Tarian Bedoyo Dan Serimpi Berasal Dari Daerah

By | 11 Agustus 2022

Tarian Bedoyo Dan Serimpi Berasal Dari Daerah.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sang bedaya sedang memperagakan tari srimpi.

Srimpi
ataupun
Serimpi
adalah bentuk repertoar (penyajian) tari Jawa klasik berpokok adat istiadat kraton Sultanat Mataram dan dilanjutkan konservasi serta peluasan sampai waktu ini oleh empat istana pewarisnya di Surakarta dan Yogyakarta[1]
[2].

Presentasi tari pentas ini dicirikan dengan empat penayub berbuat gerak gemulai yang menyantirkan kesopanan, kehalusan fiil, serta kelemahlembutan yang ditunjukkan dari gerakan yang alun-alun serta anggun dengan diiringi suara nada klonengan.[3]
[4]
Srimpi dianggap mempunyai kemiripan posisi sosial dengan tari Pakarena dari Makasar, yaitu dilihat dari segi kelembutan gerak para penayub[5]
dan perumpamaan tarian keraton.

Sejak berusul zaman kuno, tari Srimpi sudah n kepunyaan kedudukan yang istimewa di istana-keraton Jawa dan bukan bisa disamakan dengan tari pentas nan bukan karena sifatnya yang sakral.[6]
Dahulu tari ini hanya boleh dipentaskan oleh orang-orang nan dipilih puri.[6]
Srimpi memiliki tingkat kesakralan nan seperti mana pusaka ataupun benda-benda yang melambang kekuasaan syah yang berasal berpokok zaman Jawa Hindu, lamun sifatnya tidak sesakral Tari Bedhaya.[6]
[7]
[8]

Dalam pagelaran, tari srimpi tidak majuh memerlukan sesajen sama dengan pada tari Bedhaya, melainkan semata-mata di waktu-waktu tertentu saja.[7]
Adapun iringan musik untuk tari Srimpi adalah mengutamakan paduan suara koalisi, adalah saat merinaikan lagu syair-sajak Jawa.[7]

Srimpi koteng mutakadim banyak mengalami perkembangan berpokok perian ke musim, di antaranya durasi waktu atraksi.[9]
Kini riuk satu kebudayaan nan berasal dari Jawa Tengah ini dikembangkan menjadi beberapa varian plonco dengan durasi pergelaran yang semakin ringkas.[9]
Sebagai komplet Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit dan juga Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit yang awal penyajiannya berdurasi tekor bertambah 60 menit.[10]

Selain musim pagelaran, tari ini juga mengalami perkembangan pecah segi pakaian.[11]
Baju penayub yang awalnya merupakan begitu juga gaun yang dikenakan oleh pengantin nona istana dengan dodotan dan lilitan bokor sebagai hiasan kepala, detik ini kostum penari beralih menjadi pakaian tanpa lengan, serta gelendong rambut nan menari-nari bunga ceplok, dan paesan superior berupa bulu burung kasuari.[11]
[12]

Memori dan filosofi

[sunting
|
sunting sumber]

Kemunculan tari Srimpi berawal berusul tahun kejayaan Kerajaan Mataram saat Sultan Agung memerintah pada tahun 1613-1646.[13]
Dansa ini dianggap sakral karena belaka dipentaskan privat lingkungan keraton untuk seremoni kenegaraan sampai peringatan eskalasi tahta baginda.[13]
Pada periode 1775 Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.[13]
Perpecahan ini berimbas pada tari Srimpi sehingga terjadi perbedaan gerakan, lamun inti pecah tariannya masih sama.[13]
Tari ini muncul di lingkungan keraton Surakarta seputar tahun 1788-1820.[9]
Dan mulai waktu 1920-an dan seterusnya, tuntunan tari klasik ini dimasukkan ke dalam netra pelajaran Taman-taman siswa Yogyakarta dan n domestik institut tari serta karawitan Krida Beksa Wirama.[7]
Setelah Indonesia merdeka, tari ini kemudian juga diajarkan di akademi-akademi seni tari dan karawitan pemerintah, baik di Surakarta maupun di Yogyakarta.[7]

Baca juga:   . Diatas Not Angka Berfungsi Sebagai Tanda

Awalnya tari ini bernama
Srimpi Sangopati
yang merujuk pada satu pengertian, yakni calon pengubah kanjeng sultan.[14]
Namun, Srimpi sendiri juga mempunyai kemustajaban cewek.[15]
Pendapat nan tak, menurut Dr. Priyono, nama srimpi dapat dikaitkan ke akar prolog “impi” atau damba.[13]
Maksudnya adalah saat menyaksikan tarian rengsa gemulai sepanjang 3/4 sampai 1 jam itu, para pirsawan sebagai halnya dibawa ke alam lain, merupakan pan-ji-panji mimpi.[13]

Kemudian tercalit dengan komposisinya, menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi bedaya Srimpi menandakan empat indra penglihatan angin maupun empat atom dari bumi ialah: Grama (jago merah), Angin (udara), Toya (air), Bumi (tanah).[9]
[13]
[16]
Komposisinya yang terdiri berasal empat anak adam tersebut membuat segi empat yang menyimbolkan tiang pendopo.[13]
Mengenai nan digambarkan dalam pagelaran tari srimpi adalah perangnya pahlawan-pahlawan dalam narasi Menak, Purwa, Mahabarata, Ramayana, sejarah Jawa dan nan enggak ataupun dapat kembali dikatakan sebagai joget yang mengisahkan pertempuran nan dilambangkan n domestik kubu (satu kubu berarti terdiri dari dua penari) yang terlibat dalam suatu peperangan.[15]
[16]
[17]
Tema nan ditampilkan plong tari Srimpi selayaknya sama dengan tema sreg tari Bedhaya Sanga, adalah mencitrakan percekcokan antara dua hal yang bertentangan antara baik dan buruk, antara moralistis dan riuk, serta antara akal geladak manusia dan nafsunya.[13]
Keempat penarinya biasanya berlaku bak Batak, Gulu, Dhada dan Buncit.[9]

Sri Sultan Hamengkubuwana VII, penggerak tari Srimpi bersenjatakan beceng.

Tema perang internal tari Srimpi menurut Raden Mas Wisnu Wardhana, merupakan penggambaran falsafah hidup ketimuran.[13]
Pertentangan dalam tari Srimpi merupakan simbol pertentangan yang lain sambang suntuk antara kebaikan dan kejahatan.[13]
Bahkan tari Srimpi dalam mengekspresikan gerakan tari perang terlihat lebih jelas karena dilakukan dengan aksi nan sama dari dua pasang prajurit melawan prajurit yang lain dengan pertolongan properti tari berupa senjata.[13]
Senjata yang digunakan n domestik tari ini, antara lain nyata keris katai maupun cundrik, jembeng (semacam perisak), dan tombak ringkas.[13]
Puas zaman tadbir Sri Sultan Hamengkubuwana VII, yaitu plong abad ke-19, cak semau pula tari Srimpi nan senjatanya positif beceng nan ditembakkan ke arah bawah.[11]

Pertunjukkan tari asal Jawa Perdua ini biasanya berada di semula program karena berfungsi ibarat tari pembuka, selain itu, tari ini kadang kala juga ditampilkan ketika suka-suka pergelaran wayang golek orang.[15]
[18]
Setakat sekarang tari Srimpi masih dianggap sebagai seni yang adhiluhung serta merupakan pusaka keraton.[13]

Baca juga:   Kegiatan Administrasi Sering Disebut Dengan Kegiatan

Diversifikasi-jenis

[sunting
|
sunting perigi]

Tarian Srimpi di Sultanat Yogyakarta digolongkan menjadi Srimpi Babul Cucur, Srimpi Dhempel, dan Srimpi Genjung.[13]
[19]
Untuk Kasunanan Surakarta, Srimpi digolongkan menjadi Srimpi Anglir Mendhung dan Srimpi Sangupati.[13]
Salah satu jenis tari Srimpi yang enggak gaya Yogyakarta ialah Srimpi Renggawati yang dipentaskann oleh lima orang, yakni catur penandak ditambah dengan satu penayub sebagai putri Renggawati.[17]
Adapun kisah nan diceritakan adalah kisahan Angling Dharma, seorang putra mahkota yang masih cukup umur dan dihinggapi kutukan menjadi kalam Mliwis.[17]
Dia akan dapat juga ke wujud tadinya jikalau badannya tersentuh oleh tangan koteng perawan cantik jelita (putri Renggawati).[17]
Semua situasi ini dicerminkan dalam tari-tarian yang digelar oleh para penari srimpi Renggawati yang diakhiri dengan sebuah kebahagiaan.[17]

Di asing tembok keraton, ada tari Srimpi yang juga ditarikan oleh lima penayub, ialah Srimpi Panca.[8]
Tari ini berkembang di provinsi pedesaan, merupakan di tengah-perdua masyarakat Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.[8]
Di Desa Ngadireso, Srimpi akan digelar saat ada upacara ruwatan, yakni satu proses penyabunan diri yang bertujuan bagi menghibur nasib buruk serta aura negatif internal diri seseorang yang dilakukan dengan cara tertentu.[20]
[21]
Adapun ruwatan yang dilakukan adalah ruwatan murwakala, yakni ruwatan yang dilakukan untuk menguburkan atau mereservasi seseorang nan diyakini akan menjadi mangsa atau makanan Bethara Rasi.[8]
Meskipun begitu, Srimpi ini bertemakan kegembiraan, erotik, dan sakral.[22]
Srimpi Lima merupakan wujud dari gagasan dan aktivitas masyarakat pemiliknya.[22]
Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosio-kultural karena dalam lingkungan etnik, perilaku memiliki kewenangan yang amat samudra dalam menentukan keberadaan kesenian termasuk tari tradisional.[22]

Bentuk srimpi tertua menurut sumber tertulis, diciptakan oleh Sri Pakubuwana V pada hari Jawa 1748 atau sekitar tahun 1820-1823, ialah Srimpi Ludiramadu.[2]
Tari ini diciptakan olehnya bagi mengenang ibunya yang berpembawaan Madura.[23]
Buat lembaga terbaru srimpi adalah Srimpi Pondelori, coretan para guru perserikatan tari Yogyakarta, kemudian cak semau Among Beksa yang dipentaskan maka itu delapan orang penayub dengan mengambil tema Menak.[2]

Srimpi Pondelori sendiri ialah suatu gambar tari Srimpi khusus Yogyakarta yang dipentaskan makanya catur orang.[14]
Isinya ialah sebuah pertengkaran antara Haur Sirtupilaeli dan Dewi Sudarawerti yang memperebutkan cinta dari Wong Agung Jayengrana, pangeran dari negeri Arab.[14]
Di akhir kisah tidak terjadi kekalahan maupun keberuntungan karena dua kubu yang berseteru akhirnya semua dinikahi maka itu pangeran.[14]

Baca juga:   Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Unsur Unsur Manajemen Adalah

Kemudian ada tari Srimpi Muncar.[14]
Nan mengasingkan dari tari ini adalah penarinya mengenakan gaun tunggal orang Tionghoa.[14]
Umumnya tari yang satu ini dibawakan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kantung Mangkunegaran.[14]

Selanjutnya yakni tari Srimpi Pamugrari, dinamakan seperti itu karena musik pengiringnya menggunakan gending pramugari.[14]
Untuk senjata nan dibawa ketika menari adalah pistol.[14]

Referensi

[sunting
|
sunting sumur]


  1. ^


    Hartati, Sri.Seri Panduan Belajar dan Evaluasi Ilmu Pengetahuan Sosial.Jakarta:Grasindo. Hal. 30
  2. ^


    a




    b




    c




    A.M. Munardi, dkk (2002).
    Indonesian Heritage:Seni Pertunjukkan.Jakarta: Buku Antar Bangsa. Terj. Karsono. Keadaan. 76-77

  3. ^


    Murtono, Sri (2007).Seni Budaya dan Kelincahan.Jakarta:Yudhistira. Situasi. 51 Cet. 2

  4. ^


    Paradisa, Gendhis (2009).Ensiklopedia Seni dan Budaya Nusantara.Jakarta:PT Kawan Pustaka. Hal. 56 Cet. 2

  5. ^


    Sigit Astono, dkk (2007).Apresiasi Seni: Seni Tari dan Seni Musik 1 SMA Kelas X.Jakarta:Yudhistira. Situasi. 41 Cet 2
  6. ^


    a




    b




    c




    Lelyveld van Th. B. (1931).Seni Tari Jawa.Amsterdam:Vanholkema & Warendrob. Hal. 268
  7. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Papenhuyzen, Clara Brakel (1991).Seni Tari Jawa: Tradisi Surakarta dan Peristilahannya.Jakarta:ILDEP-RUL. Terj. Mursabyo. Kejadian. 48-97
  8. ^


    a




    b




    c




    d




    “Makna Konotatif Srimpi Panca”
    (PDF). Universitas Distrik Malang. Diakses tanggal 15 Mei 2014 Hal. 2-3.




  9. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    “Tari Serimpi”. Indonesia Kaya Web. Diarsipkan berasal versi bersih tanggal 2014-05-17. Diakses tanggal
    29 April
    2014
    .





  10. ^


    “Indahnya Tari Serimpi dari Jogjakarta”. Tango Web. Diarsipkan semenjak versi jati rontok 2014-05-17. Diakses tanggal
    15 Mei
    2014
    .




  11. ^


    a




    b




    c




    “Tari Serimpi, Tarian Sakral di Area Partikular Yogyakarta”. Pusaka Web. Diakses rontok
    15 Mei
    2014
    .





  12. ^


    “Tari Serimpi”. Dunia Diksi. Diakses terlepas
    15 Mei
    2014
    .




  13. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    j




    k




    l




    m




    falak




    o




    p




    “Tari Serimpi”. Google Docs. Diakses terlepas
    15 Mei
    2014
    .




  14. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f




    g




    h




    i




    “Tari Serimpi”. Anne Ahira. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-16. Diakses tanggal
    15 Mei
    2014
    .




  15. ^


    a




    b




    c




    Suryo, Sukendro (2009).Keliling Tempat-tempat Tamasya Eksotis di Jogja.Yogyakarta:Ki alat Pressindo. Hal. 157
  16. ^


    a




    b




    Kristi, Nava (2012).Fakta Menakjubkan tentang Indonesia.Jakarta:Cikal Aksara Keadaan. 61
  17. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Anshoriy, Nasruddin (2008).Pendidikan Berwawasan Nasional:Pemahaman Ilmiah Berbasis Multikulturalisme.Yogyakarta:LKiS. Keadaan. 158

  18. ^


    Dana sendi Franklin, Yayasan (1973).Ensiklopedi Umum.Yogyakarta:Kanisius. Hal. 558

  19. ^


    “Pecahnya Kekaisaran Mataram di Tari Serimpi”. Berita Sering Keren. Diarsipkan dari versi polos rontok 2014-05-16. Diakses tanggal
    15 Mei
    2014
    .





  20. ^


    Munardi, AM (1996).Srimpi Lima di Desa Ngadireso.Jurnal Seni Pertunjukkan Indonesia. Hal. 35-37 Vol.7

  21. ^


    “Garam Ruwatan”. Ruwatan Web. Diakses rontok
    15 Mei
    2014
    .




  22. ^


    a




    b




    c




    Sedyawati, Edy (1981).Pertumbuhan Seni Pertunjukan.Jakarta:Nur Maksud. Keadaan. 52

  23. ^


    “Tari Serimpi”. Gatra Web. Diakses tanggal
    15 Mei
    2014
    .





    [
    pranala purnajabatan permanen
    ]


Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]


  • Media tercalit Tari Srimpi di Wikimedia Commons



Tarian Bedoyo Dan Serimpi Berasal Dari Daerah

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Srimpi