Siapa Pembuat Cidomo Dari Kampung Tenges Enges

By | 15 Agustus 2022

Siapa Pembuat Cidomo Dari Kampung Tenges Enges.

Cidomo atau kadang disebut Cimodok adalah alat transportasi tenaga kuda khas pulau Lombok, secara awak sarana ini mirip dengan delman alias gerobak nan terdapat di pulau Jawa, hanya cuma, penyebutan nama sarana ini, berbeda-tikai, tersampir tempatnya. Cidomo yakni singkatan dari bendi, kereta kuda, otomobil. Perbedaan utamanya dengan delman atau sado adalah alih-alih menunggangi roda kayu, cidomo menggunakan besikal otomobil bekas laksana rodanya. Setakat ketika ini alat transportasi ini masih menjadi alat angkut utama transportasi terutama lega daerah-distrik yang tidak dijangkau maka dari itu angkutan publik dan kawasan-daerah sentra ekonomi rakyat seperti pasar.

Cikar adalah sarana alias bekas angkut penumpang tanpa atap dan kuda. Sedangkan dokarnya yaitu keseluruhan penggalan termaktub atap. Sebutan otomobil dipakai karena kendaraan ini mengalir dengan tenaga kuda sebagai perangkat transportasi. “Bergeraknya itulah yang membuat ia disebut mobil,” kata Muhasah, salah sendiri tukang pembentuk cidomo, di Kampung Tenges-enges, Dasan Tapen, Gerung, Lombok Barat.
Mengenai akronim ini, memang sudah lama akrab di alat pendengar masyarakat Mataram dan Lombok Barat, meskipun tidak suka-suka keterangan tentu bahwa singkatan tersebut memang benar. Yang tentu, takdirnya menyoal mengapa disebut cidomo, maka hampir semua yang ditanya menjawab, cikar, andong, mobil.
Tidak Lombok Barat dan Mataram, lain lagi Lombok Tengah, Lada Timur, Sumbawa dan Bima. Sebagian turunan Lombok Tengah menyebut kendaraan ini umpama delman, biarpun sebagian pula juga menamainya dengan cidomo. Yang unik, Lombok Timur menamai kendaraan tradisional ini perumpamaan becak. Sejumlah lainnya juga masih memanggil cidomo. “Setakat dinas Camat, mendaki hanya lanca,” ungkap Ana, mahasiswa dasar Lombok Timur kepada kawannya lewat telepon. Ia kembali menjelaskan, bagi bani adam Lombok Timur, becak nan dimaksud yakni cidomo.
Di Pulau Sumbawa orang menegur wahana ini bagaikan dokar dan benhur. Orang Sumbawa mengenal ki alat nan dikendarai sais ini dengan sebutan pedati. Sebutan ini sejak lama sudah dipakai, bahkan boleh dibilang sejak kendaraan ini menjadi transportasi tradisional masyarakat Sumbawa. Meskipun setimpal-ekuivalen berada di Pulau Sumbawa, individu Bima dan Dompu menegur kendaraan tradisional ini dengan sebutan benhur. Kedatangan sarana umum tradisional ini terbilang cukup banyak di NTB. Ribuan kusir mengantar penumpang dari satu tujuan ke maksud lainnya, setiap masa di NTB. Menurut Drs. Anis Masyur, Atasan Jawatan Perhubungan Kota Mataram, saat ini ada sekitar 700-an cidomo yang beroperasi tiap hari di kota Mataram.
Jumlah ini ternyata mutakadim terjadi penurunan yang memadai radikal kalau dibandingkan dengan musim 2004 lewat. Ketika itu jumlah cidomo di kota Mataram mencapai 2000 unit. Penghamburan kuantitas ini, menurut Anis, terjadi karena penurunan total penumpang nan sejauh ini mengandalkan transportasi tradisional ini. “Penumpang beralih ke kendaraan pribadi yang jumlahnya pula meningkat. Keberadaan ojek yang sudah ada damping di setiap perempatan-perempatan Daerah tingkat Mataram kembali masuk mempengaruhi,” tandasnya.
Dampaknya, banyak kusir cidomo yang beralih profesi, karena pemasukan yang dianggap tidak dapat menepati kebutuhan sehari-hari. Penurunan penghasilan, mungkin dirasakan oleh sebagian kusir. Namun, kerjakan Nasrun dan kawan-kawannya, penghasilan mereka terbilang lumayan. Pasalnya, Nasrun dan beberapa kusir lainnya, memilih menjadi kusir cidomo di daerah tamasya Senggigi dan Gili Trawangan serta gili-gili lainnya, di Lada Barat.
Penghasilan sais wisata ini terbilang lautan. Untuk berkeliling dengan cidomo kawasan tersendiri wisata ini, wisatawan bisa mencarternya sekali jalan Rp 20 ribu sampai Rp 200 ribu. Dengan Rp 20 ribu, wisatawan bisa berkeliling Senggigi sekali perkembangan. Namun, jika ingin menjejak kota Mataram, harga carter hingga Rp 200 ribu.
Sebanyak 16 cidomo individual wisata di Senggigi ini, mengaku bukan terlalu sering bolak balik mengantar penumpang, karena harus menunggu wisatawan yang bukan setiap saat membutuhkan ki alat tradisional ini. Sehari kadang kala enggak punya penumpang, namun seandainya ada penumpang esoknya penghasilan dapat meliputi kebutuhan sebelumnya. “Jika harus dirata-ratakan, penghasilan sehari bisa bakal biaya pelestarian, makanan kuda dan biaya usia seketurunan. Sampai-sampai terkadang masih dapat disisihkan aktual tabungan untuk membeli aksesoris cidomo,” pembukaan Nasrun.
Membentuk citra baik dengan aksesoris menjadi pertimbangan para kusir cidomo di distrik pariwisata. Kognisi para sais terhadap kebersihan terbilang cukup baik. Kantong-kocek pungkur jaran majuh tampak bersih. Begitu juga dengan jalan-jalan raya sepanjang Senggigi, nonblok dari kotoran kuda. “Jikalau ada sempuras kuda yang runtuh dan kami enggak menyadarinya, biasanya kembalinya dari mengantar tamu, kami bersihkan pula,” imbuh Nasrun. Ini sudah disepakati bersama oleh pada sais wisata ini.
Cidomo-cidomo tamasya ini tidak beroperasi dari pagi, melainkan dimulai pada pengetuk 15.00 hingga malam periode. Tetapi, jika ada yang cak hendak berkeliling sreg pagi hari, harus memesan terlebih sangat. Mereka bebas mangkal di mana saja di kawasan Senggigi. Semata-mata, ada aturan yang sudah disepakati bersama, yaitu siapa nan kian dulu mangkal, dialah yang akan mendapatkan penumpang terlebih adv amat baru diikuti oleh yang cak bertengger berikutnya.
Peristiwa terdepan yang belalah diperhatikan kusir yakni keselamatan dan kenyamanan penumpang. Maklum penumpang mereka yaitu wisatawan dari berbagai negara. Hal inilah yang harus dibayar mahal penumpangnya

Baca juga:   Soal Tes Calon Kepala Sekolah Dan Kunci Jawaban

Siapa Pembuat Cidomo Dari Kampung Tenges Enges

Source: https://info-campursari.blogspot.com/2009/03/cidomo-alat-transportasi-tradisional.html