Indonesia) dengan stempel sandi Kampanye Claret. Bertepatan dengan Soekarno mengumumkan “hari munjung bahaya” dan kerusuhan rasial Singapura 1964, Indonesia meluncurkan persuasi operasi yang diperluas ke Malaysia Barat lega 17 Agustus 1964, sungguhpun sonder keberhasilan militer.[18]
Penumpukan pasukan Indonesia di tepian Kalimantan pada bulan Desember 1964 membuat Inggris mengerahkan pasukan yang signifikan dari Komando Strategis Bala Darat yang berbasis di Inggris dan Australia dan Selandia Yunior mengerahkan pasukan tempur roulement dari Malaysia Barat ke Kalimantan pada waktu 1965–66. Intensitas konflik mulai mereda menyusul kudeta Oktober 1965 dan jatuhnya kekuasaan Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Negosiasi perdamaian yang betul-betul antara Indonesia dan Malaysia dimulai plong Mei 1966, dan kesepakatan damai terakhir ditandatangani sreg 11 Agustus 1966 dengan Indonesia secara normal mengakui Malaysia.[19]

Latar belakang

[sunting
|
sunting perigi]

Soekarno, nan memproklamasikan kampanye Ganyang Malaysia.

Plong 1961, Kalimantan dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah kawasan di Indonesia, terdapat di selatan Kalimantan. Di utara adalah Imperium Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya terbit koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya, Federasi Malaya dengan membentuk Federasi Malaysia.

Bentuk ini ditentang oleh Tadbir Indonesia; Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia doang sebuah popi Inggris, dan konsolidasi Malaysia tetapi akan membusut kekuasaan Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemandirian Indonesia. Filipina juga menciptakan menjadikan klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Sultanat Sulu.

Di Brunei, Laskar Kewarganegaraan Kalimantan Utara (TNKU) memberontak pada 8 Desember 1962. Mereka menyedang mengait Kaisar Brunei, ladang minyak dan sandera orang Eropa. Sultan lolos dan meminta pertolongan Inggris. Kamu mengamini pasukan Inggris dan Gurkha dari Singapura. Sreg 16 Desember, Komando Timur Jauh Inggris (British Far Eastern Command) mengklaim bahwa seluruh muslihat pertarungan utama mutakadim diatasi, dan lega 17 April 1963, kepala persangkalan ditangkap dan pemberontakan bercerai.

Filipina dan Indonesia resminya setuju untuk memufakati pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di kawasan yang hendak dilakukan dekolonial memilihnya dalam sebuah referendum nan diorganisasi oleh PBB. Tetapi, pada 16 September, sebelum hasil semenjak pemilihan dilaporkan. Malaysia melihat pembentukan federasi ini misal problem dalam negeri, tanpa tempat kerjakan masuk campur orang luar, tetapi pemimpin Indonesia mengintai hal ini sebagai Persepakatan Manila nan dilanggar dan sebagai bukti penjajahan dan imperialisme Inggris.

Demonstrasi bentrok-Indonesia di Kuala Lumpur yang berlantas tanggal 17 September 1963, berlaku ketika para demonstran nan sedang memuncak marah terhadap Presiden Soekarno nan melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia[20]
dan juga karena terjangan pasukan militer tidak stereotip Indonesia terhadap Malaysia. Ini mengikuti pengumuman Nayaka Luar Negeri Indonesia Soebandrio bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia pada 20 Januari 1963. Selain itu pencerobohan sukarelawan Indonesia (sepertinya barisan militer tak stereotip) mulai memasuki Sarawak dan Sabah untuk memencar manuver dan melaksanakan penyerangan dan penyabotan pada 12 April berikutnya.

Soekarno nan murka karena hal itu mengutuk tindakan demonstrasi berlawanan-Indonesia yang menginjak-injak lambang negara Indonesia[21]
dan cak hendak melakukan balas kekhisitan dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan nama Ganyang Malaysia. Soekarno memproklamasikan gerakan Ganyang Malaysia melalui pidato ia yang lampau bersejarah, berikut ini:

Perang

[sunting
|
sunting sumber]

Lega 20 Januari 1963, Nayaka Luar Daerah Indonesia Soebandrio mengumumkan bahwa Indonesia mencekit sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Pada 12 April, volunter Indonesia (sepertinya armada militer tidak resmi) tiba memasuki Sarawak dan Sabah untuk hambur usaha dan melaksanakan penyerbuan dan sabotase. Sungkap 3 Mei 1964 di sebuah berhimpit osean yang digelar di Jakarta, Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya:

  • Pertinggi ketahanan distribusi Indonesia
  • Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sarawak dan Sabah, untuk menghancurkan Malaysia

Pada 27 Juli, Soekarno mengumumkan bahwa kamu akan meng-“ganyang Malaysia”. Pada 16 Agustus, laskar dari Rejimen Askar Jawi DiRaja tatap muka dengan lima puluh gerilyawan Indonesia.

Sungguhpun Filipina tidak turut serta kerumahtanggaan perang, mereka memutuskan koneksi diplomatik dengan Malaysia.

Federasi Malaysia protokoler dibentuk pada 16 September 1963. Brunei menolak bergabung dan Singapura keluar di kemudian hari.

Keruncingan berkembang di kedua belah pihak Selat Malaka. Dua waktu kemudian para penggentar membakar kedutaan Britania di Jakarta. Sejumlah dupa perusuh merebut kedutaan Singapura di Jakarta dan juga rumah diplomat Singapura. Di Malaysia, agen Indonesia ditangkap dan konglomerasi menghakimi kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.

Di sepanjang perbatasan di Kalimantan, terjadi pertempuran perbatasan. Barisan Indonesia dan pasukan tidak resminya mencoba menduduki Sarawak dan Sabah, dengan tanpa hasil.

Komando Aksi Sukarelawan.

Sreg 1964 bala Indonesia mulai menyerang wilayah di Ancol Malaya. Di bulan Mei dibentuk Komando Siaga nan bertugas untuk mengoordinasi kegiatan perang terhadap Malaysia (Persuasi Dwikora). Komando ini kemudian berubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga dipimpin maka dari itu Laksdya Mega Omar Dani sebagai Pangkolaga. Kolaga sendiri terdiri pecah tiga Komando, merupakan Komando Tempur Satu (Kopurtu) berkedudukan di Sumatra nan terdiri dari 12 Batalyon TNI-AD, termasuk tiga Batalyon Para dan satu batalyon KKO. Komando ini sasaran operasinya Semenanjung Malaya dan dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris sebagai Pangkopur-I. Komando Tempur Dua (Kopurda) berkedudukan di Bengkayang, Kalimantan Barat dan terdiri pecah 13 Batalyon yang berpunca dari unsur KKO, AURI, dan RPKAD. Komando ini dipimpin Brigjen Soepardjo sebagai Pangkopur-II. Komando ketiga merupakan Komando Armada Prayitna nan terdiri berpangkal unsur TNI-AL dan kembali KKO. Komando ini dilengkapi dengan Brigade Pendarat dan beroperasi di perbatasan Riau dan Kalimantan Timur.

Di wulan Agustus, enam belas agen bersenjata Indonesia ditangkap di Johor. Aktivitas Angkatan Bersenjata Indonesia di perbatasan juga meningkat. Tentera Laut DiRaja Malaysia mengerahkan pasukannya buat mempertahankan Malaysia. Tentera Malaysia hanya tekor saja yang diturunkan dan harus bergantung pada pos perbatasan dan pengawasan unit komando. Misi utama mereka adalah bakal mencegah masuknya pasukan Indonesia ke Malaysia. Sebagian besar pihak yang terlibat konflik senjata dengan Indonesia yakni Inggris dan Australia, terutama tentara khusus mereka yaitu Special Air Service (SAS). Tercatat sekitar 2000 pasukan Indonesia tewas dan 200 legiun Inggris/Australia (SAS) juga tewas setelah bertempur di belantara kalimantan (Majalah Angkasa Edisi 2006).

Pada 17 Agustus legiun terjun payung mendarat di tepi laut barat anak kunci Johor dan mencoba takhlik pasukan gerilya. Sreg 2 September 1964 pasukan terjun payung didaratkan di Labis, Johor. Sreg 29 Oktober, 52 tentara mendarat di Pontian di pinggiran Johor-Malaka dan membunuh pasukan Resimen Askar Melayu DiRaja dan Selandia Baru dan menumpas juga Pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia di Batu 20, Muar, Johor.

Saat PBB mengamini Malaysia sebagai anggota tidak loyal, Soekarno menarik Indonesia dari PBB sreg tanggal 20 Januari 1965 dan mencoba membentuk Konferensi Kemujaraban Baru (Conference of New Emerging Forces, Conefo) sebagai alternatif.

Seumpama tandingan Olimpiade, Soekarno malah menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Pesta gerak badan ini diikuti maka itu 2.250 atlet bersumber 48 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika Selatan, serta diliput sekitar 500 reporter asing.

Sreg Januari 1965, Australia setuju buat mengirimkan angkatan ke Kalimantan sesudah memufakati banyak permohonan dari Malaysia. Pasukan Australia memangkalkan 3 Resimen Kerajaan Australia dan Resimen Australian Special Air Service. Terserah sekeliling empat belas ribu angkatan Inggris dan Persemakmuran di Australia pada saat itu. Secara lazim, barisan Inggris dan Australia enggak dapat mengajuk penyerang menerobos pinggiran Indonesia. Tetapi, unit sama dengan Special Air Service, baik Inggris maupun Australia, masuk secara pusat (tatap Operasi Claret). Australia mengakui penerobosan ini pada 1996.

Puas pertengahan 1965, Indonesia tiba menggunakan pasukan resminya. Pada 28 Juni, mereka menyeberangi perbatasan masuk ke timur Pulau Sebatik erat Tawau, Sabah dan tatap muka dengan Resimen Askar Melayu Di Raja dan Kepolisian North Borneo Armed Constabulary.

Pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkemampuan kurang lebih 5000 bani adam melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Gempuran dan pengepungan terus dilakukan setakat 8 September namun gagal. Peristiwa ini dikenal dengan “Pengepungan 68 Periode” oleh warga Malaysia.

Akhir konfrontasi

[sunting
|
sunting perigi]

Menjelang akhir 1965, Jenderal Soeharto menjabat kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya Gerakan 30 September. Maka dari itu karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda.

Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, meski diwarnai dengan keberatan Soekarno (yang tidak lagi menjabat lagam tadbir secara efektif), Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengiklankan penyelesaian konflik dan normalisasi hubungan antara kedua negara. Kekerasan bererak bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua tahun kemudian.

Pustaka lanjut

[sunting
|
sunting sumber]

  • Wikisource logo
    Karya yang berkaitan dengan Resolusi Majelis Umum PBB 1514 adapun Deklarasi adapun Pemberian Kemerdekaan kepada Masyarakat dan Negara terjajah di Wikisource
  • (Inggris)
    Easter, D.
    Britain and the Confrontation with Indonesia, 1961-1965, (2004, London) I.B.Tauris, ISBN 1-85043-623-1
  • (Inggris)
    Jones, M.
    Conflict and Confrontation in South East Asia, 1961-1965: Britain, the United States and the Creation of Malaysia.
    (2002, Cambridge) Cambridge University Press. ISBN 0-521-80111-7
  • (Inggris)
    Mackie, J.A.C.
    Konfrontasia: the Indonesia-Malaysia Dispute 1963-1966′. (1974, Kuala Lumpur) Oxford University Press.
  • (Inggris)
    Subritzky, J.
    Confronting Soekarno: British, American, Australian and New Zealand Diplomacy in the Malaysian-Indonesian Confrontation, 1961-1965, (2000, London) Palgrave. ISBN 0-312-22784-1

Catatan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Sebelum Federasi, tiga entitas terpisah Malaya, Sarawak, dan Kalimantan Paksina berpartisipasi secara mandiri

  2. ^

    Sampai 1965

Lihat juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ki kenangan Indonesia
  • Sejarah Malaysia
  • Pengeboman MacDonald House

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • Kar – Internal and external tensions: land reform and confrontation with Malaysia Diarsipkan 2012-11-13 di Wayback Machine.

Catatan tungkai

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    “Commonwealth Backing for Malaysia”.
    The Sydney Morning Herald. 24 November 1964. hlm. 2. Diarsipkan berpunca varian kudus tanggal 19 November 2015. Diakses tanggal
    19 February
    2015
    .





  2. ^


    Robert Bothwell; Jean Daudelin (17 March 2009).
    Canada Among Nations, 2008: 100 Years of Canadian Foreign Policy. McGill-Queen’s Press – MQUP. hlm. 284–. ISBN 978-0-7735-7588-2. Diarsipkan berasal versi asli copot 15 February 2017. Diakses tanggal
    26 January
    2017
    .





  3. ^


    “Malaysian–American Relations during Indonesia’s Confrontation against Malaysia, 1963–66”. Cambridge University Press. 24 August 2009.




  4. ^

    Conboy 2003, hlm. 93–95.

  5. ^

    Conboy 2003, hlm. 156.

  6. ^

    Fowler 2006, hlm. 11, 41

  7. ^

    Pocock 1973, hlm. 129.

  8. ^

    Corbett 1986, hlm. 124.

  9. ^

    Sejarah Indonesia : “The Sukarno Years”. Retrieved 30 May 2006.

  10. ^


    A. Dahana (2002). “China Role’s in Indonesia’s “Crush Malaysia” Campaign”. Perkumpulan Indonesia. Diarsipkan berusul versi asli tanggal 19 July 2016. Diakses tanggal
    19 July
    2016
    .





  11. ^


    John W. Garver (1 December 2015).
    China’s Quest: The History of the Foreign Relations of the People’s Republic of China. Oxford University Press. hlm. 219–. ISBN 978-0-19-026106-1.





  12. ^


    Hamilton Fish Armstrong (July 1963). “The Troubled Birth of Malaysia”. Foreign Affairs.




  13. ^


    Kurt London (1974).
    The Soviet Impact on World Politics. Ardent Media. hlm. 153–. ISBN 978-0-8015-6978-4.





  14. ^


    Mohd. Noor Mat Yazid (2013). “Malaysia-Indonesia Relations Before and After 1965: Impact on Bilateral and Regional Stability”
    (PDF). Programme of International Relations, School of Social Sciences, Universiti Malaysia Sabah. Diarsipkan mulai sejak varian tahir
    (PDF)
    rontok 19 July 2016. Diakses tanggal
    19 July
    2016
    .





  15. ^

    Jones 2002, hlm. 132, 146, 163.

  16. ^

    Mackie 1974, hlm. 36–37 & 174.

  17. ^

    Dennis & Grey 1996, hlm. 25.

  18. ^

    Edwards 1992, hlm. 306.

  19. ^

    Dennis & Grey 1996, hlm. 318.
  20. ^


    a




    b



    Tunku tak mahu pijak Pancasila.

  21. ^


    “Artikel Kompas bersusun “Sukarno, Malaysia, dan PKI” tanggal Sabtu, 29 September 2007″. Diarsipkan dari versi asli terlepas 2009-04-21. Diakses tanggal
    2009-03-28
    .






Selama Konfrotasi Malaysia Presiden Soekarno Mencanangkan Program

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Konfrontasi_Indonesia%E2%80%93Malaysia

Baca juga:   Sebuah Dongkrak Hidrolik Dapat Mengangkat Benda Dengan Massa