Siapakah Yang Selalu Bersalawat Kepada Nabi

By | 12 Agustus 2022

Siapakah Yang Selalu Bersalawat Kepada Nabi.

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Pembina Pesantren Tahfidzul Alquran, Redaktur Senior MINA

Di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 Allah bertutur:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Selayaknya Almalik dan para malaikat-Nya demap bershalawat kepada Nabi Muhammad. Wahai sosok-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan betapa-bukan main.”

Setidaknya ada tiga hal besar yang bisa kita pahami dari ayat tersebut, ialah:

Mula-mula, Allah cangap bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kedua, Malaikat juga demap bershalawat kepada Rasul Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketiga, perintah untuk makhluk-orang beriman buat bershalawat dan bersalam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Shalawat mempunyai makna asal berdoa. Adapun Tuhan bershalawat kepada Nabi,  maksudnya adalah memberikan hadiah dan ridha-Nya. Demikian Imam Al-Qurtubi menjelaskan di n domestik kitab tafsirnya, Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân.

Padahal shalawatnya para malaikat kepada Utusan tuhan, berjasa doa dan permohonan ampun (istighfar) mereka bagi Nabi.

Tentang shalawat kita perumpamaan umat beliau ialah pengultusan kita terhadap kursi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Itu semua bukan signifikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membutuhkan doanya para malaikat dan umat bakal kebaikan diri beliau. Bila Rasulullah butuh terhadap doanya malaikat dan umatnya yang maujud shalawat, maka hendaknya shalawat Tuhan kepada Nabi telah bertambah berpunca cukup.

Perbedaan makna shalawat yang dilakukan makanya Allah dan para malaikat serta orang-orang beriman semuanya dimaksudkan buat satu hal, yakni memperlihatkan pengagungan kepada Nabi dan menghormati kedudukan Nabi yang mulia sebagaimana mestinya.

Hal ini seperti ketika Tuhan memerintahkan kita untuk selalu mengingat-Nya, bukan berarti Sang pencipta butuh diingat oleh hamba-Nya. Namun karena menunjukkan kebesaran dan singgasana-Nya.

Baca juga:   Apa Artinya What Do You Mean

Dalam hal ini Imam Fakhrudin Ar-Razi di dalam kitab kata keterangan Mafâtîhul Ghaib menjelaskan “Bershalawat kepada Nabi bukanlah karena kebutuhan Rasul kepadanya. Bila Utusan tuhan membutuhkan shalawat, bukan ada kebutuhan terhadap shalawatnya malaikat yang bersamaan dengan shalawatnya Allah kepada Nabi. Shalawat itu tetapi buat menampakkan pemuliaan terhadap Nabi, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengingat Dzat-Nya provisional Allah tidak memiliki kebutuhan buat diingat. Situasi itu semata-indra penglihatan karena untuk menampakkan sikap pengagungan terhadap Nabi berpangkal kita dan bakal Allah menerimakan pahala bagi kita atas pengagungan tersebut.”

Lebih lanjut, bershalawat kepada Rasul menjadi sarana untuk mendapatkan pahala dan hadiah dari Allah yang berlimpah ruah. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahun ‘Alaihi Wasallam rangkaian berucap:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah bershalawat kepadanya dasa kali.” (HR Muslim).

Pada riwayat lain dari sahabat Anas meriwayatkan sebuah hadits:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa nan bershalawat kepadaku maka shalawatnya setakat kepadaku dan aku bershalawat kepadanya dan ditulis baginya selain itu dasa kemustajaban.” (HR Ath-Thabrani).

Bani adam yang membujur shalawat berpokok Yang mahakuasa berarti dia mendapatkan rahmat yang sangat besar dari-Nya. Hal ini bisa dipahami setidaknya dari ekspresi Rasulullah ketika diberitahu malaikat Jibril perihal orang yang bershalawat kepada Nabi akan mendapat deka- shalawat dari Almalik. Saat itu Rasulullah seketika bersujud silam lama sekali seumpama rasa syukur bahwa umatnya mendapat anugerah nan begitu besar dari Allah hanya dengan bershalawat sekali saja.

Dengan demikian sesungguhnya yang membutuhkan shalawat bukanlah diri Rasulullah, namun umat beliau. Sebab ketika seseorang bershalawat kepadanya maka sira akan mendapatkan limpahan anugerah mulai sejak shalawatnya itu.

Baca juga:   Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Ciri Ciri Perum Adalah

Maka, ketika kita membaca shalawat kepada Utusan tuhan, plong hakikatnya yaitu kita menengah memohon rahmat Allah bagi diri kita koteng, yang jauh makin banyak mulai sejak rahmat yang kita mohonkan bikin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Semakin banyak kita bershalawat kepada Rasul, maka akan semakin banyak dan berlimpah pula karunia Almalik yang dianugerahkan kepada kita. Apalagi seandainya membiasakan diri menggandakan shalawat kepada

Bila demikian adanya maka perintah Tuhan kepada turunan-orang berkepastian untuk bershalawat kepada Nabi, sesungguhnya bukan saja kerjakan memerintahkan mereka memenuhi hak-kepunyaan Rasulullah dengan bershalawat. Namun pula laksana sarana bikin orang-orang berkeyakinan untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan.

Sebaliknya, janganlah kita termasuk orang yang bakhil alias pelit bin medit, karena enggan membaca shalawat kepada Nabi. Lebih-lebih saat stempel Nabi disebutpun, kita lain bershalawat.

N domestik peristiwa ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita dalam riwayat berbunga Ali bin Abi Thalib.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ. رواه الترمذي.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Makhluk yang tinggal pelit adalah sosok yang ketika namaku disebut di sampingnya, ia tidak mau membaca shalawat kepadaku.” (HR At-Tirmidzi).

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad…… Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad…… Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad…… Aamiin. (L/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (Mina)

Siapakah Yang Selalu Bersalawat Kepada Nabi

Source: https://umma.id/article/share/id/1002/323847