Spanyol Dikuasai Eropa Secara Penuh Setelah

By | 15 Agustus 2022

Spanyol Dikuasai Eropa Secara Penuh Setelah.

Kilap Sejarah Spanyol
Alhambra-petit.jpg
Spanyol Prasejarah
Spanyol Romawi
Spanyol Abad Pertengahan
– Nasion Visigoth
– Al-Andalus
– Penundukan Pun
Zaman Ekspansi
Zaman Pencerahan
Reaksi dan Rotasi
Republik Spanyol Pertama
Restorasi
Republik Spanyol Kedua
Perang Plasenta Spanyol
Tadbir Diktatur
Transisi menumpu demokrasi
Spanyol modern
Topik
Ki kenangan Ekonomi
Ki kenangan Militer
Sejarah Sosial

Al-Andalus
(bahasa Arab:
الأندلس,

translit.



al-andalus

‎) ialah nama berusul episode Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah maka dari itu orang Islam, maupun orang Moor antara tahun 711 dan 1492.[1]
Al-Andalus juga besar perut disebut
Andalusia, sekadar penggunaan ini mempunyai keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol maju Andalusia.

Waktu supremsi Islam di Iberia dimulai sejak Pemberontakan Guadalete, momen pasukan Umayyah pimpinan Thariq polong Ziyad mengalahkan orang-bani adam Visigoth nan tanggulang Iberia. Awalnya Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah (711-755), lalu berubah menjadi sebuah keamiran (756-929), sebuah kekhalifahan sendiri (929-1031), dan akhirnya terpecah menjadi “taifa” atau “Muluk ath-Thawaif” dalam bahasa Arab yakni kerajaan-imperium kecil (1031-1492).

Karena pada kesudahannya orang-orang Kristen berhasil merebut kembali Iberia mulai sejak tangan umat Selam dalam proses yang disebut
Reconquista
(secara harfiah berarti “penaklukkan ulang”), nama
Al-Andalus
rata-rata bukan merujuk kepada Iberia secara mahajana, tetapi kepada daerah-daerah yang dikuasai para Muslim pada zaman dahulu. Pada 1236, benteng ragil umat Islam di Spanyol, Granada menyatakan tunduk kepada Fernando III dari Kastilia, dan menjadi negara kaki tangan Kastilia, hingga pada 1492 Muhammad XII takluk sepenuhnnya kepada
Los Reyes Católicos
(Kekaisaran Katolik Spanyol) yang dipimpin oleh Fernando II mulai sejak Aragon dan Isabel I dari Kastilia. Sedangkan kekuasaan Islam di Portugal berjarak pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III. Kekalahan penguasa Mukminat kemudian diikuti makanya Inkuisisi Spanyo|penganiyaan dan pengenyahan terhadap kabilah Muslim dan Yahudi di Spanyol.[2]


Asal perkenalan awal “Al-Andalus”

[sunting
|
sunting sumber]

Sumber akar kata
al-andalus
masih belum disetujui para pakar bahasa dan ahli sejarah.

Etimologi dari merek
Al-Andalus
belum diketahui secara tentu. Nama ini digunakan untuk merujuk kepada ancol Iberia atau wilayah Selatan Iberia yang dikuasai umat Islam, dan bukti paling tadinya semenjak cap ini yakni pada koin yang dicetak oleh pemerintah Selam di Iberia sekitar 715 (masa pencetakan lagi tak pasti karena koin dituliskan dalam Latin dan Arab, dan keduanya memberikan tahun yang farik).[3]
Terdapat sekurang-kurangnya tiga teori etimologi yang koneksi diusulkan maka dari itu para jauhari Barat, semuanya menganggap bahwa nama ini berpunca berpokok zaman pengaruh Romawi di Tanjung Iberia.

Teori pertama adalah etiket tersebut bermula dari Vandal, tungkai Jerman yang menguasai sebagian Iberia selama 407-429. Pelecok suatu sarjana yang menerima teori ini adalah Reinhart P. Dozy, sejarawan abad ke-19.[4]
Teori kedua adalah berbunga dari Arabisasi prolog “Atlantik”. Pendukung teori ini yaitu ahli sejarah Spanyol Vallvé.[5]
Teori ketiga yang diajukan maka dari itu Halm (1989)[6]
adalah bahwa nama ini berawal dari tera nan diberikan suku Visigoth yang berwenang di Iberia pada abad ke-5 hingga 9. Kerumahtanggaan bahasa Latin, Iberia Visigoth disebut
Gothica Sors
(lahan undian Goth). Halm memprediksikan bahwa dalam bahasa Gothic “petak lot” bisa jadi disebut
*landahlauts, dan ia mensyurkan dari sinilah radiks nama Al-Andalus berpangkal.

Ketiga teori ini semuanya tak memiliki bukti historis, sehingga bisa dikatakan amat lemah. Pelopor dan pembela dari ketiga teori ini semuanya merupakan sejarawan. Tetapi belakangan, ahli bahasa telah diikutsertakan internal diskusi ini. Argumen-argumen berpokok guna-guna sejarah, ilmu bahasa dan toponimi (ilmu yang mempelajari merek daerah), lebih lanjut menunjukkan kelemahan semua teori diatas, dan bahwa nama Al-Andalus ternyata berpunca berpangkal tahun Romawi.[7]

Sejarah

[sunting
|
sunting sendang]

Sejarah strata nan dilalui umat Selam di Iberia dapat dibagi menjadi enam periode, dimana tiap waktu mempunyai warna pemerintahan dan dinamika masyarakat spesial. Sejak purwa kali menginjakkan tungkai di tanah Spanyol hingga jatuhnya pemerintahan Islam bontot di sana, Islam memainkan peranan nan sangat segara.

Penguasaan dan masa-masa awal

[sunting
|
sunting sumber]

Sebelum keikhlasan umat Islam, daerah Iberia adalah kerajaan Hispania nan dikuasai makanya anak adam Kristen Visigoth. Pada 711, pasukan Umayyah nan sebagian besar ialah bangsa Moor dari Afrika Barat Laut, menyerbu Hispania dipimpin jenderal Thariq polong Ziyad, dan di sumber akar perintah dari Kekhalifahan Umayyah di Damaskus. Pasukan ini mendarat di Gibraltar lega 30 April, dan terus menuju utara. Setelah mengalahkan Raja Roderikus berasal Visigoth dalam Pertempuran Guadalete (711), supremsi Islam terus berkembang hingga pada 719 hanya daerah Galisia, Basque dan Asturias yang tidak menyerah kepada kekuasaan Islam. Setelah itu, armada Islam menyebelah Pirenia untuk menaklukkan Prancis, semata-mata berhasil dihentikan oleh kaum Frank dalam perlagaan Tours (732). Distrik yang dikuasai Muslim Umayyah ini disebut kewedanan Al-Andalus, terdiri dari Spanyol, Portugal dan Prancis selatan waktu ini.

Pada awalnya, Al-Andalus dikuasai oleh seorang wali (gubernur) yang ditunjuk oleh Khalifah di Damaskus, dengan musim jabatan biasanya 3 tahun. Lega periode ini penstabilan politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, bencana-provokasi masih terjadi, baik datang dari dalam ataupun berpunca luar. Godaan dari luar datang dari ampas-cerih musuh Selam yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan nan memang tidak nikah mau tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri, dan akhirnya berhasil mendirikan Kerajaan Asturias, yang berbuah mengalahkan kaum Muslimin dalam Pertempuran Covadonga pada tahun 721.

Gangguan dari dalam antara bukan kasatmata pertengkaran di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan rukyah antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara nan berfokus di Al-Qairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berwenang menguasai daerah Iberia.

Maka itu karena itu, terjadi dua desimal kali perlintasan penanggung jawab (gubernur) Spanyol dalam paser waktu yang amat singkat. Perbedaan penglihatan ketatanegaraan itu menyebabkan seringnya terjadi perang sipil. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama, antara suku Berber radiks Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat dua golongan yang bersambung-sambung bersaing, yaitu Quraisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering mana tahu menimbulkan konflik politik, terutama saat tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Iberia plong detik itu bukan ada gubernur yang kaya mempertahankan kekuasaannya buat paser waktu yang tebak lama.

Pada periode 740-an, terjadi perang sipil yang menyebabkan melemahnya pengaturan khalifah. Puas 746, Yusuf Al-Fihri memenangkan perang sipil tersebut, menjadi seorang penguasa yang tak terikat kepada pemerintahan di Damaskus.

Karena seringnya terjadi konflik n domestik dan berperang menghadapi lawan dari asing, maka privat periode ini kaum Muslimin di Al-Andalus belum memasuki kegiatan pembangunan di latar peradaban dan kebudayaan.

Namun, menurut Ahmad Thomson, perselisihan itu sekadar terjadi di landasan elit strategi. Masyarakat Mukmin di Andalusia secara mahajana hidup dalam ketenteraman dan kebaikan. Mereka kehidupan dengan berusaha berkaca inspirasi berasal sahabat Nabi, juga menerapkan Al-Quran dan Sunnah semampu mereka. Misalnya, pada masa itu, makhluk Muslim berbondong-bondong belajar agama kepada para syaikh dan Ulama, seperti itu juga masyarakat Andalusia. Mereka menugasi seseorang yang bernama Yahya bin Yahya Al-Laythi bagi belajar kepada Imam Malik bin Anas. Di kemudian masa, ia menjadi Pastor Madzhab Maliki.[8]

Keamiran dan Kekhalifahan Kordoba

[sunting
|
sunting sumur]

Pada 750, bani Abbasiyah menjatuhkan rezim Umayyah di Damaskus, dan merebut kekuasaan atas daerah-daerah Arabia. Hanya pada 756, pangeran Umayyah di pengasingan Abdurrahman I (Ad-Dakhil) melengserkan Yusuf Al-Fihri, dan menjadi penguasa Kordoba dengan gelar Amir Kordoba. Abdurrahman menunda bikin tunduk kepada kekhalifahan Abbasiyah nan baru terbimbing, karena pasukan Abbasiyah sudah menjagal sebagian osean keluarganya. Sira memerintah sepanjang 30 hari, semata-mata punya kekuasaan yang lemah di Al-Andalus dan ia berusaha menekan pemberontakan berasal pendukung Al-Fihri maupun khalifah Abbasiyah.

Sepanjang satu setengah abad berikutnya, keturunannya menggantikannya bagaikan Amir Kordoba, yang memiliki pengaruh tertulis atas seluruh Al-Andalus bahkan kadang kala meliputi Afrika Paksina bagian barat. Pada kenyataannya, kekuasaan Amir Kordoba, terutama di kewedanan yang berbatasan dengan suku bangsa Kristen, majuh mengalami naik-turun tergantung kecakapan dari sang Amir yang sedang berkuasa. Amir Abdullah bin Muhammad bahkan hanya memiliki kekuasaan atas Kordoba belaka.

Pada pertengahan abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kemartiran. Sahaja, Gereja Kristen lainnya di seluruh Al-Andalus tidak meletakkan simpati pada gerakan itu, karena pemerintah Islam melebarkan kebebasan beragama. Pemukim Kristen diperbolehkan punya pidana seorang berdasarkan hukum Serani. Peribadatan enggak dihalangi. Lebih mulai sejak itu, mereka diizinkan mendirikan gereja baru, biara, di samping asrama rahib atau lainnya. Mereka pun tidak dihalangi bekerja sebagai sida-sida pemerintahan maupun menjadi karyawan sreg instansi militer.

Gangguan politik yang paling serius puas periode ini cak bertengger berasal umat Selam seorang. Golongan pemberontak di Thulaithulah pada tahun 852 membentuk negara kota nan berlangsung sejauh 80 hari. Di samping itu sejumlah orang yang tak puas menggalakkan sirkuit. Yang terpenting di antaranya merupakan perkelahian nan dipimpin oleh ‘Umar polong Hafshun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaqah. Provisional itu, perselisihan antara basyar-orang Berber dan orang-makhluk Arab masih comar terjadi.

Cucu Abdullah, Abdurrahman III, menggantikannya pada 912, dan dengan cepat menimpali yuridiksi Umayyah atas Al-Andalus dan bahkan Afrika Utara fragmen barat. Pada 929 dia menggotong dirinya sebagai Khalifah, sehingga keamiran ini sekarang n kepunyaan kedudukan setara dengan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan kekhalifahan Syi’ah di Tunis.

Periode kekhalifahan ini dianggap oleh para penyadur Mukmin sebagai hari keemasan Al-Andalus. Hasil panen yang diperoleh melalui tali air serta bahan makanan yang diimpor berusul Timur Paruh mencukupi untuk penghuni Kordoba dan kota-daerah tingkat lainnya di Al-Andalus, dengan sektor ekonomi pertanian paling kecil maju di Eropa. Kordoba dibawah kekhalifahan ini memiliki populasi sekitar 500.000, cundang Konstantinopel misal kota terbesar kerumahtanggaan hal jumlah maupun kemakmuran penghuni di Eropa.[9]
N domestik mayapada Islam, Kordoba adalah keseleo satu pusat budaya yang maju. Karya-karya ilmuwan dan filsuf Al-Andalus, seperti Abul Qasim dan Ibnu Rusyd memiliki pengaruh besar terhadap hayat ilmuwan di Eropa zaman pertengahan.

Basyar-orang Muslim dan non-Orang islam comar nomplok dari luar kewedanan cak bagi belajar di majemuk persuratan dan perkumpulan terkenal di Al-Andalus. Yang paling populer yaitu Michael Scot, yang pertal karya-karya Anak lelaki Rusyd, Ibnu Sina, dan Al-Bitruji dan membawanya ke Italia. Karya-karya ini kemudian memiliki dampak penting dalam berawalnya Renaisans di Eropa.[10]
[11]

Masa
Taifa
pertama


[sunting
|
sunting sumur]

Kekhalifahan Kordoba mengalami kejatuhan n domestik perang tembuni antara 1009 sebatas 1013, dan akhirnya dihapuskan pada 1031. Al-Andalus sekarang terpecah menjadi banyak kerajaan kecil, nan disebut
taifa. Lega musim ini, umat Selam di Al-Andalus kembali memasuki waktu pertikaian privat. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada sultan-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan ketatanegaraan Islam itu, bikin pertama kalinya turunan-orang Kristen pada masa ini start mengambil inisiatif penyerbuan. Biarpun spirit politik tidak stabil, cuma semangat ilmuwan terus berkembang puas periode ini. Keraton-istana mendorong para jauhari dan sastrawan cak bagi mendapatkan perlindungan dari satu keraton ke istana enggak.
[kontol rujukan]

Baca juga:   Kawat Tembaga Pada Kabel Listrik Termasuk Sifat Benda

Taifa-taifa ini sreg umumnya amat rengsa sehingga tidak dapat mempertahankan diri menghadapi serangan-ofensif dan tuntutan upeti dari kerajaan-kerajaan Serani di kawasan utara dan barat, antara lain Kerajaan Navarre, León, Portugal, Kastilia dan Aragon, serta Barcelona. Alhasil serangan-bidasan ini berubah menjadi pencaplokan, sehingga taifa-taifa di Al-Andalus meminta sambung tangan bermula Bani Murabithun yang berhaluan Selam fundamental di Afrika Utara. Orang-orang Murabitun mengalahkan baginda Kastilia Alfonso VI, dalam Pertempuran Zallāqah dan Pertempuran Uclés, dan akhirnya menguasai Al-Andalus.
[penis rujukan]


Murabitun, Muwahidun, dan Banu Marin

[sunting
|
sunting sumber]

Muhammad XII dari Granada menyerah kepada Raja Ferdinand dan Paduka tuan Isabella.

Pada 1086, pemimpin Murabitun di Maroko Yusuf kedelai Tasyfin diundang oleh para bangsawan Muslim di Iberia kerjakan mempertahankan Iberia dari Alfonso VI, raja Kastilia dan León. Pada waktu itu kembali Yusuf seberang selat Gibraltar berkiblat Algeciras, dan mengecundang kaum Masehi dengan telak kerumahtanggaan pertempuran Zallāqah. Lega 1094, Yusuf bin Tasyfin mengancaikan yuridiksi berpunca semua penguasa-penguasa mungil Islam di Iberia, dan mengoper semua area mereka, kecuali Saraqusthah, yang pada akhirnya jatuh ke tangan Aragon plong tahun 1118. Sira juga merebut Valencia dari tangan umat Serani.

Pada tahun 1143, pengaturan Murabithun ini berakhir, baik di Afrika Utara atau di Spanyol dan digantikan maka itu Muwahidun. Di Spanyol sendiri, sepeninggal Murabithun, pada semula unjuk sekali lagi taifa-taifa kecil, saja hanya berlangsung tiga periode. Plong musim 1146, penguasa Muwahhidun yang berpusat di Afrika Paksina merebut kewedanan ini. Penguasa Muwahidun menjangkitkan ibu daerah tingkat Al-Andalus ke Sevilla pada 1170, dan cundang paduka Kastilia Alfonso VIII dalam Bantahan Alarcos (1195).

Kerjakan jangka beberapa dekade, daulah ini mengalami banyak keberuntungan. Manfaat-guna Serani dapat dipukul mengaret. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada 1212 pertalian Imperium Kristen Kastilia, Navarra, Aragon, dan Portugal mengecundang kaum Muwahidun pada Pertempuran Las Navas de Tolosa, dan menguati prabu Muwahidun menyingkir Iberia. Umat Islam di Iberia kembali terpecah n domestik taifa-taifa nan lemah, dan dengan cepat ditaklukkan maka itu Portugal, Kastilia dan Aragon. Setelah jatuhnya Murcia (1243) dan Algarve (1249), semata-mata Keamiran Granada yang dipimpin Banu Nashri-lah negara Islam nan terlambat, doang hanya sebagai negara pion yang membayar upeti kepada Kekaisaran Kastilia. Upeti ini berupa emas dari area yang sekarang bernama Mali dan Burkina Faso, yang dibawa melalui sagur perbisnisan di Gurun Gurun.

Pada abad ke-14, Banu Marin di Maroko mengalami kemajuan dan mengancam kerajaan-imperium Masehi di Iberia. Banu Marin kemudian mengambil alih Granada dan menduduki ii kabupaten-kotanya, sama dengan Algeciras. Belaka, mereka gagal merebut Tarifa, yang berkuat dari terjangan Banu Marin sebatas kesanggupan Tentara Kastilia pimpinan Paduka tuan Alfonso XI. Alfonso XI, dibantu Afonso IV terbit Portugal dan Pedro IV dari Aragon, mengalahkan Banu Marin puas Pertempuran Rio Salado (1340) dan merebut Al-Jaziratul Khadhra’ (1344). Alfonso XI pula mengepung Gibraltar, yang detik itu dikuasai Granada, selama 1349-1350, belaka Alfonso XI dan sebagian raksasa pasukannya dibinasakan oleh pandemi Kematian Hitam pada tahun 1350.[12]
Penggantinya, Pedro berpunca Kastilia (Si Tebal hati), mengemudiankan berdamai dengan umat Islam dan bergumul melawan kerajaan-imperium Kristen yang bukan.[13]
Peristiwa ini menandai dimulainya 150 periode pemberontakan dan perang sipil umat Masehi di Eropa, yang menyelesaikan keberadaan Granada.

Keamiran Granada

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah perjanjian perdamaian dengan Aji Pedro bermula Kastilia, Granada menjadi sebuah negara yang aman merdeka hingga hampir 150 tahun berikutnya. Umat Islam diberi independensi, kedaulatan mengalir dan beragama, dan dibebaskan terbit persembahan selama 3-perian. Sehabis tiga tahun, umat Islam diharuskan membayar upeti tidak makin bersumber yang diharuskan sebelumnya plong masa Banu Nasri. Peradaban juga mengalami kemajuan seperti pada zaman Abdurrahman III. Akan sahaja, secara politik, dinasti ini cuma berkuasa di kawasan nan boncel.
[butuh rujukan]

Pada 1469, terjadi pernikahan antara Raja Fernando II mulai sejak Aragon dan Ratu Isabel I dari Kastilia yang mengisyaratkan serbuan terhadap Granada, yang direncanakan secara pilih-pilih dan didanai dengan baik. Fernando dan Isabel kemudian bonafide Paderi Siktus IV bikin menyatakan perang mereka perumpamaan perang kudus. Mereka mengecundang satu persatu perlawanan umat Islam dan akhirnya pengepungan tersebut berakhir saat Sultan Granada Muhammad Bubuk Abdullah (Boabdil) menerimakan istana dan pertahanan Granada, Alhambra kepada kekuasaan Masehi, dan menandai berakhirnya supremsi Islam di Iberia.
[butuh rujukan]

Masyarakat

[sunting
|
sunting mata air]

Masyarakat Al-Andalus terdiri dari tiga kelompok terdahulu berdasarkan agama: Mukminat, Masehi, dan Yahudi. Privat tiap-tiap kota, komunitas-komunitas ini terlampau di daerah yang berbeda. Umat Islam sendiri, walaupun disatukan oleh agama yang sama, kadang terbagi-bagi menurut etnis, terutama perbedaan antara orang Arab dan individu Berber. Hamba allah-orang Arab habis di episode daksina dan di Lurah Ebro di timur laut, sedangkan orang-orang Berber tinggal di daerah pegunungan yang kini berada di lor Portugal, dan di Meseta Central. Muzarab (atau
Mozarab/Musta’rib) adalah orang Kristen yang nyawa dalam otoritas Islam di Al-Andalus dan mengikuti banyak rasam, kesenian, dan pengenalan-kata dari bahasa Arab, tetapi masih memiara leluri dan ibadah Kristen mereka dan bahasa individu Latin yang mereka miliki, disebut Bahasa Muzarab.

Orang-sosok Yahudi biasanya bekerja sebagai pedagang, pengutip pajak, sinse atau mahaduta. Pada intiha abad ke-15 terwalak selingkung 50.000 Yahudi di Granada dan 100.000 di seluruh Al-Andalus.[14]

Mukmin dan Non-Muslim di Al-Andalus

[sunting
|
sunting sumber]

Perlakuan terhadap non-Muslim

[sunting
|
sunting sendang]

Rancangan dari koteng penyanyi Ibrani mendaras narasi Pesakh di
Al-Andalus.

Perlakuan terhadap non-Muslim di Al-Andalus yakni korban sawala dan perdebatan di antara para ahli dan para pengamat, terutama mereka yang terikat dengan kehadiran bersama umat Orang islam dan non-Muslim di dunia berbudaya. Suku bangsa non-mukminat di Al-Andalus, seperti Serani dan Yahudi, dalam hukum Islam merupakan
dzimmi, nan bebas menjalankan tajali agamanya, lain didorong untuk turut Selam, saja membayar pajak yang disebut
jizyah.[15]
Para pandai berpendapat bahwa agama minoritas (termuat Yahudi) di Al-Andalus yang dikuasai umat Islam diperlakukan jauh makin baik daripada di negeri Eropa Barat nan dikuasai Kristen, dan mereka hidup n domestik “masa keemasan” ketabahan, tukar menghormati dan keharmonisan antarumat beragama.

Al-Andalus merupakan taktik sentral peradaban Ibrani plong Abad Pertengahan, dan menghasilkan ilmuwan-cendekiawan kenamaan, seperti Maimonides, rabbi, filsuf, dan mantri yang menjadi ikon hari keemasan Yahudi di Al-Andalus. Awam Yahudi di Al-Andalus juga merupakan salah suatu masyarakat Yahudi yang minimum stabil dan minimum makmur. Sementara itu umat Kristen di Al-Andalus disebut suku bangsa Muzarab. Kabilah Muzarab adalah keturunan orang Kristen terdahulu di Spanyol nan tegar memeluk Kristen cuma mengadopsi budaya Arab.[15]
Bahasa mereka, Bahasa Muzarab, merupakan bahasa Roman nan dipengaruhi oleh bahasa Arab dan dituliskan kerumahtanggaan abjad Arab.

María Rosa Menocal, spesialis sastra Iberia di Universitas Yale, berpendapat bahwa “kesabaran merupakan aspek melekat lega masyarakat Andalus”.[16]
Dalam bukunya
The Ornament of the World
(2003), Menocal berpendapat bahwa sebagai
dzimmi, agama minoritas di Al-Andalus diberikan hak yang lebih abnormal daripada umat Muslim, semata-mata masih lebih baik tinimbang di daerah Eropa yang dikuasai Kristen. Khalayak-orang Yahudi dan sekte-sekte Kristen nan dianggap terlarang datang dari seluruh Eropa ke Al-Andalus, medan mereka menerima toleransi.

Bernard Lewis n kepunyaan penglihatan nan berbeda, dan berpendapat bahwa “klaim ketabahan yang masa ini banyak didengar dari apologis Muslim, dan khususnya apologis untuk Islam, merupakan hal baru dan enggak diketahui asal-usulnya.”[17]
Lewis memurukkan bahwa Mukmin dan non-Muslim diberikan perlakuan sama puas masa lampau. Ia juga mengatakan “bagaimana mungkin orang yang memeluk agama yang etis dan bani adam yang menolaknya dipelakukan sama? Ini merupakan hal yang mustahil secara doktrin atau logika”[17]

Panjat turunnya kekuasaan Islam

[sunting
|
sunting sendang]

Penguasa Al-Andalus memperlakukan non-Muslim farik-beda sejauh waktu. Salah satu masa toleransi yakni masa kontrol Abdurrahman III dan Al-Hakam II, saat Yahudi Al-Andalus mengalami kemakmuran, mencurahkan hidupnya untuk meladeni Kekhalifahan Kordoba, mempelajari sains, penggalasan, dan industri, terutama perbisnisan sutera dan budak, yang ikut memakmurkan negeri Al-Andalus. Al-Andalus menjadi suaka bagi suku bangsa Yahudi yang teraniaya di negeri-daerah tak.

Orang-makhluk Kristen di Al-Andalus, dipicu oleh kamil dari umat Masehi lain di sejauh perbatasan
Al-Andalus
sewaktu-waktu mengistimewakan klaim-klaim Agama Serani, dan dengan sengaja mencari kemartiran, lebih-lebih selama masa-masa toleransi. Misalnya, 48 orang Kristen Kordoba melakukan pencemoohan terhadap agama Selam, dan akhirnya dipenggal. Mereka sengaja melakukan tersebut agar senyap sebagai saksi, dan mereka dikenal umpama Martir Kordoba. Beberapa orang dari generasi berikutnya-pun meneruskan hal ini, dan mereka sepenuhnya tahu apa vitalitas yang menimpa pendahulu mereka.[18]

Setelah kematian Al-Hakam II puas 976, situasi mulai mereput bagi non-Muslim puas umumnya. Hampir 100 tahun berikutnya, pada 30 Desember 1066, situasi penganiayaan purwa terjadi detik kaum Yahudi diusir dan ratusan keluarga dibunuh karena enggak ingin menghindari Granada, dan kerusuhan setelahnya menewaskan sekitar 3.000 orang.[19]
Penganiayaan terhadap Ibrani juga terjadi sesekali pada musim Murabitun dan Muwahidun,[20]
belaka sendang nan ada amat sedikit dan lain mengasihkan paparan nan jelas tentang peristiwa ini.[21]

Momen terjadi kekerasan terhadap non-Muslim, banyak ilmuwan Ibrani dan bahkan Muslim yang meninggalkan negeri kekuasaan Muslim merentang Toledo, yang bertambah n kepunyaan toleransi dan telah dikuasai makanya armada Kristen. Sekitar 40,000 Yahudi bergabung dengan legiun Kristen, dan sisanya menyatu dengan pasukan Murabitun menghadapi paduka tuan Alfonso VI dari Kastilia.

Penguasa Muwahidun yang mengambil alih kekuasaan Murabitun lega 1147,[22]
makin fundamentalis dari Murabitun, dan memperlakukan non-Muslim dengan keras. Takut akan kematian atau paksaan mengimbit agama, banyak anak adam Yahudi yang pindah ke daerah Muslim yang lebih toleran di Selatan dan Timur,[23]
atau ke negeri Masehi di Lor.[24]
[25]
Keluarga Maimonides seorang pindah ke daerah Muslim yang lebih toleran. Namun, penguasa Muwahidun juga mendorong perkembangan seni dan catatan, menghasilkan di antaranya Ibnu Tufail, Bani Araby, dan Ibnu Rusyd.[22]

Peradaban

[sunting
|
sunting sumber]

C.W. Previte-Orton menulis dalam
Cambridge Medieval History, batik[26]

Banyak suku, agama, dan ras kehidupan kontan di Al-Andalus, dan masing-masing menderma terhadap kemajuan intelektual di Andalus. Sendisendi jauh lebih tersebar luas di Al-Andalus dibanding di negara lainnya di Barat.[27]
Sejarah cendekiawan Al-Andalus terpandang mulai sejak hasilnya faktual banyaknya intelektual Islam dan Ibrani.

Kemajuan intelektual Al-Andalus bermula dari perseteruan ilmuwan antara Anak lelaki Umayyah yang menguasai Al-Andalus, dengan Bani Abbasiyah yang berkuasa di Timur Tengah. Penguasa Umayyah berusaha memperbanyak perpustakaan dan rancangan pendidikan di daerah tingkat-kota Al-Andalus seperti Kordoba, bagi mengalahkan ibu daerah tingkat Abbasiyah Baghdad. Lamun Ibni Umayyah dan Anak lelaki Abbasiyah ubah adu cepat, kedua kekhalifahan ini mengizinkan pelawatan antara kedua kekhalifahan ini dengan bebas, yang membantu penyebaran dan perlintasan ide serta inovasi dari periode ke waktu.

Baca juga:   Bentuk Desimal Dari Pecahan 7 8 Adalah

Puas abad ke-10, daerah tingkat Kordoba n kepunyaan 700 bandarsah, 60.000 puri, dan 70 bibliotek, dan pelecok suatu perpustakaan yang terbesar mempunyai hingga 500.000 naskah.[28]
[29]
Andai proporsi, taman bacaan terbesar di Eropa Kristen saat itu memiliki tak lebih pecah 400 naskah, bahkan pada abad ke-14 Universitas Paris baru n kepunyaan sekitar 2.000 buku.[28]
Taman bacaan, dabir, penjual buku, pembuat kertas, dan sekolah-sekolah di seluruh Al-Andalus menerbitkan sebanyak 60.000 pusat tiap tahunnya, termasuk risalah, puisi, polemik dan antologi.[28]
Ibarat perbandingan, Spanyol modern menerbitkan rata-rata 46.300 daya tiap tahunnya, menurut UNESCO.[30]

Filosofi

[sunting
|
sunting perigi]

Filosofi Islam Andalus

[sunting
|
sunting sumber]

Bani Rusyd: pemikir, tabib, dan ilmuwan Mukmin terkemuka berpokok Al-Andalus.

Ahli tarikh Said Al-Andalusi batik bahwa Khalifah Abdurrahman III (912-961) mengumpulkan sejumlah samudra buku dan memberikan perlindungan bagi para ilmuwan yang mempelajari medis dan “ilmu-ilmu kuno”. Penggantinya Khalifah Al-Hakam II (Al-Mustansir), membangun sebuah perkumpulan dan bilang taman bacaan di Kordoba. Kordoba menjadi salah satu pusat penelaahan medis dan filosofi terkemuka di bumi.

Namun ketika anak Al-Hakam II Hisyam II naik geta (976), kekuasaan yang sebenarnya mewah di tangan Al-Mansur bin Abi Amir.[31]
Ia yakni tokoh agama yang bukan menyukai aji-aji manifesto, sehingga banyak muslihat yang dikumpulkan dengan susah penat oleh Al-Hakam II dibakar di depan umum. Pasca- kematian Al-Mansur pada 1002, filosofi di Al-Andalus bangkit kembali. Beberapa cendikiawan tersohor bermunculan, termasuk Maslamah Al-Majriti (?-1008), seorang petualang berani yang menjelajahi daerah-daerah Islam dan provinsi enggak, dan tergabung dalam organisasi Ikhwan As-Shafa. Al-Majriti kontributif pemertalan karya Ptolemeus
Almagest, takhlik dan memperbaiki beraneka rupa tabel ilmu falak, dan mempelopori geodesi serta triangulasi.[32]

Murid Al-Majriti yang populer adalah Bubuk Hakam Al-Kirmani,[33]
yang kemudian menjadi guru bagi filsuf dan dokter terkemuka Ibnu Bajjah (Avempace), yang bersalin
magnum opus
berjudul
Tadbir al-Mutawahhid.

Dalang utama lainnya yaitu Ibnu Thufail, penghuni tahir Wadi ‘Asy, sebuah dusun mungil di jihat timur Granada dan wafat pada usia lanjut pada tahun 1185. Anda banyak menulis masalah medis, astronomi dan makulat. Karya filsafatnya yang adv amat terkenal adalah
Hayy polong Yaqzhan.

Episode penghabisan abad ke-12 M menjadi saksi munculnya koteng penganut Aristoteles nan terbesar di arena makulat n domestik Islam, yaitu Bani Rusyd berpokok Qurthubah. Sira lahir pada tahun 1126 dan meninggal perian 1198. Ciri khasnya ialah kecermatan intern menafsirkan tulisan tangan-skenario Aristoteles dan kehati-hatian privat menggeluti masalah-masalah menahun tentang harmoni metafisika dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya
Bidayatul Mujtahid.

Filosofi dan kebudayaan Ibrani

[sunting
|
sunting sumber]

Maimonides, pemikir dan dokter Yahudi terkenal terbit Al-Andalus.

Dengan adanya toleransi terhadap Yahudi di Al-Andalus, dan mundurnya taktik kebudayaan Ibrani di Babilonia, Al-Andalus menjadi siasat pemikiran-pemikiran akademikus Ibrani. Penulis-perekam seperti Judah Halevi (1086-1145) dan Dunash ben Labrat (920-990) mempunyai sumbangan terhadap semangat Al-Andalus, dan kian penting lagi menerimakan sumbangan bagi kronologi filosofi Yahudi. Puncak dari filsafat Yahudi adalah filsuf Yahudi dasar Al-Andalus Maimonides (1135-1205), yang menerbitkan karya-karyanya di Maroko dan Mesir, karena menghindari dinasti Muwahidun yang berkuasa dengan gigih di Al-Andalus. Ia mendongeng kiat
Panduan bakal nan Panik, dan memperbaharui hukum Ibrani, sehingga dijuluki “Musa baru” (nama depan Maimonides sendiri adalah Moses/Musa).[15]

Kedokteran

[sunting
|
sunting mata air]

Lukisan bermula peralatan kedokteran pada masa Al-Andalus.

Dokter dan tabib berbunga Al-Andalus punya sumbangan yang signifikan bagi bidang kedokteran, termasuk ilmu urai dan ilmu faal. Di antaranya adalah Abul Qasim Az-Zahrawi (Abulcasis), “buya aji-aji bedah berbudaya”,[34]
yang menuliskan
Kitab at-Tashrif, kiat utama dalam medis dan ilmu bedah.
At-Tashrif
merupakan ensiklopedia yang terdiri dari 30 piutang, yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Latin dan digunakan dalam sekolah kedokteran di peradaban Eropa ataupun Islam selama berabad-abad.

Hobatan pengetahuan

[sunting
|
sunting sumber]

‘Abbas bin Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan ilmu perbintangan. Adalah orang pertama nan menemukan pembuatan kaca terbit bisikan. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam aji-aji ilmu falak. Anda dapat menentukan waktu terjadinya gerhana mentari dan menentukan berapa lamanya. Ia kembali berbuah membentuk cak semprong beradab yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-medali. Ahmad kedelai Ibas berusul Qurthubah yaitu ahli kerumahtanggaan bidang obat-obatan. Ummul Hasan binti Abi Ja’far dan ari-ari perempuan al-Hafidz yaitu dua orang pandai kedokteran berasal galangan wanita.
[butuh rujukan]

N domestik bidang memori dan geografi, distrik Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Anak lelaki Jubair berpokok Valencia (1145-1228) menulis tentang negeri-negeri Muslim di Laut Tengah dan Sisilia; serta Ibnul Khatib (1317-1374) menyusun riwayat Granada. Sejarawan di atas bersemayam tinggal di Al-Andalus, yang kemudian pindah ke Afrika.
[burung rujukan]

Religiositas

[sunting
|
sunting sumur]

Dalam bidang fiqh, Al-Andalus dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini di sana ialah Ziyad bin ‘Abdul Rahman. Jalan selanjutnya ditentukan maka dari itu Ibn Yahya nan menjadi qadhi pada masa Hisyam I. Pandai-ahli fiqh lainnya di antaranya merupakan Abuk Bakr bin Al-Quthiyyah, Mundzir bin Sa’id al-Balluthi dan Ibnu Hazm yang terkenal.
[ceceh rujukan]

Kesenian dan sastra

[sunting
|
sunting sumber]

Dalam bidang musik dan suara, Al-Andalus mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan kacang Nafi’ nan dijuluki Ziryab. Setiap kali diselenggarkan perjumpaan dan jamuan, Ziryab selalu tampil mendemonstrasikan kebolehannya. Sira juga terkenal andai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan pun kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
[butuh rujukan]

Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi privat rezim Selam di Al-Andalus. Keadaan itu bisa diterima oleh individu-individu Islam dan non-Selam. Apalagi, penghuni tahir Spanyol menomor-duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak nan ahli dan mahir internal bahasa Arab, baik ketangkasan berbicara maupun paramasastra. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibnu Malik yang bercerita
Alfiyyah, Anak laki-laki Khuruf, Ibnul Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan bin Usfur, dan Abuk Hayyan al-Gharnathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti
Al-‘Iqdul Farid
karya Ibnu Abdu Rabbih,
Al-Dzakhirahji Mahasin Ahlul Semenanjung
oleh Ibnu Bassam, Kitab
Al-Qalaid
buah karya Al-Fath bin Khaqan, dan sebagainya.
[burung rujukan]

Arsitektur

[sunting
|
sunting sumber]

Aspek-aspek pembangunan fisik yang berkat perhatian ummat Islam habis banyak. Dalam perbisnisan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Bidang pertanian demikian pula. Sistem pengairan baru diperkenalkan kepada masyarakat Iberia yang tidak mengenal sebelumnya. Dam-dam, kanal-serokan, terusan sekunder, tersier, dan keretek-jembatan air didirikan. Tempat-medan nan tinggi, dengan semacam itu, pun mendapat habuan jatah air.

Orang-orang Arab membudayakan pengaturan hidraulis untuk pamrih irigasi. Kalau dam digunakan untuk mengecek guyur air, waduk (balong) dibuat untuk preservasi (penyimpanan air). Pengaturan hidraulis itu dibangun dengan memperkenalkan roda air bawah Persia yang dinamakan
naurah
(bahasa Spanyol:

La Noria
). Disamping itu, khalayak-orang islam pula memasyarakatkan pertanian padi, perkebunan sitrus, kebun-kebun dan taman-ujana.

Pembangunan-pembangunan jasmani yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, sebagaimana pembangunan kota, istana, masjid, permukiman, dan taman-ujana. Di antara pembangunan yang besar-besaran merupakan Masjid Kordoba, Madinatul Zahra, Keraton Ja’fariyah di Saraqusthah, tembok Toledo, Puri Al-Makmun, Giralda, dan Puri Al-Hamra’ di Gharnathah.
[butuh rujukan]

Kordoba

[sunting
|
sunting sumber]

Kordoba adalah salah satu kota utama Visigoth, yang kemudian diambil alih oleh Ibni Umayyah. Oleh penguasa Muslim, kota ini dibangun dan diperindah. Jembatan ki akbar dibangun di atas kali besar nan mengalir di tengah kota. Yojana-taman dibangun bagi menghiasi ibu kota Al-Andalus tersebut. Pohon-pohon dan bunga-bunga diimpor terbit Timur. Di seputar ibu kota takut kastil-istana yang megah yang semakin mempercantik pemandangan, setiap kastil dan taman diberi label individual dan di puncaknya terpasang Istana Damaskus. Di antara kebesarhatian daerah tingkat Kordoba lainnya adalah Masjid Agung Kordoba. Menurut Anak lelaki ad-Dala’i, terwalak 491 masjid di sana. Disamping itu, ciri distingtif ii kabupaten-kota Selam adalah adanya tempat-tempat pemandian. Di Kordoba sekadar terletak sekitar 900 pemandian. Di sekitarnya meleleh perdesaan-perkampungan yang sani. Karena air sungai tak dapat diminum, penguasa Muslim mendirikan saluran air dari gunung-gunung yang panjangnya 80 km.
[butuh rujukan]

Granada

[sunting
|
sunting mata air]

Granada adalah panggung pertahanan bungsu umat Selam di Spanyol. Di sana berkumpul lebihlebihan faedah Arab dan pemikir Islam. Posisi Kordoba diambil alih oleh Granada pada musim-waktu akhir yuridiksi Islam di Spanyol. Arsitektur-arsitektur bangunannya terkenal di seluruh Eropa. Istana Alhambra yang luhur dan megah adalah ki akal dan puncak ketinggian arsitektur Moor. Istana itu dikelilingi yojana-taman yang bukan kalah indahnya.
[butuh rujukan]

Faktor pendukung kesuksesan dan deklinasi

[sunting
|
sunting sumber]

Faktor pendukung keberuntungan

[sunting
|
sunting sumber]

Keberuntungan Al-Andalus lewat ditentukan maka dari itu adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, nan mampu merarai kelebihan-kekuatan umat Islam, sebagai halnya Abdurrahman I, Abdurrahman II, dan Abdurrahman III. Kemenangan politik pemimpin-ketua tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memandu kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting di antara penguasa Bani Umayyah di Al-Andalus n domestik kejadian ini adalah Muhammad I (852-886) dan Al-Hakam II (961-976).
[pelir rujukan]

Ketenangan beragama ditegakkan makanya para penguasa terhadap pemuja agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi membuat peradaban Arab Islam di Iberia. Untuk orang-orang Kristen, sebagaimana juga anak adam-insan Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani penyakit sesuai dengan ajaran agama mereka saban. Umum Al-Andalus yakni publik plural, terdiri dari bermacam-macam komunitas, baik agama atau bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, kekerabatan-komunitas itu boleh bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.

Walaupun ada persaingan yang sengit antara Bani Abbasiyyah di Baghdad dan Umayyah di Al-Andalus, hubungan budaya berusul Timur dan Barat enggak selalu konkret perdurhakaan. Sejak abad ke-11 dan seterusnya, banyak jauhari mengadakan perjalanan dari ujung barat kewedanan Islam ke ujung timur, sewaktu membawa peruasan dan gagasan-gagasan, sehingga membawa kesatuan budaya manjapada Islam.
[penis rujukan]

Perpecahan ketatanegaraan pada hari Mulukul Thawa’if dan sesudahnya tidak menyebabkan mundurnya peradaban. Waktu itu, bahkan merupakan puncak kemajuan ilmu pengetahuan, kesenian, dan tamadun Al-Andalus. Setiap penguasa di Málaga, Toledo, Sevilla, Granada, dan tidak-bukan berusaha menyaingi Kordoba. Kalau sebelumnya Kordoba yakni satu-satunya pusat hobatan dan peradaban Islam di Iberia, Muluk ath-Thawa’if berhasil mendirikan pusat-pusat peradaban baru nan di antaranya justru lebih maju.
[penis rujukan]

Faktor penyebab keruntuhan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Konflik dengan kekaisaran Kristen. Para penguasa Muslim tidak berbuat Islamisasi secara lengkap. Mereka sudah merasa plong dengan taklukannya dan membiarkan mereka mempertahankan syariat dan adat mereka, termasuk posisi tangga tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun, kehadiran Muslim Arab mutakadim memperkuat rasa kewarganegaraan individu-individu Kristen Iberia. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Iberia tak kawin berhenti berasal perbangkangan antara dengan kekaisaran-imperium Kristen.
  • Tidak adanya ideologi pemersatu. Jika di tempat-tempat enggak para muallaf diperlakukan bak mukmin yang selevel, di Iberia, begitu juga kebijakan yang dijalankan Anak laki-laki Umayyah di Damaskus, orang-basyar Arab tak pernah menerima sosok-orang pribumi. Setidak-tidaknya sampai abad ke-10, mereka masih memberi istilah ‘ibad
    dan Muwallad kepada para muallaf itu, suatu kata majemuk yang dinilai merendahkan. Akibatnya, gerombolan-kelompok etnis non-Arab yang cak semau sering menggerogoti dan destruktif perdamaian. Peristiwa itu mendatangkan dampak besar terhadap sejarah sosio-ekonomi distrik tersebut.
  • Kesulitan ekonomi. Di paruh kedua masa Islam di Iberia, para penguasa membangun kota dan berekspansi ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga tengung-tenging membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan menpengaruhi kondisi politik dan militer
  • Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan. Hal ini menyebabkan penyerobotan kekuasaan di antara ahli waris. Bahkan, karena inilah dominasi Bani Umayyah turun dan Beraga ath-Thawaif muncul. Granada nan merupakan pusat pengaruh Selam terakhir di Spanyol jatuh ke tangan Penguasa Katolik di antaranya lagi disebabkan permasalahan ini.
  • Kerahasiaan. Al-Andalus bagaikan terpencil dari dunia Islam yang enggak. Ia selalu berjuang sendirian, sonder mendapat bantuan kecuali dari Afrika Utara. Dengan demikian, bukan ada arti alternatif yang mampu menghalangi kebangkitan Kristen di sana.
    [butuh rujukan]
Baca juga:   Panjang Wilayah Indonesia Dapat Kita Ketahui Dari Letak

Pengaruh atas Eropa

[sunting
|
sunting sumber]

Al-Andalus merupakan tempat nan paling terdahulu kerjakan Eropa kerumahtanggaan menyerap tamadun Selam, baik internal perpautan strategi, sosial, alias perekonomian dan kebudayaan antar negara. Memang banyak susukan bagaimana tamadun Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sisilia dan Perang Salib, saja saluran yang terpenting adalah Al-Andalus.
[butuh rujukan]

Al-Andalus merupakan tempat yang paling utama cak bagi Eropa menyerap peradaban Selam, baik n domestik gambar hubungan strategi, sosial, maupun perekonomian dan kebudayaan antar negara. Orang-cucu adam Eropa menyaksikan informasi bahwa Al-Andalus kaya di bawah otoritas Selam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan badan. Yang terpenting di antaranya adalah pemikiran Anak lelaki Rusyd (1120-1198). Anda melepaskan belenggu taqlid dan mencadangkan kebebasan berpikir dalam-dalam. Engkau mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang nan berpikiran bebas. Sira menyodorkan sunnatullah menurut pengertian Islam terhadap panteisme dan antropomorfisme Serani. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, sampai di Eropa timbul operasi Averroeisme yang menuntut kebebasan berpikir dalam-dalam. Pihak basilika memurukkan pemikiran rasional nan dibawa gerakan Averroeisme ini.
[kontol rujukan]

Berawal dari operasi Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi lega abad ke-16 dan rasionalisme lega abad ke-17. Sentral-rahasia Anak laki-laki Rusyd dicetak di Venesia masa 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500. Bahkan edisi lengkapnya terbit puas masa 1553 dan 1557. Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 di Napoli, Bologna, Lyon, dan Strasbourg, dan di awal abad ke-17 di Jenewa. Pengaruh peradaban Selam, tercantum di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya bujang-bujang Masehi Eropa yang belajar di sekolah tinggi-universitas Islam di Al-Andalus, seperti yang berada di Qurthubah, Isybiliyyah, Malaqah, Gharnathah, dan Salamanca. Sepanjang membiasakan di Al-Andalus, mereka aktif mengalihbahasakan persendian karya ilmuwan-intelektual Orang islam.

Daya penyulihan itu adalah Thulaithulah. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sederajat. Universitas di Eropa adalah Perguruan tinggi Paris yang didirikan pada perian 1231, tiga puluh tahun sehabis meninggalnya Ibnu Rusyd. Di intiha zaman pertengahan Eropa, baru meleleh 18 buah universitas. Di n domestik perserikatan-universitas itu, ilmu nan mereka peroleh berpunca universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, hobatan tentu, dan filsafat. Pemikiran filsafat nan minimum banyak dipelajari yakni pemikiran Al-Farabi, Anak lelaki Sina dan Ibnu Rusyd.

Pengaturan ilmu pengetahuan Islam atas Eropa nan mutakadim berlangsung sejak abad ke-12 itu menimbulkan gerakan kebangkitan lagi (Renaisans) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa mana tahu ini melalui terjemahan-tafsiran Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke intern bahasa Latin. Walaupun suku bangsa Muslimin kesannya terusir berpokok Iberia dengan kaidah yang dulu kejam, hanya warisannya telah membidangi gerakan-gerakan terdahulu di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah: kebangkitan kembali kultur Yunani klasik (Renaisans Yunani) pada abad ke-14 yang bermula di Italia, gerakan reformasi puas abad ke-16, rasionalisme pada abad ke-17, dan pencerahan (aufklärung) pada abad ke-18.
[butuh rujukan]

Pustaka

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^

    “Andalus, al-”
    Oxford Dictionary of Selam. John L. Esposito, Ed. Oxford University Press. 2003. Oxford Reference Online. Oxford University Press. Accessed 12 June, 2006.

  2. ^


    Zagorin, Perez (2003).
    How the Idea of Religious Toleration Came to the West. Princeton University Press. ISBN 0691092702. Diarsipkan berpunca versi murni terlepas 2014-04-07. Diakses tanggal
    2007-10-15
    .





  3. ^


    Bossong, Georg (2002). Restle, David; Zaefferer, Dietmar, ed. “Der Name al-Andalus: neue Überlegungen zu einem alten Problem”
    (PDF).
    Trends in Linguistics. Studies and Monographs. Sounds and systems: studies in structure and change. (dalam bahasa German). Berlin: De Gruyter Mouton.
    141: 149. ISSN 1861-4302. Diarsipkan berpokok versi bersih
    (PDF)
    tanggal June 27, 2008. Diakses tanggal
    8 September
    2013
    .
    Only a few years after the Islamic conquest of Spain,
    Al-Andalus
    appears in coin inscriptions as the Arabic equivalent of
    Hispania. The traditionally held view that the etymology of this name has to do with the Vandals is shown to have no serlous foundation. The phonetic, morphosyntactic, and also historical problems connected with this etymology are too numerous. Moreover, the existence of this name in various parts of central and northern Spain proves that
    Al-Andalus
    cannot be derived from this Germanic tribe. It was the original name of the Punta Marroquí cape near Tarifa; very soon, it became generalized to designate the whole Peninsula. Undoubtedly, the name is of Pre-Indo-European origin. The parts of this compound (beliau
    and
    luz) are frequent in the indigenous toponymy of the Iberian Peninsula.






  4. ^

    Dozy, Reinhart P. 1881. Recherches sur l’histoire et la littérature des Arabes d’Espagne pendant le Moyen-Age.

  5. ^

    Vallvé Bermejo, Joaquín. 1986. The Territorial Divisions of Muslim Spain. Madrid: CSIC (Consejo Superior de Investigaciones Científicas).

  6. ^

    Halm 1989

  7. ^

    Bossong 2002

  8. ^

    Thomson, Ahmad dan Muhammad ‘Ata’ Ur Peranakan. 2004.
    Islam Andalusia: Memori Kebangkitan dan Deklinasi. Gaya Wahana Pratama: Ciputat halaman 42-43

  9. ^

    Tertius Chandler.
    Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census
    (1987), St. David’s University Press (etext.org Diarsipkan 2008-02-11 di Wayback Machine.). ISBN 0-88946-207-0.

  10. ^


    Matthews, Jeff (2004). “The Arab Influence on the Italian Renaissance”. Diakses sungkap
    2007-10-18
    .





  11. ^

    Badawi, Abdurrahman (Desember 1991). “The Toledo school – translators in Toledo, Spain during the Moorish rule – Al-Andalus: where three worlds met“. UNESCO Courier. Diakses pada 18 Oktober 2007.

  12. ^


    “The Black Death”. Channel 4 (Britania). Diakses rontok
    2007-10-15
    .





  13. ^


    “Peter of Castile”.
    Encyclopædia Britannica Eleventh Edition. 1911.





  14. ^

    Wasserstein, 1995, h. 101.
  15. ^


    a




    b




    c



    Omaar, Rageh,
    An Islamic History of Europe Diarsipkan 2011-11-03 di Wayback Machine.. video dokumenter, BBC Four: August 2005.

  16. ^

    The Ornament of the World by María Rosa Menocal, diakses 12 Juni 2006.
  17. ^


    a




    b




    The Jews in Islam, bab 1 situasi. 4

  18. ^


    “Orthodox Europe: St Eulogius and the Blessing of Cordoba”. Diarsipkan dari versi asli sungkap 2012-05-26. Diakses sungkap
    2007-09-22
    .



    , diakses pada 12 Juni, 2006.

  19. ^

    Harzig, Hoerder & Shubert, 2003, h. 42.

  20. ^

    O’Callaghan, 1975, h. 286.

  21. ^

    Roth, 1994, h. 113-116.
  22. ^


    a




    b



    Islamic world. (2007). In Encyclopædia Britannica. Retrieved September 2, 2007, from Encyclopædia Britannica Online.

  23. ^

    Frank and Leaman, 2003, p. 137-138.

  24. ^

    Sephardim

  25. ^

    Kraemer, 2005, pp. 16-17.

  26. ^

    Previte-Orton, 1971,
    The Shorter Cambridge Medieval History: In Two Volumes, vol. 1, h. 376 ISBN 0-521-05993-3

  27. ^

    Previte-Orton (1971), vol. 1, h. 377
  28. ^


    a




    b




    c



    Dato’ Dzulkifli Abd Razak, Quest for knowledge Diarsipkan 2007-12-06 di Wayback Machine.,
    New Sunday Times, 3 July 2005.

  29. ^


    “Qurtuba”. Albalagh. Diakses rontok
    2007-10-15
    .





  30. ^

    UNESCO. Europe Diarsipkan 2006-06-18 di Wayback Machine., Book production: number of titles by UDC classes, UNESCO Institute of Statistics.

  31. ^



    Foundation for Medieval Genealogy
    dan Charles Cawley (2006-07). “Moorish Spain”.
    Foundation for Medieval Genealogy
    . Diakses tanggal
    2007-10-15
    .
    He was effective ruler mengangsur his death in 1002, eclipsing the Caliph





  32. ^

    Maslama ibn Ahmad Al-Majriti – 1007, MuslimHeritage.com]

  33. ^

    Studia Islamica, No. 84 (1996), h. 87-112

  34. ^

    A. Martin-Araguz, C. Bustamante-Martinez, Ajo V. Fernandez-Armayor, J. M. Moreno-Martinez (2002). “Neuroscience in al-Andalus and its influence on medieval scholastic medicine”,
    Revista de neurología
    34
    (9), p. 877-892.

Bacaan lanjutan

[sunting
|
sunting sumber]

  • Al-Djazairi, S.E. (2005).
    The Hidden Debt to Islamic Civilisation. Bayt Al-Hikma Press. ISBN 0-9551156-1-2
  • Cohen, Mark (1995).
    Under Crescent and Cross: The Jews in the Middle Ages
    Princeton University Press. ISBN 0-691-01082-X
  • Collins, Roger (1989).
    The Arab Conquest of Spain, 710–797, Blackwell. ISBN 0-631-19405-3
  • Frank, Daniel H. dan Leaman, Oliver (2003).
    The Cambridge Companion to Medieval Jewish Philosophy. Cambridge University Press. ISBN 0-521-65574-9
  • Harzig, Christiane, Hoerder, Dirk dan Shubert, Adrian (2003).
    The Historical Practice in Diversity. Berghahn Books. ISBN 1-57181-377-2
  • Kennedy, Hugh (1996).Muslim Spain and Portugal: A Political History of al-Andalus, Longman. ISBN 0-582-49515-6
  • Kraemer, Joel (2005). Moses Maimonides: An Intellectual Portrait. In Kenneth Seeskin (Ed.).
    The Cambridge Companion to Maimonides. Cambridge University Press. ISBN 0-521-81974-1
  • Luscombe, David et al. (Eds.) (2004).
    The New Cambridge Medieval History: Volume 4, c.1024-c.1198, Part 1. Cambridge University Press. ISBN 0-521-41411-3
  • Marín, Manuela et al. (Eds.). (1998).
    The Formation of Al-Andalus: History and Society. Ashgate. ISBN 0-86078-708-7
  • Menocal, María Rosa (2002).
    Ornament of the World: How Muslims, Jews, and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain. Back Bay Books. ISBN 0-316-16871-8
  • Netanyahu, Benzion (1995).
    The Origins Of The Inquisition In Fifteenth Century Spain. Random House, Inc. ISBN 0-679-41065-1
  • O’Callaghan, Joseph F. (1975).
    A History of Medieval Spain. Cornell University Press. ISBN 0-8014-9264-5
  • Reilly, Bernard F. (1993).
    The Medieval Spains. Cambridge University Press. ISBN 0-521-39741-3
  • Roth, Norman (1994).
    Jews, Visigoths and Muslims in Medieval Spain: Cooperation and Conflict. Brill. ISBN 90-04-06131-2
  • Syuaib, Joesoef (1997).
    Sejarah Daulat Umayyah II di Cordova. Jakarta: PT Bulan Bintang.
  • Stavans, Ilan (2003).
    The Scroll and the Cross: 1,000 Years of Jewish-Hispanic Literature. London: Routledge. ISBN 0-415-92930-X
  • Wasserstein, David J. (1995). Jewish élites in Al-Andalus. In Daniel Frank (Ed.).
    The Jews of Medieval Islam: Community, Society and Identity. Brill. ISBN 90-04-10404-6

Pranala luar

[sunting
|
sunting sendang]

  • (Spanyol)
    Parafrase karya Ajbar Machmu’a, makanya Lafuente 1867
  • (Inggris)
    UNESCO: The routes of al-Andalus
  • (Inggris)
    Spain’s Islamic Legacy oleh Prof. S.M. Ghazanfar
  • (Inggris)
    A History of Spain and Portugal, Chapter Two: Al-Andalus oleh Stanley G. Payne
  • (Inggris)
    Garis waktu dan rencana-tulang beragangan mengenai Al-Andalus Diarsipkan 2007-05-12 di Wayback Machine.



Spanyol Dikuasai Eropa Secara Penuh Setelah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Al-Andalus