Tema Sebuah Karya Seni Rupa Sangat Dipengaruhi Oleh

By | 11 Agustus 2022

Tema Sebuah Karya Seni Rupa Sangat Dipengaruhi Oleh.

Mengapresiasi Karya Seni Rupa di Daerah Setempat

1. Kajian Tema dalam Karya Seni Rupa Ceria

Kita telah membahas tentang apa dan bagaimana munculnya tema serta gaya dalam karya seni rupa. Karya seni ialah bentuk ekspresi spirit seniman. Oleh karena itu, apa dan bagaimana tema dan tren satu karya seni tersangkut bagaimana tema dan kecenderungan yang dipilih seniman yang membuatnya. Jadi, membaca tema dan gaya satu karya sebenarnya begitu juga mempelajari permukaan bokong gagasan seorang artis.

Di dalam penciptaan suatu karya seorang seniman sangat dipengaruhi lingkungannya. Nan tercatat lingkungan dalam kejadian ini, antara lain tahun, situasi-situasi, kebudayaan setempat, dan pendapat-pendapat.

Tentu masih cak semau faktor tidak, tetapi empat faktor tersebut di atas merupakan faktor dominan yang takhlik sebuah gagasan plong diri seorang artis.


Misalnya, puas waktu 1948-1949 di Indonesia tengah mengalami agresi Belanda sehingga masih terjadi banyak penampikan antara rakyat Indonesia dengan Belanda. Situasi-kejadian tersebut kembali disaksikan dan dialami oleh sendiri nan bernama M. Toha. Kejadian-hal itu pula yang mendorong dia merekam kejadian-peristiwa dalam catatan gambar dengan peranti dan bahan seadanya. Maka terciptalah lukisan-lukisan dengan tema suasana peperangan, yang foto-fotonya mutakadim dibukukan maka dari itu Dullah dengan judul Karya privat Penangkisan dan Persebaran. Buku tersebut memuat 84 foto lukisan peperangan karya M. Toha.Bintang sartan M. Toha intern menentukan tema lukisannya terpengaruh oleh waktu dan kejadian yang ada di sekitarnya.

Perhatikan lukisan di samping! Lukisan tersebut adalah karya Antonio Blanco dengan tema peronggeng Bali. Mengapa Antonio Blanco senang melukis dengan tema-tema kebudayaan Bali? Lebih lagi, akrab semua lukisan Antonio Blanco memiliki tema spirit masyarakat Bali. Sekiranya kita lihat seterusnya, ternyata Antonio Blanco adalah basyar Spanyol yang telah berkeluarga dengan wanita Bali serta menetap di pulau tersebut. Ketertarikan dan kecintaannya kepada Bali memengaruhi gagasan-gagasannya dalam berkarya.

Lukisan-lukisan Basoeki Abdullah banyak bertemakan semangat kaum atas karena beliau lahir semenjak mileu bangsawan dan lebih banyak berbual mesra dengan kelompok bangsawan. Bahkan, beliau belajar melukis ke asing negeri, satu peristiwa yang bukan bisa dilakukan masyarakat biasa puas waktu itu.


Demikian pula, tema-tema lukisan S. Sudjojono, Affandi, Agus Jayasuminta, Otto Jayasuminta makin banyak diambil dari hidup masyarakat papan bawah bawah. Peristiwa itu dikarenakan mereka adalah seniman yang banyak bergaul dengan umum normal. Pada zaman perjuangan kemerdekaan lukisan-lukisan S. Sudjojono banyak bertemakan jiwa rakyat yang madya memperjuangkan kemandirian.

Baca juga:   Hati Yang Bersih Akan Menciptakan Dalam Berhubungan Dengan Saudara Sesamanya

Tak sekali lagi dengan Dede Eri Supria yang umur di alam Indonesia sehabis merdeka, maka tema-tema karya lukisnya banyak mengambil tema hayat masyarakat setelah otonomi, sebagai halnya spirit pandai satuan, pengemis, dan pekerja bangunan.

Kaprikornus, ketika kita mencamkan tema suatu karya seni rupa, maka kita harus membenakan waktu kreasi serta permukaan belakang yang melingkupi senimannya. Dengan demikian kesadaran kita terhadap satu karya seni rupa akan konseptual.

2. Amatan Gaya dalam Karya Seni Rupa Polos

Gaya-gaya karya seni rupa Nusantara, terutama seni lukisnya, sebenarnya tidak serumit dan selengkap di Eropa. Keadaan ini dikarenakan sejarah seni lukis di Indonesia lain sepanjang di Eropa.

Kecenderungan seni rupa di Indonesia dimulai berbunga gaya naturalis romantisme yang terdapat dalam lukisan-lukisan Raden Imani. Gaya ini diteruskan oleh pelukis-pelukis zaman Indonesia jelita, seperti Abdullah Suryo Subroto, Basoeki Abdullah, Henk Ngantung, dan enggak-lain. Basoeki Abdullah juga kadang menampilkan gaya naturalis faktualisme, yaitu karya dengan gaya naturalisme, tetapi dengan sapuan lebih agresif dengan mengambil tema kejadian kerumahtanggaan masyarakat. Gaya faktualisme ini dipengaruhi oleh falsafah arts imitatur naturan (seni ialah imitasi pan-ji-panji) yang dicanangkan Aristoteles.

Gaya yang unjuk kemudian yakni tendensi faktualisme yang dimotori maka dari itu S. Sudjojono, Affandi, dan Agus Jayasuminta. Kecondongan ini kemudian diramaikan maka itu seniman-seniman, sebagai halnya Achmad Sadali, O.H. Supono, A.D. Pirous, Srihadi Sudarsono, dan Widayat.

Lukisan Potret diri Affandi Yang Dikerjakan dengan gaya Ekspresif pelototan

Pelukis-ilustrator tersebut terus berputar mencari dan mencoba perombakan sehingga intern geraknya tersebut mereka berganti-ubah gaya. O.H. Supono selain melukis dengan tren realisme pernah melukis dengan gaya surealisme, sampai akhirnya menekuni gaya impresionistik. Achmad Sadali sebelum dengan gayanya yang niskala pernah melukis dengan gaya realisme romantisme dan kubisme. Affandi sebelum menemukan gaya ekspresif pelototannya pernah melukis dengan tendensi realisme. Widayat sebelum menjadi perupa dengan kecenderungan ornamental kepurbaan juga pernah menjadi perupa dengan gaya realisme. S. Sudjojono yang kini menjadi pelukis ekspresif yang garang dan kusam, dulunya adalah pelukis realisme yang condong fotografis dengan media pastel.

Kaprikornus seorang seniman kadang gonta-ganti gaya di dalam menciptakan karyanya. Hal ini dilakukan karena koteng seniman selalu mengamalkan pencarian-pencarian rencana yang minimum tepat bagi isi jiwanya.

Baca juga:   Bahasa Indonesia Halaman 167 Kelas 8

Gaya, sebagai bagan pencarian, merupakan ekspresi ketidakpuasan seniman terhadap gaya yang sudah lalu ada sebelumnya. Makanya karena itu, tren buruk perut unjuk dengan nan lebih hijau.


Semata-mata, dari segala apa tren yang cak semau dan kita kenal, Howard Simon dalam bukunya Techniques of Drawing nan disadur oleh Dean Praty R. mengelompokkan menjadi bagan rampatan, nonobjektivisme, kubisme, surealisme, dan ekspresionisme.

a. Abstraksi

Lukisan abstrak karya Jelihan yang berjudul Bandung

Lukisan niskala adalah lukisan atau rang yang menganut nilai-nilai di mana bentuk diciptakan secara alamiah, namun dibentuk dan ditata pula dengan sedemikian rupa sehingga keharmonisan dan ritmenya unjuk. Objek-objek dan bentuk-rang dipecah-bermula dalam seni ini dan membentuk onderdil garis masing-masing, yang kemudian dipisah-sisih dan diletakkan n domestik tata letak sesuai selera sang seniman.

b. Kubisme

Kubisme tak hanya yakni kampanye abstraksi nan meratakan dan menggeometriskan serta mengelompokkan sekali lagi terhadap objek-alamat alam. Terkadang, lebih-lebih sayang, berusaha persisten untuk memperlihatkan bidang belakang secara simultan dengan bidang depan, sebatas-sampai menggunakan transparansi.

Sheldon Cheney menggambarkan ide fundamental kubisme seumpama berikut, “Kubisme memungkinkan kita bakal memisahkan bidang-bidang berusul suatu objek, serta menatanya kembali intern sebuah tulang beragangan sehingga terorganisasi dan memberikan kesan emosional dan struktural yang lebih mumi daripada performa semula.”

c. Ekspresionisme

Lukisan Sudjana Kerton dengan warna-warna yang ekspresif

Ekspresionisme mengejar intensif bentuk dan struktur. Aliran ini memanfaatkan digresi berkanjang kerjakan mengekspresikan perasaan emosi sang seniman secara kreatif. Para pemuja ekspresionis ini memanfaatkan duaja ibarat subyeknya. Dan ekspresionisme koteng lebih banyak menayangkan tanggapan emosional seniman terhadap mangsa gambarnya.

Gambar Popo Iskandar di samping terlihat bagaimana seniman mencurahkan ekspresinya terhadap objek dengan karangan-goresan warna dan garisnya secara emosional. Distorsi berkanjang terhadap bagan kucing yang sepantasnya dalam media garis dan warna yang tegas dan sambil menunjukkan seniman memiliki dorongan kuat terhadap objek.

d. Nonobjektivisme

Gaya nonobjektivisme yakni gaya di mana materi komposisi didasarkan pada lembaga-bentuk geometris dan nongeometris yang cerbak disebut dengan istilah bentuk objektif. Bentuk ini tak seperti bentuk-susuk alami ataupun objek-objek yang mudah dikenali dengan garis usia kreasinya koteng. Selain itu, bentuk ini memisahkan diri semenjak objek yang biasa kita lihat sehari-hari. Dandan, ponten gelap-terang (cahaya dan paparan), serta tekstur banyak dimanfaatkan dalam melukis nonobjektif.

Baca juga:   Penyebab Kelucuan Anekdot Cara Keledai Membaca Buku



e. Surealisme

Kecondongan Surealisme adalah konotatif seni begitu juga yang diinterpretasikan makanya Fruedian (diambil terbit teori Sigmund Frued). Terminologi lukisannya memang sebagai aliran modem, sekadar teknik penggambarannya lebih mirip naturalis realisme. Gaya surealisme sangat menonjolkan bahan sehingga menjadi super-realisme. Sama sekali menyerupai impian atau kesan horor.

3. Analisis Teknik dan Bahan Karya Seni Rupa Murni

Lukisan Affandi dengan bahan cat air

Teknik dan objek yang digunakan internal berkreasi seni rupa asli di tiap daerah sangat beragam. Munculnya variasi teknik dalam berkarya seni rupa zombi dipengaruhi beragamnya bahan dan media yang digunakan. Contohnya, seni lukis beling di Cirebon. Teknik yang digunakan tentunya berbeda dengan seni lukis normal yang menggunakan wahana jeluang. Hal ini dikarenakan pendayagunaan media beling yang berbeda dengan ki alat plano atau lainnya.

Contoh lainnya adalah melukis poster dengan cat menggunakan teknik opaque. Teknik opaque yaitu teknik mengasihkan rona-dandan yang menutup atau tidak semerawang.

Teknik pemotifan dengan pencelup air dibedakan menjadi teknik basah dan teknik kering. Teknik basah dilakukan dengan meletis daluang terlebih silam, padahal teknik kering dilakukan dengan kaidah daluang dibiarkan tandus tanpa dibasahi.

4. Amatan Bentuk Karya Seni Rupa Asli

Topeng dari Bali memiliki ciri khas dalam bentukny

Karya seni rupa lugu boleh berbentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi. Karya seni rupa tahir dua dimensi contohnya adalah lukisan. Sementara, kamil karya seni rupa murni tiga dimensi adalah patung.

Rangka karya seni rupa di tiap daerah memiliki ciri singularis masing-masing. Misalnya, di Bali sangat tersohor dengan seni lukisan alias seni rupa dua dimensi meski seni rupa tiga dimensinya tidak kalah menganjur dan diminati. Padahal, di Yogyakarta bertambah dominan karya seni rupa tiga dimensi, terutama kerajinan perak dan seni kriyanya. Di Magelang enggak lagi, karya seni arca tinggal dominan di daerah ini.

Selain kerangka berdasarkan ukuran atau dimensinya yang berbeda, di tiap area juga memiliki ciri eksklusif bentuk estetisnya. Contohnya, arca bermula Magelang tentu berbeda dengan patung berpunca suku Asmat. Kalian dapat menemukan keunikan bentuk-rencana karya seni rupa mumi di distrik kalian saban, yaitu dengan mengapresiasi karya seni rupa salih berpangkal distrik kalian.

Tema Sebuah Karya Seni Rupa Sangat Dipengaruhi Oleh

Source: https://beserupa.blogspot.com/2017/04/analisis-tema-analisis-gaya-analisis.html