Tutup Tudung Saji Sarat Dengan Unsur Estetik Yang Digunakan Sebagai

By | 12 Agustus 2022

Tutup Tudung Saji Sarat Dengan Unsur Estetik Yang Digunakan Sebagai.

Nomor. Registrasi
2010000940
Domain
Kemahiran dan Kerajinan Tradisional
Negeri
Kalimantan Barat

Capelin suguhan adalah salah satu peralatan flat tangga yang dikerjakan secara tradisional berfungsi bak gawai untuk menutup tembolok. Kapan dan siapa pembentuk caping saji ini pertama kalinya tidaklah diketahui secara pasti. Kerajinan ini diperkirakan telah cak semau bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Selam Landak dengan raja pertamanya Raden Abdu?lkahar Ismahayana (1542-1584). Karier membuat tudung saji ini adalah pekerjaan sambilan selain bertani dan terjamah makanya kaum ibu dari suku melayu. Lega periode lalu, pembuatan capelin saji ini kebanyakan di pakai bikin keperluan sehari-hari atau untuk keperluan makan besar perkawinan. Lega mulanya hanya terserah 2 jenis tudung hidangan yang dikenal maka itu masyarakat Melayu Landak yaitu tudung saji lakukan penghabisan makanan dan capelin saji penganten. Sesuai dengan jalan zaman bentuk dan kegunaan dari capil suguhan ini mengalami bilang perubahan. Kegunaan capil saji ini mutakadim dipakai juga ibarat riasan dengan format nan mini (kecil) sebagai keperluan buat souvenir. Caping saji yang dipakai sebagai perlengkapan untuk makan besar (penganten) ini di buat agak tersendiri dibandingkan dengan yang di pakai bakal keperluan sehari-waktu. Caping suguhan pengantin ini pada babak luarnya dibungkus dengan kain nan diberi ornamen bermotifkan dunia tumbuhan dengan sulur dedaunan dan bunga-bungaan nan dikenal dengan sebutan awan. Pada bagian lain juga terdapat paesan yang terbuat dari paisan perak bahkan kadangkala berbunga emas dengan motif flora dan fauna seperti tumpal (pucuk rebung). Pembuatan capil saji sreg masa suntuk sanding kaitannya dengan pengrajin perak/emas.Bikin membentuk makin meruntun, tudung saji ini juga diberi warna-rona seperti corak kuning, ikhlas, merah, mentah, dramatis dan ungu dengan rona kuning yang makin dominan karena warna asfar yakni warna yang di pakai bikin aji-pangeran dan golongan bangsawan. Selain perumpamaan alat perkawinan, capelin saji ini juga dipakai sebagai souvenir untuk para tamu yang sangat dihormati. Pembuatan tudung saji ini dikerjakan secara tradisional dengan bahan-bahan utama dari alam sekitarnya sebagai halnya rotan, layau (sebangsa bambu), dadang dan seki (sepertalian pandan hutan), naman/resam (sekaum tali untuk menangkap), jamur nanas, lilin lebah, mampak (sejenis sipulut pokok kayu), jernang (bahan bercat biram, berasal dari buah rotan, tembakau ikan (kadang dipergunakan) dan jumpa kuning. Kerjakan menggampangkan kerjanya dipakai penusuk, gunting, timah, kejap, kain, pasement, gem, perak, pisau, jangka, bahan pewarna dan sutra. Proses pembuatannya adalah buluh mula-mula kelihatannya dipotong-potong sampai pada batas bukunya, lalu di bakar di atas jago merah secara diskriminatif sebatas kulit luar bambu tersebut mengkhususkan air yang mendidih. maksud pembakaran ini yakni cak bagi memudahkan mengupas bambu. Awi tadi kemudian di kupas jangat luarnya sampai ditemukannya lapisan layau lega pembuluh babak kerumahtanggaan. Layau nan masih berupa pembuluh tadi di belah sampai akhirnya dijumpai sebuah bidang yang menyerupai lempengan kertas. Penggarapan lebih lanjut merupakan kepingan layau tersebut dijepit dengan menemukan ujung-ujungnya sehingga menciptakan menjadikan sebuah lingkaran. Layau yang terjepit tersebut lalu di rendam dalam air sepanjang 24 jam. Kemudian layau di keringkan dengan merangsang matahari. Setelah kering lalu jepitannya dilepaskan, kemudian layau tersebut disusun sedemikian rupa kerjakan pembuatan selanjutnya. Bahan rotan digunakan untuk membuat lis tudung dengan kaidah rotan tersebut dibersihkan kemudian di belah menjadi dua bagian dan kemudian ditautkan kembali kedua ujungnya dengan menjepit bagian got kaki dari dinding tudung saji. dadang dan seki yang berbentuk dedaunan itu dipakai untuk dinding tudung. Proses pembuatannya daun-daun tadi dipilih yang sudah kira tua, duri-durinya di buang suntuk dikeringkan dengan menjemurnya di memberahikan matahari. Setelah itu patera-daun tersebut digulung sedemikian rupa dan kemudian diikat. bakal mengikat dipergunakan tali yang terbuat dari naman ataupun dapat kembali dari serat nanas. Lilin lebah digunakan bikin menghaluskan tali-lembar dari baja nanas maupun naman sebelum digunakan untuk mengikat.

Baca juga:   Cara Menghitung Rata Rata Nilai Raport

Disetujui Oleh admin WBTB Lega Tanggal 01-01-2010

Pelaku Pendaftaran

Pelapor Karya Budaya

Auditorium Penjagaan Nilai Budaya Pontianak

Jl. Letjen Sutoyo Pontianak

(0561) 737906/760707

Disetujui Oleh admin WBTB Sreg Sungkap 01-01-2010




Disetujui Oleh admin WBTB Pada Copot 01-01-2010


   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010

Tutup Tudung Saji Sarat Dengan Unsur Estetik Yang Digunakan Sebagai

Source: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=940