Tari Calon Arang Dari Bali Berfungsi Sebagai

By | 9 Agustus 2022
Kadek Suartaya. (BP/Khas)

Maka itu: Kadek Suartaya

Pron bila wabah Covid-19 masih menghantui, bilang Pura Dalem di Bali menggelar odalan, seperti Rajut Dalem Sukawati, Gianyar, Pura Dalem Bubunan, Buleleng, Pura Dalem Tapuagan, Bangli, dan lain-lainnya. Salah satu pura kahyangan tiga yang lazimnya ada di setiap desa aturan ini, lazim mengusung munjung takzim benda sakral berupa Rangda.

Rangda yang dikeramatkan ini biasanya ditampilkan di hadapan komunitasnya dalam sebuah pementasan dramatari Calonarang sreg puncak prosesi upacara yang berlangsung di halaman luar jala-jala. Akan tetapi di tengah merebaknya wabah virus Corana waktu ini ini, pementasan drama of magic spesifik Bali tersebut tidak tertumbuk pandangan hadir unjuk keseraman karena aturan social distancing.

Teater Calonarang ialah seni pergelaran Bali yang sejak dulu hingga masa ini menjadi seni pentas nan senantiasa mengundang banyak minat masyarakat spektator. Kancing tarik dari kesenian yang diduga sudah muncul di Bali lega musim 1825 ini ialah unsur sihirnya. Suasana seram menyembul dalam kata majemuk estetik tari atau dipamerkan secara gamblang pada adegan-adegan tertentu.

Bagian berhantu yang sering membuat pemirsa bergidik adalah saat munculnya kunarpa-mayatan yang dimandikan, madusang-dusangan, persis memperlakukan orang sepi sesungguhnya di tengah masyarakat Bali. Hanya, gedoran rasa redup itu justru menjadikan masyarakat pirsawan kian kepincut memburu, menyaksikan pagelaran teater Calonarang.

Sebagai teater yang elemennya memadukan tari Topeng, Gambuh, Arja dan Palegongan, pementasan Calonarang dimaknai sebagai seni pertunjukan tumbal. Fungsinya laksana ritus penghalau wabah kebobrokan ini, tampak secara eksplisit pada wanti-wanti tata krama dari narasi nan dibawakan. Dramatari ini berbingkai hitam ceria, narasi ki kebusukan versus kebenaran.

Ni Calonarang, janda penganut ilmu hitam dari Desa Girah maupun Dirah, adalah pihak antagonis yang menebar wabah ki aib, yang sreg akhirnya boleh ditaklukkan maka itu protagonis paparazi dharma nan dalam karya sastra Favorit Arang dipresentasikan pada pelopor penganut spiritual mumpuni, Empu Bharadah, penasihat penting Raja Airlangga.

Baca juga:   Berdasarkan Teks Berikanlah Masing Masing 3 Contoh Sumber Daya Alam

Dramatari Calonarang disajikan para artis dan seniwati Bali dalam bilang lakon. Lakon yang umum disimak pemirsa, di antaranya ‘’Katundung Ratna Mangali’’ dan ‘’Ngeseng Waringin’’. ‘’Katundung Ratna Mangali’’ mengisahkan diusirnya Ratna Mangali berasal keraton sebagai ulam-ulam Raja Airlangga karena dituduh menganut black magic sebagaimana ibunya, Ni Calonarang.

Sementara itu lakon ‘’Ngeseng Waringin’’ bertutur resistansi sengit Ni Calonarang melawan Mpu Bharadah habis adu kesaktian menggiatkan beringin. Selain mengangkat lakon dengan sastra sumber, teater Calonarang juga tidak jarang memajukan tema teluh yang dicukil dari babad sebagaimana kisah ‘’Balian Batur’’ ataupun kisahan rakyat ‘’Dayu Datu’’ dan ‘’Basur’’.

Karya sastra dari sumber cerita seni pertunjukan Calonarang ini diduga muncul pada abad XI, zaman Kerajaan Airlangga di Jawa Timur, sekitar tahun 1006-1042 Masehi. Menariknya, naskah lontar dengan bahasa Jawa Kuno ini menjadi catatan tertua di Indonesia nan mengisahkan tentang terjadinya suatu pandemi penyakit. Kali gerangan pujangga yang batik karya sastra menunggangi leter Bali Kuno ini tidak diketahui.

Naskah Calon Arang, pada tahun 1926, nikah diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh Poerbatjaraka dengan tajuk ‘’De Calon Arang’’, kemudian maka itu Soewito Santoso diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan titel ‘’Calon Arang Si Janda Dari Girah’’, diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1975. Kini naskah tulus Favorit Arang masih tersimpan puas sebuah taman bacaan di Leiden, Belanda.

Dalam transformasinya perumpamaan seni pertunjukan Bali, di samping tetap mengacu kepada sastra sumbernya, terjadi peluasan dan distorsi. Misalnya unjuk tokoh penting nan disebut Rangda yang merupakan siluman Calonarang dalam wujud berhantu. Sedangkan yang dimaksud rangda dalam sastra sumber adalah janda-Ni Calonarang yaitu sendiri janda sakti mulai sejak Dirah.

Baca juga:   Bentuk Persen Dari 6 8 Adalah

Memang, sudah lazim dalam konsep daya kreasi seniman Bali yang menjadikan sastra sumber sebagai bingkai intrinsik sahaja. Performa estetik dan artistiknya dicangkokkan dengan pola-cermin, kata majemuk-idiom, atau resan-resan yang dolan n domestik seni pertunjukan tradisional Bali. Saja dalam teater Calonarang, yang cerbak bahkan harus ditonjolkan, adalah subtema sihirnya yang di tengah masyarakat Bali disebut leak.

Darurat itu, kajian ilmiah menyangkut teater Calonarang cukup banyak, baik hasil eksplorasi para jauhari asing ataupun Indonesia sendiri. Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya ‘’Dance and Sandiwara bangsawan in Bali’’ (1931), Urs Ramseyer dalam ‘’The Art and Culture of Bali’’ (1977), Soedarsono kerumahtanggaan ‘’Jawa dan Bali, Dua Sosi Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia’’ (1972), I Made Bandem & Fredrik deBoer dengan ‘’Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition’’ (1981), dan lain-lainnya mengupas dan memangkalkan dramatari Calonarang laksana seni pertunjukan Bali yang tunggal mementaskan lakon ilmu hitam.

Sendiri dramawan terkemuka Prancis, Antonin Artaud, nan sempat terpesona menyaksikan pergelaran Calonarang nan ditampilkan makanya sebuah tim kesenian Bali di negerinya dalam arena Paris Colonial Exhibition pada masa 1931, dalam karya-karya teaternya seperti ‘’No More Master Sieces’’ dan ‘’The Theatre and Plague’’, dikenal kental bernuansa dramatari Calonarang. Di dalam negeri, seorang koreografer naik daun Indonesia, Sardono W. Kusumo, pula afiliasi menggarap drama tari Calonarang dengan judul ‘’Takhayul dari Dirah’’.

Nah, di Pulau Bali inilah, sejak suntuk hingga kini, narasi Calonarang membumi, hidup dan berkembang sebagai ekspresi estetik serta disangga makanya psiko-relegi berbalur mistis dan berakar mitologis. Pergelaran Calonarang yang berkaitan dengan upacara di Pura Dalem merupakan suatu uang suap kepada Dewa Siwa sebagai pendaur ulang yang melebur segala sesuatu, didampingi saktinya, Haur Uma, privat wujud Durga. Rangda yang disakralkan di Pundi-pundi Dalem ialah wujud simbolik dari Dewa Siwa maupun Dewi Durga yang mumbung hidayah mengayomi dan sebaliknya mempralina vitalitas. Ditampilkannya benda wingit Rangda lega klimaks pementasan Calonarang merupakan simbol berkenannya Hyang Widhi mengayomi semangat. Pementasan Calonarang sejatinya adalah sebuah ‘’ritual artistik’’ yang makna transedentalnya untuk minta penjagaan Tuhan berbunga segala malapetaka.

Baca juga:   Sikap Bergantung Pada Palang Melatih Kekuatan Otot

Sastra Primadona Arang kerumahtanggaan transformasinya misal seni pentas tolak bala Calonarang, adalah guratan kearifan lokal yang mewanti-wanti perantaraan terjadinya malapetaka pandemi problem, seperti Covid-19 waktu ini ini, mengandung saripati wejangan reflektif persuasif. Publik Bali, meneruskan dan memaknainya secara religi-simbolis melalui seni pertunjukan.

Dalam teater ini, Ni Calonarang dikisahkan bubar binasa, terberangus berikut ilmu tenungnya oleh Mpu Bharadah. Ini adalah bacaan berkonteks ruwatan penyadaran menuju perkembangan yang benar. Karena itu, pementasan dramatari Calonarang dalam tinggi praktis dipersembahkan sebagai seni tumbal ritual takdis diri dan bumi.

Ruwatan dijalani perumpamaan geretak spiritualisme membangun optimisme, penguatan diri meningkatkan sistem imun n domestik tubuh, untuk menjalani kehidupan dengan makin berani berbinar kepatuhan seperti waktu ini, saat kita bersama menimbangi grubug Corona. Ritual ruwatan, termasuk persembahan dramatari Calonarang, juga ideal digelar sebagai pemulihan ketabahan batin pascaberlalunya satu malapetaka.

Notulis, pemerhati seni budaya, Dosen ISI Denpasar

Tari Calon Arang Dari Bali Berfungsi Sebagai

Source: https://www.balipost.com/news/2020/05/30/126144/Calonarang-dan-Pendekatan-Tolak-Bala.html