Siapa Tokoh Utama Dan Tokoh Tambahan Dalam Cerita Putri Tangguk

By | 12 Agustus 2022

Siapa Tokoh Utama Dan Tokoh Tambahan Dalam Cerita Putri Tangguk.

Cerita Putri Tangguk




Pemudi Tangguk tinggal bersama laki dan ketujuh anaknya di daerah Jambi. Nona Tangguk memiliki sepetak sawah yang ditanami gabah. Anehnya, setiap selesai panen, padinya bosor makan unjuk dan siap kerjakan dipanen pula. Tambahan pula, ketujuh kabu-kabu Dara Tangguk erat penuh kerjakan menggampar hasil panennya.

    Saat panen buncit, Putri Tangguk mengajak suami dan semua anaknya ke sawah. Mereka memasukkan hasil panen ke cikar.

    ”Panen sudah radu. Sepertinya, persediaan antah kita sudah cukup bagi sejumlah bulan,” perkenalan awal Cewek Tangguk.

    Kemudian, mereka memurukkan delman bersama-sama. Di tengah perjalanan, Dayang Tangguk jatuh terpeleset.

    ”Aduuuuh…,” teriak Amoi Tangguk.

    ”Lever-hati, Bu. Semalam hujan rimbun. Jalannya menjadi licin,” pembukaan suami Gadis Tangguk serentak membantunya berdiri.

    ”Gara-gara hujan, jalannya licin. Perjalanan ke rumah masih jauh, boleh-dapat aku tercatak juga,” gerutu Putri Tangguk.

    Putri Tangguk mengambil padi berbunga gerobaknya. Kemudian, padi ditebar di jalan. Melihat perilaku ibunya, si anak sulung pun bertanya.

    ”Apa yang Ibu lakukan? Cak kenapa Ibu membuang padi itu ke jalan?”

    ”Ibu tidak membuang padi. Gabah ini Ibu gunakan umpama penukar ramal. Ibu menebarnya moga perkembangan ini tak licin lagi,” jawab Putri Tangguk.

    ”Istriku, bukankah padi itu bagi kita makan? Tidak baik rasanya sekiranya membuang-buang peranakan,” nasihat junjungan Perempuan Tangguk.

    Putri Tangguk lain memedulikan nasihat suaminya. Bahkan, Putri Tangguk membantahnya.

    ”Hari bodoh. Bukankah padi kita sudah banyak. Apa kau mau aku terjatuh juga dan tulangku potol?” sanggah Perawan Tangguk sambil terus menebar gabah ke jalan.

Baca juga:   Dalam Ekspresi Boolean Yang Harus Diuji Adalah Nilai

    Setelah panen terakhir, Gadis Tangguk bukan jalinan juga ke sawah. Ia berada di rumah untuk merawat ketujuh anaknya. Suatu malam bontot Kuntum Tangguk merengek karena lapar. Akhirnya, Putri Tangguk ke tungku untuk menjeput nasi. Sungguh terkejutnya ketika dia mendapati pancinya zero.

    ”Cak kenapa panci ini nihil? Bukankah tadi masih tersisa sedikit nasi?” pertanyaan Pemudi Tangguk relung hati.

    Karena si bungsu terus merengek, Dayang Tangguk pun memutuskan untuk menanak nasi. Namun, Perempuan Tangguk kembali tersingahak detik pergok beras yang ia simpan kerumahtanggaan kaleng lagi penyap.

    ”Ke mana perginya beras itu? Aku bangun masih banyak beras di sini sebelumnya. Jangan-jangan ada orang nan mencurinya,” perkenalan awal Putri Tangguk.

    Kemudian, Perempuan Tangguk membujuk momongan bungsunya untuk tidur. Tubin ia berencana buat menarung padi nan disimpan di lumbungnya.

    Pagi harinya Upik Tangguk tersentak mendengar laung suaminya.

    ”Istriku…istriku…cepat kemari,” teriak suami Gadis Tangguk.

    Dayang Tangguk lekas berlari menemui suaminya. Ia menghinggapi suaminya yang bernas di depan pintu lumbung. Kamu pun menyoal kepada suaminya.

    ”Suka-suka barang apa suamiku?” cak bertanya Perempuan Tangguk dengan cemas.

    ”Aku tidak tahu, istriku. Lumbung ini mutakadim kosong saat aku membukanya,” jawab junjungan Pemudi Tangguk.

    Dara Tangguk dan suaminya bergegas memeriksa terup yang lain. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ketujuh lumbungnya telah kosong. Dara Tangguk pun menangis.

    ”Barang apa yang terjadi padaku? Tadi lilin lebah nasi dan beras hilang. Saat ini pari di kapuk pun pula ikut menghilang,” jerit Amoi Tangguk.

Baca juga:   Does the Teacher Give You Homework

    ”Jangan mencacau, istriku. Bukankah kita masih memiliki sawah. Tulat kita ke sawah. Siapa adv pernah padinya telah menguning,” hibur suami Putri Tangguk.

    Keesokan paginya Putri Tangguk mengikuti suaminya ke sawah dengan cemas. Setibanya di sawah, tangis Putri Tangguk semakin keras karena merodong sawahnya sudah lalu berubah menjadi semak belukar.

    Gadis Tangguk menagis seharian. Bahkan, ia lain mau pulang dan menongkrongi sawahnya hingga tertidur. Dalam mimpinya, Putri Tangguk didatangi segerombolan pari nan dapat bertutur.

    ”Hai, Kuntum Tangguk. Inilah biji zakar berusul kesombonganmu. Masih ingatkah ia ketika membuang kami ke jalan?” tanya padi-padi itu.

    ”Kau telah menghina kami. Kau telah menjadikan kami pasir untuk alas jalanmu. Kami ini dipanen untuk dimakan, lain buat dibuang mengawur. Dengan membuang kami, berarti ia tidak membutuhkan kami cak bagi makananmu,” kata padi-padi itu lagi.

    Putri Tangguk hanya bisa diam dan tidak menjawab. Ia menyesali kebodohannya. Kamu pun memohon magfirah kepada padi-gabah itu.

    ”Tak bisakah kalian memaafkanku? Aku telah menyesali perbuatanku,” kata Pemudi Tangguk sambil menangis.

    ”Saat ini kau dan keluargamu harus membanting tulang. Bersihkan sawah ini, bajaklah, lalu tanamlah kami pun. Setelah tiga bulan, barulah kalian dapat menuai kami kembali,” jawab padi-antah itu.

    Saat Putri Tangguk ingin menjawab, engkau tersentak bangun dari tidurnya. Dayang Tangguk kembali juga pulang. Kemudian, ia mengobrolkan mimpinya kepada suaminya. Keesokan harinya keluarga Perempuan Tangguk bergotong royong membersihkan sawah dan menanam padi. Ia dan keluarganya merawat sawah dan menjaga padinya dengan baik. Mereka menunggu dengan lunak hingga pari yang mereka tanam siap dipanen. Pemudi Tangguk juga berjanji tidak akan menyia-nyiakan sebiji pari pun hasil panen bermula sawahnya.

Baca juga:   Gambar Bagian Bunga Mawar Dan Cara Penyerbukannya

Disadur terbit Kisah Putri Tangguk, http://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-jambi-cerita-daerah-jambi-terbaik/undefined

Jawablah cak bertanya berikut berdasarkan cerita berjudul Kisah Putri Tangguk tersebut!


3. Mana tahu pelaku utama dan tokoh tambahan dalam cerita di depan?

undefined

Siapa Tokoh Utama Dan Tokoh Tambahan Dalam Cerita Putri Tangguk

Source: https://roboguru.ruangguru.com/question/jawablah-pertanyaan-berikut-berdasarkan-cerita-berjudul-kisah-putri-tangguk-tersebut-3-siapa_QU-TX2Y5NNF