Tumbuhan Yang Berbunga Tanpa Dipengaruhi Oleh Lamanya Penyinaran Disebut

By | 12 Agustus 2022

Tumbuhan Yang Berbunga Tanpa Dipengaruhi Oleh Lamanya Penyinaran Disebut.

Warna brachtea pada
Euphorbia pulcherrima
dipengaruhi maka itu
fotoperiodisme.

Fotoperiodisme
adalah reaksi fisiologis organisme dengan tinggi siang atau malam hari berwujud respon perkembangan pokok kayu kerjakan tingkatan relatif periode terang dan periode gelap dan hal ini bertalian sederum dengan waktu berpatokan pada kebenaran hari terang dan hari haram.
[1]
Respon ini terjadi pada tumbuhan dan dabat.
[1]

Daftar daya

  • 1
    Fotoperiodisme puas Pokok kayu

    • 1.1
      Tanaman Waktu Pendek (Short-Day Plants,SDPs)
    • 1.2
      Tumbuhan Hari Strata (Long-Day Plants,LDPs)
    • 1.3
      Tanaman Waktu Netral (Day-Neutral Plants, DNPs)
  • 2
    Fotoperiodisme sreg Binatang
  • 3
    Lihat juga
  • 4
    Rujukan

Fotoperiodisme plong Tumbuhan

Pada pokok kayu, fotoperiodisme merangsang pembungaan.
[2]
Untuk beradaptasi dan merespon perubahan panjang malam dan kebulatan hati penyinaran, tanaman berbunga (angiospermae) menggunakan fitokrom maupun kriptokrom.
[3]
Keduanya yaitu zat putih telur fotoreseptor.
[3]
Internal pembagian semakin lanjur, tumbuhan fotoperiodik obligat bermoral-benar membutuhkan penyinaran yang cukup janjang atau musim malam yang patut singkat sebelum berbunga, sedangkan tanaman fotoperiodik fakultatif semakin mungkin bagi berasal di bawah kondisi nur yang akurat, tapi akhir-akhirnya akan pecah minus pangkat malam.
[3]

Rangsangan fotoperiodisme dipedulikan maka itu daun dan ditranslokasikan ke meristem sehingga menyebabkan pengubahan berpangkal kondisi vegetatif ke kondisi pembungaan.
[4]
W.W. Gardner dan H.A. Allard lega masa 1920 menerbitkan invensi mereka tentang fotoperiodisme dan menemukan bahwa strata siang hari merupakan hal nan paham,
[3]
[5]
tapi yang belakang sekali ditemukan bahwa tinggi malam adalah faktor pengendali yang kebanyakan memerankan.
[6]
[7]
Tanaman berbunga fotoperiodik diklasifikasikan ibarat tanaman periode tahapan dan pokok kayu hari pendek, sungguhpun plong dasarnya panjang malam minus selingan kilat (niktoperiode) adalah faktor yang semakin menentukan
[4]
dan tentang tangga siang hari yang menjadi faktor pengendali lega penghabisan-akhirnya disimpulkan sebagai satu kesalahpahaman.
[3]
Setiap tanaman benar panjang penerangan reaktif dan tingkatan lilin lebah kritis yang beda.
[3]
Selain berkarisma terhadap pembungaan, dampak fotoperiodisme plong pohon juga membentangi pertumbuhan batang atau akar selama musim-hari tertentu, setakat kerontokan daun . Pencahayaan hasil tiang penghidupan bisa dipakai lakukan menginduksi ekstra hari panjang.
[3]

Baca juga:   Tempat Untuk Menggantung Lukisan Saat Pameran Disebut

Berlandaskan respon pokok kayu terhadap panjang hari, pada beberapa varietas tanaman budidaya bisa digolongkan ibarat tanaman perian pendek (SDPs), tanaman hari panjang (LDPs), dan tanaman hari independen (DNPs).
[4]

Pokok kayu Perian Ringkas (Short-Day Plants,SDPs)

Tanaman hari pendek adalah tanaman nan pembungaannya semakin dipengaruhi maka dari itu panjang waktu yang semakin pendek daripada tataran perian maksimum kritis dengan dipengaruhi faktor-faktor sekitar nan terkait lainnya, misalnya temperatur.
[4]
Keadaan ini bisa bermacam-macam sreg tiap-tiap variasi dan keberagaman.
[4]
[3]
Tanaman hari pendek semenjak ketika strata masa kurang dari penyinaran kritis mereka.
[3]
Mereka tak dapat anak uang di asal janjang hari kritis atau bila sinyal kurat hasil pekerjaan bersinar pada tanaman selama beberapa menit sepanjang tengah malam; mereka membutuhkan inisiasi kegelapan sebelum pembungaan dapat dimulai.
[3]
Cahaya malam periode alami, seperti cahaya bulan atau petir, enggak merupakan kecerahan atau durasi nan pas bikin mengganggu terjadinya pembungaan.
[3]
Secara umum, tanaman hari pendek berbunga pada kondisi panjang waktu yang semakin ringkas (dan malam tumbuh semakin tataran) pasca- 21 Juni di belahan manjapada utara, selama musim panas atau waktu ringgis.
[3]

Hipotetis tanaman masa ringkas:

  • Cannabis
  • Kapas (Gossypium)
  • Padi
  • Tebu

Pohon Hari Tangga (Long-Day Plants,LDPs)

Tumbuhan perian panjang adalah pohon yang pembungaannya dipengaruhi oleh panjang hari nan semakin panjang daripada panjang hari minimum kritis dengan dipengaruhi faktor-faktor sekeliling yang tercalit lainnya.
[4]
Tanaman ini kebanyakan berbunga di belahan bumi paksina selama belakang musim semi atau awal tahun menggiurkan bak masa dengan jenjang musim yang semakin panjang.
[3]
Di belahan bumi utara, hari terpanjang hari ini adalah pada atau seputar 21 Juni (titik genyot matahari).
[3]
Setelah copot tersebut, panjang hari terjadi semakin sumir (adalah malam tumbuh semakin tahapan) sampai 21 Desember (solstice).
[3]
Situasi ini menjempalit di belahan dunia selatan (yakni hari terpanjang yaitu 21 Desember dan perian terpendek adalah 21 Juni).
[3]
Di sejumlah anggota lingkungan roh, musim adem atau periode memberahikan mengacu pada musim hujan dan tuarang.
[3]

Baca juga:   Yang Bukan Aspek Demokrasi Pancasila Menurut Prof.s.pamudji Adalah

Sempurna tanaman hari strata obligat:
[3]

  • Carnation (Dianthus)
  • Henbane (Hyoscyamus)
  • Oat (Avena)
  • Ryegrass (Lolium)
  • Clover (Trifolium)
  • Bellflower (Campanula carpatica)

Contoh pokok kayu periode tinggi fakultatif:
[3]

  • Pea (Pisum sativum)
  • Barley (Hordeum vulgare)
  • Lettuce (Lactuca sativa)
  • Wheat (Triticum aestivum, spring wheat cultivars)
  • Turnip (Brassica rapa)
  • Arabidopsis thaliana
    (konseptual organism)

Tumbuhan Waktu Netral (Day-Neutral Plants, DNPs)

Pohon tahun netral adalah tanaman yang pembungaannya enggak peka terhadap fotoperiodisme tapi semakin dipengaruhi oleh faktor atma.
[4]
Umumnya anakan unjuk setelah tanaman hingga semangat atau ukuran tertentu.[4]
Eksemplar tumbuhan hari netral:
[4]

  • Dandelion
  • Tomat
  • Buckwheat

Fotoperiodisme puas Satwa

Fotoperiode (menghampari panjang hari dan aji-aji tentang musim, serta kondisi iklim) ter-hormat peranan yang penting untuk sato.
[8]
Sebanyak perubahan biologis dan perilaku mereka tergantung plong hal ini. Bersama dengan perubahan temperatur , penyinaran menyebabkan perubahan corak bulu, migrasi, hibernasi, perilaku seksual, apalagi pergantian dimensi organ seksual.
[8]

Serinus canaria

Bangsa burung, seperti burung kenari, sopan frekuensi berkicau yang terjemur sreg iradiasi.
[8]
Pada musim taruk ketika iradiasi meningkat (periode siang hari semakin panjang), testis kenari jantan tumbuh.
[8]
Dengan tumbuhnya testis, androgen kebanyakan disekresikan sehingga meningkatkan frekuensi lagu yang diciptakannya.
[8]
Selama waktu gugur detik iradiasi menurun (periode siang hari berkurang), testis kenari jantan mengecil dan tingkat androgen menurun secara tajam mengakibatkan penerjunan frekuensi merinai.
[8]
Bukan hanya frekuensi bernyanyi yang tergantung pada penerangan tapi sekali lagi repertoar lagu.
[8]
Panjang iradiasi plong musim semi menghasilkan repertoar lagu nan semakin agung.
[8]
Sebaliknya, hasil penyinaran semakin sumir yang terjadi sreg musim ringgis menurunkan repertoar lagu.
[8]
Perlintasan perilaku maka itu penyinaran pada kenari bahaduri disebabkan oleh pergantian di resep lagu di penggagas.
[8]
Dengan meningkatnya penyinaran, kancing vokal tinggi dan inti yang langgeng terbit archistriatum tersebut lagi meningkat.
[8]
Detik penyinaran menurun kewedanan otak kenari jantan juga merasakan kemunduran.
[8]

Baca juga:   Bentuk Usaha Untuk Menciptakan Nilai Lewat Pengakuan Terhadap Pengakuan Bisnis

Plong hewan menyusui, dampak fotoperiodisme berupa iradiasi termuat di suprachiasmatic nucleus ( SCN ) yang diinformasikan oleh sel simpul saraf retina nan sensitif terhadap kurat, yang enggak terlibat dalam penglihatan.
[9]
Informasi dikirimkan menempuh arus retinohypothalamic ( RHT ). Beberapa mamalia dahulu kritis terhadap hal ini dan beberapa agung diyakini sebagai bahara evolusi.
[9]

Tatap juga

  • Kronobiologi
  • Florigen
  • Scotobiologi
  • Fisiologi tumbuhan

Rujukan

  1. ^
    a
    b

    N. A. Campbell; Jane B. Reece; Lawrence G. Mitchell (1999).
    Biology. Texas: Hill Country Books.




  2. ^

    B. Lakitan (2010).
    Sumber akar-Sumber akar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Rajawali Pers.




  3. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i
    j
    k
    l
    m
    n
    udara murni
    p
    q
    r
    s

    Mauseth, James D. (2003).
    Botany : An Introduction to Plant Biology
    (ed. 3rd). Sudbury, MA: Jones and Bartlett Learning. hlm. 422–427. ISBN 0-7637-2134-4.




  4. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i

    Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R. L Mitchell (1991).
    Physiology of Crop Plants. Jakarta: UI Press.




  5. ^

    Capon, Brian (2005).
    Botany for Gardeners
    (ed. 2nd). Portland, OR: Timber Publishing. hlm. 148–151. ISBN 0-88192-655-8.




  6. ^

    Hamner, K.C.; Bonner, J. (1938). “Photoperiodism in relation to hormones as factors in floral initiation and development”.
    Botanical Gazette
    100
    (2): 388–431. doi:10.1086/334793. JSTOR 2471641.




  7. ^

    Hamner, K.C. (1940). “Interrelation of light and darkness in photoperiodic induction”.
    Botanical Gazette
    101
    (3): 658–687. doi:10.1086/334903. JSTOR 2472399.




  8. ^
    a
    b
    c
    d
    e
    f
    g
    h
    i
    j
    k
    l

    Nelson Randy J. (2005).
    An Introduction to Behavioral Endocrinology. Sunderland, MA: Sinauer Associates.




  9. ^
    a
    b

    R. Foster and R. Williams. “Extra-retinal photo receptors”. ABC Radio National. Diakses 25 April 2014.





edunitas.com

Tumbuhan Yang Berbunga Tanpa Dipengaruhi Oleh Lamanya Penyinaran Disebut

Source: http://p2k.unkris.ac.id/id1/1-3065-2962/Tanaman-Hari-Pendek_143114_p2k-unkris.html