Senyawa Ion Umumnya Mempunyai Sifat Sifat Berikut Kecuali

By | 13 Agustus 2022

Senyawa Ion Umumnya Mempunyai Sifat Sifat Berikut Kecuali.

Dalam kimia,
senyawa ionik
adalah paduan kimia nan tersusun berpangkal ion-ion yang disatukan maka itu tendensi elektrostatik yang disebut ikatan ionik. Senyawa ini netral secara keseluruhan, saja terdiri dari ion bermuatan riil yang disebut kation dan ion bermuatan merusak yang disebut anion. Masing-masing ion bisa berupa ion sederhana seperti natrium (Na+) dan klorida (Cl) dalam natrium klorida, atau spesies poliatomik sebagaimana ion amonium (NH
+
4

) dan karbonat (CO
2−
3

) kerumahtanggaan amonium karbonat. Masing-masing ion internal senyawa ionik kebanyakan memiliki beberapa tetangga terhampir; dengan kata enggak lain tersusun dalam molekul, cuma tersusun n domestik sebuah jaringan tiga matra kontinu; ini umumnya dalam struktur kristal.

Sintesis ionik yang mengandung ion hidrogen (H+) diklasifikasikan perumpamaan asam, sementara itu yang mengandung ion basa hidroksida (OH) ataupun oksida (O2−) diklasifikasikan umpama basa. Senyawa ionik tanpa ion-ion di atas sekali lagi dikenal misal garam dan dapat terbimbing melewati reaksi asam basa. Paduan ionik pun dapat dihasilkan dari ion konstituennya melalui penguapan pelarutnya, sedimentasi, pemejalan, reaksi zat padat, ataupun reaksi transfer elektron logam reaktif dengan nonlogam reaktif, seperti tabun halogen.

Paduan ionik biasanya punya titik leleh dan tutul didih yang pangkat, dan bersifat keras serta rapuh. Sebagai padatan sintesis-paduan ionik hampir pelalah menyekat listrik, tapi saat remang atau sagu betawi senyawa-paduan ini menjadi sangat konduktif, karena ion-ionnya menjadi dapat berputar.

Rekaman penemuan

[sunting
|
sunting sendang]

Introduksi
ion
berusul mulai sejak istilah Yunani ἰόν (ion) (bahasa Indonesia:
“sedang menghindari”), susuk neuter verba partisipel rasi masa ini (sebabat dengan makna “sedang mengerjakan”) berbunga perkenalan awal ἰέναι (ienai) “menjauhi“. Istilah ini diperkenalkan oleh fisikawan dan kimiawan Michael Faraday lega tahun 1834 bikin spesies nan enggak dikenal yang berpindah dari suatu elektrode ke elektrode lainnya melampaui ki alat berair.[1]
[2]

Spektrometer sinar-X yang dikembangkan maka itu Bragg

Pada waktu 1913, struktur intan buatan natrium klorida ditemukan maka dari itu William Henry Bragg dan William Lawrence Bragg.[3]
[4]
[5]
Penemuan ini membuka bahwa terdapat enam tetangga terdekat yang sepadan untuk masing-masing elemen. Hal ini menunjukkan bahwa atom-unsur tersebut enggak tersusun sebagai unsur atau agregat minus, melainkan sebagai jaringan intan buatan dengan tatanan jarak jauh.[5]
Banyak senyawa anorganik lainnya pun dijumpai memiliki ciri sistemis yang serupa.[5]
Senyawa ini segera digambarkan tersusun dari ion-ion, dan bukan berpunca unsur-zarah adil, saja hipotesis ini tak dapat dibuktikan sampai pertengahan 1920-an, yaitu saat dilakukan percobaan refleksi sinar-X (yang mendeteksi kerapatan elektron).[5]
[6]

Sarjana utama yang bermain mengembangkan permakluman komplet tentang struktur kristal ion yakni Max Born, Fritz Haber, Alfred Landé, Erwin Madelung, Paul Peter Ewald, dan Kazimierz Fajans.[7]
Born memprediksi energi kristal berdasarkan asumsi bahwa konstituennya yaitu ion; hasil perkiraan ini layak cocok dengan pengukuran-pengukuran termokimia, sehingga mendukung asumsi tersebut.[5]

Pembentukan

[sunting
|
sunting sumber]

White crystals form a mineral sample of halite, shown against a black background.

Halit, rencana mineral garam dapur, terjaga saat air asin menguap meninggalkan ion yang tidak menguap.

Senyawa ionik boleh dibuat dari ion konstituennya dengan penguapan, presipitasi, atau pembekuan. Metal peka seperti logam alkali boleh bereaksi sinkron dengan gas halogen yang tinggal elektronegatif membentuk produk ionik.[8]
Campuran-sintesis ini juga dapat disintesis umpama hasil reaksi antar padatan privat suhu hierarki.[9]

Takdirnya paduan ionik larut dalam pelarut, campuran ini dapat diperoleh sebagai padatan dengan menguapkan pelarutnya dari larutan elektrolit ini.[10]
Detik pelarut diuapkan, ion tak masuk lenyap melainkan tetap gemuk di larutan nan tertinggal, dan bila sudah lalu cukup pekat, terjadilah nukleasi sehingga paduan ionik tersebut mengkristal. Proses ini terjadi secara luas di alam, dan merupakan pendirian pembentukan mineral-mineral evaporit.[11]
Metode lain untuk mendapatkan kembali sintesis dari larutannya yaitu dengan membuat cairan hingga mencapai batas kelarutannya lega suhu janjang dan kemudian menaruh guru sehingga kelarutannya memendek, larutan tersebut menjadi superjenuh, dan senyawa padat ternukleasi.[10]

Fusi ion yang tidak sagu belanda dapat diendapkan dengan mencampur dua cairan, satu dengan kation dan satu lagi dengan anion di dalamnya. Oleh karena semua larutan bersifat bebas secara kelistrikan, kedua hancuran yang dicampur juga harus mengandung ion pasangan dari tanggung yang berlawanan. Bikin memastikan bahwa ion tara ini tak mencemari senyawa ionik nan diendapkan, signifikan untuk dipastikan agar ion lawan tidak timbrung terduduk.[12]
Jikalau kedua larutan tersebut menggunakan ion hidrogen dan ion hidroksida bagaikan ion lawan, mereka akan bereaksi satu sama enggak dalam reaksi asam–basa ataupun reaksi netralisasi membentuk air.[13]
Misal alternatif, ion lawan bisa dipilih kerjakan memastikan bahwa bahkan jikalau digabungkan kerumahtanggaan suatu hancuran tunggal, mereka akan tetap sagu betawi bagaikan ion tribun [en].[12]

Jika pelarutnya merupakan air, baik dalam metode penguapan alias reaksi pengendapan, kristal ionik yang terlatih bosor makan mengandung air kristal, sehingga komoditas tersebut dikenal sebagai hidrat, dan dapat mempunyai sifat ilmu pisah yang sangat berbeda.[14]

Lelehan garam enceran akan memadat pada pendinginan sampai di asal titik bekunya.[15]
Ini adakalanya digunakan buat sintesis benda padat senyawa ion kegandrungan pecah reaktan padat, yang terlebih adv amat dicairkan bersamaan.[16]
Internal kasus tak, reaktan padat tidak teristiadat dicairkan, tetapi dapat bereaksi menerobos jalur reaksi benda padat. Dalam metode ini, reaktan digiling berulang-ulang sampai lumat dan menjadi tapal, kemudian dipanaskan hingga suhu yang memungkinkan pelarutan ion-ion reaktan nan berdekatan selama campuran reaktan tetap berada kerumahtanggaan oven.[9]
Jalur sintesis lainnya menggunakan prekursor padat ion non-volatil dengan rasio stoikiometri nan tepat, nan dipanaskan bakal mengademkan keberagaman lainnya.[9]

Dalam beberapa reaksi antara metal yang sangat reaktif (rata-rata dari Golongan 1 alias Golongan 2) dan gas halogen yang sangat elektronegatif, atau air, atom-partikel dapat diionisasi melintasi transfer elektron,[17]
sebuah proses yang secara termodinamika dapat dipahami dengan menggunakan siklus Born–Haber.[18]

Ikatan

[sunting
|
sunting sumur]

Ion intern fusi ionik terutama disatukan maka dari itu gaya elektrostatik antar muatan-muatan yang ada di dalamnya, terutama mode Coulomb, gaya tarik jarak jauh antara bahara negatif anion dan muatan riil kation.[19]
Terdapat pula tren tarik apendiks dari interaksi van der Waals yang hanya menyumbang seputar 1–2% energi afinitas buat ion boncel.[20]
Ketika sepasang ion terlalu karib kelopak elektron terluarnya mengalami tumpangsuh (umumnya ion primitif memiliki kelopak terkatup), terjadi gaya n sogokan jarak pendek[21]
akibat prinsip pengecualian Pauli.[22]
Keseimbangan antara kecenderungan-mode tarik dan tolak ini menyebabkan adanya jarak kesetimbangan tertentu yang stabil saat energi potensial berlambak di titik paling kecil.[21]

Kalau struktur elektron dari kedua badan nan ubah berinteraksi dipengaruhi oleh adanya suatu sekufu lain, interaksi kovalen (non-ionik) sekali lagi berkontribusi pada energi keseluruhan senyawa yang terbentuk.[23]
Senyawa ionik jarang nirmala ionik, yaitu disatukan hanya dengan gaya elektrostatik. Ikatan antara tara paling kecil elektronegatif/elektropositif sebagaimana yang ada pada sesium fluorida menunjukkan tingkat kovalensi yang kecil.[24]
[25]
Sebaliknya, asosiasi kovalen antara atom yang tidak sejenis demap menunjukkan pemecahan pikulan dan dapat dianggap memiliki sifat ionik sebagian.[23]
Keadaan yang menentukan sifat ionik ataupun kovalen suatu senyawa kebanyakan bisa dipahami dengan menggunakan resan Fajans. Kebiasaan ini menggunakan muatan dan dimensi masing-masing ion. Menurut aturan ini, sintesis dengan karakter paling ionik akan memiliki ion positif berukuran segara dengan muatan rendah, yanh terikat pada ion merusak berukuran kecil dengan muatan tinggi.[26]
Lebih masyarakat kembali, teori HSAB bisa diterapkan, untuk fusi dengan karakter paling ionik adalah yang terdiri dari asam kuat dan basa langgeng: ion katai bermuatan dahulu tangga dengan perbedaan elektronegativitas yang tinggi antara anion dan kation.[27]
[28]
Perbedaan dalam elektronegativitas ini bermakna bahwa pemecahan muatan dan momen dipol nan dihasilkan, tetap bertahan bahkan ketika ion-ion tersebut bersentuhan (elektron berlebih puas anion tidak ditransfer dan lain terpolarisasi lakukan menetralkan kation).[29]

Struktur

[sunting
|
sunting sumber]

Ion biasanya tersusun intern struktur kristal reguler, dengan bentuk sadar yang meminimalkan energi jeruji (memaksimalkan daya tarik dan meminimalkan tolakan). Energi kisi yaitu pembilangan dari interaksi semua situs dengan semua situs lainnya. Untuk ion berbentuk bola yang tak terpolarisasi, energi interaksi elektrostatik dapat dihitung tetapi dari pikulan dan jarak ion-ion tersebut. Dengan struktur kristal ideal, semua jarak antar perakit n kepunyaan kaitan geometris dengan jarak terkecil antar inti. Bintang sartan, untuk setiap struktur batu belanda yang mungkin, tendensi elektrostatik total dapat dihitung berpangkal gaya elektrostatik pikulan satuan pada jarak tetangga terhampir dengan konstanta perkalian nan disebut konstanta Madelung[21]
yang dapat dihitung secara efisien dengan menggunakan penjumlahan Ewald.[30]
Bila lembaga yang wajar diasumsikan untuk energi repulsif tambahan, energi ganggang total bisa dimodelkan dengan menggunakan persamaan Born–Landé,[31]
persamaan Born–Mayer, ataupun jika tidak terserah informasi struktur, menggunakan pertepatan Kapustinskii.[32]

Dengan memperalat lengkap yang kian sederhana yaitu ion seumpama bola keras yang enggak tertembus, susunan anion intern sistem ini sering dikaitkan dengan pengaturan bola tetal-rapat (close-packed), dengan kation nan menempati interstisi tetrahedral atau oktahedral.[33]
[34]
Bergantung pada neraca stoikiometri fusi ionik nan terlibat, dan takdir sinkronisasi (terutama ditentukan oleh rasio ruji-ruji) kation dan anion, berbagai struktur dapat diamati,[35]
dan secara teoretis dirasionalisasi oleh aturan Pauling.[36]

Baca juga:   Berikut Ini Yang Termasuk Sistematika Laporan Kecuali
Struktur fusi ionik umum dengan anion tetal-rapat[35]
Stoikiometri Koordinasi kation:anion Noktah interstisi Tetal rapat kubus anion Tetal berpasangan heksagonal anion
penempatan rasio jari-ujung tangan kritis jenama konstanta Madelung cap konstanta Madelung
MX 6:6 semua oktahedral 0,4142[33] sodium klorida 1,747565[37] nikelin <1,73[a]
[38]
4:4 selang-seling tetrahedral 0.2247[39] zinkblende 1,6381[37] wurtzit 1,641[5]
MX2 8:4 semua tetrahedral 0,2247 fluorit 5,03878[40]
6:3 sekeping oktahedral (lapisan berseling terisi mumbung) 0,4142 kadmium klorida 5,61[41] kadmium iodida 4,71[40]
MX3 6:2 sepertiga oktahedral 0,4142 rodium(III) bromida[b]
[42]
[43]
6,67[44]
[c]
bismut iodida 8,26[44]
[d]
M2X3
6:4 dua pertiga oktahedral 0,4142 korundum 25,0312[40]
ABO3 dua pertiga oktahedral 0,4142 ilmenit tergantung sreg pikulan dan struktur
[e]
AB2O4
seperdelapan tetrahedral dan satu secabik oktahedral r
A/r
Udara murni = 0,2247;
r
B/r
O = 0,4142[f]
spinel, spinel menjempalit tergantung pada persebaran situs kation[47]
[48]
[49]
olivin tergantung plong sirkuit situs kation[50]

Dalam sejumlah kasus anion mencekit tetal kubus tertinggal, dan struktur publik yang dihasilkan teramati adalah:

Struktur fusi ionik publik dengan anion tetal dus keteter[43]
Stoikiometri Koordinasi kation:anion Pengisian titik interstisi Contoh struktur
nama rasio jeruji kritis konstanta Madelung
MX 8:8 seluruhnya terisi sesium klorida 0,7321[51] 1,762675[37]
MX2 8:4 sepenggal terisi kalsium fluorida
M2X 4:8 sehelai terisi litium oksida

Sejumlah cair ionik, terutama dengan campuran anion alias kation, dapat didinginkan dengan layak cepat sehingga tidak cukup masa terjadi nukleasi kristal, maka terbentuklah kaca ionik (minus tatanan jarak jauh).[52]

Terbatas

[sunting
|
sunting sumber]

Diagram of charged ions with a positive ion out of place in the structure

cacat Frenkel

Diagram of charged ions with a positive and negative missing from the structure

cacat Schottky

Dalam kristal ionik, biasanya akan ada beberapa titik cacat, yang hadir bersampingan untuk mempertahankan kenetralan kewajiban.[53]
Cacat Frenkel terdiri berasal kemusykilan kation nan berhimpit dengan interstisi kation dan dapat dihasilkan di manapun dalam ruah batu belanda,[53]
terjadi paling umum pada paduan dengan predestinasi harmonisasi invalid dan kation yang jauh makin kecil ketimbang anion.[54]
Tekor Schottky terdiri dari satu kekosongan masing-masing muatan, dan dihasilkan pada permukaan kristal,[53]
terjadi paling umum lega senyawa dengan bilangan koordinasi tinggi dan bila anion dan kation memiliki matra yang mirip.[54]
Jika kation memiliki beberapa kemungkinan tingkat oksidasi, maka kekosongan kation dapat mengompensasi kekurangan elektron sreg lokasi kation dengan bilangan oksidasi lebih tahapan, menghasilkan senyawa yang tidak mengikuti perbandingan stoikiometri.[53]
Probabilitas non-stoikiometri lainnya yaitu pembentukan pusat-F, elektron bebas yang menempati kekosongan anion.[55]
Bila senyawa mempunyai tiga maupun kian komponen ionik, semakin banyak jenis kurang nan mungkin terjadi.[53]
Semua bintik cacat ini dapat dihasilkan melangkahi vibrasi termal dan mempunyai konsentrasi kesetimbangan. Karena cacat-invalid ini membutuhkan energi bertambah pangkat tetapi menguntungkan secara entropis, mereka terjadi dalam pemusatan yang kian samudra saat suhu kian tinggi. Setelah terbentuk, lawan kurang ini dapat berdifusi secara terpisah satu sama enggak, dengan melompat antar situs celah. Mobilitas cacat ini adalah sumber fenomena transportasi paling banyak dalam kristal ionik, termaktub pembauran dan daya hantar ionik benda padat [en].[53]
Ketika kekosongan bertabrakan dengan interstisi (Frenkel), mereka dapat bergabung kembali dan saling memusnahkan. Demikian pula kekosongan akan hilang saat mereka mencapai satah intan buatan (Schottky). Cacat plong struktur kristal galibnya memperluas parameter celah, mengurangi keseluruhan densitas kristal.[53]
Cacat juga menghasilkan ion-ion di mileu lokal yang berbeda, sehingga mengalami simetri medan kristal yang berbeda, terutama dalam kasus kation farik nan ki beralih situs ganggang.[53]
Hal ini menghasilkan penceraian orbital elektron-d yang berbeda, sehingga penghirupan optik (dan juga corak) senyawa ion dapat berubah seiring dengan konsentrasi defek.[53]

Kebiasaan-adat

[sunting
|
sunting sumber]


Keasaman/Alkalinitas

[sunting
|
sunting sumber]

Senyawa ionik yang mengandung ion hidrogen (H+
) diklasifikasikan sebagai cemberut, dan yang mengandung kation elektropositif[56]
dan anion basa ion hidroksida (OH
) atau ion oksida (O2−
) diklasifikasikan perumpamaan basa. Sintesis ion lainnya dikenal sebagai garam dan dapat terdidik melewati reaksi asam–basa.[57]
Jika sintesis tersebut yakni hasil reaksi antara asam kuat dan basa lemah, hasilnya merupakan garam asam. Reaksi antara basa kuat dan bersut lemas, menghasilkan garam basa. Hasil reaksi antara asam lestari dan basa kuat, menghasilkan garam netral. Asam lunglai yang direaksikan dengan basa langlai dapat menghasilkan senyawa ionik dengan ion basa konjugat maupun ion asam konjugat, begitu juga amonium asetat.

Beberapa ion dikelompokkan umpama amfoter, mampu bereaksi dengan asam alias basa.[58]
Hal ini juga berlaku bagi beberapa senyawa dengan rasam ionik, lazimnya oksida maupun hidroksida berasal besi-logam yang adv minim elektropositif (sehingga senyawa tersebut juga memiliki rasam kovalen yang berguna), sebagai halnya seng oksida, aluminium hidroksida, aluminium oksida dan timbal(II) oksida.[59]

Titik hancur dan titik didih

[sunting
|
sunting sumber]

Gaya elektrostatik antar partikel semakin kuat ketika muatan listriknya pangkat dan jarak antar inti ion kerdil. Senyawa dengan aturan ini umumnya memiliki titik leleh dan titik didih yang sangat tangga dan tekanan uap rendah.[60]
Tinggi atau rendahnya titik lebur bisa dijelaskan dengan lebih baik bila struktur dan rasio ukuran ion diperhitungkan.[61]
Di atas titik leburnya, padatan ionik meleleh dan menjadi garam cairan (dengan pengecualian sejumlah campuran ionik seperti aluminium klorida dan besi(III) klorida yang menunjukkan struktur seperti unsur internal fase cairnya).[62]
Senyawa anorganik dengan ion sederhana biasanya memiliki ion katai, dan dengan demikian memiliki titik peroi yang tinggi dan kasatmata padatan lega hawa kamar. Sebaliknya, beberapa zat dengan ion yang lebih ki akbar memiliki noktah lumer di bawah hawa kamar atau mendekatinya (sering didefinisikan sampai dengan 100 °C), dan disebut cairan ionik.[63]
Ion dalam cair ionik berkali-kali punya persebaran muatan yang tidak rata, ataupun substituen samudra seperti rantai hidrokarbon, nan juga berperan privat menentukan kekuatan interaksi dan kecenderungan lakukan agak gelap.[64]

Dalam bentuk lelehan, sekalipun struktur lokal dan kawin padatan ionik telah patut terganggu, masih cak semau kecenderungan tarik elektrostatik jarak jauh nan kuat yang hadang cairan serempak dan mencegah ion-ion penyusunnya mendidih untuk menciptakan menjadikan fasa gas.[65]
Ini penting bahwa campuran ionik faktual cair mempunyai tekanan uap rendah dan memerlukan suhu yang jauh makin pangkat cak bagi mendidih, termasuk malar-malar hancuran ionik guru kamar.[65]
Titik didih menunjukkan kecondongan begitu juga tutul leleh privat hubungannya dengan ukuran ion dan kekuatan interaksi lainnya.[65]
Bila senyawa ionik diuapkan, ion-ionnya masih belum terpisah satu sama lain. Misalnya, dalam fase uap natrium klorida mewah sebagai “molekul” diatomik.[66]

Kerapuhan

[sunting
|
sunting sumber]

Sebagian besar senyawa ionik adv amat rapuh. Serupa itu mencapai batas kekuatannya, senyawa-sintesis ini tak boleh diubah bentuknya dengan jalan ditempa, karena keteraturan posisi ion positif dan negatif tidak bisa dijaga kembali. Akibatnya, material mengalami fraktur melalui pembelahan.[67]
Saat master dinaikkan (galibnya mendekati tutul melemah) terjadi transisi elastis–rapuh, dan persebaran plastis menjadi mungkin terjadi akibat gerak dislokasi.[67]
[68]

Kompresibilitas

[sunting
|
sunting sumber]

Kompresibilitas (ketermampatan) paduan ion lewat ditentukan oleh strukturnya, dan khususnya bilangan koordinasinya. Misalnya, paduan halida dengan struktur cesium klorida (bilangan koordinasi 8) abnormal termampatkan dibandingkan dengan struktur natrium klorida (bilangan rekonsiliasi 6), dan minus lagi dibandingkan dengan qada dan qadar koordinasi 4.[69]

Kelarutan

[sunting
|
sunting sumber]

Bila senyawa ion larut, ion individu terdisosiasi (tersebar), tersolvasi (berinteraksi dengan pelarut), dan tersebar di seluruh larutan yang dihasilkan.[70]
Karena ion menjadi pemaafan di dalam larutan saat dilarutkan dan dapat membawa muatan, larutannya fusi ion n kepunyaan konduktivitas setrum janjang, dan campuran tersebut adalah jenis elektrolit kuat yang paling kecil umum.[71]

Kelarutan bineka campuran ion privat air seumpama fungsi suhu. Telah disertakan beberapa senyawa yang menunjukkan perilaku kelarutan yang tidak normal.

Senyawa ionik minimal mudah larut intern pelarut polar (seperti mana air) atau cairan ionik, tetapi cenderung sulit larut lega pelarut nonpolar (seperti bensin).[72]
Kelarutan yang tinggi terutama diakibatkan oleh interaksi ion–dipol privat cairan nan secara bermanfaat lebih awet tinimbang interaksi dipol yang diinduksi ion, sehingga entalpi larutan lebih strata. Ketika ion-ion yang dalam celah ionik padat dikelilingi oleh kutub yang berlawanan dari partikel polar, ion-ion padat ditarik keluar dari kisi tersebut dan masuk ke dalam hancuran pelarut. Jika energi solvasi melebihi energi kisi, perubahan entalpi larutannya adalah negatif sehinga menyerahkan dorongan termodinamika cak bagi membedakan ion semenjak posisi mereka di internal kristal dan larut intern larutan. Selain itu, perlintasan entropi larutan biasanya positif bakal zat terlarut padat seperti senyawa ionik, yang bermanfaat kelarutannya meningkat saat suhu meningkat.[73]
Terserah pengecualian yaitu perlintasan entropi negatif privat beberapa paduan ionik nan tidak baku seperti serium(III) sulfat. Hal ini diakibatkan adanya keteraturan tambahan yang diinduksi dalam air saat larut, sehingga kelarutannya memendek seiring dengan hawa.[73]

Baca juga:   Menghargai Dan Menghayati Ajaran Agama Yang Dianutnya

Konduktivitas elektrik

[sunting
|
sunting sendang]

Meskipun campuran ionik mengandung partikel atau gugus bermuatan, bulan-bulanan ini biasanya tidak mengalirkan listrik secara berarti n domestik buram padatannya. Konduktivitas cacat ini terjadi karena ion-ionnya hanya cuma diam dalam celah kristal, sementara itu untuk mengalirkan listrik partikel bermuatan harus dalam kondisi mengalir. Konduktivitas dapat dicapai sampai tingkat tertentu pada suhu pangkat momen konsentrasi tekor meningkatkan mobilitas ionik dan konduktivitas ionik benda padat [en]
dapat diamati. Ketika dilarutkan intern cairan atau dilebur menjadi cairan, senyawa ionik bisa menghantarkan listrik karena ionnya dapat bergerak objektif.[74]
Daya hantar nan diperoleh bilamana dilarutkan alias dilelehkan ini kadang-kadang digunakan sebagai ciri unik senyawa-campuran ionik.[75]

Pada bilang campuran ionik yang tidak umum: konduktor ion cepat, dan kaca ionik,[52]
satu ataupun lebih komponen ioniknya memiliki mobilitas yang signifikan, sehingga memungkinkan daya hantar kendatipun material tetap dalam kondisi padat.[76]
Rasam ini besar perut terjemur kepada suhu, dan mungkin merupakan hasil pecah perubahan fase alias konsentrasi defek yang pangkat.[76]
Alamat-bahan ini digunakan di semua superkapasitor benda padat, baterai, dan sel sasaran bakar, dan dalam berjenis-jenis macam sensor kimia.[77]
[78]

Warna

[sunting
|
sunting sumber]

serbuk biru pada kaca arloji

tumpukan granula merah di atas kertas putih

Kobalt(II) klorida heksahidrat,

CoCl2·6H2O

Warna senyawa ionik sering kali berlainan dengan rona larutan berair yang mengandung ion-ion nan sama,[79]
alias dengan bentuk hidrat dari senyawa nan sama.[14]

Anion dalam senyawa dengan ikatan dengan budi ionik lestari cenderung bukan bercat (dengan pita serapan di putaran spektrum ultraviolet).[80]
Semakil langlai karakter ionik senyawa, warnanya semakin tajam, mulai terbit kuning, layung, bangkang dan hitam (karena pita serapan bergeser ke panjang gelombang nan makin pangkat ke n domestik spektrum sinar tertentang).[80]

Pita absorpsi kation sederhana n kepunyaan kecenderungan bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih singkat ketika bertambah banyak terlibat n domestik interaksi kovalen.[80]
Situasi ini terjadi sejauh hidrasi ion logam, sehingga senyawa ionik anhidrat yang enggak berwarna dengan anion yang menyerap inframerah dapat menjadi pancawarna n domestik larutannya.[80]

Kegunaan

[sunting
|
sunting sumber]

Senyawa-sintesis ionik telah lama n kepunyaan beraneka macam kegunaan dan aplikasi. Banyak mineral ialah campuran ionik.[81]
Turunan mutakadim menempa natrium klorida (natrium klorida, sebuah paduan ionik) sepanjang makin dari 8000 tahun, awalnya sebagai bumbu makanan dan pengawet, dan masa ini pula digunakan di pabrik-industri, di bidang pertanian, pengkondisian air, bikin melumerkan es di urut-urutan saat musim dingin, dan banyak kegunaan lainnya.[82]
Banyak senyawa ionik serupa itu umum digunakan oleh publik sehingga dikenal dengan nama-label umum yang tidak terkait dengan identitas kimia mereka. Contohnya termaktub boraks, kalomel, susu magnesia, senderut muriatat, minyak vitriol, sendawa, dan kapur mati.[83]

Sintesis ionik yang mudah larut seperti garam dapat dengan mudah menghasilkan larutan elektrolit. Ini adalah prinsip sederhana bikin mengendalikan pemusatan dan kekuatan ion. Konsentrasi zat terlarut mempengaruhi banyak sifat koligatif, termaktub meningkatkan tekanan osmotik, menurunkan titik beku dan menaikkan bintik didih.[84]
Maka dari itu karena zat terlarutnya yakni ion bermuatan, maka konduktivitas listrik enceran lagi meningkat.[85]
Kekuatan ion yang meningkat ini mengurangi ketebalan lapisan ganda listrik di sekitar partikel koloid, dan juga pemantapan emulsi dan penghentian penangguhan.[86]

Identitas ilmu pisah dari ion yang ditambahkan juga penting dalam banyak kegunaan. Misalnya, senyawa yang mengandung fluorida dilarutkan untuk memasok ion fluorida pada fluoridasi air.[87]

Paduan ion padat sudah lama digunakan sebagai pigmen cat, dan tahan terhadap pelarut organik, tetapi peka terhadap keasaman atau kebasaan.[88]
Sejak 1801 para piroteknisi mutakadim menggambarkan dan banyak menunggangi sintesis ionik yang mengandung logam sebagai sumber warna dalam kembang api.[89]
Di bawah semok yang hebat, elektron kerumahtanggaan ion besi atau molekul kecil dapat tereksitasi.[90]
Elektron ini kemudian juga ke hal berenergi kian minus, sehingga mengkhususkan cahaya dengan spektrum corak yang merupakan ciri unik spesies yang dikandungnya.[91]
[92]

Kerumahtanggaan kimia, fusi ionik sering digunakan seumpama prekursor bagi senyawa zat padat master tinggi.[93]

Di antara besi-logam yang paling melimpah di kulit bumi, banyak yang ditemukan privat bijih yang merupakan senyawa ionik.[94]
Untuk mendapatkan unsurnya, bijih ini diproses dengan peleburan ataupun elektrolisis, yang melibatkan reaksi redoks (sering kali dengan reduktor seperti karbon) sehingga ion besi mendapatkan elektron menjadi atom independen.[95]
[96]

Tata stempel

[sunting
|
sunting mata air]

Menurut nomenklatur yang direkomendasikan oleh IUPAC, senyawa ionik dinamai sesuai tata letak mereka, bukan strukturnya.[97]
Privat kasus yang paling sederhana, adalah senyawa ionik biner dengan sahaja satu peluang beban dan nisbah stoikiometrinya, cap umum ditulis memperalat dua kata.[98]
Etiket kation (jika kation terdiri dari satu molekul, nama unsurnya sahaja yang disebut) muncul makin suntuk, diikuti dengan nama anion.[99]
[100]
Sebagai transendental,
MgCl2

diberi nama magnesium klorida, dan
Na2SO4

diberi nama natrium sulfat (SO
2−
4

, sulfat, adalah pola ion poliatomik). Untuk mendapatkan rumus empiris dari stempel-cap ini, perbandingan stoikiometrinya dapat disimpulkan bersumber muatan ion penyusunnya, dengan asumsi bahwa muatan total harus nonblok.

Jika ada beberapa kation dan/maupun anion yang berbeda, awalan multiplikatif atau pengali (di-,
tri-,
tetra-, …) sering diperlukan untuk menunjukkan atak relatif,[101]
dan kation kemudian anion dicantumkan internal bujuk sesuai aksara.[102]
Bagaikan sempurna,
KMgCl3

diberi tera kalium magnesium triklorida untuk membedakannya dari
K2MgCl4
, dikalium magnesium tetraklorida[103]
(perhatikan bahwa baik dalam rumus empiris dan etiket tertulis, kation diurutkan sesuai leter).[104]
Bila salah satu ion sudah lalu memiliki awalan multiplikatif internal namanya, digunakan awalan pengali alternatif (bis-,
tris-,
tetrakis-, …).[105]
Sebagai contoh,
Ba(BrF4)2

diberi tanda barium bis(tetrafluoridobromat).[106]

Senyawa nan mengandung satu atau bertambah molekul yang boleh memiliki berbagai muatan maupun qada dan qadar oksidasi akan mempunyai rumus stoikiometri yang berbeda juga, bergantung pada garis hidup oksidasinya. Hal ini dapat ditunjukkan dalam cap dengan menentukan tingkat oksidasi dari atom-unsur yang ada, atau bahara ionnya.[106]
Karena dapat terjadi kerancuan saat menunjukkan bilangan oksidasi, IUPAC lebih memilih menunjukkan langsung jumlah bagasi ionik.[106]
Ini ditulis sebagai ketentuan buntak intern angka arab diikuti oleh tanda (… , 2−, 1−, 1+, 2+, …) dalam stempel kurung secara berbarengan setelah nama kation (sonder spasi nan memisahkannya).[106]
Sebagai contoh,
FeSO4

diberi merek besi(2+) sulfat (karena ion
Fe2+

bermuatan 2+, setinggi dengan bagasi 2− ion sulfat), padahal
Fe2(SO4)3

dinamakan besi(3+) sulfat (karena dua ion besi di setiap ketengan rumus masing-masing bermuatan 3+, seimbang dengan tiga ion sulfat yang masing-masing bermuatan 2−).[106]
Tata tera Stock, masih awam digunakan, menulis predestinasi oksidasi n domestik angka Romawi (… , −II, −I, 0, I, II, …). Dengan penyelenggaraan tanda ini,
FeSO4

yakni metal(II) sulfat padahal
Fe2(SO4)3

adalah besi(III) sulfat.[107]
Cak bagi ion sederhana, muatan ion persis sama dengan ketentuan oksidasi, tetapi bakal ion poliatomik kedua bilangan ini acap kali farik. Misalnya, ion uranil(2+),
UO
2+
2

, mempunyai uranium dengan tingkat oksidasi +6, kaprikornus akan disebut ion dioksouranium(VI) dalam tata nama Stock.[108]
Ada sebuah sistem pencadangan yang lebih sepuh buat kation logam, juga masih banyak digunakan, yang menambahkan akhiran
-o
dan
-i
ke akar bahasa Latin mulai sejak nama tersebut, bikin menjatah label tersendiri buat tingkat oksidasi cacat dan panjang.[109]
Misalnya, skema ini menunggangi “fero” dan “feri”, tiap-tiap untuk ferum(II) dan logam(III),[109]
sehingga
FeSO4

dinamakan fero sulfat sedangkan
Fe2(SO4)3

adalah feri sulfat.

Lihat juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Interelasi dalam padatan
  • Ioliomik
  • Ikatan ionik

Catatan

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Keberagaman struktur ini memiliki parameter kisi variabel skala c/a, dan konstanta Madelung nan tepat bergantung pada hal ini.

  2. ^

    Struktur ini mutakadim disebut dalam wacana andai itrium(III) klorida dan kromium(III) klorida, namun keduanya waktu ini dikenal sebagai tipe struktur RhBr3.

  3. ^

    Referensi tersebut mencantumkan struktur ini misal MoCl3, nan masa ini dikenal sebagai struktur RhBr3.

  4. ^

    Referensi mencantumkan struktur ini sebagai FeCl3, yang waktu ini dikenal sebagai macam struktur BiI3.

  5. ^

    Spesies struktur ini dapat menampar muatan apapun pada A dan B yang ditambahkan hingga enam. Bila keduanya adalah tiga struktur pikulan yang setara dengan korundum.[45]
    Strukturnya juga punya parameter ruji-ruji variabel c/a, dan konstanta Madelung yang tepat bergantung pada peristiwa ini.

  6. ^

    Namun, dalam beberapa kasus seperti
    MgAl2Udara murni4

    kation nan kian lautan menempati situs tetrahedral yang makin kecil.[46]

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^



    Michael Faraday (1791–1867). UK: BBC.





  2. ^


    “Online etymology dictionary”. Diakses terlepas
    2011-01-07
    .





  3. ^


    Bragg, W. H.; Bragg, W. L. (1 July 1913). “The Reflection of X-rays by Crystals”.
    Proceedings of the Sokah Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    88
    (605): 428–438. Bibcode:1913RSPSA..88..428B. doi:10.1098/rspa.1913.0040.





  4. ^


    Bragg, W. H. (22 September 1913). “The Reflection of X-rays by Crystals. (II.)”.
    Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    89
    (610): 246–248. Bibcode:1913RSPSA..89..246B. doi:10.1098/rspa.1913.0082.




  5. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    Sherman, Jack (August 1932). “Crystal Energies of Ionic Compounds and Thermochemical Applications”.
    Chemical Reviews.
    11
    (1): 93–170. doi:10.1021/cr60038a002.





  6. ^


    James, R. W.; Brindley, G. W. (1 November 1928). “A Quantitative Study of the Reflexion of X-Rays by Sylvine”.
    Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences.
    121
    (787): 155–171. Bibcode:1928RSPSA.121..155J. doi:10.1098/rspa.1928.0188.





  7. ^

    Pauling 1960, hlm. 505.

  8. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 312.
  9. ^


    a




    b




    c



    Wold & Dwight 1993, hlm. 71.
  10. ^


    a




    b



    Wold & Dwight 1993, hlm. 82.

  11. ^


    Wenk, Hans-Rudolf; Bulakh, Andrei (2003).
    Minerals: their constitution and origin
    (edisi ke-Reprinted with corrections.). New York: Cambridge University Press. hlm. 351. ISBN 978-0-521-52958-7.




  12. ^


    a




    b



    Zumdahl 1989, hlm. 133–140.

  13. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 144–145.
  14. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 417.

  15. ^

    Wold & Dwight 1993, hlm. 79.

  16. ^

    Wold & Dwight 1993, hlm. 79–81.

  17. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 312–313.

  18. ^

    Barrow 1988, hlm. 161–162.

  19. ^

    Pauling 1960, hlm. 6.

  20. ^

    Kittel 2005, hlm. 61.
  21. ^


    a




    b




    c



    Pauling 1960, hlm. 507.

  22. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 379.
  23. ^


    a




    b



    Pauling 1960, hlm. 65.

  24. ^


    Hannay, N. Bruce; Smyth, Charles P. (February 1946). “The Dipole Moment of Hydrogen Fluoride and the Ionic Character of Bonds”.
    Journal of the American Chemical Society.
    68
    (2): 171–173. doi:10.1021/ja01206a003.





  25. ^


    Pauling, Linus (1948). “The modern theory of valency”.
    Journal of the Chemical Society (Resumed): 1461–1467. doi:10.1039/JR9480001461.





  26. ^


    Lalena, John. Cakrawala.; Cleary, David. A. (2010).
    Principles of inorganic materials design
    (edisi ke-2nd). Hoboken, Cakrawala.J: John Wiley. ISBN 978-0-470-56753-1.





  27. ^


    Pearson, Ralph G. (November 1963). “Hard and Soft Acids and Bases”.
    Journal of the American Chemical Society.
    85
    (22): 3533–3539. doi:10.1021/ja00905a001.





  28. ^


    Pearson, Ralph G. (October 1968). “Hard and soft acids and bases, HSAB, part II: Underlying theories”.
    Journal of Chemical Education.
    45
    (10): 643. Bibcode:1968JChEd..45..643P. doi:10.1021/ed045p643.





  29. ^

    Barrow 1988, hlm. 676.

  30. ^

    Kittel 2005, hlm. 64.

  31. ^

    Pauling 1960, hlm. 509.

  32. ^


    Carter, Robert (2016). “Lattice Energy”
    (PDF).
    CH370 Lecture Material
    . Diakses tanggal
    2016-01-19
    .




  33. ^


    a




    b



    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 383.

  34. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 444–445.
  35. ^


    a




    b




    Moore, Lesley E. Smart; Elaine A. (2005).
    Solid state chemistry: an introduction
    (edisi ke-3.). Boca Raton, Fla. [u.a.]: Taylor & Francis, CRC. hlm. 44. ISBN 978-0-7487-7516-3.





  36. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 382–387.
  37. ^


    a




    b




    c



    Kittel 2005, hlm. 65.

  38. ^


    Zemann, J. (1 January 1958). “Berechnung von Madelung’schen Zahlen für den NiAs-Typ”.
    Acta Crystallographica.
    11
    (1): 55–56. doi:10.1107/S0365110X5800013X.





  39. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 386.
  40. ^


    a




    b




    c




    Dienes, Richard J. Borg, G.J. (1992).
    The physical chemistry of solids. Boston: Academic Press. hlm. 123. ISBN 978-0-12-118420-9.





  41. ^


    Brackett, Thomas E.; Brackett, Elizabeth B. (1965). “The Lattice Energies of the Alkaline Earth Halides”.
    Journal of Physical Chemistry.
    69
    (10): 3611–3614. doi:10.1021/j100894a062.





  42. ^


    “YCl3 – Yttrium trichloride”.
    ChemTube3D. University of Liverpool. 2008. Diakses tanggal
    19 January
    2016
    .




  43. ^


    a




    b




    Ellis, Arthur B. []; et al. (1995).
    Teaching general chemistry: a materials science companion
    (edisi ke-3. print). Washington: American Chemical Society. hlm. 121. ISBN 0-8412-2725-X.




  44. ^


    a




    b




    Hoppe, R. (January 1966). “Madelung Constants”.
    Angewandte Chemie International Edition in English.
    5
    (1): 95–106. doi:10.1002/anie.196600951.





  45. ^


    Bhagi, Ajay; Raj, Gurdeep (2010).
    Krishna’s IAS Chemistry. Meerut: Krishna Prakashan Wahana. hlm. 171. ISBN 978-81-87224-70-9.





  46. ^

    Wenk & Bulakh 2004, hlm. 778.

  47. ^


    Verwey, E. J. W. (1947). “Physical Properties and Cation Arrangement of Oxides with Spinel Structures I. Cation Arrangement in Spinels”.
    Journal of Chemical Physics.
    15
    (4): 174–180. Bibcode:1947JChPh..15..174V. doi:10.1063/1.1746464.





  48. ^


    Verwey, E. J. W.; de Boer, F.; van Santen, J. H. (1948). “Cation Arrangement in Spinels”.
    The Journal of Chemical Physics.
    16
    (12): 1091. Bibcode:1948JChPh..16.1091V. doi:10.1063/1.1746736.





  49. ^


    Thompson, P.; Grimes, Tepi langit. W. (27 September 2006). “Madelung calculations for the spinel structure”.
    Philosophical Magazine. Vol. 36 no. 3. hlm. 501–505. Bibcode:1977PMag…36..501T. doi:10.1080/14786437708239734.





  50. ^


    Alberti, A.; Vezzalini, G. (1978). “Madelung energies and cation distributions in olivine-type structures”.
    Zeitschrift für Kristallographie – Crystalline Materials.
    147
    (1–4): 167–176. doi:10.1524/zkri.1978.147.14.167.





  51. ^

    Ashcroft & Mermin 1977, hlm. 384.
  52. ^


    a




    b




    Souquet, J (October 1981). “Electrochemical properties of ionically conductive glasses”.
    Solid State Ionics.
    5: 77–82. doi:10.1016/0167-2738(81)90198-3.




  53. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    Schmalzried, Hermann. “Point defects in ternary ionic crystals”.
    Progress in Solid State Chemistry.
    2: 265–303. doi:10.1016/0079-6786(65)90009-9.




  54. ^


    a




    b




    Prakash, Satya (1945).
    Advanced inorganic chemistry. New Delhi: S. Chand & Company Ltd. hlm. 554. ISBN 978-81-219-0263-2.





  55. ^

    Kittel 2005, hlm. 376.

  56. ^

    http://www.wou.edu/las/physci/ch412/oxides.html

  57. ^


    Whitten, Kenneth W.; Galley, Kenneth D.; Davis, Raymond E. (1992).
    General Chemistry
    (edisi ke-4th). Saunders. hlm. 128. ISBN 0-03-072373-6.





  58. ^


    Davidson, David (November 1955). “Amphoteric molecules, ions and salts”.
    Journal of Chemical Education.
    32
    (11): 550. Bibcode:1955JChEd..32..550D. doi:10.1021/ed032p550.





  59. ^


    Weller, Mark; Overton, Tina; Rourke, Jonathan; Armstrong, Fraser (2014).
    Inorganic chemistry
    (edisi ke-Sixth). Oxford: Oxford University Press. hlm. 129–130. ISBN 978-0-19-964182-6.





  60. ^

    McQuarrie & Rock 1991, hlm. 503.

  61. ^


    Pauling, Linus (1928-04-01). “The Influence of Relative Ionic Sizes on the Properties of Ionic Compounds”.
    Journal of the American Chemical Society.
    50
    (4): 1036–1045. doi:10.1021/ja01391a014. ISSN 0002-7863.





  62. ^


    Tosi, M. P. (2002). Gaune-Escard, Marcelle, ed.
    Molten Salts: From Fundamentals to Applications. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 1. ISBN 978-94-010-0458-9.





  63. ^

    Freemantle 2009, hlm. 1.

  64. ^

    Freemantle 2009, hlm. 3–4.
  65. ^


    a




    b




    c




    Rebelo, Luis P. Ufuk.; Canongia Lopes, José N.; Esperança, José M. S. S.; Filipe, Eduardo (2005-04-01). “On the Critical Temperature, Normal Boiling Point, and Vapor Pressure of Ionic Liquids”.
    The Journal of Physical Chemistry B.
    109
    (13): 6040–6043. doi:10.1021/jp050430h. ISSN 1520-6106.





  66. ^


    Porterfield, William W. (2013).
    Inorganic Chemistry a Unified Approach
    (edisi ke-2nd). New York: Elsevier Science. hlm. 63–67. ISBN 978-0-323-13894-9.




  67. ^


    a




    b




    Johnston, T. L.; Stokes, R. J.; Li, C. H. (December 1959). “The ductile–brittle transition in ionic solids”.
    Philosophical Magazine. Vol. 4 no. 48. hlm. 1316–1324. Bibcode:1959PMag….4.1316J. doi:10.1080/14786435908233367.





  68. ^


    Kelly, A.; Tyson, W. R.; Cottrell, A. H. (1967-03-01). “Ductile and brittle crystals”.
    Philosophical Magazine. Vol. 15 no. 135. hlm. 567–586. Bibcode:1967PMag…15..567K. doi:10.1080/14786436708220903. ISSN 0031-8086.





  69. ^


    Stillwell, Charles W. (January 1937). “Crystal chemistry. V. The properties of binary compounds”.
    Journal of Chemical Education.
    14
    (1): 34. Bibcode:1937JChEd..14…34S. doi:10.1021/ed014p34.





  70. ^

    Brown 2009, hlm. 89–91.

  71. ^

    Brown 2009, hlm. 91–92.

  72. ^

    Brown 2009, hlm. 413–415.
  73. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 422.

  74. ^


    “Electrical Conductivity of Ionic Compound”. Diakses tanggal
    2 December
    2012
    .





  75. ^

    Zumdahl 1989, hlm. 341.
  76. ^


    a




    b




    Gao, Wei; Sammes, Nigel M (1999).
    An Introduction to Electronic and Ionic Materials. World Scientific. hlm. 261. ISBN 978-981-02-3473-7.





  77. ^


    West, Anthony R. (1991). “Solid electrolytes and mixed ionic?electronic conductors: an applications overview”.
    Journal of Materials Chemistry.
    1
    (2): 157. doi:10.1039/JM9910100157.





  78. ^


    Boivin, J. C.; Mairesse, G. (October 1998). “Recent Material Developments in Fast Oxide Ion Conductors”.
    Chemistry of Materials.
    10
    (10): 2870–2888. doi:10.1021/cm980236q.





  79. ^

    Pauling 1960, hlm. 105.
  80. ^


    a




    b




    c




    d



    Pauling 1960, hlm. 107.

  81. ^

    Wenk & Bulakh 2004, hlm. 774.

  82. ^


    Kurlansky, Mark (2003).
    Salt: a world history
    (edisi ke-1st). London: Vintage. ISBN 978-0-09-928199-3.





  83. ^


    Lower, Simon (2014). “Naming Chemical Substances”.
    Chem1
    General Chemistry Virtual Textbook

    . Diakses tanggal
    14 January
    2016
    .





  84. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 150–157.

  85. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 761–770.

  86. ^

    Atkins & de Paula 2006, hlm. 163–169.

  87. ^


    Reeves TG. Centers for Disease Control. Water fluoridation: a manual for engineers and technicians [PDF]; 1986 [cited 2016-01-18].

  88. ^


    Satake, M; Mido, Y (1995).
    Chemistry of Colour. Discovery Publishing House. hlm. 230. ISBN 978-81-7141-276-1.





  89. ^

    Russell 2009, hlm. 14.

  90. ^

    Russell 2009, hlm. 82.

  91. ^

    Russell 2009, hlm. 108–117.

  92. ^

    Russell 2009, hlm. 129–133.

  93. ^


    Xu, Ruren; Pang, Wenqin; Huo, Qisheng (2011).
    Beradab inorganic synthetic chemistry. Amsterdam: Elsevier. hlm. 22. ISBN 978-0-444-53599-3.





  94. ^

    Zumdahl & Zumdahl 2015, hlm. 822.

  95. ^

    Zumdahl & Zumdahl 2015, hlm. 823.

  96. ^


    Gupta, Chiranjib Kumar (2003).
    Chemical metallurgy principles and practice. Weinheim: Wiley-VCH. hlm. 359–365. ISBN 978-3-527-60525-5.





  97. ^

    IUPAC 2005, hlm. 68.

  98. ^

    IUPAC 2005, hlm. 70.

  99. ^

    IUPAC 2005, hlm. 69.

  100. ^


    Kotz, John C.; Treichel, Paul M; Weaver, Gabriela C. (2006).
    Chemistry and Chemical Reactivity
    (edisi ke-Sixth). Belmont, CA: Thomson Brooks/Cole. hlm. 111. ISBN 0-534-99766-X.





  101. ^

    IUPAC 2005, hlm. 75–76.

  102. ^

    IUPAC 2005, hlm. 75.

  103. ^


    Gibbons, Cyril S.; Reinsborough, Vincent C.; Whitla, W. Alexander (January 1975). “Crystal Structures of K2MgCl4
    and Cs2MgCl4“.
    Canadian Journal of Chemistry.
    53
    (1): 114–118. doi:10.1139/v75-015.





  104. ^

    IUPAC 2005, hlm. 76.

  105. ^

    IUPAC 2005, hlm. 76–77.
  106. ^


    a




    b




    c




    d




    e



    IUPAC 2005, hlm. 77.

  107. ^

    IUPAC 2005, hlm. 77–78.

  108. ^


    Fernelius, W. Conard (November 1982). “Numbers in chemical names”.
    Journal of Chemical Education.
    59
    (11): 964. Bibcode:1982JChEd..59..964F. doi:10.1021/ed059p964.




  109. ^


    a




    b



    Brown 2009, hlm. 38.
Baca juga:   Taksirlah Hasil Operasi Hitung Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan Berikut

Daftar referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  • Ashcroft, Neil W.; Mermin, N. David (1977).
    Solid state physics
    (edisi ke-27th repr.). New York: Holt, Rinehart and Winston. ISBN 0-03-083993-9.



  • Atkins, Peter; de Paula, Julio (2006).
    Atkins’ physical chemistry
    (edisi ke-8th). Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-870072-2.



  • Barrow, Gordon M. (1988).
    Physical chemistry
    (edisi ke-5th). New York: McGraw-Hill. ISBN 0-07-003905-4.



  • Brown, Theodore L.; LeMay, H. Eugene, Jr; Bursten, Bruce E.; Lanford, Steven; Sagatys, Dalius; Duffy, Neil (2009).
    Chemistry: the central science: a broad perspective
    (edisi ke-2nd). Frenchs Forest, N.S.W.: Pearson Australia. ISBN 978-1-4425-1147-7.



  • Freemantle, Michael (2009).
    An introduction to ionic liquids. Cambridge: Buar Society of Chemistry. ISBN 978-1-84755-161-0.



  • International Union of Pure and Applied Chemistry, Division of Chemical Nomenclature (2005). Neil G. Connelly, ed.
    Nomenclature of inorganic chemistry: IUPAC recommendations 2005
    (edisi ke-New). Cambridge: RSC Publ. ISBN 0-85404-438-8. Diarsipkan dari versi nirmala sungkap 2016-02-03. Diakses copot
    2021-03-07
    .



  • Kittel, Charles (2005).
    Introduction to solid state physics
    (edisi ke-8th). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons. ISBN 0-471-41526-X.



  • McQuarrie, Donald A.; Rock, Peter A. (1991).
    General chemistry
    (edisi ke-3rd). New York: W.H. Freeman and Co. ISBN 0-7167-2169-4.



  • Pauling, Linus (1960).
    The nature of the chemical bond and the structure of molecules and crystals: an introduction to modern structural chemistry
    (edisi ke-3rd). Ithaca, N.Y.: Cornell University Press. ISBN 0-8014-0333-2.



  • Russell, Michael S. (2009).
    The chemistry of fireworks
    (edisi ke-2nd). Cambridge, UK: RSC Pub. ISBN 978-0-85404-127-5.



  • Wenk, Hans-Rudolph; Bulakh, Andrei (2004).
    Minerals: Their Constitution and Origin
    (edisi ke-1st). New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-39390-5.



  • Wold, Aaron; Dwight, Kirby (1993).
    Solid State Chemistry Synthesis, Structure, and Properties of Selected Oxides and Sulfides. Dordrecht: Springer Netherlands. ISBN 978-94-011-1476-9.



  • Zumdahl, Steven S. (1989).
    Chemistry
    (edisi ke-2nd). Lexington, Mass.: D.C. Heath. ISBN 0-669-16708-8.



  • Zumdahl, Steven; Zumdahl, Susan (2015).
    Chemistry: An Atoms First Approach. Cengage Learning. ISBN 978-1-305-68804-9.





Senyawa Ion Umumnya Mempunyai Sifat Sifat Berikut Kecuali

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Senyawa_ionik