Tanaman Yang Dapat Dijadikan Sebagai Penghasil Biomassa Adalah

By | 10 Agustus 2022

Tanaman Yang Dapat Dijadikan Sebagai Penghasil Biomassa Adalah.

Saab 9-3 SportCombi BioPower. Model kedua yang berbahan bakar E85 diperkenalkan oleh Saab di pasar Swedia.

Keterangan mengenai etanol pada sebuah pompa bensin di California.

Bahan bakar etanol
adalah etanol (etil alkohol) dengan diversifikasi yang seperti yang ditemukan pada minuman beralkohol dengan pendayagunaan laksana sasaran bakar. Etanol acap kali dijadikan bahan tambahan bensin sehingga menjadi
biofuel. Produksi etanol dunia kerjakan bahan bakar transportasi meningkat 3 kali lipat privat kurun waktu 7 masa, dari 17 miliar liter plong tahun 2000 menjadi 52 miliar liter plong periode 2007. Dari tahun 2007 ke 2008, komposisi etanol sreg alamat bakar bensin di dunia telah meningkat bermula 3.7% menjadi 5.4%.[1]
Pada tahun 2010, produksi etanol dunia mencapai kredit 22,95 miliar galon AS (86,9 miliar liter), dengan Amerika Serikat koteng memproduksi 13,2 miliar galon AS, alias 57,5% dari total produksi mayapada.[2]
Etanol n kepunyaan nilai “ekuivalensi galon bensin” sebesar 1.500 galon AS.

Etanol digunakan secara luas di Brasil dan Amerika Serikat. Kedua negara ini memproduksi 88% berbunga seluruh jumlah bahan bakar etanol yang diproduksi di marcapada.[2]
Biasanya mobil-mobil yang beredar di Amerika Serikat saat ini dapat menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol sampai 10%,[3]
dan eksploitasi minyak bumi etanol 10% tambahan pula diwajibkan di beberapa kota dan negara babak AS. Sejak periode 1976, pemerintah Brasil telah memerintahkan eksploitasi gasolin yang dicampur dengan etanol, dan sejak masa 2007, fusi yang legal yaitu berkisar 25% etanol dan 75% bensin (E25).[4]
Di rembulan Desember 2010 Brasil sudah punya 12 juta alat angkut dan truk ringan incaran bakar plastis dan lebih berpunca 500 ribu sepeda biang keladi nan dapat menggunakan bahan bakar etanol murni (E100).[5]
[6]
[7]
[8]

Bioethanol adalah pelecok satu bentuk energi terbaharui yang dapat diproduksi dari tumbuhan. Etanol dapat dibuat dari tanaman-tanaman nan umum, misalnya tebu, ubi belanda, ubi, dan jagung. Telah muncul perdebatan, apakah bioetanol ini nantinya akan menggantikan bensin yang ada saat ini. Kekhawatiran mengenai produksi dan adanya kemungkinan naiknya harga peranakan yang disebabkan karena dibutuhkan kapling yang lalu besar,[9]
ditambah kembali energi dan polusi yang dihasilkan dari keseluruhan produksi etanol, terutama pokok kayu milu.[10]
[11]
Pengembangan terbaru dengan munculnya komersialisasi dan produksi etanol selulosa mungkin boleh memecahkan cacat kelainan.[12]

Etanol selulosa menawarkan prospek yang menjanjikan karena serat selulosa merupakan suku cadang penting pada dinding sengkeran di semua tumbuhan, dapat digunakan untuk memproduksi etanol.[13]
[14]
Menurut Badan Energi Jagat rat etanol selulosa dapat menyumbangkan perannya lebih besar pada masa mendatang.[15]

Kimia

Glukosa (gula sederhana) dibuat oleh tumbuhan melintasi proses fotosintesis.

6 CO2
+ 6 H2O + cahaya matahari → C6H12Ozon6
+ 6 O2

Dalam fermentasi etanol, glukosa akan dipecah menjadi etanol dan karbon dioksida.

C6H12O6
→ 2 CH3CH2OH+ 2 CO2
+ panas

Saat etanol dibakar (direaksikan dengan oksigen) maka akan dihasilkan karbon dioksida, air, dan panas:

CH3CH2OH + 3 O2
→ 2 CO2
+ 3 H2O + panas

Setelah reaksi pembakaran digandakan (karena didapatkan 2 molekul etanol bersumber tiap molekul glukosa]], dan ditambahkan 3 reaksi bersamaan, maka kuantitas atom di sebelah kidal akan seperti mana jumlah zarah di sebelah kanan pada pertepatan tersebut, maka reaksi safi semenjak produksi dan konsumsi etanol hanya riil:

cahaya → panas

Panas yang dihasilkan berbunga pembakaran etanol digunakan untuk menggerakkan piston pada mesin. Dapat dikatakan bahwa semarak matahari digunakan kerjakan menjalankan mesinnya.

Lain hanya glukosa sahaja yang dapat difermentasi. Gula lainnya seperti fruktosa juga dapat digunakan untuk fermentasi. 3 macam gula lainnya juga bisa difermentasi dengan memecahnya menerobos hidrolisis menjadi partikel-molekul glukosa atau fruktosa. Amilum dan selulosa adalah anasir yang terdiri berbunga koneksi-ikatan glukosa. Sukrosa (alias gula tebu) merupakan anasir glukosa yang berikatan dengan elemen fruktosa. Energi lakukan takhlik fruktosa berasal dari metabolisme glukosa yang diperoleh berpokok fotosintesis (yang membutuhkan sinar matahari). Maka dari itu, sinar syamsu sekali lagi menyediakan energi yang dihasilkan oleh fermentasi dari molekul-molekul ini.

Etanol juga boleh diproduksi berpangkal etena (etilena). Dengan penambahan air ke dalam etena maka akan mengubah etena menjadi etanol:

C2H4
+ H2O → CH3CH2OH

Detik etanol dibakar di atmosfer (tak di oksigen suci), maka akan ada reaksi ilmu pisah yang bukan yang menghasilkan 4 komponen kimia lainnya, teragendakan dengan gas nitrogen (N2). Tabun nitrogen dapat menimbulkan munculnya nitrogen oksida, salah satu polutan utama di peledak.
[butuh rujukan]

Sendang

Etanol adalah riuk satu sumber energi terbaharui karena energi ini didapatkan dari energi mentari. Pembuatan etanol diawali pohon seperti tebu atau jagung yang mengerjakan fotosintesis sehingga tumbuh hingga raksasa. Nantinya tanaman ini yang diproses menjadi etanol.

Selingkung 5% dari etanol nan diproduksi di bumi puas tahun 2003 sesungguhnya malah merupakan produk minyak bumi.[16]
Etanol semenjak petrol ini dibuat dengan hidrasi katalis berpangkal etilena dengan memakai asam sulfat bak katalisnya. Etanol juga boleh dihasilkan via etilena alias asetilena, kalsium karbida, gas bumi, dan sumber lainnya. 2 juta ton etanol yang berasal berpunca minyak mentah dihasilkan setiap tahunnya.[17]
Etanol yang berasal berbunga petrol (etanol sintetik) secara kimia setara dengan bio etanol dan tetapi bisa dibedakan melalui takwim radiokarbon.

Bio-etanol umumnya diperoleh dari pohon pertanian. Pohon persawahan ini dianggap boleh diperbaharui karena mereka mendapatkan energi berusul matahari melangkahi pernapasan. Etanol bisa diproduksi dari banyak variasi tanaman seperti tebu, bagasse, miscanthus, bit sukrosa, sorgum, grain sorghum, switchgrass, jelai, hemp, kenaf, ubi benggala, ketela rambat, singkong, bunga matahari, biji pelir, molasses, jagung, stover, serealia, gandum, straw, kapas, biomassa lainnya, termasuk berbagai varietas sampah selulosa.

Sebuah proses alternatif bakal memproduksi bioetanol dari algae (rumput laut) saat ini sedang dikembangkan oleh perusahaan Algenol. Daripada algae hanya ditanam dan sangat dipanen jika sudah menguning, algae dapat memproduksi etanol secara langsung tanpa membunuh tumbuhan itu sendiri. Diklaim bahwa proses dari algae ini dapat menghasilkan 6000 galon per acre per tahun, ketimbang tumbuhan milu yang saja 400 galon saban acre per tahun.[18]

Sekarang, pemrosesan etanol generasi pertama buat memproduksi etanol semenjak milu namun menggunakan sebagian mungil dari pohon jagung itu sendiri. Belaka putaran amilum dari kernel jagung sahaja yang diproses menjadi etanol. Amilum ini massanya hanya 50% berpokok konglomerat kernel kering. 2 pemrosesan tingkat lanjut menengah dikembangakan saat ini. Proses tersebut adalah penggunaan enzim dan fermentasi fermen cak bagi mengubah selulosa tanaman menjadi etanol. Proses yang kedua ialah menunggangi pirolisis untuk mengubah seluruh bagian tanaman menjadi cairan minyak bio ataupun syngas. Pemrosesan generasi kedua ini kembali bisa digunakan untuk tumbuhan tidak misalnya rumput-rumputan atau kayu.

Proses produksi

Langkah pangkal yang dibutuhkan untuk memproduksi etanol adalah fermentasi rabuk khamir, distilasi, dehidrasi, dan denaturasi. Sebelum dilakukan peragian, sejumlah pohon membutuhkan hidrolisis karbohidrat sebagai halnya selulosa dan amilum menjadi gula. Hidrolisis selulosa disebut sebagai selulosis. Enzim digunakan buat mengubah amilum menjadi gula.[19]

Pembusukan

Etanol diproduksi dengan cara fermentasi mikrob lega sakarosa. Fermentasi mikrob saat ini semata-mata boleh dilakukan langsung pada sakarosa. 2 onderdil utama n domestik tanaman, amilum dan selulosa, dua-duanya terdiri berusul gula dan bisa diubah menjadi sukrosa menerobos peragian. Waktu ini ini, hanya gula (contohnya tebu) dan amilum (contohnya milu) yang masih bernilai gemi kalau dikonversi.

Distilasi

Pabrik etanol di Sertãozinho, Brazil.

Jika etanol kepingin digunakan andai bahan bakar, maka sebagian ki akbar ki gua garba airnya harus dihilangkan dengan prinsip distilasi. Tingkat keotentikan etanol sesudah didistilasi masih sekitar 95-96%. (masih ada perut airnya 3-4%). Campuran ini dinamakan etanol hidrat dan dapat digunakan laksana bahan bakar, tetapi tidak boleh dicampur terkadang dengan gasolin. Jadi, biasanya kandungan air dalam etanol hidrat dibuang habis terlebih lampau dengan pengolahan lainnya sehingga baru bisa dicampurkan dengan minyak bumi.[20]

Dehidrasi

Pada dasarnya cak semau 5 tahap proses dehidrasi untuk membuang kandungan air privat campuran etanol azeotropik (etanol 95-96%). Proses nan pertama, yang sudah digunakan di banyak pabrik etanol sejak suntuk, adalah proses nan disebut distilasi azeotropik. Distilasi azeotropik dilakukan dengan kaidah menambahkan benzena ataupun sikloheksana ke dalam campuran. Saat zat ini ditambahkan, maka akan menciptakan menjadikan campuran azeotropik heterogen. Hasil akhirnya nanti adalah etanol anhidrat dan campuran uap dari air dan sikloheksana/benzena. Detik dikondensasi, uap ini akan menjadi cairan. Metode lama lainnya yang digunakan adalah distilasi ekstraktif. Metode ini digunakan dengan cara menambahkan komponen terner dalam etanol hidrat sehingga akan meningkatkan ketidakstabilan relatif etanol tersebut. Ketika campuran terner ini nantinya didistilasi, maka akan menghasilkan etanol anhidrat.

Ketika ini penelitian juga medium mengembangkan metode pemurnian etanol dengan menghemat energi. Metode nan momen ini berkembang dan mulai banyak digunakan makanya pabrik-industri pembuatan etanol adalah penggunaan saringan zarah untuk membuang air dari etanol. Internal proses ini, uap etanol bertekanan melewati semacam tatakan yang terdiri dari butiran saringan partikel. Pori-pori dari semenjak saringan ini dirancang untuk menyerap air. Sesudah sejumlah masa, seleksian ini juga divakum buat menghilangkan kandungan air di dalamnya. 2 tatakan rata-rata digunakan sekaligus sehingga momen suatu sedang dikeringkan, yang satunya bisa dipakai untuk menyaring etanol. Teknologi dehidrasi ini diperkirakan boleh menghemat energi sebesar 3.000 btus/gallon (840 kJ/L) jika dibandingkan dengan distilasi azeotropik.[21]

Teknologi

Mesin berbahan bakar etanol

Ringkasan bersumber sintesis bahan bakar etanol yang digunakan di seluruh marcapada

Etanol yakni larutan yang sayang digunakan puas otomobil, sungguhpun juga mungkin digunakan lega kendaraan lainnya, seperti traktor, lambu, dan pesawat rusuh. Konsumsi etanol dalam mesin lebih boros 51% dibandingkan bensin, karena energi tiap-tiap unit tagihan etanol 34% lebih invalid dibandingkan dengan gasolin.[22]
[23]
Proporsi pemampatan pada mesin yang berbahan bakar etanol saja, dapat membuat mesin ini lebih berkemampuan dan lebih irit target bakar.[24]
[25]
Pada umumnya, mesin yang tetapi berbahan bakar etanol dikonfigurasi untuk menambahkan tekor tambahan tenaga dan torsi yang lebih baik dibandingkan dengan mesin berbahan bakar bensin. Pada kendaraan alamat bakar plastis, skala kompresi yang lebih rendah menyebabkan mesinnya perlu dikonfigurasi ulang, sehingga bisa mendapatkan keluaran tenaga yang selaras detik memakai bahan bakar bensin atau etanol. Kerjakan mendapatkan keuntungan maksimal berusul etanol, maka rasio kompresi harus dinaikkan.[26]
Rasio kompresi pada oto bermesin berbahan bakar etanol murni detik ini didesain duga-tebak lebih abur 20-30% dibandingkan dengan versi alamat bakar bensinnya.[27]

Etanol mengandung bahan-bahan yang boleh sagu betawi dan tidak dapat sagu belanda.[28]
Bahan-bahan yang bisa larut, yakni ion-ion klorida, mempunyai sifat korosif. Ion halida meningkatkan korosi dengan 2 cara: secara kimia, ion ini akan menuding pasivator film oksida lega metal sehingga akan menimbulkan korosi, dan kedua, ion ini akan meningkatkan daya hantar bulan-bulanan bakar. Daya hantar elektrik yang meningkat menyebabkan korosi pada elektrik dan galvanis pada sistem alamat bakar. Bahan-bahan nan dapat larut, seperti aluminium hidroksida yang ialah barang dari ion halida tadi, akan menyumbi sistem bahan bakar minus demi adv minim.

Etanol bertabiat higroskopis, yang artinya etanol akan menyerap uap air sewaktu berpokok atmosfer. Karena menyerap air akan mengencerkan nilai bahan bakar etanol (dan juga akan menimbulkan
knocking
plong mesin), maka dalam pengepakannya, bahan bakar etanol harus ditutup berhimpit. Karena etanol dengan amat mudah berbaur dengan air, maka etanol enggak dapat didistribusikan dengan pipa yang bertambah efisien dan modern.[29]
Para teknisi sekarang juga mengawasi dampak nan ditimbulkan karena adanya kandungan air dalam etanol yang menyebabkan kerusakan sreg mesin-mesin kecil, terutama lega karburatornya.[30]

Baca juga:   Sebutkan Alat Pertahanan Yang Digunakan Pada Pencak Silat

Sebuah studi yang dilakukan oleh MIT pada hari 2004[31]
dan sebuah
paper
yang dipublikasika oleh
Society of Automotive Engineers
[32]
mengidentifikasikan sebuah metode yang kian baik untuk mengeksplorasi karakteristik alamat bakar etanol ketimbang jika hanya mencampurkannya dengan minyak bumi. Metode ini akan menyodorkan kemungkinan bahwa alkohol nantinya akan menyunting efektivitas pada mobil elektrik hibrida. Perubahan ini akan menunggangi mesin 2 bahan bakar (dual-fuel) yakni alkohol murni (ataupun azeotrop atau E85) dengan injeksi langsung turbocharger, dengan rasio pemadatan tinggi, piutang tabung mungil, sahaja menghasilkan tenaga nan sama dengan mesin yang memiliki volume tabung 2 kalinya. Setiap bahan bakar akan ditempatkan terpisah, dengan tangki alkohol yang bertakaran jauh kian kecil. Mesin berkompresi strata ini (yang berarti juga efisiensinya tingkatan), akan menggunakan bahan bakar petrol pada kondisi daya jelajah sedikit. Alkohol hanya akan diinjeksikan ke tabung momen dibutuhkan, yaitu misalnya ketika ingin berakselerasi dengan cepat. Semprot silinder langsung ini akan meningkatkan ponten oktan etanol nan telah jenjang sampai 130. Dari sini, penggunaan gasolin serta emisi gas buang akan menyusut setakat 30%.

Nilai oktan etanol yang lebih tinggi meningkatkan rasio pemadatan mesin dan kembali meningkatkan daya guna termal.[24]
Dalam sebuah pengkhususan, yuridiksi mesin yang kegandrungan ditambah peredaran ulang gudu-gudu gas buang yang ditingkatkan bisa meningkatkan perimbangan kompresi sampai 19,5 dengan objek bakarnya etanol safi sebatas E50.[33]
Kejadian ini nantinya akan menghasilkan ekonomi bahan bakar oto etanol sebagai halnya ekonomi bahan bakar mobil gasolin.

Sejak tahun 1989 juga telah dioperasikan mesin etanol yang mempekerjakan basis berasal mesin diesel di Swedia.[34]
Mesin-mesin ini dipakai di bus kota, juga digunakan di truk-truk sirkulasi dan pengangkut sampah. Mesin ini dibuat maka itu perusahaan Scania, mempunyai nisbah kompresi yang mutakadim dimodifikasi dan korban bakarnya adalah 93.6 % etanol dan 3.6 % peningkat pembakaran, dan 2.8% denaturan (alamat bakar ini disebut sebagai ED95).[35]
Adanya peningkat pembakaran memungkinkan mesin ini melakukan pembakaran seefisien dengan siklus pembakaran pada mesin diesel. Mesin-mesin ini telah digunakan di Britania Raya maka dari itu Reading Transport sekadar pendayagunaan bahan bakar bioetanol saat ini akan ditutup.

Menyalakan otomobil di musim dingin

Honda Civic berbahan bakar fleksibel di Brasil tahun 2008, mempunyai akal masuk berbarengan ke tangki bensin cadangan yang terletak di bagian depan kanan, gelanggang pengisiannya ditunjukkan dengan etiket panah.

Campuran etanol nan tataran akan memunculkan masalah yaitu kurangnya tekanan uap target bakar tersebut sehingga susah untuk menguap dan menembakkan pembakaran di musim adem selagi waktu dingin (kejadian ini terjadi karena etanol cenderung menaikkan kalor penguapan korban bakar).[36]) Momen tekanan uap kurang mulai sejak 45 kPa maka mesin akan suusah untuk dinyalakan.[37]
Maka, kerjakan pergi kebobrokan ini, terutama saat master rendah berpokok 11 °C (52 °F), maka pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa seia untuk memperalat E85 sebagai paduan etanol maksimum yang digunakan di ki alat alamat bakar fleksibel di negara mereka. Di gelanggang-bekas yang suhunya dahulu hambar, pemerintah Amerika Serikat mengurangi senyawa etanol puas sasaran bakar menjadi E70, meskipun namanya kukuh dijual sebagai E85.[38]
[39]
Selain itu, di gelanggang yang suhunya anjlok hingga dibawah −12 °C (10 °F), maka disarankan lakukan menambahkan sistem genahar mesin, bertindak untuk bensin dan kendaraan E85. Pemerintah Swedia kembali n kepunyaan sistem pengurangan campuran etanol ini, mereka mengurangi campuran etanol menjadi E75 selagi musim dingin.[39]
[40]

Wahana bahan bakar fleksibel di Brasil bisa dioperasikan menggunakan etanol sampai E100. Mesin kendaraan ini juga akan menimbulkan turunnya uap penguapan seperti puas media E85. Bagi mengatasinya, kendaraan bahan bakar fleksibel di Brasil kembali dibuatkan tangki bensin kerdil cadangan yang diletakkan rapat persaudaraan mesin. Ketika mesin akan dinyalakan, maka bensin akan diinjeksikan ke ruang bakar sehingga enggak menimbulkan kelainan di suhu rendah. Gasolin ini galibnya dibutuhkan untuk warga yang tinggal di Brasil babak perdua atau selatan, dimana saat waktu dingin suhunya akan turun sampai dibawah 15 °C (59 °F). Sreg musim 2009, kesudahannya diluncurkan mesin berbahan bakar fleksibel generasi terbaru nan tidak membutuhkan tangki bensin pelengkap pun.[41]
[42]
Di bulan Maret 2009, Volkswagen do Brasil meluncurkan Polo E-Flex, mobil berbahan bakar fleksibel permulaan di Brasil yang tidak lagi menggunakan tangki petrol tambahan bikin menyalakan mesin.[43]
[44]

Paduan bahan bakar etanol

Label EPA E15 di Amerika Perkongsian yang harus dicantumkan di semua pom bensin yang menjual etanol E15.

Banyak negara mewajibkan kendaraan-kendaraannya memperalat bahan bakar minyak bumi nan dicampur dengan etanol. Semua kendaraan ringan di Brasil bisa beroperasi dengan menggunakan etanol dengan campuran sampai 25% (E25). Sejak tahun 1993, pemerintahan federal sudah memerintahkan sintesis etanol berkisar antara 22% sebatas 25%, dan di wulan Juli 2011 adalah 25%.[45]
Di Amerika Maskapai, semua sarana ringan bisa memakai campuran etanol dalam bahan bakar setakat 10% (E10). Di akhirusanah 2010, kian dari 90 uang lelah bensin nan dijual di AS dicampur dengan etanol.[46]
Di bulan Januari 2011, Badan Proteksi Lingkungan Amerika Konsorsium mengeluarkan dokumen pernyataan buat mencampurkan etanol privat petrol hingga 15% (E15). Bahan bakar dengan etanol 15% ini hanya dijual untuk mobil kerdil dan truk ringan dengan keluaran tahun 2001 atau kian baru.[47]
[48]
Negara lainnya juga telah menerapkan peraturan serupa, dengan kebijakan masing-masing.

Ekonomi bahan bakar

Secara teori, semua kendaraan yang beroperasi dengan bahan bakar akan mempunyai nilai ekonomi bahan bakar nan satuannya adalah liter per 100 kilometer. Kredit ekonomi sasaran bakar ini umumnya berbanding lurus dengan energi nan terkandung privat bahan bakar.[49]
Tapi, pada faktanya cak semau banyak variabel yang boleh memengaruhi performa mangsa bakar di dalam mesin. Etanol seorang memiliki energi per unit volume 34% makin adv minim daripada bensin. Maka, teorinya ialah jika memakai bahan bakar etanol, maka jumlah bahan bakar yang dikonsumsi akan makin boros 34% daripada gasolin biasa. Tapi etanol n kepunyaan kemustajaban lain yaitu biji oktan yang tingkatan, maka mesin dapat dibuat bertambah efisien dengan cara meningkatkan rasio kompresinya. Misalnya, dengan penyisipan turbocharger laur maka rasio kompresi boleh menjadi optimum, sehingga ekonomi bahan bakar nantinya bisa tegar dengan campuran etanol berapapun.[22]
[23]
Bakal campuran E10 (10% etanol dan 90% minyak bumi), maka efeknya akan kecil jika dibandingkan dengan bensin baku.[50]
[51]
Untuk bahan bakar etanol E85 (85% etanol), maka efeknya akan menjadi berarti. E85 memang lebih royal tinimbang bensin sehingga pemilik mobil akan lebih sering mengisi bahan bakar. Kinerja kendaraan sendiri tergantung dari mobilnya apa. Sebuah pembenaran yang dilakukan lega tahun 2006 oleh Badan Perawatan Lingkungan AS (EPA) pada otomobil-otomobil E85 menyebutkan bahwa ekonomi bahan bakar mobil E85 lebih sokah sekitar 25,56% ketimbang petrol.[52]
Rating ekonomi target bakar nan dikeluarkan oleh EPA ini berkarisma[53]
ketika orang akan membeli oto. Tapi, karena E85 ini ialah bahan bakar dengan penampilan tinggi (nilai oktannya 94-96), maka semestinya sekali lagi dibandingkan dengan petrol yang mahal.[54]
Harga ritel etanol E85 di Amerika Kongsi yaitu 2,62 dolar AS masing-masing galon AS, sedangkan harga bensin biasa adalah 3,03 dolar AS per galon AS. Harga etanol murni di Brasil (E100) merupakan 3,88 dolar, sedangkan harga minyak bumi campuran E25 yaitu 4,91 dolar (puas rembulan Juli 2007).

Produksi saban negara

Produsen etanol terbesar di manjapada pada tahun 2010 ialah Amerika Serikat dengan jumlah 13,2 miliar galon AS dan Brasil dengan 6,92 galon AS. 2 negara ini memproduksi 88% etanol dunia, nan besaran semuanya adalah 22,95 galon AS (86,9 miliar liter).[2]
Insentif yang diberikan pemerintah, diikuti dengan ekspansi inisiatif dari industri, sudah mendorong negara-negara seperti mana Jerman, Spanyol, Prancis, Swedia, China, Thailand, Kanada, Kolombia, India, Australia, dan beberapa negara Amerika Tengah untuk melebarkan industri etanol.

Produksi Bahan bakar etanol Tiap-tiap tahun Per negara

(2007–2010)[2]
[55]
[56]

Top 10 negara/kawasan

(Satuan dalam juta galon AS)
Per.
Marcapada
Negara/wilayah 2010 2009 2008 2007
1
Amerika Serikat
13,230.00 10,600.00 9,000.00 6,498.60
2
Brasil
6,921.54 6,577.89 6,472.2 5,019.2
3
Uni Eropa
1,176.88 1,039.52 733.60 570.30
4
Tiongkok
541.55 541.55 501.90 486.00
5
Thailand
435.20 89.80 79.20
6
Kanada
356.63 290.59 237.70 211.30
7
India
91.67 66.00 52.80
8
Kolombia
83.21 79.30 74.90
9
Australia
66.04 56.80 26.40 26.40
10 Lainnya 247.27
Total dunia 22,946.87 19,534.993 17,335.20 13,101.7

Lingkungan

Keseimbangan energi

Keseimbangan energi[57]
Negara Tipe Keseimbangan energi
Amerika Serikat Etanol semenjak jagung 1.3
Brasil Etanol bersumber tebu 8
Jerman Biodiesel 2.5
Amerika Konsorsium Etanol selulosa 2–36††

† hanya eksperimen, belum diproduksi secara komersial

†† tersampir berbunga metode produksi

Semua biomassa paling tak tentu memiliki tahap-tahap sebagaimana ini: ditanam, dipanen, dikeringkan, difermentasi, dan kemudian dibakar. Semua tahap-tahap ini membutuhkan mata air daya dan infrastruktur. Total energi yang digunakan bagi menghasilkan etanol takdirnya dibandingkan dengan total energi nan dihasilkan etanol maka akan menghasilkan “keseimbangan energi” atau “hasil energi bersih”. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh majalah
National Geographic
pada waktu 2007 menjelaskan tentang etanol terbit jagung nan dihasilkan maka itu Amerika Serikat: satu unit energi bahan bakar fosil dibutuhkan untk memproduksi 1,3 unit energi objek bakar etanol. Keadilan energi berbunga etanol nan diproduksi di Brasil bertambah baik, yaitu 1:8. Estimasi bagi keseimbangan energi ini sebenarnya juga tak pasti, karena sejumlah laporan menyatakan yang sebaliknya. Contohnya adalah sebuah angket yang terpisah menyatakan bahwa etanol yang diproduksi dari tebu boleh membalas 8 hingga 9 kali energi nan dibutuhkan buat membuatnya, jika dibandingkan dengan milu nan semata-mata mengembalikan 1,34 kelihatannya energi yang dibutuhkan bagi membuatnya.[58]
Investigasi yang dilakukan oleh Universitas California, Berkeley pada hari 2006 menyatakan bahwa memproduksi etanol dari jagung menunggangi minyak mentah yang bertambah sedikit ketimbang memproduksi bensin.[59]

Karbon dioksida, yang termasuk dalam asap flat kaca, akan dihasilkan sepanjang proses fermentasi dan pembakaran. Karbon dioksida ini nantinya dapat digunakan maka dari itu tanaman lakukan memproduksi biomassa lagi.[60]
Ketika dibandingkan dengan petrol, tersidai mulai sejak metode produksinya lagi, etanol akan menghasilkan gas rumah kaca yang kian rendah.[61]
[62]

Kontaminasi peledak

Etanol adalah sasaran bakar yang jika dibakar dengan oksigen maka akan menghasilkan karbon dioksida, air, dan aldehida. Minyak bumi sendiri menghasilkan 2,44 kg CO2
per liter dan etanol 1,94 kg/liter.[63]
Karena energi yang dihasilkan maka dari itu etanol sekadar 2/3 energi nan dihasilkan bensin, maka etanol menghasilkan CO2
19% lebih banyak daripada gasolin dengan energi yang sama. Undang-undang Kebersihan Udara AS mengharuskan penambahan oksigenat untuk mengurangi emisi karbon dioksida di Amerika Serikat. Zat adiktif yang biasa digunakan lega petrol, MTBE, momen ini mulai dikurangi penggunaannya karena ternyata mencemari air petak, sehingga etanol dianggap ibarat aditif alternatif yang prospektif.

Baca juga:   Bahasa Arab Kelas 6 Semester 2

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh para pemeriksa atmosfer di Perhimpunan Stanford mengemukakan bahwa bahan bakar E85 dapat meningkatkan risiko mortalitas akibat pencemaran udara sampai 9% di daerah tingkat Blong Angeles.[64]
Level udara murni juga meningkat secara bermanfaat, kabut asap meningkat dan keburukan sebagai halnya asma juga meningkat.[65]

Karbon dioksida

Kalkulasi ketekunan karbonium bersumber bioetanol jagung yang ditanam di AS dan dibakar di Inggris, yang dilakukan oleh pemerintah Inggris.[66]

Tabel dari pemerintah Inggris yang memvisualkan intensitas karbon berpangkal bioetanol dan objek bakar fosil. Diagram ini mengasumsikan bahwa semua bioetanol dibakar di negara asalnya dan tanah nan digunakan sebelumnya telah digunakan lakukan menanami tanaman bio ini.[66]

Penghitungan pasti berapa banyak karbon dioksida yang dihasilkan lakukan memproduksi bioetanol sangatlah mania dan prosesnya kembali tidak pasti, sehingga lewat tergantung dari bagaimana etanol itu diproduksi dan nantinya akan dibuat asumsi dalam penjumlahan tersebut. Penghitungan karbon dioksida itu semestinya termasuk:

  • Biaya untuk menanam tanaman
  • Biaya kerjakan mengirimkan tumbuhan ke industri
  • Biaya cak bagi mengolah tanaman itu menjadi bioetanol

Penjumlahan itu pun mungkin termasuk:

  • Biaya penggantian penggunaan lahan dimana tanaman bio itu ditanam.
  • Biaya transportasi bioetanol dari pabrik ke tempat pemakaian.
  • Efisiensi bioetanol jika dibandingkan dengan bensin absah.
  • Banyaknya karbonium dioksida yang dihasilkan di culim pembuangan.
  • Keuntungan lain yang didapat berpunca produksi sampingan seperti pakan ternak atau elektrik.

Grafik di kanan menunjukkan penghitungan yang dilakukan maka dari itu pemerintah Inggris buat keperluan obligasi bahan bakar transportasi terbaharukan.[66]

Puas wulan Januari 2006, sebuah kata sandang sains dari ERG UC Berkeley mengestimasi pengurangan tabun rumah kaca dari etanol milu yaitu 13% setelah mempelajari beragam macam studi. Tak lama kemudian, mereka mengeluarkan varian revisi dari artikel itu dan memangkalkan angkanya menjadi 7,4% tetapi. Sebuah ulasan dari Majalah National Geographic pada tahun 2007[57]
menyodorkan bahwa produksi dan pemakaian etanol dari jagung akan mengurangi emisi CO2
sebesar 22% jika dibandingkan dengan bensin, sedangkan untuk etanol dari tebu maka pengurangan emisinya merupakan 56%. Firma Ford mengatakan bahwa akan ada pengurangan emisi CO2
sebesar 70% untuk penggunaan target bakar bioetanol pada kendaraan objek bakar laur mereka.[67]

Persilihan pendayagunaan tanah

Pertanian neraca besar dibutuhkan lakukan memproduksi alkohol dan ini membutuhkan lahan nan luas sekali lagi. Universitas Minnesota melaporkan bahwa kalau semua jagung yang ditanam di A.S. digunakan untuk memproduksi etanol maka akan menggantikan 12% konsumsi bensin A.S. kini ini.[68]
Mereka mengklaim bahwa lahan yang digunakan bagi memproduksi etanol diperoleh melampaui deforestasi wana, dan lainnya pun telah meneliti bahwa provinsi yang saat ini ini dipakai cak bagi menguburkan pohon ini galibnya tanahnya tak cocok.[69]
[70]
Dalam beberapa keadaan, pertanian dapat saja membentuk kesuburan kapling berkurang karena berkurangnya organisme organik,[71]
turunnya kualitas dan kuantitas air, penggunaan racun hama yang semakin osean, dan potensi penggusuran kekerabatan lokal.[72]
Teknologi yang semakin beradab memungkinkan para petani untuk memperoleh hasil yang sama ki akbar dengan pengorbanan nan makin sedikit.[68]

Produksi etanol selulosa ialah salah suatu pendekatan hijau nan digunakan untuk menyelesaikan komplikasi penggunaan persil ini. Etanol selulosa dapat diproduksi dari bagian mana semata-mata dari sebuah pohon, sehingga berpotensi akan melipatgandakan hasil, sehingga hasilnya konflik tembolok vs. bahan bakar akan bisa diminimalkan. Daripada umumnya yang hanya menggunakan amilumnya sekadar, produksi etanol selulosa akan memaksimalkan eksploitasi seluruh episode tumbuhan. Dengan ini, maka pengeluaran karbon pun menjadi makin sedikit karena mendapatkan hasil nan lebih banyak dengan menunggangi material nan masih bisa dipakai. Teknologi bakal memproduksi etanol selulosa ini sampai saat ini sudah sampai pada tahap komersialisasi.[14]
[15]

Penggunaan etanol bikin listrik

Menyangkal biomassa menjadi setrum buat kemudian digunakan cak bagi mengisi baterai mobil listrik siapa akan makin “ramah lingkungan” daripada memperalat biomassa bagi memproduksi etanol, menurut pelecok satu siaran ilmiah. “Anda akan menggunakan lahan lebih efisien dan penggunaan yang lebih efisien pun dengan mengubah biomassa menjadi listrik daripada menjadi etanol,” kata Elliott Campbell, sendiri peneliti lingkungan di Perhimpunan California di Merced, nan memimpin penelitian ini. “Daripada bikin membuat bahan bakar bio cair, lebih baik kita menjadikannya sebagai perigi daya alam bio.”

Karena bioenergi saat ini telah menjadi solusi dari masalah iklim global, maka pengembangan teknologi diperlukan, pembukaan analis. Para peneliti terus mencari bagaimana mandu mencari peluasan yang minimum efektif, baik di etanol selulosa maupun baterai alat angkut listrik.[73]

Ongkos biaya akibat emisi etanol

Untuk setiap satu miliar galon korban bakar etanol nan diproduksi dan dibakar di AS, maka diperkirakan ongkos produksi disertai dengan peralihan iklim adalah 469 miliun dolar AS untuk bensin, 472–952 juta mata uang AS untuk etanol milu tersidai dari sendang panas pengilangannya beserta teknologinya, dan hanya 123–208 juta dolar AS kerjakan etanol selulosa tergantung dari tanamannya (biomassa prairie, Miscanthus, stover milu, atau switchgrass).[74]

Tepat guna tanaman

Momen hasil etanol semakin meningkat dan tumbuhan nan bisa dipakai kerjakan etanol semakin banyak, maka produksi etanol bisa semakin irit. Sekarang ini, penelitian untuk meningkatkan hasil etanol dari tanaman jagung menengah dilakukan menunggangi bioteknologi. Pun, sejauh harga petro tunak pangkat, maka pengusahaan tanaman bagaikan bahan bakar akan semakin dipilih. Tanaman switchgrass, yang tumbuhnya cepat, bisa ditanam di lahan yang tidak cocok lakukan pohon bukan dan menghasilkan etanol banyak per unit kawasan.[57]

Tipe tanaman Hasil sendirisendiri tahun (Liter/hektar, galon AS/acre) Penghematan tabun rumah kaca
vs. gasolin[a]
Keterangan
Miscanthus 7300 L/ha,
780 g/acre
37%–73% Produksi etanol bergantung dari kemajuan teknologi selulosa.
Switchgrass 3100–7600 L/ha,
330–810 g/acre
37%–73% Produksi etanol bergantung dari kemajuan teknologi selulosa. Usaha alat pencernaan dilakukan cak bagi meningkatkan hasil. Kemungkinan produksi biomassa bertambah besar dengan sintesis semenjak rumput perennial lainnya.
Poplar 3700–6000 L/ha,
400–640 g/acre
51%–100% Pohon cepat tumbuh. Produksi etanol bergantung berpangkal kemajuan teknologi selulosa. Takdirnya proyek pemijatan genomik tumbuhan ini selesai, maka boleh diusahakan cak bagi meningkatkan hasil tanaman.
Tebu 6800–8000 L/ha,[52]
[75]
[76]
[77]

727–870 g/acre
87%–96% Tanaman yang digunakan perumpamaan perigi utama untuk etanol di Brasil Pabrik pemrosesan terbaru boleh menggelorakan residu yang tidak digunakan kerjakan etanol lakukan menghasilkan listrik. Hanya tumbuh di iklim tropis dan subtropis.
Sorgum manis 2500–7000 L/ha,
270–750 g/acre
Tidak suka-suka data Produksi etanol dapat menggunakan teknologi nan cak semau detik ini. Merecup di tempat beriklim tropis dan sedang, tetapi hasil etanol terala boleh didapat kalau ditanam di bekas tropis. Tidak boleh disimpan lama.[78]
[79]
[80]
[81]
Jagung 3100–4000 L/ha,[52]
[75]
[76]
[77]

330–424 g/acre
10%–20% Digunakan andai tanaman penting produsen bioetanol di Amerika Perseroan. Saat ini hanya kernelnya saja yang dapat diproses. Pengembangan teknologi selulosa akan memungkinkan brangkasannya digunakan kembali dan dapat meningkatkan hasil etanol sampaui 1.100 – 2.000 liter/ha.
Sumur:
Nature
444 (7 December 2006): 673-676.
[a] – Savings of GHG emissions assuming no land use change (using existing crop lands).

Penggunaan lain

Bahan bakar etanol pun boleh digunakan bagaikan bahan bakar roket. Sampai tahun 2010, ada etanol meskipun dalam jumlah minus nan digunakan di Pesawat ringan contohnya Mark-III X-racer.[82]

Setakat detik ini masih banyak pemakaian kerosin untuk penerangan dan memasak di negara-negara yang masih tekor berkembang. Etanol bisa digunakan bagaikan sumber cak bagi mengaplus minyak ini lagi. Sebuah kiriman non-profit yang bernama Kiriman Gaia sedang memperniagakan sebaiknya kompor berbahan etanol bisa menggantikan kayu bakar, arang, alias kerosin.[83]

Bibliografi

  • J. Goettemoeller, A. Goettemoeller (2007).
    Sustainable Ethanol: Biofuels, Biorefineries, Cellulosic Biomass, Flex-Fuel Vehicles, and Sustainable Farming for Energy Independence (Brief and comprehensive account of the history, evolution and future of ethanol). Prairie Oak Publishing,Maryville, Missouri. ISBN 9780978629304.



  • The Worldwatch Institute (2007).
    Biofuels for Transport: Menyeluruh Potential and Implications for Energy and Agriculture (Mondial view, includes country study cases of Brazil, China, India and Tanzania). Earthscan Publications Ltd., London, U.K. ISBN 9781844074228.



Referensi


  1. ^


    “Towards Sustainable Production and Use of Resources: Assessing Biofuels”
    (PDF). United Nations Environment Programme. 16 October 2009. Diarsipkan pecah versi jati
    (PDF)
    tanggal 2009-11-22. Diakses tanggal
    24 October
    2009
    .




  2. ^


    a




    b




    c




    d




    F.Udara murni. Lichts. “Industry Statistics: 2010 World Fuel Ethanol Production”. Renewable Fuels Association. Diarsipkan bermula versi nirmala tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal
    30 April
    2011
    .





  3. ^

    Worldwatch Institute and Center for American Progress (2006).
    American energy: The renewable path to energy security

  4. ^


    “Portaria Nº 143, de 27 de Junho de 2007” (dalam bahasa Portuguese). Ministério da Agricultura, Pecuária e Abastecimento. Diakses sungkap
    5 October
    2008
    .





  5. ^


    “Produção de Automóveis por Tipo e Combustível – 2010(Peti mati 10)”
    (PDF)
    (dalam bahasa Portuguese). ANFAVEA – Associação Nacional dos Fabricantes de Veículos Automotores (Brasil). January 2011. Diakses tanggal
    5 February
    2011
    .




    Production up to December 2010

  6. ^


    “Anúario da Industria Automobilistica Brasileira 2010: Tabelas 2.1-2.2-2.3 Produção por combustível – 1957/2009” (dalam bahasa Portuguese). ANFAVEA – Associação Nacional dos Fabricantes de Veículos Automotores (Brasil). Diarsipkan dari varian sejati tanggal 2011-01-18. Diakses rontok
    5 February
    2011
    .





  7. ^


    “Produção Motocicletas 2010”
    (PDF)
    (n domestik bahasa Portuguese). ABRACICLO. Diakses tanggal
    15 February
    2011
    .





  8. ^


    Abraciclo (27 January 2010). “Motos flex foram as mais vendidas em 2009 na categoria 150cc” (dalam bahasa Portuguese). UNICA. Diarsipkan dari varian zakiah copot 2012-12-05. Diakses tanggal
    10 February
    2010
    .





  9. ^


    “Deforestation diesel – the madness of biofuel”
    (PDF)
    . Diakses tanggal
    27 August
    2011
    .





  10. ^

    Youngquist, W. Geodestinies, National Book company, Portland, OR, 499p.

  11. ^


    “The dirty truth about biofuels”. Oilcrash.com. 14 March 2005. Diakses terlepas
    27 August
    2011
    .





  12. ^


    Kinver, Mark (18 September 2006). “Biofuels look to the next generation”. BBC News. Diakses tanggal
    27 August
    2011
    .





  13. ^


    O. R. Inderwildi, D. A. King (2009). “Quo Vadis Biofuels”.
    Energy & Environmental Science.
    2
    (4): 343. doi:10.1039/b822951c.




  14. ^


    a




    b



    Biotechnology Industry Organization (2007).
    Industrial Biotechnology Is Revolutionizing the Production of Ethanol Transportation Fuel
    Diarsipkan 2006-02-12 di Wayback Machine. pp. 3-4.
  15. ^


    a




    b



    International Energy Agency (2006).
    World Energy Outlook 2006
    p. 8.

  16. ^


    “meti.go.jp file g30819b40j”
    (PDF). Diarsipkan dari versi polos
    (PDF)
    tanggal 2016-03-28. Diakses copot
    27 August
    2011
    .





  17. ^


    “(grainscouncil.com, Biofuels_study 268 kB pdf, footnote, p 6)”
    (PDF). Web.archive.org. 18 July 2008. Archived from the original on 2008-07-18. Diakses copot
    27 August
    2011
    .





  18. ^


    By: Martin LaMonica (12 June 2008). “Algae farm in Mexico to produce ethanol in ’09”. News.cnet.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-03. Diakses rontok
    27 August
    2011
    .





  19. ^


    “New Enzyme for More Efficient Corn Ethanol Production”. Green Car Congress. 30 June 2005. Diakses tanggal
    14 January
    2008
    .





  20. ^


    “Gasoline C made with Hydrous Ethanol in Brazil”
    (PDF). Delphi South America Technical Center – Brazil. 2008-07-30.





  21. ^


    “Beradab Corn Ethanol plant description”
    (PDF). Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 2011-10-07. Diakses tanggal
    2011-10-06
    .




  22. ^


    a




    b



    http://www.afdc.energy.gov Energy.gov site
  23. ^


    a




    b



    http://www.eia.doe.gov Alternative Fuel Efficiencies in Miles saban Gallon
  24. ^


    a




    b




    “washington.edu, course, 22 October v2”. Courses.washington.edu. Diakses sungkap
    27 August
    2011
    .





  25. ^


    “Efficiency Improvements Associated with Ethanol-Fueled Spark-Ignition Engines”. Swri.edu. 21 January 2011. Diakses rontok
    27 August
    2011
    .





  26. ^


    Kaki langit. Stauffer (25 October 2006). “MIT’s pint-sized car engine promises high efficiency, low cost”. MIT. Diarsipkan dari versi safi sungkap 2011-09-27. Diakses copot
    14 January
    2008
    .





  27. ^


    “Squeezing More Out of Ethanol”. Diarsipkan dari versi putih tanggal 2007-08-28. Diakses rontok
    2011-09-21
    .





  28. ^

    Brinkman, T., Halsall, R., Jorgensen, S.W., & Kirwan, J.E., “The Development Of Improved Fuel Specifications for Methanol (M85) and Ethanol (Ed85), SAE
    Technical Paper 940764


  29. ^

    W. Horn and F. Krupp. Earth: The Sequel: The Race to Reinvent Energy and Stop Global Warming. 2006, 85

  30. ^

    Mechanics see ethanol damaging small engines, msnbc.com, 8 January 2008

  31. ^


    “Microsoft Word – Direct_Injection_03=08=05_1.doc”
    (PDF). Diarsipkan bersumber versi nirmala
    (PDF)
    tanggal 2013-06-02. Diakses tanggal
    27 August
    2011
    .





  32. ^


    “SAE Paper 2001-01-2901”. Sae.org. 16 October 2000. Diakses tanggal
    27 August
    2011
    .





  33. ^


    M. Brusstar, M. Bakenhus. “Economical, High-Efficiency Engine Technologies for Alcohol Fuels”
    (PDF). U. S. Environmental Protection Agency. Diakses tanggal
    14 January
    2008
    .





  34. ^

    “Scania continues renewable fuel drive, New highly efficient diesel ethanol engine– ready to cut fossil CO2
    emissions by 90%” Diarsipkan 2009-03-20 di Wayback Machine. Scania PRESSInfo, 21 May 2007

  35. ^

    “England receives ethanol buses Brian Warshaw,
    Ethanol Producer, 21 March 2008

  36. ^


    Wajah M. Balabin; et al. (2007). “Molar enthalpy of vaporization of ethanol–gasoline mixtures and their colloid state”.
    Fuel.
    86
    (3): 323. doi:10.1016/j.fuel.2006.08.008.





  37. ^


    “Sustainable biofuels: prospects and challenges”. The Buar Society. 2008. Diarsipkan mulai sejak varian kalis
    (PDF)
    tanggal 2008-10-05. Diakses tanggal
    27 September
    2008
    .




    Policy document 01/08. See 4.3.1 Vapour pressure and bioethanol and Figure 4.3 for the relation between ethanol content and vapor pressure.

  38. ^


    Ethanol Promotion and Information Council (27 February 2007). “When is E85 titinada 85 percent ethanol? When it’s E70 with an E85 sticker on it”. AutoblogGreen. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2013-07-21. Diakses tanggal
    24 August
    2008
    .




  39. ^


    a




    b




    “Ethanol fuel and cars”. Interesting Energy Facts. Diakses tanggal
    23 September
    2008
    .





  40. ^


    Vägverket (Swedish Road Administration) (30 May 2007). “Swedish comments on Ringgit 5/6 comitology version 4, 30 May 2007: Cold Temperature Tests For Flex Fuel Vehicles”
    (PDF). European Commission. Diakses tanggal
    23 September
    2008
    .





  41. ^


    “Here comes the ‘Flex’ vehicles third generation”
    (PDF).
    Revista Brasileira de BioEnergia
    (dalam bahasa Portuguese). Centro Nacional de Referência em Biomassa (Cenbio). 2008. Diarsipkan dari versi tulus
    (PDF)
    tanggal 2008-10-03. Diakses sungkap
    23 September
    2008
    .




    Ano 2, No. 3 (every article is presented in both English and Portuguese)

  42. ^


    Agência Estado (10 June 2008). “Bosch investe na segunda geração do motor flex” (dalam bahasa Portuguese). Gazeta do Povo. Diakses rontok
    23 September
    2008
    .





  43. ^


    Q. Rodas (2009). “Volkswagen Polo E-Flex” (dalam bahasa Portuguese). Editora Abril. Diarsipkan berpunca versi bersih tanggal 2009-03-07. Diakses rontok
    12 March
    2003
    .





  44. ^


    “Volks lança sistema que elimina tanquinho de gasolina para partida a frio” (dalam bahasa Portuguese). UNICA. 12 March 2009. Diarsipkan dari varian murni sungkap 2012-12-06. Diakses terlepas
    12 March
    2003
    .





  45. ^


    Julieta Andrea Puerto Rico (8 May 2008). “Program de Biocombustíveis no Brasil e na Colômbia: uma análise da implantação, resultados e perspectivas” (dalam bahasa Portuguese). Universidade de São Paulo. Diakses terlepas
    5 October
    2008
    .




    Ph.D. Dissertation Thesis, pp. 81–82

  46. ^


    “2011 Ethanol Industry Outlook: Building Bridges to a More Sustainable Future”
    (PDF). Renewable Fuels Association. 2011. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    tanggal 2011-09-28. Diakses sungkap
    30 April
    2011
    .




    See pages 2-3, 10-11, 19-20, and 26-27.

  47. ^


    Matthew L. Wald (13 October 2010). “A Bit More Ethanol in the Tabun Tank”.
    New York Times
    . Diakses copot
    14 October
    2010
    .





  48. ^


    Fred Meier (13 October 2010). “EPA allows 15% ethanol in gasoline, but only for late-model cars”.
    USA Today
    . Diakses tanggal
    14 October
    2010
    .





  49. ^

    http://www.eia.doe.gov DOE FAQ

  50. ^


    “Ethanol in Minyak bumi”. Royal Automobile Association of South Australia. 2004. Diarsipkan dari versi murni copot 2007-06-09. Diakses terlepas
    29 April
    2007
    .





  51. ^


    “EPA Info”. US EPA. 2011-03-07. Diakses tanggal
    2011-08-27
    .




  52. ^


    a




    b




    c




    J. Goettemoeller, A. Goettemoeller (2007).
    Sustainable Ethanol: Biofuels, Biorefineries, Cellulosic Biomass, Flex-Fuel Vehicles, and Sustainable Farming for Energy Independence. Prairie Oak Publishing, Maryville, Missouri. hlm. 42. ISBN 9780978629304.





  53. ^


    “EPA Mileage”. Fueleconomy.gov. Diakses rontok
    2011-08-27
    .





  54. ^


    “Changes in Gasoline IV, sponsored by Renewable Fuels Foundation”
    (PDF)
    . Diakses tanggal
    27 August
    2011
    .





  55. ^


    “2009 Menyeluruh Ethanol Production (Million Gallons)”
    (PDF). F.Ozon. Licht, cited in Renewable Fuels Association, Ethanol Industry Overlook 2010, pp. 2 and 22. 2010. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    terlepas 2011-07-18. Diakses tanggal
    12 February
    2011
    .





  56. ^


    F.O. Licht. “2007 and 2008 World Fuel Ethanol Production”. Renewable Fuels Association. Diarsipkan pecah versi asli terlepas 2008-04-08. Diakses tanggal
    17 April
    2010
    .




  57. ^


    a




    b




    c




    Green Dreams
    J.K. Bourne JR, R. Clark National Geographic Magazine October 2007 p. 41 Article

  58. ^


    “iea.org, biofuels2004.pdf”
    (PDF). Diarsipkan dari versi lugu
    (PDF)
    terlepas 2015-09-08. Diakses tanggal
    2011-09-30
    .





  59. ^

    Sanders, Robert (26 January 2006).Ethanol can replace gasoline with significant energy savings, comparable impact on greenhouse gases.
    University of California Berkley
    Energy Resources Group, Dan Kammen and Alex Farrell; Michael O’Hare, Goldman School of Public Policy. Also published 27 JANUARY 2006 VOL 311 Science, www.sciencemag.org .Retrieved 22 August 2011.

  60. ^


    “oregon.gov, biomass forum”. Oregon.gov. 27 March 2009. Diakses copot
    27 August
    2011
    .





  61. ^


    M. Wang, C. Saricks, D. Santini. “Effects of Fuel Ethanol Use on Fuel-Cycle Energy and Greenhouse Asap Emissions”
    (PDF). Argonne National Laboratory. Diarsipkan dari versi tahir
    (PDF)
    tanggal 2011-09-29. Diakses tanggal
    7 July
    2009
    .





  62. ^


    M. Wang. “Energy and Greenhouse Asap Emissions Effects of Fuel Ethanol”
    (PDF). Diarsipkan pecah varian safi
    (PDF)
    terlepas 2011-09-29. Diakses tanggal
    7 July
    2009
    .





  63. ^


    Popa, Bogdan (29 Jan 2009). “Emissions: Gasoline vs. Diesel vs. Bioethanol”. autoevolution.com. Diakses tanggal
    27 December
    2010
    .





  64. ^


    Davidson, Keay (18 April 2007). “Study warns of health risk from ethanol”. San Francisco Chronicle. Diakses tanggal
    7 July
    2009
    .





  65. ^


    M. Z. Jacobson (14 March 2007). “Effects of Ethanol (E85) vs. Gasoline Vehicles on Cancer and Mortality in the United States”. ACS Publications. Diakses tanggal 2008-1-14.



  66. ^


    a




    b




    c




    “Part One”
    (PDF).





  67. ^

    Bioethanol Production and Use Creating Markets for Renewable Energy Technologies Diarsipkan 2007-11-28 di Wayback Machine. EU, RES Technology Marketing Campaign, European Biomass Industry Association EUBIA 2007
  68. ^


    a




    b




    D. Morrison (18 September 2006). “Ethanol fuel presents a corn-undrum”. University of Minnesota. Diakses tanggal
    14 January
    2008
    .





  69. ^


    “Lula calls for ethanol investment”. BBC. 4 June 2007. Diakses copot
    14 January
    2008
    .





  70. ^


    “Brazil’s ethanol push could eat away at Amazon”. Associated Press. 7 March 2007. Diakses sungkap
    14 January
    2008
    .





  71. ^

    Kononova, M. M.
    Soil Organic Matter, Its Nature, Its role in Soil Formation and in Soil Fertility, 1961

  72. ^


    D. Russi (7 March 2007). “Biofuels: An advisable strategy?”. Diarsipkan berpangkal versi asli tanggal 2008-03-29. Diakses tanggal
    2011-10-06
    .





  73. ^

    Block, Ben. “Study: biofuels more efficient as electricity source.(EYE ON EARTH)(Brief article).” World Watch 22

  74. ^

    Hill, Jason, Stephen Polasky, Erik Nelson, David Tilman, Hong Huo, Lindsay Ludwig, James Neumann, Haochi Zheng, and Diego Bonta. “Climate change and health costs of air emissions from biofuels and gasoline.(SUSTAINABILITY SCIENCE)(Author abstract).” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States 106.6 (10 February 2009): 2077(6). Expanded Academic ASAP. Gale. BENTLEY UPPER SCHOOL LIBRARY (BAISL). 6 October 2009
  75. ^


    a




    b




    D. Budny, P. Sotero (2007-04). “Brazil Institute Special Report: The Global Dynamics of Biofuels”
    (PDF). Brazil Institute of the Woodrow Wilson Center (updated to Jan, 2011). Diarsipkan dari varian bersih
    (PDF)
    copot 2008-05-28. Diakses copot
    3 May
    2008
    .




  76. ^


    a




    b




    J. Duailibi (27 April 2008). “Ele é o falso vilão” (kerumahtanggaan bahasa Portuguese). Veja Magazine. Diarsipkan mulai sejak versi asli tanggal 2008-05-06. Diakses copot
    3 May
    2008
    .




  77. ^


    a




    b




    M. H. Tachinardi (13 June 2008). “Por que a cana é melhor que o milho” (n domestik bahasa Portuguese). Época Magazine. Diakses tanggal
    6 August
    2008
    .




    Print edition pp. 73

  78. ^


    Belum V S Reddy. “Sweet sorghum: A Water Saving BioEnergy Crop”
    (PDF). International Crops Research Institute for the SemiArid Tropics. Diakses rontok
    14 January
    2008
    .





  79. ^


    “RP INVESTOR TO PUT UP PIONEERING SWEET SORGHUM ETHANOL PLANT”. Manila Bulletin. 25 October 2006. Diarsipkan dari versi kudrati tanggal 2008-02-12. Diakses rontok
    14 January
    2008
    .





  80. ^


    G. C. Rains, J. S. Cundiff, and G. E. Welbaum (12 September 1997). “Sweet Sorghum for a Piedmont Ethanol Industry”. Diakses tanggal
    14 January
    2008
    .





  81. ^


    “ICRISAT develops sweet sorghum for ethanol production”. 12 August 2004. Diarsipkan dari versi lugu tanggal 2007-12-15. Diakses copot
    14 January
    2008
    .





  82. ^


    Rocket Racing League Unveils New Flying Hot Rod, by Denise Chow,
    Space.com, 2010-04-26, accessed 27 April 2010.

  83. ^


    “Welcome to Project Gaia”. Project Gaia. Diakses tanggal
    6 May
    2009
    .




Lihat pula

  • Daftar topik energi
  • Biodiesel
  • Mangsa bakar bio
  • Biomassa
  • Butanol dari Clostridium acetobutylicum
  • Incaran bakar butanol
  • Wahana hidrogen
  • MTBE
  • Bahan bakar seri-P
  • Tebu
  • Bahan bakar larutan
  • Krisis minyak
  • Garis periode bahan bakar alkohol
  • Etanol selulosa
Baca juga:   Konfigurasi Elektron Unsur Q Yang Paling Sesuai Adalah

Pranala luar

  • How Ethanol is Made Diarsipkan 2006-09-23 di Wayback Machine.
  • Etanol from Sweet Sorghum:[1] Diarsipkan 2006-08-31 di Wayback Machine.
  • Etanol fuel for rural households;[2] Diarsipkan 2006-08-23 di Wayback Machine.
  • U.S. Department of Energy: ethanol.
  • National Pollutant Inventory – Ethanol fact sheet Diarsipkan 2006-05-15 di Wayback Machine.
  • Farm Industry News: Hydrogen Corn Economy Diarsipkan 2006-05-02 di Wayback Machine.. Article about converting etanol to hydrogen.
  • Clean Fuels Development Coalition [3]
  • Pimentel: Ethanol – Inefficient Fuel Diarsipkan 2006-03-05 di Wayback Machine. and Debunking Pimentel: Ethanol – Efficient Fuel Diarsipkan 2006-05-18 di Wayback Machine.
  • Henry Ford, Charles Kettering and the Fuel of the Future (history of etanol) [4] Diarsipkan 2006-07-03 di Wayback Machine.
  • Renewable and Appropriate Energy Laboratory’s survey article *Ethanol Can Contribute to Energy and Environmental Goals (.pdf ukuran). Published in Science, January 27, 2006
  • David Cohn, “Ethanol’s New Cheap Trick Diarsipkan 2006-06-19 di Wayback Machine.”,
    Seed Magazine Diarsipkan 2020-06-06 di Wayback Machine.” March 31, 2006
  • DrivingEthanol.org
  • e85 ethanol information
  • FuturePundit.com – Is Corn Ethanol A Good Energy Source?
  • Thermodynamics of the Corn-Ethanol Biofuel Cycle Diarsipkan 2005-05-19 di Wayback Machine. Tad W. Patzek, Department of Civil and Environmental Engineering, University of California, Berkeley
  • How far can you drive on a bushel of corn? Crunching the numbers on alternative fuels. Popular Mechanics Diarsipkan 2007-04-30 di Wayback Machine. May, 2006 issue
  • Robert Rapier, “Ethanol Investing: Counterpoint Diarsipkan 2006-08-09 di Wayback Machine.”,
    Financial Sense Diarsipkan 2006-09-06 di Wayback Machine.” June 23, 2006
  • Digging into the Ethanol Debate Diarsipkan 2006-09-12 di Wayback Machine. Wall Street Journal Online, June 9, 2006. Summary of the production efficiency debate, with references.
  • Biofuels: Think Outside The Barrel Diarsipkan 2011-05-20 di Wayback Machine.—Google bedak on etanol by Vinod Khosla, a Silicon Valley billionaire (requires kendaraan player)
  • The Andersons Agriculture & Ethanol Company
  • Ethanol India
  • Pacific Ethanol
  • Archers Daniels Midland Agriculture & Ethanol Company
  • Verasun Energy
  • Biomass Ethanol Energy Diarsipkan 2019-08-08 di Wayback Machine.
  • American Coalition for Ethanol
  • Ethanol & Methanol Diarsipkan 2006-08-29 di Wayback Machine. – Article by Rob Rodriguez (ASE) on CDX
    eTextbook



Tanaman Yang Dapat Dijadikan Sebagai Penghasil Biomassa Adalah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Bahan_bakar_etanol