Untuk Anak Bumiputra Kalangan Bawah Didirikan Sekolah Rakyat Yaitu

By | 14 Agustus 2022

Untuk Anak Bumiputra Kalangan Bawah Didirikan Sekolah Rakyat Yaitu.

Kamis, 7 Februari 2019 | 11:56 WIB

Asyiknya punya banyak teman mentah.
(Ode/Majalah Bobo )

Bobo.id –
Pada zaman terlampau, sekolah di Indonesia hanya diperuntukkan kerjakan anak adam-khalayak tertentu, teman-teman. Misalnya untuk anak-momongan keturunan Belanda.

Tapi kemudian, cak semau banyak tokoh-pemrakarsa pendidikan Indonesia yang memperjuangkan milik warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan.

Sudahlah, lama kelamaan, balasannya suka-suka sekolah umum lakukan penduduk Indonesia, tampin-n antipoda.

Inilah beberapa di antaranya:

1. Eurospeesch Lagere School (ELS)

Eurospeesch Lagere School (ELS) ini adalah pendidikan tingkat sekolah dasar, teman-teman.

Nan bisa bersekolah di sini adalah pertalian keluarga Belanda dan Eropa, dan rakyat Indonesia yang terpandang.

Di sana, anak-anak belajar sejauh tujuh hari. Materi pelajarannya diajarkan dengan bahasa Belanda, teman-oponen.

Baca Juga : Twitter Imperium Inggris Mengunggah Pertanyaan Ujian Sekolah, Ada Apa?


Page 2


Page 3

Ode/Majalah Bobo

Asyiknya mempunyai banyak lawan hijau.

Bobo.id –
Pada zaman dahulu, sekolah di Indonesia doang diperuntukkan untuk bani adam-makhluk tertentu, teman-p versus. Misalnya bakal momongan-anak anak cucu Belanda.

Tapi kemudian, ada banyak biang keladi-pentolan pendidikan Indonesia nan memperjuangkan hak pemukim Indonesia untuk mendapatkan pendidikan.

Nah, lama kelamaan, akhirnya cak semau sekolah awam untuk penduduk Indonesia, teman-padanan.

Inilah beberapa di antaranya:

1. Eurospeesch Lagere School (ELS)

Eurospeesch Lagere School (ELS) ini yakni pendidikan tingkat sekolah dasar, saingan-jodoh.

Nan bisa bersekolah di sini adalah keturunan Belanda dan Eropa, dan rakyat Indonesia yang terpandang.

Di sana, anak-momongan belajar selama sapta tahun. Materi pelajarannya diajarkan dengan bahasa Belanda, teman-teman.

Baca Pun : Twitter Kerajaan Inggris Mengunggah Pertanyaan Ujian Sekolah, Terserah Segala apa?

Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
(sekolah Belanda untuk bumiputera) merupakan sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia sreg waktu 1914[1] seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada puas jenjang Pendidikan Invalid (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan bawah waktu ini. HIS termasuk Sekolah Adv minim dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School nan menggunakan bahasa negeri.

Keropok siswa HIS sedang mengunjungi Cisarua di bawah pengawasan mahasiswa Hogere Kweekschool (sekolah pendidikan temperatur) Bandung plong tahun 1925-1926

Siswa HIS Sumenep pada tahun 1934

Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia kalis. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak berusul golongan bangsawan, pentolan-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh musim.

Peraturan pendidikan radiks untuk masyarakat pada musim Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada hari 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus suka-suka puas setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, alias pusat-muslihat kerajinan, perdagangan, atau panggung nan dianggap perlu.[2] Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan sreg musim 1901 setelah adanya Politik Etis ataupun Politik Balas Karakter pecah Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 kejadian utama: irigrasi, transmigrasi, pendidikan.[3]

Baca juga:   Lambang Bilangan Bulat Negatif Dari 17 Adalah

Pada zaman Hindia Belanda, momongan timbrung HIS lega nasib 6 tahun dan tidak ada Kelompok Dolan (speel groep) maupun Ujana Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan sepanjang 7 hari berlatih. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool. Bagi masyarakat zuriat Tionghoa galibnya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, pula diberikan bahasa Tionghoa. Di asing jalur sah Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta begitu juga Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Masehi dan Katholik. Pada jalur pendidikan Selam ada pendidikan nan diselenggrakan oleh Muhammadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

  • Hogere Burger School (HBS)
  • Hollandsch Chineesche School (HCS)
  • Hollandsche Indische Kweekschool (HIK)
  • Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
  • Hollandsch Javaansche School (HJS)
  • Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
  • Schakelschool dinamakan Vervolg School alias Sekolah Sambungan terutama
  • Tweede Inlandsche School (Sekolah Ongko Loro)

  1. ^

    Mission Schools in Batakland (Indonesia) 1861-1940, Jan S. Aritonang, Penerbit E.J.Brill, 1994[pranala nonaktif permanen]

  2. ^

    http://pakguruonline.pendidikan.net/sjh_pdd_sumbar_bab3a.html

  3. ^

    http://id.buck1.com/lingkungan-hidup/ramalan-raffles-dan-du-bus-472[pranala bebas tugas permanen]

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini yakni sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah jalan tikus. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Diperoleh berusul “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hollandsch-Inlandsche_School&oldid=20799650”

tirto.id – Bayangkan Sira kehidupan puluhan tahun lewat di daerah yang masih berstatus umpama Hindia Belanda ini. Jika orangtua Anda berpenghasilan 100 gulden sebulan, sejak nyawa 6 perian Anda bisa bersekolah di Hollandsche Inlandsche School (HIS). Takdirnya Anda anak pembesar pribumi, cak agar jangat Beliau coklat dan bukan sedikitpun n kepunyaan darah Eropa ataupun Belanda, Anda boleh menginjak bersekolah di Europesche Lager School (ELS).

Di dua jenis sekolah dasar ini, siswa belajar dengan pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya sekali lagi sama-sekelas tujuh tahun. Bahasa Belanda di Hindia rekata itu sementereng bahasa Inggris sekarang. Tapi, pemerintah kolonial tak pernah mengharuskan seluruh penduduk daerah jajahan Hindia Belanda bisa bahasa tersebut.

Menjadi murid HIS, Anda akan menjumpai peserta nan sekelas-sama nasion Indonesia, tapi tidak jikalau di ELS. Jika Anda berkulit coklat minus sedikitpun darah Eropa, Anda yaitu minoritas di ELS. Jika Anda pernah menonton film Oeroeg (1995), Anda bisa mengintai beda HIS dan ELS.

N domestik film itu Oeroeg belajar di HIS dengan gaun orang pribumi dan Johan Ten Berge di ELS berpakaian ala Eropa. Meski begitu mereka teguh menyanyikan lagu yang sama di sekolah, Wilhelmus van Nassau sambil mengibarkan berma-putih-sensasional. Di luar HIS dan ELS, terserah pun sekolah desa maupun Volkschool (sekolah rakyat) yang masa belajarnya doang tiga tahun. Di sekolah itu, peserta hanya diajari membaca, menggambar, berbilang.

Satu dari sekian bocah pribumi membujur nan sempat merasai dipan sekolah di ELS adalah Pahlawan Nasional Gatot Subroto. Sahaja, sebuah pertampikan dengan anak residen Banyumas membuatnya harus ditendang berbunga sekolah itu. Gatot pun risikonya hanya bintang sartan lulusan HIS.

Sementara itu, Pahlawan Nasional yang lain bernama Wage Rudolf Supratman, pelaksana lagu Indonesia Raya, kembali pernah didaftarkan di sana, semata-mata tidak diterima. Sebab van Eldik yang mendaftarkannya bukanlah ayah kandung Wage, melainkan kakak ipar yang menjadi orangtua angkatnya. Terpaksa Wage tetapi sekolah sampai HIS saja.

Baca juga:   Nama Nama Hari Dalam Bahasa Mandarin

Orang nusantara di ELS maupun Hogare Burgerlijke School (HBS) adalah minoritas. Sebagai minoritas, momongan-anak itu harus tunduk dan hormat pada semua makhluk Belanda. Semampu mungkin, haram hukumnya membantah sendiri hawa.

Ingat, di masa itu Dia-kamu yang bersisik coklat atau pribumi digolongkan inlander yang tentu sahaja kelasnya di bawah Nederlander. Kecuali orangtua Kamu ikut Gelijkgesteld, di mana status hukum Anda dan keluarga Beliau dipersamakan dengan orang-individu Eropa.

Diskriminasi pun terjadi, termasuk di tempat-tempat umum. Di awal abad ke-20, empang renang dan bioskop merupakan hiburan yang patut populer di kalangan insan Indonesia nan gaya hidupnya modern dan seperti hamba allah Belanda. Namun, tidak semua tempat boleh dimasuki anak asuh sekolah pribumi nan digolongkan inlander.

Cak semau episode di film Oeroeg nan layak menyedihkan. Suatu mana tahu, Oeroeg dan Johan hendak menonton komidi gambar Tarzan. Sialnya Oeroeg tak boleh timbrung ke ruangan solo orang Eropa. Akhirnya Oeroeg masuk ke kolom bagi pribumi, yang berada di belakang layar. Khalayak Eropa dapat mengawasi sinema dengan sesuai gambar, temporer orang pribumi seperti menonton film dari cermin saja.

Tak hanya bioskop, di societeit (tempat berkumpul juga berdansa) dan kolam renang pun lazimnya berlaku aturan yang sangat membeda-bedakan. Jikapun ada orang pribumi di ruang yang sahaja dapat dimasuki orang Eropa, anak adam-khalayak itu kebanyakan para jongos ataupun babu ataupun pelayan nan harus demap menunduk sreg anak adam Belanda.

Yang dulu menyakitkan tulisan yang biasanya terpacak di pintu atau bagian depan ruangan-ruangan itu: “Verboden voor honden en inlander.”

Beruntunglah makin dari 90 komisi orang Hindia detik itu boleh lain baca tulis lambang bunyi latin dan tak mengerti bahasa Belanda. Tulisan itu kurang-lebih berarti : “Dilarang turut cigak dan pribumi.”

Mereka nan sekolah dasarnya hanya di Volkschool atau Sekolah Rakyat juga pas beruntung. Ketika Indonesia Merdeka di tahun 1945, seperti tertulis dalam buku Haji Agus Salim (1884-1954): Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme (2004), angka buta leter masih 90 uang lelah. Sekolah hanya boleh dinikmati 10 persen penduduk saja. Itupun kebanyakan berijazah sekolah dasar, baik dari HIS, ELS, dan pastinya Volkschool.

Lulusan HIS biasanya akan melanjutkan lanjut ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang seimbang SMP, lalu dari MULO yang waktu belajar tiga tahun akan berlanjut ke Algemeene Middelbare School (AMS) alias SMA selama tiga masa. Setelah itu baru boleh lektur.

Lulusan ELS bisa lanjut ke HBS, di mana Anda menjalani sekolah menengah sepanjang lima tahun. Beruntunglah mereka yang berlatih di ELS lalu HBS. Belaka butuh waktu 12 waktu sekolah. Jika melintasi HIS, MULO lalu AMS, burung masa 13 tahun.

Baca juga:   Lirik Lagu Heal the World Beserta Artinya

Jika mulai SD sukma 7 masa dan riwayat sekolah Anda ddari HIS, MULO lalu AMS maka, jika tiap tahun panjat kelas, di roh 20 waktu Kamu mempunyai ijazah SMA. Kalau jalurnya ELS dulu HBS, juga tiap waktu naik kelas, di sukma 19 periode Anda baru memiliki ijazah SMA. Di periode saat ini, spirit kebanyakan eks SMA adalah 18 tahun.

Beberapa ahli tarikh membiji, sistem pendidikan kolonial yang membedakan lama waktu belajar di kedua jalur itu jelas punya maksud.

Jalan hidup cucu adam pribumi dihambat ketika masuk mayapada kerja, baik di swasta maupun pemerintahan. Karena banyak pribumi yang masuk HIS ataupun ELS di jiwa makin dari 7 masa maupun telat sekolah, maka kesempatan kerja alumnus SMA pribumi berkurang. Sebab di antara mereka ada yang pupus SMA di usia 22 tahun.

Sementara itu, akademi militer Koninklijk Militaire Academie di Breda terhalangi memiliki batasan semangat: 22 musim. Itu kenapa Didi Kartasasmita memudakan umurnya dua perian seharusnya bisa diterima.

Setelah lulus SMA baik AMS maupun HBS, Engkau boleh turut perserikatan di Negeri Belanda. Kala itu belum ada Perkumpulan di Indonesia. Nan ada hanya sekolah strata kedokteran bernama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) yang dikenal juga sebagai Sekolah Dokter Jawa di Kwitang yang kemudian berubah makara Geeneskundig Hoge School di Salemba.

Di zaman Dokter Soetomo baru berangkat kuliah di STOVIA, sekolah ini masih menerima mantan ELS. Tapi kemudian kampus itu hanya menyepakati jebolan sekolah menengah atas baik HBS maupun AMS.

Selain sekolah kedokteran, di Betawi ada sekolah hukum bernama Recht Hoge School yang lokasinya saat ini ditempati Biro Kementerian Pertahanan. Kampus hukum dan kedokteran kolonial itu belakangan menjadi fakultas-fakultas dari Jamiah Indonesia. Ada sekali lagi sekolah persawahan atau Landbouw School di Bogor nan belakangan jadi Institut Perkebunan Bogor (IPB). Di bidang teknik ada Technik Hoge School di Bandung yang saat ini adalah Perserikatan Teknologi Bandung (ITB).

Kalau enggak ingin kuliah, ada perusahaan swasta yang mengekspos alun-alun kerja. Jangankan eks HBS dan AMS, lulusan MULO, bahkan mereka nan berijazah ELS atau HIS pun tak akan bintang sartan kuli panggul. Masih ada kantor nan akan menerima mereka.

Jebolan ELS atau HIS yang setara sekolah bawah saja mana tahu sersan jika mau bergabung dengan Barisan Kerajaan Hindia Belanda alias KNIL. Di masa kolonial, tentu sarjana pribumi selit belit dan disegani. Farik dengan hari sekarang, yang menurut data Tubuh Kiat Perangkaan 2015, terletak 600 ribu sarjana menganggur.

Baca lagi kata sandang terkait SEKOLAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi

(tirto.id – pet/msh)

Kuli tinta: Petrik Matanasi

Perekam: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani

Subscribe for updates Unsubscribe from updates

Untuk Anak Bumiputra Kalangan Bawah Didirikan Sekolah Rakyat Yaitu

Source: https://memperoleh.com/sekolah-setingkat-sd-yang-didirikan-oleh-belanda-untuk-anak-anak-bumiputra-kalangan-bawah-adalah