Surat Al a Raf Ayat 199

By | 12 Agustus 2022

Surat Al a Raf Ayat 199.

Hidup di manjapada paling luhur adalah menjadi khalayak baik n domestik berbual mesra. Yaitu, menjadi pribadi yang suka berbuat kebaikan dan mengajak kepada kebenaran. Maka, agar dapat melakukannya, manusia harus mau berusaha dan membuktikannya dengan ulah yang nyata. Sepakat dengan Kiai Sahal, seorang ulama asal Kajen Pati sedarun pengiring Fikih Sosial n domestik petuahnya bahwa diamnya seseorang saja sudah bernilai baik, lain halnya dengan utilitas yang membutuhkan perjuangan bakal mewujudkannya.

Baca juga: Termasuk Kelebihan Yaitu Kesalehan Sosial, Adverbia Surah Al-Baqarah Ayat 177

Urgensi menjadi manusia yang baik dan bermakna adalah selain buat mengurangi populasi orang-orang bodoh, juga memerangi kebodohan itu koteng. Mengenai hal ini, Allah telah merenjeng lidah dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

Jadilah engkau (Muhammad) pemaaf dan suruhlah orang-orang berbuat yang jasa baik serta berpalinglah berbunga orang-cucu adam yang bodoh.
(QS. Al-A’raf [7]: 199)

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada utusan-Nya agar taat menggenggam tiga prinsip utama dalam berbual mesra yaitu
murah hati, berseru kepada khasiat serta menghindari kesia-siaan.

Pengarang
Ma’saleh At-Ramalan fi Adverbia Al-Qur’an, Al-Baghawi menukil artikulasi Bani Abbas bahwa Allah menjatah perintah kepada Nabi saw agar kian memilih memaafkan tata krama manusia. Mujahid senada dengan Anak laki-laki Abbas dengan pelengkap yakni memaafkan moral dan perilaku individu minus memata-matai. Maksud mengampuni di sini adalah rasa tepa salira (simpati).

Diriwayatkan detik ayat ini turun, Utusan tuhan saw bertanya kepada Jibril as,
“Apa maksudnya ayat ini?”, Jibril menjawab,
“Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Allah terlebih lalu”, Kemudian Jibril kembali lagi dan berkata,
“Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkanmu bagi menjalin dengan sosok yang memutus perkariban denganmu, berilah sesuatu kepada mereka yang lain menghormatimu, dan maafkanlah mereka yang telah menzalimimu”.

Baca lagi: Tafsir Surah Hud Ayat 114: Perbuatan yang Dapat Menghapus Dosa

Dalam ibadah sosial, menjalin pertautan baik dalam beramah-tamah tak hanya kepada antagonis dan kerabat, pun diperuntukkan kepada orang yang memutus sangkutan dengan kita, orang nan bukan mau hormat kepada kita terlebih mereka yang suka zalim kepada kita. Sebuah pelajaran bahwa ki aib harus dibalas dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan yang sebabat malar-malar dendam. Dengan pendirian ini, maka potensi hilangnya keburukan dan rasa kesumat akan terminimialisir, syukur kalau kemudian saling damai.

Baca juga:   Jelaskan Alasan Manusia Sebagai Makhluk Individu Tetap Harus Bersosialisasi

Ibnu Abbas, Adh-Dhahhak, dan Al-Kalbi sepakat maksudnya adalah menjeput izin pajak, tepatnya sisa harta bermula nafkah teristiadat keluarga. Pengenalan “al-‘afwu” dalam ayat ini sama dengan ayat dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 219, ayat ini turun sebelum zakat diwajibkan kemudian dinasakh.

Lanjut Al-Baghawi menafsiri “wa’mur bil ‘urf” dengan makruf, artinya semua sesuatu nan baik dan sesuai syariat. Sedangkan menurut Atha’ berharga mengucap
laa ilaha illallah. Lalu “wa a’ridl ‘anil jahilin” yang dimaksud adalah Abu Jahal dan para komplotannya. Dikatakan bahwa sekiranya ada sosok dogol menipumu maka jangan (membalasnya dengan) membandingkan dia dengan kebodohannya. Sesuai intern potongan ayat dalam surah Al-Furqan ayat 63,

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

… Dan apabila orang-orang bodoh menjuluki mereka (dengan perkenalan awal-alas kata yang menghina), mereka menitahkan “salam”.
(QS. Al-Furqan [23]: 63)

Ayat diatas maksudnya ialah
salamul mutarakah, yang berarti salam berbaik. (Ma’alim At-Ramalan fi Tafsir Al-Qur’an/2/260)

Mulai sejak sisi perbuatan nabi nabi muhammad, Abuk Abdillah Al-Jadali menanggali berpangkal Aisyah yang berkata,

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيِّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: “لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ”

Nabi saw lain afiliasi berbicara buruk dan bukanlah orang yang ki busuk, dan tidak memekik-mekik di pasar. Tidak melawan kejahatan dengan karas hati, sampai-sampai ia mengampuni dan  memaafkan.
(HR. Anak lelaki Hibban) (Sahih Ibn Hibban/14/355)

Padahal menurut Al-Wahidi dalam tafsirnya, arti “al-‘afwu” yakni menjatah sonder membebani. Maksudnya yakni mengamini moral mereka dengan mudah minus menginvestigasinya yang boleh memicu kemarahan. Lalu mensyariatkan mereka agar berbuat nan baik-baik (makruf), yaitu suatu perbuatan nan setiap makhluk bisa membenarkannya dan bisa dipedulikan hati. Ini ialah pernyataan Muqatil, Urwah, dan Adh-Dhahhak.

Baca juga:   Perkembangan Transportasi Dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia Dipengaruhi Oleh

Lanjut Al-Wahidi menafsirkan “berpalinglah berasal orang-orang yang bodoh” yaitu menahan diri saat berhadapan dengan mereka berpangkal kebodohan mereka. Qatadah mengatakan ayat ini mengandung akhlak yang Allah perintahkan kepada Nabi saw, melalui ayat ini pula Allah menunjukkan bahwa ayat ini mencakup seluruh kemuliaan kepatutan.

Diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Abbas bertutur, ‘Uyaynah ibn Hishn mampir di rumah keponakannya, Al-Hurr ibn Qais. Karena keponakanannya tersebut ialah salah satu individu yang memiliki kekariban dengan Khalifah Umar, maka Uyaynah meminta keponakannya agar memintakannya pemaafan bakal berdapat Umar. Lalu Umar mengizinkan. Masuklah Uyaynah sekali lalu berujar,
“Hati-hatilah, hai putra Al-Khattab, demi Allah, engkau tidak memberikan banyak pemberian sreg kami dan lain kembali menetapkan hukum di antara kita dengan adil”.

Baca juga: Adverbia Ahkam: Bolehkah Mengasihkan Zakat kepada Anak bini Seorang?

Umar meresponsnya dengan marah sehingga hampir saja ia membodohi azab padanya. Al-Hurr kemudian berfirman, “Ya Amiral Mukminin, sesungguhnya Sang pencipta berfirman kepada Nabi-Nya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-khalayak yang bodoh“. Dan ‘Uyainah ini tercantum golongan orang-orang nan bodoh. Demi Allah, Umar tidak melewatkannya saat Al-Hurr membacakan ayat tersebut. Umar adalah koteng yang amat mematuhi Kitabullah. (At-Tafsir Al-Wasith/2/437-438)

Al-Mawardi dalam tafsirnya menyebutkan,
“Bagaimana bisa perintah untuk berpaling (berpokok makhluk-keledai) bersamaan dengan perintah kewajiban ingkar kepada mereka?”. Dikatakan pun berpaling di sini adalah momen ada turunan-himar nan gemar menganggap remeh. Adapun ayat ini sebagai pesan kepada Rasul saw untuk memberi contoh kepada umatnya. (An-Nukat wa Al-‘Uyun/2/288)

Seia dengan Al-Mawardi, Ath-Thabari menambahkan dalam tafsirnya, perintah berpalis ditujukan kepada individu-orang pusung nan zalim dan memusuhi, bukan hamba allah bodoh yang awam terhadap kewajiban memenuhi hak-eigendom Allah. Enggak juga bertujuan berpaling bakal akur dengan basyar kafir yang bukan meyakini kesendirian Allah, sedangkan mereka dengan nyata sudah memerangi umat islam. (Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/13/332)

Baca juga:   Alat Penetas Telur Dioperasikan Dengan Energi

Wallahu a’lam.

Muhammad Ilham Fikron

Sahalian (Santri Mbah Sahal), Jebolan Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) dan Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati. Boleh disapa di ig @phickolobabaraya dan twitter @ilhamfikron

Surat Al a Raf Ayat 199

Source: https://tafsiralquran.id/tafsir-surah-al-araf-ayat-199-tiga-prinsip-utama-dalam-bergaul/